KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1 — Kabuyutan Cikahuripan

    Bab 1 — Kabuyutan Cikahuripan

    BY 03 Sep 2026 Dilihat: 7 kali
    Kabuyutan Cikahuripan_alineaku

    ### (POV Wirajaya)

    ## 1. Keberangkatan

    Kabut belum sepenuhnya tersingkap dari Lembah Pakuan ketika barisan itu mulai bergerak. Embun masih menggantung di ujung dedaunan kalpataru yang tumbuh di sepanjang jalan utama, menetes satu-satu ke tanah yang basah oleh hujan semalam. Di antara derap kaki kuda dan langkah-langkah prajurit yang berbaris rapi, Rakeyan Wirajaya berjalan di barisan kedua, tepat di belakang panji kerajaan yang berkibar lemah tertiup angin pagi.

     

    Kujang pusaka tersemat di pinggangnya, terbungkus kain putih yang telah pudar warnanya dimakan waktu. Ia tak pernah melepaskan senjata itu sejak ayahnya menyerahkannya tiga tahun silam, pada malam ketika bara unggun menyala di halaman rumah dan sang ayah berkata dengan suara berat. 

     

    “Bilah ini bukan sekadar besi, Anakku. Ia membawa nama leluhurmu.”

     

    “Kau melamun lagi, Wirajaya.”

     

    Suara itu datang dari sisi kanannya—Ki Dalem Wirapati, prajurit senior yang telah dua puluh tahun mengabdi di bawah panji Sunda, berpangkat nu nangganan, pemimpin bala tentara yang jarang berbicara tanpa alasan. Kulitnya legam terbakar matahari medan-medan yang telah ia lalui. Wirajaya menoleh, tersenyum tipis.

     

    “Aku hanya memikirkan perjalanan ini, Ki Dalem. Sudah bertahun-tahun aku tak menginjak Cikahuripan.”

     

    “Kabuyutan itu tak banyak berubah,” sahut Wirapati sambil membetulkan ikat kepalanya yang mulai kendur oleh angin. 

     

    “Hanya orang-orang di dalamnya yang datang dan pergi. Tapi upacara ini penting, Anak Muda. Jangan anggap remeh. Di sanalah dua tanah bertemu tanpa harus saling menghunus senjata.”

     

    Wirajaya mengangguk, meski dalam hatinya menyimpan tanya yang tak terucap. Ia telah mendengar cerita-cerita dari mereka yang lebih tua—tentang bagaimana Sunda dan Galuh, dua saudara yang terpisah sejak masa Tarusbawa, masih menyimpan bara di bawah abu perjanjian damai yang rapuh. Upacara syukur panen di Cikahuripan bukan sekadar ritual; ia adalah jembatan tipis yang menahan dua tepi jurang agar tak runtuh bersamaan.

     

    Rombongan itu tak besar—dua puluh prajurit pengawal, beberapa pembesar istana yang mewakili Sang Prabu, dan seorang wiku muda yang akan membantu jalannya upacara di kabuyutan. Mereka membawa hasil bumi terbaik dari ladang-ladang di sekitar Pakuan: padi yang menguning sempurna, buah-buahan yang dipetik pagi itu juga, dan kain-kain tenun yang akan dipersembahkan sebagai tanda hormat.

     

    Jalan menuju Cikahuripan membentang melalui hutan yang lebat, menyusuri punggung bukit sebelum akhirnya turun ke lembah tempat kabuyutan itu berdiri sejak entah berapa generasi silam. Wirajaya merasakan sesuatu yang aneh bergolak di dadanya—bukan ketakutan, sebab ia telah terlatih menghadapi bahaya sejak kecil, melainkan semacam firasat yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Seperti ada sesuatu yang menunggu di ujung jalan itu, sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya meski ia belum tahu wujudnya.

     

    “Kau diam sekali,” ujar Wirapati lagi, kali ini dengan nada lebih ringan. “Biasanya kau yang paling banyak bicara di antara prajurit-prajurit muda.”

     

    “Hanya merasa berbeda kali ini, Ki Dalem. Entah mengapa.”

     

    Wirapati tertawa pendek. “Perjalanan pertama selalu terasa demikian. Tunggu saja sampai kau melihat kabuyutan itu sendiri. Tempat itu punya caranya sendiri untuk membuat orang merasa kecil di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.”

     

    Belum sempat Wirajaya menjawab, seekor kuda beban di barisan belakang meringkik keras, kakinya menghentak liar setelah tersangkut akar yang menonjol dari tanah becek bekas hujan. Prajurit muda yang memegang talinya terhuyung, hampir terseret ketika kuda itu berputar panik di antara barisan yang mulai kacau.

     

    Wirajaya bergerak sebelum sempat berpikir. Ia melangkah cepat ke samping kuda itu, tidak menariknya seperti yang dilakukan prajurit muda tadi, melainkan menempelkan telapak tangannya ke leher binatang itu sambil bersuara rendah, nyaris berbisik, mengikuti irama napas kuda yang tersengal. Perlahan hentakan kaki itu mereda, telinga kuda yang semula tegak waspada mulai kembali rebah tenang.

     

    “Sudah,” gumam Wirajaya, masih menepuk-nepuk leher kuda itu pelan. “Akarnya menjepit kuku depannya. Bukan salahnya.”

     

    Prajurit muda yang tadi kewalahan menunduk malu, buru-buru mengambil alih tali kekang sambil bergumam terima kasih. Wirapati mengamati dari kejauhan, sudut bibirnya sedikit terangkat.

     

    “Kau selalu begitu,” ujar Wirapati ketika Wirajaya kembali ke sisinya. “Menenangkan dulu, baru bertindak. Ayahmu juga begitu, dulu.”

     

    “Ki Dalem mengenal ayahku sejak masih muda?”

     

    “Sejak kami sama-sama prajurit rendahan di bawah Rahyang Tamperan,” sahut Wirapati, suaranya merendah meski tak ada yang mendengar selain Wirajaya. “Sebelum Prabu Sanjaya lebih banyak berkedudukan di Medang dan menyerahkan urusan Sunda-Galuh ke tangan puteranya itu. Zaman itu juga tak sepenuhnya tenang—hanya saja orang-orang belum lelah saling curiga seperti sekarang.”

     

    “Maksud Ki Dalem?”

     

    Wirapati tak langsung menjawab, matanya menatap jauh ke arah jalan setapak di depan. “Belakangan ini banyak desas-desus dari Galuh. Katanya ada yang tak puas dengan cara Rahyang Tamperan mengatur wilayah itu atas nama ayahnya. Tapi itu bukan urusan kita, Anak Muda. Kita hanya pengawal yang membawa hasil bumi ke kabuyutan.”

     

    Matahari mulai meninggi ketika rombongan itu memasuki jalan setapak yang lebih sempit, diapit pepohonan tinggi yang menaungi mereka dari terik. Suara serangga hutan bersahutan, dan sesekali terdengar kicau burung yang terbang menjauh dari langkah-langkah yang mengganggu ketenangan mereka.

     

    ## 2. Tiba di Kabuyutan

    Ketika akhirnya pepohonan itu terbuka, Wirajaya menahan napas tanpa sadar.

     

    Cikahuripan terhampar di hadapannya—sebuah lembah kecil yang dialiri sungai jernih, dengan bangunan-bangunan kayu beratap ijuk berdiri mengelilingi sebuah lapangan terbuka. Di tengah lapangan itu berdiri sebuah lumbung besar, tempat hasil panen dari berbagai penjuru akan dikumpulkan sebelum dipersembahkan. Asap dupa telah mengepul dari beberapa titik, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan wangi tanah basah dan padi yang baru dituai.

     

    “Kabuyutan Parahiyangan,” gumam Wirapati, seolah mengucapkan nama itu dengan hormat yang telah mengakar sejak lama. “Lemah parahiyangan—tempat suci yang tak berpihak pada tahta mana pun. Di sinilah para leluhur kita menitipkan doa-doa yang tak bisa dititipkan di istana.”

     

    Rombongan dari Sunda bukan satu-satunya yang telah tiba. Di seberang lapangan, Wirajaya melihat kelompok lain—pakaian mereka berbeda coraknya, kain-kain yang mereka kenakan menampilkan motif yang tak biasa ia lihat di Pakuan. Rombongan dari Galuh.

     

    Di dekat gerbang lumbung, seorang prajurit Sunda dan seorang prajurit Galuh berpapasan membawa tumpukan kayu bakar yang sama-sama diperuntukkan bagi unggun upacara. Tak ada yang mau mengalah lebih dulu untuk lewat. Sesaat keduanya hanya berdiri berhadapan, tombak yang tersandang di punggung masing-masing seolah menjadi pengingat diam bahwa mereka bisa saja berdiri di medan yang sangat berbeda dari kabuyutan ini.

     

    Seorang pembesar Galuh berjubah gelap melangkah maju, suaranya tajam menegur prajuritnya sendiri karena dianggap terlalu lamban—namun nada itu terdengar seperti sindiran yang ditujukan juga ke arah rombongan Sunda yang berdiri tak jauh dari situ. Salah satu pembesar Pakuan mengerutkan alis, tangannya nyaris terangkat untuk menjawab sebelum seorang tetua di sampingnya buru-buru meletakkan tangan di lengannya, menahan.

     

    Sang resi, yang baru saja melangkah keluar dari bangunan utama, seolah merasakan ketegangan itu dari kejauhan. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya, mengangkat kedua tangannya ke arah kedua kelompok yang nyaris bertukar kata tajam.

     

    Ia merasakan tubuh Wirapati menegang di sampingnya, meski wajah prajurit tua itu tetap tenang seperti biasa.

     

    “Jaga sikapmu, Wirajaya,” bisik Wirapati pelan. “Kita di sini bukan untuk berperang. Tapi jangan pula lengah.”

     

    “Aku mengerti, Ki Dalem.”

     

    Seorang resi tua melangkah keluar dari salah satu bangunan utama, mengenakan kain putih polos yang sederhana namun bersih, rambutnya yang telah memutih terikat rapi ke belakang. Wajahnya menampilkan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah lama meninggalkan hasrat duniawi. Ia mengangkat kedua tangannya, menyambut kedua rombongan dengan senyum yang sama tulusnya untuk keduanya.

     

    “Selamat datang, Anak-anak Sunda. Selamat datang pula, Anak-anak Galuh.” Suaranya tak keras, namun entah bagaimana terdengar jelas hingga ke setiap sudut lapangan. “Di tanah ini, kalian bukan Sunda maupun Galuh. Kalian adalah anak-anak dari satu ibu yang sama, yang datang untuk mengucap syukur kepada Yang Menghidupkan Segala.”

     

    Wirajaya menundukkan kepala bersama yang lain, meski ekor matanya tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah rombongan seberang. Di antara mereka, para pembesar dan pengawal berdiri dengan sikap hormat yang sama seperti rombongannya sendiri—namun ada jarak yang terasa, sebuah dinding tak kasat mata yang dibangun oleh sejarah panjang yang tak pernah sepenuhnya mereka pahami.

     

    “Kalian akan beristirahat terlebih dahulu,” lanjut sang resi. “Upacara akan dimulai ketika matahari mencapai puncaknya. Manfaatkan waktu ini untuk menenangkan hati kalian sebelum menghadap para leluhur.”

     

    ## 3. Prosesi Dimulai

    Matahari telah mencapai titik tertingginya ketika suara kentongan bertalu-talu dari arah lumbung besar, menandakan bahwa prosesi akan segera dimulai. Wirajaya berdiri di barisan pengawal, sedikit di belakang para pembesar Sunda, matanya mengawasi persiapan yang berlangsung di tengah lapangan dengan seksama—ini tugasnya, menjaga keselamatan rombongan, meski hatinya diam-diam menyimpan rasa ingin tahu yang lebih dari sekadar kewajiban.

     

    Para petani dan penduduk kabuyutan mulai mengangkut hasil bumi menuju altar sederhana yang telah disiapkan di depan lumbung—tumpukan padi yang diikat rapi, buah-buahan yang disusun dalam wadah anyaman bambu, serta bunga-bunga liar yang dipetik dari lereng-lereng sekitar. Di antara mereka, Wirajaya mengenali para wado, kepala-kepala kampung sekitar kabuyutan yang datang bersama penduduknya masing-masing—panyawah yang tangannya masih berlumur lumpur sawah, dan beberapa panyadap yang membawa air nira sebagai persembahan tambahan. Di tengah altar, sebuah patung kecil berukir kasar namun penuh penghormatan berdiri sebagai lambang Nyi Pohaci Sanghyang Asri, sang Dewi Padi yang menjadi pusat pemujaan bagi masyarakat yang hidup dari tanah.

     

    Sang resi memimpin doa dengan suara yang mengalun seperti nyanyian kuno, kata-kata dalam bahasa yang sebagian besar tak dipahami Wirajaya namun terasa menembus dada siapa pun yang mendengarnya. Asap dupa mengepul semakin tebal, berbaur dengan bau tanah dan keringat orang-orang yang berdiri berdesakan namun tertib di sekeliling altar.

     

    “Kembalikanlah rasa syukur ini kepada tanah yang telah memberi,” ucap sang resi, tangannya terangkat ke langit. “Sebab tanah tak pernah bertanya siapa yang menanam—Sunda atau Galuh—ia hanya memberi kepada siapa yang merawatnya dengan hati yang jujur.”

     

    Di sela-sela prosesi itu, Wirajaya mencuri pandang ke arah rombongan Galuh yang berdiri di seberang altar. Seorang lelaki tua berjubah mewah—tampaknya salah satu pembesar—berdiri paling depan, diikuti beberapa prajurit yang membawa tombak dengan sikap siaga yang tak berbeda dari rekan-rekannya sendiri. Namun di antara barisan itu, matanya berhenti pada sesosok yang lain.

     

    ## 4. Melihat Sarwati

    Ia tak berdiri diam seperti kebanyakan perempuan bangsawan lain di rombongan Galuh. Wirajaya memperhatikannya membungkuk membantu dua dayang muda menata susunan buah-buahan di atas wadah anyaman, tangannya cekatan merapikan letak bunga liar yang miring sebelum sempat ditegur siapa pun. Sesekali ia berbisik singkat kepada seorang perempuan tua di sampingnya, dan yang lebih tua itu tertawa kecil, seolah mereka berbagi lelucon yang tak melibatkan siapa pun selain berdua.

     

    Kain wulang berwarna merah tua membalut tubuhnya dari pinggang hingga batas dada, dihiasi jamang emas sederhana di kepalanya yang membuat rambutnya yang disanggul rapi tampak berkilau tertimpa cahaya matahari. Namun bukan pakaiannya yang menarik perhatian Wirajaya lebih lama dari yang seharusnya—melainkan caranya bergerak, seolah ia lebih terbiasa bekerja dengan tangannya sendiri daripada sekadar berdiri dan diperhatikan.

     

    Ketika sang resi lewat membawa mangkuk kecil berisi air suci untuk memerciki altar, gadis itu maju setapak, menawarkan diri membantu membawakan salah satu wadah sesaji yang lebih berat. Sang resi tersenyum, mengucapkan sesuatu yang tak terdengar oleh Wirajaya dari jarak sejauh itu, namun membuat gadis itu menunduk hormat sebelum kembali ke barisan.

     

    Wirajaya tak tahu berapa lama ia memandang sebelum menyadari bahwa gadis itu pun tengah menoleh ke arahnya.

     

    Untuk sesaat yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, mata mereka bertemu di antara asap dupa dan kerumunan orang yang khusyuk dalam doa. Wirajaya merasakan sesuatu yang aneh—bukan seperti yang diceritakan para penyair tentang cinta pandang pertama, melainkan semacam pengakuan yang tak terucap, seolah keduanya sama-sama menyadari bahwa mereka tengah berdiri di titik yang sama: terjepit di antara dua dunia yang tak sepenuhnya mereka pilih sendiri.

     

    Gadis itu memalingkan wajah lebih dulu, namun tidak secepat yang bisa disebut menghindar.

     

    “Wirajaya.”

     

    Bisikan tajam dari Wirapati membuatnya tersentak. Ia baru sadar bahwa doa telah usai dan orang-orang mulai bergerak menuju bagian berikutnya dari prosesi—pembagian hasil panen kepada penduduk kabuyutan sebagai simbol kemakmuran yang harus dibagi rata, tak peduli dari tanah mana seseorang berasal.

     

    “Maaf, Ki Dalem,” gumam Wirajaya, buru-buru mengembalikan perhatiannya pada tugasnya.

     

    Wirapati menatapnya sejenak dengan alis terangkat, namun tak berkata apa-apa lagi. Prajurit tua itu telah melihat cukup banyak hal dalam hidupnya untuk mengenali tatapan seorang pemuda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak bisa lagi ia abaikan.

     

    Prosesi berlanjut hingga senja mulai turun, bayangan pepohonan memanjang di atas lapangan yang perlahan mulai sepi ketika penduduk kabuyutan kembali ke rumah masing-masing membawa bagian mereka dari hasil panen yang telah diberkati. Wirajaya menjalankan tugasnya dengan seksama, namun sesekali—ketika ia yakin tak seorang pun memperhatikan—matanya kembali mencari sosok berkain merah tua itu di antara kerumunan yang mulai membubar.

     

    ## 5. Malam di Kabuyutan

    Malam turun dengan cepat di lembah Cikahuripan, membawa udara dingin yang menyusup melalui celah-celah pakaian prajurit yang berjaga di sekeliling wisma tempat rombongan Sunda bermalam. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan setapak, cahayanya berkelap-kelip ditelan angin malam yang berhembus dari arah sungai.

     

    Wirajaya duduk di beranda kayu wisma, kujang pusaka masih tersemat di pinggangnya meski ia telah melepas sebagian perlengkapan perangnya untuk beristirahat. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara gamelan sederhana yang dimainkan penduduk kabuyutan sebagai bagian dari perayaan malam syukuran—nada-nada yang mengalun pelan, berbeda dari musik istana yang lebih rumit dan formal.

     

    “Kau masih memikirkannya.”

     

    Wirapati duduk di sampingnya, membawa dua mangkuk tanah liat berisi air jernih dari sungai kabuyutan. Ia menyerahkan satu kepada Wirajaya sebelum duduk dengan santai, kakinya yang lelah selonjor di lantai kayu.

     

    “Memikirkan apa, Ki Dalem?”

     

    “Kau tahu apa yang kumaksud.” Wirapati menyeruput airnya, matanya menatap ke arah kegelapan di seberang lapangan, tempat wisma rombongan Galuh berdiri dengan obor-obor yang menyala serupa. “Gadis berkain merah itu.”

     

    Wirajaya tak menjawab, namun keheningannya sudah cukup menjadi jawaban.

     

    “Dengarkan aku, Anak Muda.” Suara Wirapati merendah, meski tetap tegas. “Aku telah hidup cukup lama untuk tahu bahwa hati tak pernah bertanya izin sebelum jatuh. Tapi tanah tempat kita berpijak ini—” ia menunjuk ke arah lapangan yang kini sepi, “—adalah tanah pinjaman. Besok, atau lusa, kita akan kembali ke Pakuan, dan gadis itu akan kembali ke Kawali. Dua tanah yang tak pernah benar-benar berdamai, hanya berhenti sejenak untuk mengambil napas. Yatna, Wirajaya. Berhati-hatilah.”

     

    “Aku hanya melihatnya, Ki Dalem. Tidak lebih.”

     

    “Aku harap begitu,” gumam Wirapati, meski nada suaranya tak sepenuhnya percaya pada ucapannya sendiri. “Aku bukan inggis padamu, Anak Muda—bukan takut kau berbuat salah. Aku hanya haat, iba, sebab jika lebih dari sekadar melihat, kau akan menemukan bahwa cinta di antara dua musuh lama bukanlah sesuatu yang ringan untuk dipikul.”

     

    Wirajaya menatap mangkuk di tangannya, permukaan airnya bergetar pelan mengikuti detak jantungnya yang entah mengapa terasa lebih cepat dari biasanya. Ia teringat kembali pada tatapan gadis itu di tengah asap dupa—tatapan yang tak seharusnya berarti apa-apa, namun terasa membekas jauh lebih dalam daripada yang seharusnya ia izinkan.

     

    Dari kejauhan, suara gamelan masih terdengar mengalun, dan di antara bayang-bayang obor yang berkelip-kelip, Wirajaya bertanya-tanya apakah gadis itu—entah siapa namanya—tengah memikirkan hal yang sama di sisi lain lembah yang membelah mereka.

     

    Wirapati bangkit, menepuk pundak Wirajaya sekali sebelum melangkah masuk ke dalam wisma. “Istirahatlah. Esok masih ada upacara penutup sebelum kita kembali.”

     

    Wirajaya baru saja hendak bangkit mengikuti ketika derap kuda memecah ketenangan malam—satu ekor, dipacu terlalu cepat untuk sekadar tamu biasa, mendekat dari arah jalan yang menuju Kawali. Obor-obor di gerbang kabuyutan bergoyang liar ketika penunggangnya berhenti mendadak, hampir jatuh dari pelana saking terburu-buru.

     

    Wirapati muncul kembali di ambang pintu wisma, wajahnya yang biasa tenang kini mengeras. Dari kejauhan, Wirajaya melihat sang resi bergegas menemui penunggang kuda itu, dan sepatah dua kata yang tertangkap angin malam sudah cukup membuat wajah sang resi berubah pucat.

     

    “Jangan biarkan kabar ini sampai ke telinga kedua rombongan malam ini,” dengar Wirajaya sayup-sayup, suara sang resi yang biasanya tenang kini bergetar menahan sesuatu. “Biar kuputuskan sendiri bagaimana menyampaikannya besok pagi.”

     

    Wirajaya berdiri mematung di beranda, kujang pusaka masih tersemat di pinggangnya, sementara firasat yang telah mengganggunya sejak awal perjalanan kini terasa jauh lebih nyata daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Cikahuripan, ia yakin bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang upacara syukur panen.

     

     

    Kreator : Yassin Krisnanegara (Khrisna Nagara)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1 — Kabuyutan Cikahuripan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021