Pandangan Lara terus terpaku pada layar ponselnya yang berpendar di tengah keremangan malam kamarnya. Ratusan notifikasi merayap masuk, berondongan ucapan selamat atas kelulusannya hari ini. Beberapa di antaranya menyertakan foto Lara yang tersenyum kaku sambil memeluk buket bunga wisuda.
Namun, semua pesan itu tak bermakna. Lara mengabaikannya, membiarkan jemarinya berulang kali melakukan refresh pada satu nama yang tersemat di baris paling atas obrolan WhatsApp -nya.
Kosong. Tidak ada pesan baru. Bahkan status last seen-nya pun sudah terlewat beberapa jam yang lalu.
Bukankah setidaknya dia tahu kabar kelulusanku dari teman-temannya? batin Lara, dadanya mendadak terasa dihimpit batu tak kasat mata. Paling tidak satu baris ucapan selamat, Kak. Itu saja sudah cukup membuatku senang.
Pikiran itu berubah menjadi rasa sesak yang perlahan membakar ulu hatinya. Mengingat kembali bagaimana setahun terakhir ini ia tulus memperjuangkan pria itu, Lara merasa seperti orang bodoh. Ia selalu ada kapan pun Albas memanggil. Lara selalu meletakkan kepentingannya sendiri di urusan paling belakang, demi memastikan jalan Albas menuju kursi DPRD mulus tanpa hambatan.
Kamu selalu menjadi prioritasku, Kak. Apakah aku masih belum cukup layak untuk berada di daftar prioritasmu? Air mata yang sejak siang ditahannya, runtuh juga. Mengingat kembali momen beberapa jam lalu di gedung auditorium universitas di Surabaya, Lara meraba pipinya yang masih menyisakan sisa-sisa rona riasan wisuda yang mulai luntur.
“Apakah Kak Albas akan datang ke sini?”
Suara Laila, sahabatnya sejak semester awal perkuliahan, tiba-tiba terngiang kembali di telinga Lara. Tadi siang, Laila menangkap mata sembab Lara di tengah riuhnya selebrasi wisuda.
Lara ingat betul bagaimana ia menjawab pertanyaan itu dengan senyum getir yang dipaksakan.
“Apakah aku boleh mengharapkan itu, La?”
Laila tidak menjawab dengan bualan penenang. Dia justru menatap Lara dengan tatapan iba, lalu menarik tubuh Lara ke dalam pelukannya.
“Lebih baik tidak berharap, Lara. Daripada kamu kecewa lagi.”
Bisikan Laila siang tadi telak menampar logika Lara yang selama ini bebal. Di balik pelukan hangat sahabatnya, Lara dipaksa sadar bahwa mengharapkan Albas datang langsung dari Semarang ke Surabaya murni demi melihatnya memakai toga adalah hal yang egois dan merepotkan bagi seorang calon anggota legislatif. Pria itu sedang sibuk bertarung di panggung kampanye kota asalnya. Menguras waktu, tenaga, dan dana yang tidak sedikit hanya untuk seorang perempuan yang statusnya bahkan masih ‘calon tunangan’.
Lara tahu diri. Sangat tahu diri. Namun, apakah mengirim satu pesan teks singkat juga membutuhkan dana kampanye yang besar hingga Albas harus sehemat itu padanya?
Malam semakin larut, dan ponsel di genggaman Lara tetap membisu.
Lara menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang mulai berkecamuk ekstrem.
Apakah sebaiknya aku putus saja dengannya?
Pertanyaan itu mendadak melintas, memicu debaran tak nyaman di dadanya.
Tapi… kalau aku yang memutuskan secara mendadak, apakah dia akan marah? Pria yang ambisius seperti dia kalau egonya terluka bisa meledak tidak, ya? Bagaimana kalau dia malah memberi sumpah serapah atau mendoakan hidupku hancur?
Lara bergidik ngeri. Ia terlalu takut menghadapi konfrontasi. Namun di sisi lain, menaruh harap pada Albas rasanya seperti menggenggam bara api melelahkan dan merugikan kewarasannya sendiri.
Lebih baik aku menahan diri saja. Biar waktu yang mendewasakan hubungan ini, atau… biar dia sendiri yang memutuskan untuk melepasku lebih dulu. Tapi bagaimana caranya memancing dia untuk mundur? Lara membatin penuh tanya, terjebak dalam labirin kebingungannya sendiri.
Dalam duka dan lara yang kian menyesakkan dada, benak Lara justru melesat jauh ke belakang, mengorek kembali ketakutan terbesarnya yang selama ini terkunci rapat: ketakutan akan gagal dalam menjalin hubungan bersama pria pilihan hatinya sendiri, lalu berakhir tragis dalam jeratan perjodohan orang tua.
Sejak remaja, Lara adalah tipe gadis yang sangat hati-hati. Ia sengaja membangun dinding tebal di hatinya agar tidak jatuh dalam cinta yang membutakan, atau salah menitipkan hati pada sembarangan pria. Trauma itu tidak tumbuh tanpa alasan. Kilasan masa lalu tiba-tiba berputar di kepalanya seperti film usang, mengingatkannya pada lingkungan pergaulan bebas masa sekolah yang menghancurkan masa depan temannya, serta tangis frustrasi sang kakak yang dipaksa menikah tanpa cinta karena perjodohan keluarga.
Semua memori kelam itu mengakar kuat di kepala Lara, membisikkan satu peringatan dingin: Jika hubungan dengan Albas ini gagal, tamatlah riwayat kebebasannya.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 1- Labirin Hati Lara
Sorry, comment are closed for this post.