KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1- Labirin Hati Lara

    Bab 1- Labirin Hati Lara

    BY 01 Nov 2026 Dilihat: 9 kali
    Labirin Hati Lara_alineaku

    Pandangan Lara terus terpaku pada layar ponselnya yang berpendar di tengah keremangan malam kamarnya. Ratusan notifikasi merayap masuk, berondongan ucapan selamat atas kelulusannya hari ini. Beberapa di antaranya menyertakan foto Lara yang tersenyum kaku sambil memeluk buket bunga wisuda.

    Namun, semua pesan itu tak bermakna. Lara mengabaikannya, membiarkan jemarinya berulang kali melakukan refresh pada satu nama yang tersemat di baris paling atas obrolan WhatsApp -nya.

    Kosong. Tidak ada pesan baru. Bahkan status last seen-nya pun sudah terlewat beberapa jam yang lalu.

    Bukankah setidaknya dia tahu kabar kelulusanku dari teman-temannya? batin Lara, dadanya mendadak terasa dihimpit batu tak kasat mata. Paling tidak satu baris ucapan selamat, Kak. Itu saja sudah cukup membuatku senang.

    Pikiran itu berubah menjadi rasa sesak yang perlahan membakar ulu hatinya. Mengingat kembali bagaimana setahun terakhir ini ia tulus memperjuangkan pria itu, Lara merasa seperti orang bodoh. Ia selalu ada kapan pun Albas memanggil. Lara selalu meletakkan kepentingannya sendiri di urusan paling belakang, demi memastikan jalan Albas menuju kursi DPRD mulus tanpa hambatan.

    Kamu selalu menjadi prioritasku, Kak. Apakah aku masih belum cukup layak untuk berada di daftar prioritasmu? Air mata yang sejak siang ditahannya, runtuh juga. Mengingat kembali momen beberapa jam lalu di gedung auditorium universitas di Surabaya, Lara meraba pipinya yang masih menyisakan sisa-sisa rona riasan wisuda yang mulai luntur.

    “Apakah Kak Albas akan datang ke sini?”

    Suara Laila, sahabatnya sejak semester awal perkuliahan, tiba-tiba terngiang kembali di telinga Lara. Tadi siang, Laila menangkap mata sembab Lara di tengah riuhnya selebrasi wisuda.

    Lara ingat betul bagaimana ia menjawab pertanyaan itu dengan senyum getir yang dipaksakan.

    “Apakah aku boleh mengharapkan itu, La?”

    Laila tidak menjawab dengan bualan penenang. Dia justru menatap Lara dengan tatapan iba, lalu menarik tubuh Lara ke dalam pelukannya. 

    “Lebih baik tidak berharap, Lara. Daripada kamu kecewa lagi.”

    Bisikan Laila siang tadi telak menampar logika Lara yang selama ini bebal. Di balik pelukan hangat sahabatnya, Lara dipaksa sadar bahwa mengharapkan Albas datang langsung dari Semarang ke Surabaya murni demi melihatnya memakai toga adalah hal yang egois dan merepotkan bagi seorang calon anggota legislatif. Pria itu sedang sibuk bertarung di panggung kampanye kota asalnya. Menguras waktu, tenaga, dan dana yang tidak sedikit hanya untuk seorang perempuan yang statusnya bahkan masih ‘calon tunangan’.

    Lara tahu diri. Sangat tahu diri. Namun, apakah mengirim satu pesan teks singkat juga membutuhkan dana kampanye yang besar hingga Albas harus sehemat itu padanya?

    Malam semakin larut, dan ponsel di genggaman Lara tetap membisu.

    Lara menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang mulai berkecamuk ekstrem.

    Apakah sebaiknya aku putus saja dengannya?

    Pertanyaan itu mendadak melintas, memicu debaran tak nyaman di dadanya.

    Tapi… kalau aku yang memutuskan secara mendadak, apakah dia akan marah? Pria yang ambisius seperti dia kalau egonya terluka bisa meledak tidak, ya? Bagaimana kalau dia malah memberi sumpah serapah atau mendoakan hidupku hancur?

    Lara bergidik ngeri. Ia terlalu takut menghadapi konfrontasi. Namun di sisi lain, menaruh harap pada Albas rasanya seperti menggenggam bara api melelahkan dan merugikan kewarasannya sendiri.

    Lebih baik aku menahan diri saja. Biar waktu yang mendewasakan hubungan ini, atau… biar dia sendiri yang memutuskan untuk melepasku lebih dulu. Tapi bagaimana caranya memancing dia untuk mundur? Lara membatin penuh tanya, terjebak dalam labirin kebingungannya sendiri.

    Dalam duka dan lara yang kian menyesakkan dada, benak Lara justru melesat jauh ke belakang, mengorek kembali ketakutan terbesarnya yang selama ini terkunci rapat: ketakutan akan gagal dalam menjalin hubungan bersama pria pilihan hatinya sendiri, lalu berakhir tragis dalam jeratan perjodohan orang tua.

    Sejak remaja, Lara adalah tipe gadis yang sangat hati-hati. Ia sengaja membangun dinding tebal di hatinya agar tidak jatuh dalam cinta yang membutakan, atau salah menitipkan hati pada sembarangan pria. Trauma itu tidak tumbuh tanpa alasan. Kilasan masa lalu tiba-tiba berputar di kepalanya seperti film usang, mengingatkannya pada lingkungan pergaulan bebas masa sekolah yang menghancurkan masa depan temannya, serta tangis frustrasi sang kakak yang dipaksa menikah tanpa cinta karena perjodohan keluarga.

    Semua memori kelam itu mengakar kuat di kepala Lara, membisikkan satu peringatan dingin: Jika hubungan dengan Albas ini gagal, tamatlah riwayat kebebasannya.

     

     

    Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1- Labirin Hati Lara

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021