Keteguhan hati Mas Giyanto untuk melepas harta duniawi demi memenuhi panggilan Baitullah pada bulan Oktober 2012 ternyata dibalas tunai oleh Allah SWT dengan cara yang teramat indah. Langit tidak pernah berutang pada hamba-Nya yang mengikhlaskan niat, dan bumi pun bersaksi atas setiap tetes keringat serta air mata yang tumpah dalam kepasrahan. Perjalanan menuju Tanah Suci malam itu bukan sekadar perpindahan fisik antarlintang negara, melainkan sebuah lompatan iman yang menguji batas paling rapuh dari keduniawian kami. Ketika roda pesawat lepas landas membawa separuh jiwaku, di ruang tamu rumah kami yang sepi, aku bersujud menetaskan keyakinan bahwa janji-Nya adalah kepastian yang mutlak.
Alhamdulillah, tak lama setelah keberangkatan Mas Giyanto ke Tanah Suci, dan sejak ia menginjakkan kakinya kembali di tanah air dengan menyandang gelar haji, aliran rezeki di dalam rumah tangga kami mengalir deras seperti air zamzam yang tak pernah kering. Ada rasa damai yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat melihat pancaran wajahnya yang tenang, membawa berkah yang seolah-olah berhamburan memenuhi setiap sudut hunian kami. Rumah yang dulunya terasa sunyi dan dilingkupi kecemasan finansial, perlahan berubah menjadi sebuah oase yang sejuk. Kami merasakan sendiri bagaimana matematika manusia sama sekali tidak berlaku di hadapan kalkulasi Allah yang Mahakaya. Logika dunia mengatakan kehilangan, tetapi logika iman membuktikan kelimpahan.
Benar kata orang tua, setiap anak membawa rezekinya masing-masing ke dunia ini. Kehamilan kedua yang tengah kukandung saat itu bukan hanya menghadirkan kebahagiaan batin yang mendalam, melainkan juga mendatangkan berkah bisnis yang sama sekali tidak pernah kami duga atau rencanakan sebelumnya. Di tengah rasa mual dan lelahnya fisik seorang ibu yang sedang mengandung, Allah meniupkan energi luar biasa lewat ide-ide segar yang mengalir di kepala kami. Janin di dalam rahimku seolah menjadi magnet kebaikan yang menarik berbagai peluang tak terduga. Setiap denyut jantungnya membawa pesan tersirat bahwa hari esok tidak perlu dicemaskan, karena Sang Pemberi Hidup telah menjamin segalanya.
Semua bermula dari ruang tamu rumah baru kami yang sederhana. Rumah yang dindingnya bahkan belum sepenuhnya terpoles cat dengan sempurna itu menjadi saksi isu bagaimana diskusi malam demi malam digelar hingga larut. Berbekal uang sisa tabungan yang ada—jumlah yang sebenarnya sangat mepet untuk ukuran modal usaha—dan didukung oleh jaringan pertemanan Mas Giyanto yang semakin luas pasca-kepulangannya dari Makkah, kami mencoba memutar otak. Kami menyadari tidak bisa terus-menerus mengandalkan satu sumber penghasilan jika ingin memberikan masa depan yang layak bagi anak-anak. Tanpa disangka, peluang emas itu datang dari bidang yang sebelumnya tidak pernah kami geluti secara profesional, yaitu transportasi. Setelah menimbang berbagai risiko dan melakukan istikharah kecil di sepertiga malam, kami memantapkan niat untuk merintis bisnis rental mobil.
Jika diingat kembali, beberapa bulan yang lalu kami harus melewati pergulatan batin yang hebat ketika merelakan mobil Mazda kesayangan dijual demi mencukupi biaya haji plus Mas Giyanto. Mobil itu bukan sekadar alat transportasi bagi kami, melainkan simbol perjuangan pertama kami yang dirawat dengan penuh kasih sayang. Melepasnya terasa seperti memotong salah satu urat nadi kenyamanan hidup yang baru saja kami cicipi. Namun, karena kami memilih untuk mendahulukan urusan panggilan Allah dan meminggirkan ego keduniawian, Allah menggantinya berlipat-lipat ganda. Bisnis rental mobil yang kami mulai benar-benar dari nol, tanpa garasi yang megah ataupun sistem manajemen yang canggih, berkembang dengan sangat pesat hingga membuat kami takjub sendiri.
Satu per satu unit mobil berhasil kami tambahkan ke dalam garasi usaha kami yang masih beralaskan semen kasar. Setiap transaksi, setiap negosiasi, dan setiap pelunasan pembayaran seolah dimudahkan oleh tangan-tangan gaib yang tak terlihat. Kepercayaan dari para pelanggan, baik dari tetangga sekitar desa, rekan sejawat, hingga penyewa dari luar daerah, terus mengalir tanpa henti. Mas Giyanto mengelola operasional dengan prinsip kejujuran yang mutlak; ia selalu memastikan kondisi mesin dalam keadaan prima dan memperlakukan setiap penyewa seperti keluarga sendiri. Dari yang awalnya hanya mengelola satu armada bekas, dalam waktu yang relatif singkat, usaha rental kami berkembang pesat hingga berhasil memiliki tujuh unit mobil yang seluruhnya siap beroperasi.
Setiap pagi, melihat jajaran mobil yang terparkir rapi di area halaman rumah, dadaku selalu berdesir penuh haru yang menggelora. Air mata sering kali menggenang tanpa bisa kutahan. Aku sering kali termenung sendiri di balik meja kerja perpustakaan MTs Negeri, di antara aroma buku-buku tua dan keheningan ruang baca, menyadari betapa ajaib dan indahnya skenario yang telah dituliskan oleh Sang Mahapemilik Hidup. Pikiranku sering kali melompat mundur ke beberapa tahun yang lalu, memutar kembali rekaman masa-masa sulit yang menguji batas ketahanan kami sebagai manusia.
Dulu, ada satu lembar ingatan yang takkan pernah pudar dalam hidupku. Suatu sore di bawah guyuran rintik hujan, untuk menambal ban sepeda ontel yang bocor saja Mas Giyanto tidak punya uang sepeser pun di kantongnya. Dengan baju yang basah oleh keringat dan air hujan, ia harus menuntun sepeda tua itu sejauh tiga kilometer di atas jalanan berbatuan yang tajam. Saat itu, jangankan memimpikan memiliki mobil, untuk memastikan besok dapur bisa mengepul saja kami harus memeras otak dan menahan lapar. Kenangan pahit itu tertanam begitu dalam, menjadi jangkar yang menjaga hati kami agar tidak oleng ketika badai kesuksesan datang menerpa.
Kini, di tempat yang sama, Allah justru mempercayakan kami untuk mengelola dan memelihara tujuh buah mobil sekaligus. Setiap kunci mobil yang tergantung di dinding rumah adalah simbol dari sebuah mukjizat kesabaran. Rasa aman, kenyamanan, dan kecukupan finansial yang kini kami nikmati sama sekali tidak membuat kami jemawa atau merasa tinggi di hadapan orang lain. Sebaliknya, limpahan materi ini justru membuat kami semakin merunduk, mempertebal rasa syukur, dan memperbanyak sujud di keheningan malam. Kami tahu persis bahwa semua ini bukanlah karena kehebatan strategi bisnis kami, melainkan murni karena belas kasih Allah yang luluh oleh sebuah keikhlasan yang tulus. Kami bertekad agar setiap roda yang berputar dari bisnis ini selalu membawa keberkahan, mengantarkan kebaikan, dan menjadi ladang amal yang tak terputus untuk bekal kami menuju kampung akhirat kelak.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 10 _ Buah Kesabaran dan Berkah yang Melimpah
Sorry, comment are closed for this post.