Sejak pulang bekerja, Ridho tak banyak bicara. Wajahnya tampak dingin, sementara Kaisya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia baru saja hendak melangkah menuju kamar ketika suara Ridho menghentikannya.
“Aku nggak suka kalau kamu nutupin sesuatu dari aku,” ujar Ridho dengan nada rendah.
“Sesuatu apa?” tanya Kaisya yang kini ia sendiri merasa takut.
“Ada hubungan apa kamu sama Gian?” tanya Ridho membuat Kaisya membulatkan matanya.
“Gak ada. Kamu juga tahu kan aku Wali Kelas anaknya. Wajar sering komunikasi,” ucap Kaisya.
“Aku juga wali kelas tapi gak sedekat itu sama orang tua siswa,” kata Ridho.
“Jelaslah. Kamu itu orangnya emang gak ingin tahu masalah siswanya kan. Beda dengan aku,” kata Kaisya membela diri.
“Iya sangat beda dengan kamu yang setiap hari bahkan sampai malam selalu berkirim pesan dengan orang tua siswa, senyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran,” ujar Ridho. “Memangnya apa yang kalian bicarakan? Atau punya hubungan tersembunyi dengan alasan hubungan wali kelas dengan orang tua siswa?”
“Kamu menuduhku selingkuh?” protes Kaisya.
“Menurutmu,” jawab Ridho datar.
Kaisya terdiam. Ia sebenarnya mengerti arah pembicaraan Ridho. Hembusan napas panjang keluar dari mulutnya. Dada bergemuruh. Emosi yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Tanpa sempat berpikir panjang, Kaisya melontarkan kalimat yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut.
“Kalau aku selingkuh memangnya salah?”
“Jelas salah. Gak bisa perempuan punya dua pasangan,” kata Ridho.
“Oh, jadi kalau kamu boleh gitu?”
“Menurutmu aku bisa seperti itu?” Ridho balik bertanya.
“Mana aku tahu. Bisa saja,” kata Kaisya seakan menantang.
“Kay, kalau memang ada hubungan pribadi sama Gian. Lebih baik akhiri sekarang juga. Kamu itu bukan gadis yang bisa memiliki hubungan lebih dari satu pasangan. Kamu perempuan bersuami bahkan sudah punya anak. Harusnya bisa menjaga hati dan perasaan. Kalau aku bersikap seperti itu, apa yang kamu rasakan? Kamu saja gak mau diduakan. Apalagi aku, Kay,” kata Ridho.
Kaisya tertawa hambar.
“Aku tahu. Gak usah kamu tegaskan pun memang paham kalau aku sudah menikah. Tapi, aku gak bahagia,” seru Kaisya.
“Gak bahagia?” tanya Ridho terlihat sangat terkejut.
Kaisya tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih seperti tangisan.
“Ya,” mata Kaisya berkaca-kaca. “Kamu terlalu asyik dengan duniamu sendiri. Gak pernah mau mengerti dan peduli. Sakit jiwa dan raga. Bukan karena masalah uang. Aku sama sekali gak butuh materi darimu dan keluargamu. Cari kerja, menghidupi diri sendiri dan anak, aku mampu. Bahkan makan kamu saja lebih banyak dariku,” kata Kaisya dengan nada berapi-api di balik isak tangis.
“Jangan seperti itu, Kay. Seolah-olah aku gak ikut andil menafkahi keluarga. Saat kamu kehabisan uang, selalu memintanya padaku” kata Ridho.
“Iya, karena itu kewajibanmu,” ucap Kaisya.
“Gini saja, Kay. Kembali pada topik saja. Kalau kamu memang mau bersama Gian. Bahagia bersamanya. Silakan. Toh dia sudah sendiri kan. Aku gak akan menyuruh atau melarangmu lagi. Hanya satu permintaanku. Jangan pernah bawa Putra dalam dosamu,” ucap Ridho sesaat sebelum ia pergi dari rumah.
“Mau kemana? Ngadu ke orang tuamu? Heh,, pengecut. Anak mami dan papi. Manja,” teriak Kaisya dengan menendang pintu kamar.
Sementara di sudut ruang tamu, Putra yang sedang asyik menyusun balok mainannya perlahan menghentikan aktivitasnya. Suara Ayah dan Ibunya yang semakin meninggi membuat jemarinya ikut terdiam. Bola matanya bergantian memandang kedua orang tuanya dengan wajah bingung.
“Ayah… Ibu…” panggilnya lirih.
Namun, tak satu pun dari mereka menyahut. Perdebatan itu terus berlanjut.
Putra memeluk boneka kecil kesayangannya erat-erat. Bibir mungilnya mulai bergetar. Ia tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibu saling membentak. Yang ia tahu, setiap kali suara mereka meninggi, dadanya ikut terasa sesak.
Tak lama kemudian rumah kembali sunyi. Ridho telah pergi meninggalkan rumah, sementara Kaisya hanya mampu terduduk lemas di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Putra kembali memainkan mainannya, sesekali melirik ke arah sang ibu yang sejak tadi hanya diam.
Keterkejutan Kaisya dari tadi pagi belum sirna. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Memang bukan sekali dua kali terjadi pertengkaran dengan Ridho. Tapi sekarang berbeda. Ada ketakutan di relung hatinya. Selalu ia ucapkan kata cerai namun ini sama sekali berbeda. Meski tak ada kata itu dari mulut suaminya tapi begitu sakit. Tanpa terasa derai air mata lolos begitu saja. Dadanya sesak, kepalanya berdenyut seakan mau pecah. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api.
“Ibu nangis?” tanya Putra memeluk ibunya.
Kaisya segera melap lelehan tersebut dan tersenyum kemudian menggelengkan kepala. Ia tidak ingin sang anak ikut merasakan kesedihan.
“Jangan nangis. Ayah nakal ya,” ucap Putra. Anak sekecil itu harus melihat pertengkaran hebat kedua orang tuanya.
“Putra sayang, Ayah gak nakal nak. Jangan bicara begitu ya,” ucap Kaisya.
“Tadi Ayah marahin Ibu,” ucap Putra sambil memeluk ibunya.
“Iya, itu Ayah gak sengaja sayang. Putra mau makan mie gak? Kalau mau ibu masakin ya,” kata Kaisya bangkit dari tempat duduk setelah ia mendapatkan jawaban sang anak untuk dibuatkan mie.
Di dapur, Kaisya memasak dua mie instan yang akan dimakan ia dan anaknya. Sedangkan sang suami masih belum pulang sejak pertengkaran sepulang lelaki itu bekerja. Derai air mata kembali mengalir di pipinya. Segera ia hapus karena mie sudah siap disajikan satu di mangkok kaca dan yang lainnya pada mangkok plastik. Langkah gontainya membuat Putra berlari ke arah ibunya.
“Putra bantu,” ucap anak manis tersebut.
“Baiklah, ini nak. Hati-hati ya,” ucap Kaisya.
Ketika tengah memakan mie, Ridho datang. Ia langsung duduk di antara Kaisya dan Putra.
“Wah, makan mie ya. Ayah mau dong,” ujar Ridho menggoda Putra.
“Gak boleh,” ucap Putra.
“Kenapa?” tanya Ridho.
“Ayah nakal,” kata Putra. Ridho mengerutkan keningnya dengan jawaban sang anak.
“Kata siapa Ayah nakal?” tanya Ridho.
“Ayah marah ke Ibu. Ayah nakal,” kata Putra.
Ridho terdiam. Untuk pertama kalinya sejak siang, dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka pertengkaran mereka terekam begitu jelas di ingatan Putra.
“Ibunya nakal jadi Ayah marahin,” ucap Ridho tanpa menoleh ke arah Kaisya. Sontak saja membuat perempuan itu membulatkan mata.
“Ibu nakal?” tanya Putra menoleh ke arah Kaisya.
“Iya,” jawab Kaisya seraya menghembuskan nafas berat.
“Ih, ibu gak boleh nakal. Putra juga mau marah,” kata Putra dengan tangan di pinggang.
“Waduh, marah ya sama Ibu? Emm,, Ibu nangis ah dimarahin sama Putra,” ucap Kaisya berpura-pura tegar di hadapan sang anak.
“Jangan nangis. Putra sayang Ibu,” ucap Putra sambil memeluk Kaisya erat.
“Sekarang anaknya Ibu habiskan mie nya. Dingin gak enak loh,” kata Kaisya sembari menyuapkan mie pada Putra.
Setelah selesai makan dan menyuapi. Kaisya membereskan segera langsung mencuci mangkok tersebut. Hingga pukul delapan malam, ia menyuruh Putra tidur setelah membacakan cerita. Setengah jam kemudian sang anak terlelap tinggal Kaisya dan Ridho yang masih tak bertegur sapa seusai kejadian tadi siang. Pada Akhirnya lelaki itu berbaring disamping anaknya.
Kaisya memejamkan mata, tetapi tidurnya tak kunjung datang. Ucapan Ridho siang tadi terus berputar di kepalanya.
Kalau memang kamu bahagia sama Gian… silakan.
Entah mengapa, kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kata cerai yang selama ini sering diucapkan.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 10. Diam yang Menyakitkan
Sorry, comment are closed for this post.