
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada pemilik rindu. Ia mengalir, melesat, lalu menjatuhkan kita pada lembaran-lembaran baru yang telah digariskan oleh pena takdir. Menyeberangi jembatan waktu dari akhir tahun yang penuh dengan hiruk-pikuk birokrasi, sampailah saya di gerbang awal tahun 2026. Di usia saya yang kini menginjak 46 tahun, ritme kehidupan tidak melambat, ia justru semakin bergemuruh, membawa rona warna yang silih berganti antara tawa yang renyah, air mata yang luruh di atas sajadah, hingga kepasrahan mutlak saat menghadapi kehilangan yang paling sunyi.
Namun, di atas semua gelombang itu, Kurikulum Berbasis Cinta yang tertanam di dalam dada senantiasa menjadi jangkar. Ia mengajarkan saya bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah dua sayap burung yang sama; keduanya bekerja bergantian untuk menerbangkan jiwa kita menuju rida tertinggi Sang Pencipta.
Awal Januari 2026 dibuka dengan sebuah catatan spiritual yang teramat manis. Di saat dunia luar merayakan pergantian tahun dengan tiupan terompet dan pesta kembang api yang fana, saya memilih jalan yang berbeda. Bersama para sahabat seiringan jiwa-jiwa teduh yang selalu setia menemani perjalanan hijrah dan dakwah,kami melangkah menuju Gedung Olahraga (GOR) Bekasi. Pagi itu, tempat yang biasanya riuh oleh teriakan penonton olahraga telah berubah menjadi lautan putih yang diselimuti aroma wewangian gaharu dan lantunan selawat.
Kami datang untuk mereguk telaga ilmu dari Ustadzah Halimah Alaydrus. Sambil berjalan beriringan di antara ribuan jemaah wanita yang memadati selasar GOR, tawa kami pecah, renyah, dan penuh dengan energi kebahagiaan yang murni.
“Umi Husna, cepat sedikit langkahnya!” seru Ustazah Fitri sambil menarik ujung gamis saya dengan jenaka. “Kalau kita meleng sedikit saja, kita bisa kebagian tempat di dekat pintu keluar. Saya mau duduk di area yang bisa menatap layar proyektor dengan jelas!”
“Sabar, Ustazah Fitri,” jawab saya sambil tertawa kecil, menyeimbangkan langkah di antara kerumunan. “Di mana pun sejadah kita digelar hari ini, insya Allah barakahnya sama. Yang penting hatinya disiapkan untuk menampung nasihat.”
Sahabat saya yang lain, Fatimah, ikut menimpali sambil membagikan botol air mineral kepada kami. “Betul kata Umi. Tapi jujur, memulai tahun 2026 dengan berkumpul di taman surga seperti ini rasanya jauh lebih mewah daripada liburan ke luar kota. Adem sekali hatinya.”
Ketika Ustadzah Halimah Alaydrus mulai menaiki mimbar dan memperdengarkan suara beliau yang lembut namun sarat akan wibawa, suasana GOR seketika hening. Beliau memimpin doa awal tahun yang menggetarkan seisi ruangan. Doa-doa tentang permohonan ampunan atas kelalaian di tahun lalu, permohonan ketetapan iman, serta keselamatan umat di tahun 2026 mengalir dengan begitu khusyuk.
Kami bertangan-tangan, menengadahkan telapak ke langit, membiarkan butiran bening keharuan membasahi pipi. Ada tawa bahagia setelah doa itu selesai dikumandangkan—sebuah tawa syukur karena Allah masih mengizinkan napas kami berembus di tahun yang baru, dikelilingi oleh para sahabat pilihan yang saling mencintai karena Allah.
Waktu terus bergulir menembus bulan Ramadan yang syahdu hingga tibalah kita di bulan April 2026, tepat beberapa pekan setelah gema takbir Idulfitri berlalu. Kerinduan akan majelis ilmu kembali membawa langkah kami menuju kawasan Grand Wisata Tambun, tempat Ustadzah Halimah Alaydrus kembali mengadakan pengajian pasca-libur lebaran.
Suasana pagi itu sebenarnya sangat cerah, namun bagi kami, atmosfer di dalam majelis terasa berbeda. Sejak awal keberangkatan, salah satu sahabat karib saya, Sarah, tampak lebih banyak diam. Matanya sembap dan pandangannya kosong menatap hamparan karpet masjid.
Saat untaian kalam hikmah dari Ustadzah Halimah mulai mengalir, fokus saya terbelah. Saya tidak bisa sepenuhnya menyerap isi kajian karena tepat di samping saya, tubuh Sarah mulai bergetar hebat. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, mencoba menyembunyikan isak tangis yang tertahan di balik khimarnya. Air matanya luruh, membasahi kain sejadah, mengalirkan rasa sakit yang tak terkatakan.
Saya menggeser duduk saya, merapat tanpa jarak. Saya raih jemarinya yang dingin, lalu menggenggamnya dengan erat, mencoba menyalurkan kehangatan batin seorang sahabat.
“Sarah…,” bisik saya teramat lirih di sela-sela suara mikrofon majelis. “Ada apa? Tumpahkan saja kalau dadamu terasa sesak.”
Sarah menoleh ke arah saya dengan mata yang basah oleh air mata yang terus mengalir deras. “Umi… ujian di rumah tangga dan ekonomi saya rasanya semakin berat setelah lebaran ini. Saya merasa tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri tegak di depan anak-anak. Saya datang ke sini ingin mencari ketenangan, tapi rasanya dosa dan beban saya terlalu penuh.”
Mendengar pengakuan jujur itu, air mata saya ikut menetes tanpa bisa dibendung. Fokus saya sebagai pencari ilmu seketika bergeser menjadi fokus seorang praktisi Kurikulum Berbasis Cinta yang harus mempraktikkan ilmu empati secara nyata. Saya dekap bahu Sarah, membiarkan ia menyandarkan kepalanya di pundak saya yang berusia 46 tahun ini.
“Menangislah, Sarah. Allah mendengar rintihanmu di majelis ini,” bisik saya sambil mengusap punggungnya. “Kamu tidak sendirian. Kita datang ke sini sama-sama membawa jiwa yang fakir. Biarkan air matamu menghapus sisa-sisa kesedihan itu. Setelah ini, kita bangkit bersama-sama. Umi akan selalu ada di sampingmu.”
Kajian April itu menjadi ruang katarsis yang teramat dalam bagi kami. Kami keluar dari Grand Wisata tidak hanya dengan catatan ilmu di buku, melainkan dengan ikatan persaudaraan yang semakin rekat oleh air mata ketulusan.
Belum kering air mata empati di bulan April, takdir kembali menguji benteng ketabahan saya di bulan Mei 2026. Kali ini ujian itu datang mengetuk pintu keluarga kami sendiri. Nenek tercinta, sosok sepuh yang menjadi salah satu paku bumi tempat kami bersandar dan memohon doa restu, kesehatannya terus menurun drastis akibat penyakit menahun yang dideritanya.
Hari-hari di bulan Mei berubah menjadi rangkaian penantian yang penuh dengan kepasrahan. Tubuh ringkih Nenek yang kian melemah terbaring di atas ranjang, memicu fluktuasi emosional yang hebat di dalam rumah. Di sela-sela kesibukan memimpin madrasah, saya harus membagi waktu untuk mendampingi beliau, membisikkan kalimat talqin, serta mengusap dahinya yang kerap berkeringat dingin.
Hingga pada suatu fajar di pertengahan bulan Mei, Allah SWT memutus seluruh rasa sakit yang diderita Nenek. Beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan begitu tenang, kembali ke haribaan Ilahi.
“Umi… Nenek sudah tidak ada,” ucap adik saya dengan suara yang tercekat di ambang pintu.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Kehilangan sosok orang tua, setelah sebelumnya Ayah dan Ibu telah tiada, menyisakan ruang hampa yang teramat sunyi di dalam dada. Namun, sebagai seorang wanita yang telah ditempa oleh berbagai badai kehidupan, saya tidak membiarkan diri saya larut dalam ratapan yang merusak rida.
Saya melangkah mendekati jenazah Nenek, menatap wajahnya yang tampak begitu damai, seolah-olah beliau hanya sedang tertidur pulas setelah kelelahan menempuh perjalanan panjang di dunia. Saya kecup keningnya yang dingin untuk terakhir kali.
“Selamat jalan, Nenek…,” bisik saya dengan suara bergetar namun sarat akan ketetapan tauhid. “Terima kasih atas segala doa tersembunyi yang Nenek rapal untuk keselamatan Husna dan madrasah selama ini. Husna ikhlas… Husna rida atas takdir Allah.”
Prosesi pemakaman yang syahdu sore itu menjadi pengingat mutlak bagi jiwa saya: bahwa panggung dunia ini teramat singkat, dan tugas kita hanyalah mengumpulkan bekal terbaik berupa amal jariah dan cinta kasih kepada sesama.
Kehilangan Nenek di bulan Mei menuntut saya untuk segera menegakkan punggung kembali, karena di bulan Juni 2026, RA Aisyah Afiqannisa memasuki fase paling krusial di akhir tahun ajaran 2025/2026: persiapan perpisahan dan pelaksanaan kegiatan rihlah (wisata) sekolah.
Permasalahan di akhir tahun ajaran baru selalu datang seperti air bah. Mulai dari urusan pelunasan administrasi sebagian wali murid yang tersendat, hingga dinamika kepanitiaan yang menguras emosi. Puncaknya terjadi saat kami melaksanakan agenda rihlah sekolah ke sebuah wahana bermain edukasi.
Suasana yang semula dipenuhi oleh tawa riang anak-anak seketika berubah menjadi kepanikan masal ketika salah seorang anak didik dari kelas A, Zaidan, terjatuh dari tangga area bermain akibat lepas dari pantauan ibunya yang sedang merapikan barang bawaan. Kepala Zaidan membentur ujung lantai, menimbulkan luka robek yang cukup mengeluarkan banyak darah.
“Umi! Umi Husna! Zaidan berdarah, Umi!” teriak Ustazah Fitri dengan wajah pucat pasi sambil berlari ke arah saya.
Jeritan histeris dari ibunda Zaidan langsung memecah keheningan lokasi wisata. Wali murid yang lain mulai berkerumun, memicu suasana menjadi simpang siur dan penuh kepanikan.
Di sinilah kematangan kepemimpinan seorang kepala sekolah diuji. Saya tidak boleh ikut panik. Saya belah kerumunan itu dengan langkah taktis.
“Ibu Zaidan, tenang. Istigfar, Bu. Ambil napas dalam-dalam,” ucap saya dengan nada suara yang tegas namun menenangkan, sambil merangkul pundak sang ibu yang mulai lemas. “Ustazah Aminah, ambil kotak P3K, lakukan penekanan pertama pada lukanya dengan kasa steril. Ustazah Fitri, panggil ambulans tempat wisata atau siapkan mobil operasional kita sekarang juga! Kita bawa ke rumah sakit terdekat!”
Selama perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah terdekat, saya duduk di dalam mobil mendampingi Zaidan dan ibunya. Tangan saya tak henti-hentinya mengusap kepala anak itu yang terus menangis, sementara mulut saya merapalkan doa keselamatan. Sang ibu terus menyalahkan diri sendiri atas kelalaiannya.
“Ini salah saya, Umi… saya tidak becus jaga anak,” ratapnya.
“Ibu, ini takdir yang tidak bisa kita tebak. Yang penting sekarang kita ikhtiar medis. Zaidan anak yang kuat, insya Allah tidak apa-apa,” jawab saya, berusaha menjadi pilar kekuatan bagi mereka.
Setelah melalui pemeriksaan intensif di instalasi gawat darurat dan mendapatkan beberapa jahitan kecil, dokter keluar dengan senyuman melegakan. “Alhamdulillah, Ibu, Kepala Sekolah… tidak ada tanda-tanda gegar otak atau cedera serius. Ananda Zaidan hanya mengalami luka robek luar. Setelah obatnya habis, dia bisa beraktivitas kembali.”
Mendengar kalimat itu, saya langsung lemas dan terduduk di kursi tunggu RS, meluapkan rasa syukur yang teramat dalam melalui helaan napas panjang. Alhamdulillah, ya Allah… Engkau masih melindungi anak didik kami.
Drama rumah sakit berhasil dilewati, namun tantangan terakhir sudah menunggu di gerbang depan: Acara Perpisahan Sekolah. Mengingat keterbatasan anggaran dan dinamika ekonomi pasca-lebaran, saya mengambil keputusan manajerial yang berani: perpisahan tahun ini tidak akan diadakan di gedung sewaan yang mahal, melainkan di dalam lingkungan sekolah sendiri dengan konsep yang seminimalis dan sesederhana mungkin.
Keputusan ini awalnya memicu riak tidak puas dari segelintir wali murid yang menginginkan panggung megah berbiaya besar demi genggaman gengsi sosial.
“Umi, apa tidak kelihatan terlalu miskin kalau perpisahan cuma di sekolah?” protes salah satu pengurus kelas saat rapat koordinasi. “Lembaga lain saja bisa sewa aula hotel.”
Saya menatap forum wali murid itu dengan pandangan kasih sayang, lalu berbicara dari hati ke hati. “Bapak dan Ibu wali murid yang saya cintai. Nilai dari sebuah perpisahan bukan terletak pada megahnya dekorasi panggung atau mewahnya lampu sorot gedung. Esensi sejati dari perpisahan adalah momentum di mana kita bersyukur atas perkembangan karakter anak-anak kita selama di sini, serta ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan cinta mereka kepada orang tua dan guru. Mari kita buat dekorasi yang minimalis dari hasil karya anak-anak sendiri, sederhana di mata manusia, namun megah di hati kita semua.”
Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta kembali memenangkan hati mereka. Seluruh wali murid akhirnya sepakat untuk bahu-membahu.
Pada hari pelaksanaan, halaman RA Aisyah Afiqannisa disulap menjadi panggung yang bersahaja namun teramat estetik. Dekorasi latar belakang panggung terbuat dari susunan sisa botol plastik projek PKKRA yang dicat rapi, dipadukan dengan rangkaian balon sederhana dan gambar tangan hasil karya anak-anak kelas B sendiri.
Acara berjalan dengan begitu khusyuk dan menyentuh ruh batin. Ketika anak-anak berdiri di atas panggung kecil itu, mengenakan baju wisuda sederhana, lalu menyanyikan lagu terima kasih guru sambil membawa setangkai bunga mawar untuk diberikan kepada ibunda mereka masing-masing, tangis haru massal pecah di halaman sekolah.
“Umi Husna…,” ucap perwakilan wali murid yang semula memprotes konsep acara, kini melangkah mendekati saya sambil menyeka air matanya. “Saya minta maaf, Umi. Acara ini… rasanya jauh lebih khidmat dan membekas di hati saya daripada perpisahan megah di gedung mewah. Terima kasih sudah mendidik anak kami dengan cinta.”
Saya membalas pelukannya dengan kehangatan yang utuh. “Sama-sama, Ibu. Ini adalah kesuksesan kita bersama.”
Sore hari, setelah seluruh tarikan kursi lipat terakhir dirapikan dan halaman sekolah kembali senyap, saya duduk sendirian di selasar madrasah, memandangi panggung minimalis yang masih menyisakan beberapa balon yang bergoyang ditiup angin sore Bekasi.
Tahun 2026 baru berjalan setengah putaran, namun ia telah mengajari saya arti dari sebuah orkestrasi kehidupan yang sesungguhnya. Dimulai dari tawa riang bersama sahabat di GOR Bekasi, air mata duka yang luruh di Grand Wisata, kepulangan Nenek yang menyisakan rindu mendalam, hingga ketegangan di ruang IGD rumah sakit saat mengawal keselamatan anak didik.
Semua benang merah takdir itu terajut dengan begitu indah di akhir tahun ajaran ini. Pundak seorang kepala sekolah berusia 46 tahun ini mungkin akan terus merasakan pegal dan letih, namun selama masih ada sujud sepertiga malam tempat menumpahkan segala keluh kesah, dan selama Kurikulum Berbasis Cinta masih tegak berdiri memandu setiap kebijakan, maka tidak ada satu pun gelombang dunia yang mampu menenggelamkan lentera pengabdian ini. Saya bersiap melangkah pulang, menjemput lembaran takdir berikutnya dengan rida, bismillah, lillahi ta’ala.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 10: Rona Air Mata dan Sujud Syukur di Sepanjang Selasar Takdir
Sorry, comment are closed for this post.