BAB 11: LEMBAH TULANG DAN ORANG YANG PALING KAU BENCI
LEMBAH TULANG
Tiga minggu dari Kota Cermin.
Tidak ada tanah. Yang ada hanya tulang. Tulang manusia, tulang hewan, bertumpuk setinggi bukit.
Angin di sini tidak bersuara. Karena semua yang hidup sudah mati.
“Benih Kedelapan ada di sini,” kata Lyra suaranya gemetar. “Benih Kebencian.”
Tim 12 berhenti. Tio menutup mata. “Baunya… marah.”
Veyrin jalan paling depan. Tangannya dingin lagi. Bukan karena sihir. Karena takut.
“Aku hafal tempat ini,” bisiknya. “Aku pernah dikubur di sini.”
MEMBONGKAR SIAPA “?”
Di tengah lembah ada tahta dari tulang. Dan di atasnya duduk seseorang.
Perempuan. Jubah hitam. Wajah tertutup kerudung.
Di pangkuannya ada Benih Kedelapan. Berdenyut hitam.
Dia menoleh. Tersenyum.
Wajahnya… Selene.
Semua terdiam.
“Selamat datang, keluarga,” kata Selene palsu. “Lama tidak bertemu.”
Selene yang asli maju. “Siapa kau?”
Perempuan itu melepas kerudung. Wajahnya sama persis. Tapi matanya merah.
“Aku Selene,” katanya. “Selene yang kau tinggalkan 20 tahun lalu.”
Veyrin mundur. “Tidak… Selene tidak pernah…”
“Benar,” potong Selene palsu. “Karena yang kau cintai itu Selene yang baru. Yang pemaaf. Yang suci.”
Dia berdiri. “Aku Selene yang kau khianati. Yang kau pilih mati daripada ikut denganmu.”
VEYRIN BELAJAR MENERIMA MASA LALUNYA
Flashback pecah di udara.
20 tahun lalu. Veyrin muda memohon. “Kabur denganku!”
Selene muda menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku harus melindungi desa.”
Veyrin berteriak. “Kalau begitu mati saja!”
Dan dia pergi. Meninggalkan Selene di tengah serangan.
Selene palsu menatap Veyrin.
“Kebencian itu aku tanam di sini. Setiap malam aku berteriak. Sampai Benih ini lahir dari darahku.”
“Jadi surat ‘?’ dari kamu?” tanya Talia.
“Tidak,” Selene palsu tertawa. “Aku hanya pion. Ada yang memintaku melakukan ini.”
Dia melempar surat. Isinya:
Empat sudah selesai. Dua lagi.
Yang terakhir ada di Puncak Petir.
Dan dia adalah dirimu yang paling kau takutkan.
– ?
Veyrin mengepalkan tangan. “Cukup.”
LATIHAN SIHIR GABUNGAN TIM 12
Tulang-tulang bangkit. Menjadi prajurit.
“Formasi!” teriak Leon.
Tapi kali ini Veyrin yang maju duluan. Tidak pakai marah.
Dia berdiri di depan Selene yang asli. Melindungi.
“Aku yang salah,” kata Veyrin lantang. “Aku yang lari. Aku yang pengecut.”
Dia menatap Selene palsu. “Dan aku minta maaf. 20 tahun terlambat.”
Selene palsu tertawa. “Permintaan maaf tidak menghidupkanku kembali!”
“Tidak,” kata Veyrin. “Tapi dia bisa membuatku hidup.”
Eira, Aira, Tio, Talia, semuanya maju. Berdiri di belakang Veyrin.
Dua belas cahaya menyatu. Bukan untuk menghancurkan. Untuk mengingat.
Cahaya itu menyentuh Selene palsu. Wajahnya berubah. Menjadi muda lagi.
“Aku… aku capek benci,” bisiknya.
Lalu dia menangis. Tubuhnya hancur jadi kelopak bunga putih.
Benih Kedelapan jatuh. Tidak pecah. Dia berubah jadi kalung tulang kecil.
Selene yang asli mengambilnya. Memakai di leher. “Aku memaafkanmu. Dan aku memaafkan diriku.”
Veyrin jatuh berlutut. Menangis untuk pertama kalinya tanpa menahan.
SURAT KEENAM
Di tahta tulang ada surat terakhir.
Isinya:
Lima sudah selesai. Satu lagi.
Yang terakhir ada di Puncak Petir.
Dan dia menunggumu sendirian.
– ?
Tio memegang surat itu. “Tulisannya sama. Tapi tintanya… darah.”
Veyrin berdiri. Matanya sudah tidak kosong.
“Berarti kita hampir selesai.”
Eira menatap kompas. “Tujuan terakhir: Puncak Petir.”
Veyrin mengangguk. “Berangkat. Tim 12. Untuk terakhir kalinya.”
Di belakang, Lembah Tulang runtuh. Dari reruntuhannya tumbuh bunga putih.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 11 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.