Mereka bertiga melangkah keluar dari bayangan gubug, meninggalkan keteduhan yang sejak tadi terasa nyaman. Begitu kaki mereka kembali menginjak pasir yang lebih terang, hangat matahari langsung terasa di kulit, sementara suara festival yang sebelumnya hanya terdengar samar kini datang bertumpuk dari segala arah.
Semakin jauh dari deretan gubug pedagang, suasana di sekitar mereka semakin hidup. Seruan para pengunjung bercampur dengan tawa anak-anak, suara pengeras yang sesekali mendengung, serta desir angin yang terus-menerus melintas di atas pantai dan menarik ratusan tali layang-layang ke langit.
Orang-orang bergerak ke mana-mana seperti arus yang tidak pernah berhenti. Anak-anak berlarian sambil menggenggam gulali dan balon warna-warni, beberapa di antaranya sibuk menerbangkan layang-layang kecil milik mereka sendiri dan tertawa setiap kali layangan itu oleng diterpa angin. Di dekat mereka, seorang balita menangis ketakutan saat melihat layang-layang berbentuk hiu dengan deretan gigi tajam, sementara ibunya justru tertawa geli melihat reaksi anaknya.
Tak jauh dari garis ombak, beberapa anak lain sedang asyik bermain pasir. Mereka menimbun kaki temannya sampai tidak terlihat, membentuk benteng-benteng kecil yang langsung runtuh ketika sapuan air laut pertama datang. Benteng itu lalu dibangun lagi, dirapikan lagi, dan dihancurkan lagi oleh ombak berikutnya, seolah permainan itu memang tidak pernah dirancang untuk selesai.
Remaja-remaja bergerombol sambil bergantian berfoto dengan latar langit yang penuh warna. Sesekali terdengar teriakan kegirangan saat salah satu layang-layang raksasa berhasil naik lebih tinggi, sementara di antara kerumunan itu beberapa bapak berjalan cepat sambil memanggul rangka layang-layang besar di bahu mereka seperti membawa perlengkapan penting yang harus segera disiapkan.
Di depan sana, deretan tenda peserta membentang hampir sepanjang pantai. Ada tenda putih besar dengan bendera kecil berkibar di puncaknya, ada kanopi panjang berangka besi, dan ada pula tenda sederhana dari terpal biru yang diikat pada tiang bambu. Di bawah naungan tenda-tenda itu, para peserta sibuk mempersiapkan layang-layang mereka masing-masing; ada yang mengikat tali, merapikan sambungan rangka, atau memeriksa satu per satu bagian sebelum diterbangkan.
Raka berjalan pelan sambil memperhatikan semuanya.
Di salah satu tenda, ia melihat layang-layang berbentuk burung raksasa dengan bentangan sayap hampir setinggi orang dewasa. Bulu-bulu pada sayapnya dilukis sangat detail dengan warna merah, emas, dan hitam sehingga dari kejauhan layang-layang itu tampak seperti makhluk hidup yang siap mengepakkan sayapnya kapan saja.
“Mas Raka, lihat itu…”
Suara Papa membuatnya menoleh.
Di atas pasir terbentang seekor naga merah raksasa. Tubuhnya tersusun dari rangkaian lingkaran kain yang saling terhubung membentuk badan panjang berliku seperti ular. Kepalanya dihias mata besar dan tanduk kecil dari bambu yang dipoles halus. Beberapa orang sedang memasang tali utama di bagian dada, sementara yang lain memeriksa sambungan di sepanjang tubuhnya.
“Wah…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Raka.
Farah bahkan hampir melompat di tempat.
“Ini kayak yang di gambaaaar, Pa! Yang di spanduk tadi!”
Angin bertiup sedikit lebih kencang.
Ujung ekor naga itu bergerak-gerak pelan di atas pasir, membuatnya terlihat seolah sudah tidak sabar untuk terbang ke langit.
Sedikit lebih jauh berdiri layang-layang berbentuk kapal layar. Rangka kayu ringannya menopang tiga tiang tinggi dengan kain putih yang terbentang sebagai layar. Setiap kali angin lewat, layar-layar itu berkibar perlahan seperti kapal sungguhan yang sedang mencari arah sebelum berlayar.
Di dekatnya ada pula paus biru raksasa dengan tubuh panjang dan gemuk yang dicat biru tua serta dihiasi bintik-bintik putih kecil menyerupai pantulan cahaya di permukaan laut. Beberapa anak kecil berdiri di sekelilingnya sambil mengelus kain paus itu dan tertawa, seolah mereka benar-benar sedang menyentuh makhluk hidup.
Bagi Raka, semuanya terasa seperti pesta besar.
Langit yang penuh warna.
Layang-layang raksasa dengan bentuk-bentuk yang tidak biasa.
Dan orang-orang dari berbagai tempat yang datang untuk menyaksikannya.
Sesekali ia bahkan mendengar percakapan dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Mungkin peserta dari luar negeri, seperti yang tadi Mama bilang.
Namun di sela-sela semua keriuhan itu, Raka kembali merasakan sesuatu yang berbeda.
Sama seperti saat pertama kali turun dari mobil, ia sesekali melihat garis-garis tipis di udara. Bukan seperti tali atau bayangan biasa, melainkan sesuatu yang menyerupai bekas langkah angin, melengkung mengikuti sayap burung, badan naga, atau layar kapal.
Di dekat tali-tali yang tertarik ke langit, kadang ada bayangan kecil yang melintas begitu cepat sampai ia tidak yakin benar-benar melihatnya.
Raka mengedip.
Seketika semuanya kembali normal.
Tidak ada garis.
Tidak ada bayangan.
Hanya festival layang-layang seperti yang dilihat orang lain.
Namun perasaan aneh itu tidak ikut menghilang.
Ada sesuatu yang tertinggal di dalam dadanya. Hangat, ringan, tetapi sulit dipahami. Seperti ada sesuatu yang perlahan bergerak mendekat.
Bukan dari langit.
Bukan dari laut.
Melainkan dari arah kerumunan manusia di kejauhan.
Raka menarik napas pelan lalu kembali melangkah mengikuti Papa dan Farah di antara tenda-tenda serta pengunjung yang terus berlalu-lalang.
Tanpa ia sadari, di sisi lain pantai, pada waktu yang hampir bersamaan, ada seorang anak lain yang juga sedang bermain pasir bersama dua sepupunya.
Ditarik oleh sesuatu yang sama.
Mereka belum saling mengenal.
Belum pernah saling melihat.
Namun tanpa mereka sadari, arah langkah keduanya perlahan sedang menuju titik yang sama.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 11 – Festival Layang-Layang
Sorry, comment are closed for this post.