KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 11 – Festival Layang-Layang

    Bab 11 – Festival Layang-Layang

    BY 13 Jul 2026 Dilihat: 5 kali
    Festival Layang-Layang_alineaku

    Mereka bertiga melangkah keluar dari bayangan gubug, meninggalkan keteduhan yang sejak tadi terasa nyaman. Begitu kaki mereka kembali menginjak pasir yang lebih terang, hangat matahari langsung terasa di kulit, sementara suara festival yang sebelumnya hanya terdengar samar kini datang bertumpuk dari segala arah.

    Semakin jauh dari deretan gubug pedagang, suasana di sekitar mereka semakin hidup. Seruan para pengunjung bercampur dengan tawa anak-anak, suara pengeras yang sesekali mendengung, serta desir angin yang terus-menerus melintas di atas pantai dan menarik ratusan tali layang-layang ke langit.

    Orang-orang bergerak ke mana-mana seperti arus yang tidak pernah berhenti. Anak-anak berlarian sambil menggenggam gulali dan balon warna-warni, beberapa di antaranya sibuk menerbangkan layang-layang kecil milik mereka sendiri dan tertawa setiap kali layangan itu oleng diterpa angin. Di dekat mereka, seorang balita menangis ketakutan saat melihat layang-layang berbentuk hiu dengan deretan gigi tajam, sementara ibunya justru tertawa geli melihat reaksi anaknya.

    Tak jauh dari garis ombak, beberapa anak lain sedang asyik bermain pasir. Mereka menimbun kaki temannya sampai tidak terlihat, membentuk benteng-benteng kecil yang langsung runtuh ketika sapuan air laut pertama datang. Benteng itu lalu dibangun lagi, dirapikan lagi, dan dihancurkan lagi oleh ombak berikutnya, seolah permainan itu memang tidak pernah dirancang untuk selesai.

    Remaja-remaja bergerombol sambil bergantian berfoto dengan latar langit yang penuh warna. Sesekali terdengar teriakan kegirangan saat salah satu layang-layang raksasa berhasil naik lebih tinggi, sementara di antara kerumunan itu beberapa bapak berjalan cepat sambil memanggul rangka layang-layang besar di bahu mereka seperti membawa perlengkapan penting yang harus segera disiapkan.

    Di depan sana, deretan tenda peserta membentang hampir sepanjang pantai. Ada tenda putih besar dengan bendera kecil berkibar di puncaknya, ada kanopi panjang berangka besi, dan ada pula tenda sederhana dari terpal biru yang diikat pada tiang bambu. Di bawah naungan tenda-tenda itu, para peserta sibuk mempersiapkan layang-layang mereka masing-masing; ada yang mengikat tali, merapikan sambungan rangka, atau memeriksa satu per satu bagian sebelum diterbangkan.

    Raka berjalan pelan sambil memperhatikan semuanya.

    Di salah satu tenda, ia melihat layang-layang berbentuk burung raksasa dengan bentangan sayap hampir setinggi orang dewasa. Bulu-bulu pada sayapnya dilukis sangat detail dengan warna merah, emas, dan hitam sehingga dari kejauhan layang-layang itu tampak seperti makhluk hidup yang siap mengepakkan sayapnya kapan saja.

    “Mas Raka, lihat itu…”

    Suara Papa membuatnya menoleh.

    Di atas pasir terbentang seekor naga merah raksasa. Tubuhnya tersusun dari rangkaian lingkaran kain yang saling terhubung membentuk badan panjang berliku seperti ular. Kepalanya dihias mata besar dan tanduk kecil dari bambu yang dipoles halus. Beberapa orang sedang memasang tali utama di bagian dada, sementara yang lain memeriksa sambungan di sepanjang tubuhnya.

    “Wah…”

    Hanya itu yang keluar dari mulut Raka.

    Farah bahkan hampir melompat di tempat.

    “Ini kayak yang di gambaaaar, Pa! Yang di spanduk tadi!”

    Angin bertiup sedikit lebih kencang.

    Ujung ekor naga itu bergerak-gerak pelan di atas pasir, membuatnya terlihat seolah sudah tidak sabar untuk terbang ke langit.

    Sedikit lebih jauh berdiri layang-layang berbentuk kapal layar. Rangka kayu ringannya menopang tiga tiang tinggi dengan kain putih yang terbentang sebagai layar. Setiap kali angin lewat, layar-layar itu berkibar perlahan seperti kapal sungguhan yang sedang mencari arah sebelum berlayar.

    Di dekatnya ada pula paus biru raksasa dengan tubuh panjang dan gemuk yang dicat biru tua serta dihiasi bintik-bintik putih kecil menyerupai pantulan cahaya di permukaan laut. Beberapa anak kecil berdiri di sekelilingnya sambil mengelus kain paus itu dan tertawa, seolah mereka benar-benar sedang menyentuh makhluk hidup.

    Bagi Raka, semuanya terasa seperti pesta besar.

    Langit yang penuh warna.

    Layang-layang raksasa dengan bentuk-bentuk yang tidak biasa.

    Dan orang-orang dari berbagai tempat yang datang untuk menyaksikannya.

    Sesekali ia bahkan mendengar percakapan dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Mungkin peserta dari luar negeri, seperti yang tadi Mama bilang.

    Namun di sela-sela semua keriuhan itu, Raka kembali merasakan sesuatu yang berbeda.

    Sama seperti saat pertama kali turun dari mobil, ia sesekali melihat garis-garis tipis di udara. Bukan seperti tali atau bayangan biasa, melainkan sesuatu yang menyerupai bekas langkah angin, melengkung mengikuti sayap burung, badan naga, atau layar kapal.

    Di dekat tali-tali yang tertarik ke langit, kadang ada bayangan kecil yang melintas begitu cepat sampai ia tidak yakin benar-benar melihatnya.

    Raka mengedip.

    Seketika semuanya kembali normal.

    Tidak ada garis.

    Tidak ada bayangan.

    Hanya festival layang-layang seperti yang dilihat orang lain.

    Namun perasaan aneh itu tidak ikut menghilang.

    Ada sesuatu yang tertinggal di dalam dadanya. Hangat, ringan, tetapi sulit dipahami. Seperti ada sesuatu yang perlahan bergerak mendekat.

    Bukan dari langit.

    Bukan dari laut.

    Melainkan dari arah kerumunan manusia di kejauhan.

    Raka menarik napas pelan lalu kembali melangkah mengikuti Papa dan Farah di antara tenda-tenda serta pengunjung yang terus berlalu-lalang.

    Tanpa ia sadari, di sisi lain pantai, pada waktu yang hampir bersamaan, ada seorang anak lain yang juga sedang bermain pasir bersama dua sepupunya.

    Ditarik oleh sesuatu yang sama.

    Mereka belum saling mengenal.

    Belum pernah saling melihat.

    Namun tanpa mereka sadari, arah langkah keduanya perlahan sedang menuju titik yang sama.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 11 – Festival Layang-Layang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021