“Boleh juga nih benteng…” Om Indra ikut mengamati dari belakang mereka.
“Ada tembok di sekeliling bangunan utama, empat menara di pojok, ditambah hiasan kerang Icha… mantap!”
Ia tersenyum lebar, lalu menatap Angga dan Risa sebelum melirik Bayu juga.
“Yang paling bikin Ayah bangga, kalian bertiga kompak. Kerja samanya patut diacungi jempol.”
Bayu tertawa kecil. Tangannya lengket oleh pasir, bajunya basah di beberapa bagian, dan punggungnya mulai pegal karena terlalu lama jongkok, tetapi begitu melihat benteng itu masih berdiri di depan mereka, tubuhnya refleks tegak sedikit.
“Wah, bentengnya sudah berdiri… keren!”
Suara itu datang dari belakang.
Bayu menoleh dan melihat Mama berjalan mendekat dari arah gubug, kaki telanjangnya menapak pelan di atas pasir yang hangat. Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu memandangi benteng pasir itu dengan wajah cerah.
“Serius ini kalian bertiga yang bikin semua?”
Bayu langsung mengangguk.
“Iya dong, Ma… kita semua yang bikin.”
Mama tersenyum makin lebar.
“Keren sekali. Pantas tadi dari jauh kelihatan asyik banget.”
“Eh, jadi nama bentengnya apa, nih, Yu?” Angga memotong cepat, seolah takut momen penting itu lewat begitu saja.
“Benteng Kerang aja, Mas Angga!” jawab Risa penuh semangat.
Ia menepuk-nepuk dinding benteng yang penuh hiasan kerang, sementara kedua matanya berbinar bangga melihat hasil kerjanya sendiri.
Bayu terkikik kecil. Nama itu terdengar lucu di telinganya, tetapi juga masuk akal karena tembok mereka memang tampak mengilap oleh kerang-kerang kecil di sepanjang sisinya.
Ia tidak langsung menimpali. Matanya masih tertuju pada tembok pasir, parit kecil di depannya, dan ombak pelan yang datang lalu pergi di kejauhan.
“Benteng Seribu Ombak…” gumam Bayu tiba-tiba.
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat yang lain menoleh.
Angga langsung mengangkat tangan.
“Setuju! Benteng Seribu Ombak lebih keren!”
“Enggak! Benteng Kerang!” protes Risa, pipinya sedikit menggembung.
“Nggak ah… nggak keren,” balas Angga.
“Keren!” Risa langsung berkacak pinggang.
Mama tertawa kecil melihat mereka mulai berdebat.
“Sudah… sudah… Benteng Kerang aja, ya. Tadi dari jauh juga kerang-kerangnya sudah kelihatan.”
Risa spontan menjulurkan lidah separuh ke arah Angga, merasa menang. Butiran pasir di dagunya ikut bergerak sedikit.
“Benteng Kerang juga bagus, kok,” ujar Bayu akhirnya.
Ia mengangguk kecil sambil menatap tembok pasir penuh kerang di depan mereka. Dalam hati, ia tetap menyimpan nama lain itu—Benteng Seribu Ombak—karena ombak tadi memang sudah beberapa kali datang menyapu benteng mereka.
“Angga ngalah dong sama adiknya,” tambah Om Indra sambil mengusap rambut Angga dan mengacaknya sedikit.
“Ya deh, Benteng Kerang…” Angga menghela napas panjang, lalu mengulang pelan agar tidak terdengar Risa, “Benteng Kerang… kaa…”
Bayu terkikik kecil. Perdebatan soal nama benteng akhirnya selesai juga, dengan kemenangan di pihak Risa.
Mama menatap mereka dan benteng itu sekali lagi, lalu mengangkat ponselnya.
“Oke, sekarang foto dulu, ya. Sebelum bentengnya keburu roboh diserang ombak. Bayu di kanan, Risa di kiri, Om Indra sama Angga di belakang.”
“Yaaay, fotooo!” Risa langsung melompat kecil, lalu buru-buru berdiri di posisi yang Mama tunjuk.
Angga bergeser ke tengah dan duduk bersila di belakang bangunan utama benteng. Bayu mengambil posisi di sebelah kanan dengan setengah jongkok, sementara Risa bersimpuh di sisi kiri.
“Ayo, Om, maju dikit lagi,” ujar Mama kepada Om Indra yang baru selesai mengumpulkan peralatan bermain pasir ke dalam ember.
Om Indra melangkah maju dan setengah jongkok di belakang Angga dan Risa, sehingga wajahnya tampak di antara mereka.
“Oke, semua lihat ke sini…” Mama mundur sedikit, memastikan benteng, anak-anak, dan laut di belakang mereka masuk ke dalam layar ponsel. “Senyum yang paling lebar, ya. Satu… dua… tigaaa!”
Bayu mengangkat dua jari di samping wajah. Tepat ketika Risa diam-diam menjulurkan lidah dan Angga pura-pura melotot, terdengar suara cekrek kecil dari ponsel Mama.
“Sekali lagi, Tante! Sekali lagi!” Angga protes sambil tertawa.
“Boleh,” kata Mama. “Sekarang gaya bebas. Terserah mau gaya apa.”
Kali ini Bayu jongkok sambil mengangkat jempol ke arah benteng, Angga mengacungkan sekop kecil ke langit seperti pedang, Risa berpose miring dengan tangan di pinggang, dan Om Indra membentuk lambang hati dengan kedua tangannya di atas kepala.
Cekrek.
Satu momen lagi tertangkap.
“Para pengunjung, sebentar lagi lomba layang-layang kategori naga akan dimulai! Para peserta dimohon bersiap di area tengah lapangan…”
Suara MC dari arah panggung terdengar jelas, terbawa angin sampai ke tempat mereka. Riuh kecil mulai terasa di sekitar pantai. Beberapa orang dewasa menoleh, sebagian bangkit dari tempat duduk, dan beberapa anak kecil langsung menarik tangan orang tuanya menuju kerumunan festival.
Angga menoleh ke ayahnya.
“Yah, itu yang naga, kan?”
“Iya,” jawab Om Indra sambil mengangguk. “Itu yang Ayah bilang tadi. Naga-naganya besar dan panjaaang banget.”
“Bayu mau ke sana?” tanya Mama sambil menatap Bayu.
Risa sudah lebih dulu mengangkat tangan.
“Risa mau lihat naga!”
“Angga juga!” sahut Angga tak mau kalah.
Bayu menatap benteng mereka sebentar. Tembok kerangnya masih berdiri, parit kecilnya masih rapi, dan ombak di depan sana kembali datang pelan seolah ingin menguji sekali lagi.
Lalu suara MC terdengar lagi dari arah festival, disambut sorak-sorai pengunjung yang makin ramai.
“Kalau gitu, kita lihat naga dulu, yuk,” kata Bayu akhirnya.
Mama tersenyum.
“Mama balik ke tempat Uti dulu. Bayu ikut sama Om Indra, ya. Ini embernya Tante bawa sekalian.”
Mama membungkuk dan meraih ember yang penuh peralatan bermain pasir.
“Siap,” jawab Om Indra santai. “Tenang aja, Kak.”
Bayu mengangguk kecil. Sebelum pergi, ia menatap Benteng Kerang sekali lagi—tembok penuh kerang yang berkilap di bawah matahari, parit kecil di depannya, dan bekas telapak tangan mereka yang masih terlihat di permukaan pasir.
Setelah itu ia merapat ke sisi Angga, bersiap berjalan bersama menuju kerumunan festival layang-layang naga.
Mereka mulai menjauhi benteng, meninggalkan jejak-jejak kaki kecil yang berderet di atas pasir lembut. Di belakang mereka, ombak datang pelan dan menghampiri parit kecil di depan benteng namun tidak sampai menghancurkan benteng itu.
Di depan, suara MC makin jelas, bercampur dengan sorak-sorai penonton dan derit tali layang-layang besar yang mulai ditarik ke arah langit. Ekor-ekor layang-layang berkibar di atas sana, menimbulkan gemerisik pelan setiap kali angin bertiup.
Bayu mendongak.
Ia masih sayang meninggalkan benteng yang baru mereka bangun, tetapi naga-naga kain raksasa yang sebentar lagi terbang membuat langkahnya terus bergerak maju.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 13 – Benteng Kerang Risa
Sorry, comment are closed for this post.