Di sisi lain pantai, tak jauh dari garis ombak dan sedikit di luar kerumunan festival, Bayu duduk selonjor di atas pasir sambil cekikikan. Kedua kakinya sudah hampir hilang tertimbun pasir sampai lutut, sementara di kanan dan kirinya, dua sepupunya sibuk menepuk-nepuk timbunan itu agar padat seperti tembok.
“Tambahin lagi, Mas Angga! Biar nggak bisa kabuuur!” seru Risa, adik perempuan Angga, sambil duduk di sisi kiri dan menggenggam pasir dengan dua tangan.
Angga, sepupu laki-laki yang setahun lebih muda dari Bayu, langsung mengangguk bersemangat. “Ayo kita timbun!” katanya sambil menyendok pasir dengan kedua telapak tangan, lalu menumpuknya tepat di atas jari-jari kaki Bayu.
“Ayo cepat… ombaknya nanti datang!” Bayu ikut berteriak semangat sambil melirik gelombang yang mulai menggembung di kejauhan. Kedua tangannya membantu menimbun pasir di lutut sebelah kanan, sementara Risa mengurusi lutut sebelah kiri sambil tertawa dan sesekali menoleh ke arah laut.
Di depan mereka, punggung ombak perlahan meninggi. Deruannya makin jelas, seperti seseorang yang sedang menarik napas panjang sebelum berlari.
Ombak yang tadi hanya bergulung pelan kini datang sedikit lebih besar. Busa putihnya merambat cepat di atas pasir menuju benteng kecil yang baru saja mereka bangun.
“Waaah, datang beneran!” seru Bayu.
Tanpa banyak pikir, Angga langsung menjatuhkan diri telungkup di depan kaki Bayu, tepat di depan benteng pasir mereka.
“Jangan hancurkan benteng kami!” teriaknya dramatis.
Air laut menyapu tubuh Angga dari dada sampai kaki. Kaos dan celananya seketika basah, rambutnya ikut terbelai air asin. Ombak itu menghantam cukup kuat, tetapi sebagian besar tenaganya tertahan oleh tubuh Angga. Begitu air surut, dinding pasir di sekitar kaki Bayu masih berdiri meski sudah sedikit miring dan retak.
Angga tetap telungkup beberapa detik sambil terengah-engah dibuat-buat.
Bayu ternganga sebentar, lalu meledak tertawa.
“Waaa, hebat! Pahlawan penahan ombak!” serunya sambil menepuk-nepuk dinding pasir di sekitar kakinya. “Lihat, bentengnya masih utuh!”
Risa juga tertawa sampai matanya menyipit.
“Lihat tuh, Mas Angga… bajumu basah semua! Pasirnya sampai ke rambut, loh!”
Angga bangkit pelan. Kausnya menempel di badan, celananya meneteskan air, dan pasir menempel di beberapa bagian lengannya. Ia meremas ujung kausnya, membiarkan air laut menetes lagi ke pasir.
“Yang penting benteng selamat,” katanya sok gagah.
Ombak berikutnya datang lebih kecil. Ketiganya refleks bersiap, tetapi kali ini air hanya menyapu sampai ujung parit kecil mereka, masuk sebentar, lalu surut sambil menyeret sedikit pasir di bagian depan benteng seperti masih mencoba menguji kekuatan tembok mereka.
“Masiiih kuat!” seru Bayu bangga. “Bisa tahan seribu ombak ini!”
Tak jauh di belakang mereka, di batas pasir yang lebih kering, Mama berdiri sambil menggenggam ponsel. Matanya tidak lepas dari tiga bocah itu. Sesekali ia melambaikan tangan, sementara Uti Rara, Tante Winda, dan Om Indra masih duduk di gubug sambil mengobrol.
“Jangan terlalu ke depan, ya!” teriak Mama mengingatkan.
“Iyaaa!” jawab Bayu dan Angga kompak, meski setelah itu mereka langsung kembali sibuk memperbaiki benteng pasir.
Belum sempat mereka merayakan lebih lama, bayangan ombak lain muncul di kejauhan. Punggungnya lebih tinggi, dan busa putih di ujungnya tampak lebih tebal daripada tadi.
“Eh… itu kok gede banget?” Risa melotot sambil menelan ludah.
Deru ombak kali ini terdengar lebih keras, seolah laut benar-benar menjawab kesombongan Bayu barusan. Angga ikut terdiam menatap punggung ombak yang makin meninggi dengan mata membesar.
“Lariii!” teriaknya akhirnya, tidak berani lagi pasang badan seperti tadi.
Ia spontan bangkit dan berlari menjauh dari garis air. Risa langsung ikut kabur di belakangnya sambil tertawa setengah panik.
Air melaju cepat ke arah mereka, lebih cepat dari yang Bayu bayangkan.
“Hei, jangan tinggalkan akuuu!” teriak Bayu sambil berusaha mengangkat tubuh, tetapi kedua kakinya masih tertanam kuat di dalam benteng pasir.
Dalam satu sapuan besar, air laut menghantam dan menyapu tubuh Bayu sampai ke perut. Dinding pasir di sekeliling kakinya runtuh serempak, membuat kedua kakinya langsung mencuat keluar dari timbunan.
Angga dan Risa cekikikan melihat Bayu terduduk basah dari tempat yang lebih kering. Setelah tawa mereka mulai reda, Angga tiba-tiba menoleh ke sekeliling seperti baru teringat sesuatu.
“Eh, mana ember sama peralatan pasirnya, Sa? Tadi kamu yang pegang, kan?”
Risa ikut terdiam. Wajahnya berubah serius, berusaha mengingat-ingat.
“Yah… kayaknya Risa taruh di atas meja tadi. Lupa, Mas…”
“Cari apa? Cari ini, ya?”
Om Indra, ayah Angga dan Risa, muncul dari arah gubug sambil menenteng sebuah ember berisi perlengkapan bermain pasir mereka. Ia sempat menoleh ke langit sebelum mendekat. Di atas sana, sudah banyak layang-layang kecil yang terbang warna-warni, diselingi suara MC dari arah panggung yang sibuk memandu festival.
“Mau lanjut main pasir atau lihat layang-layang, nih?” tanya Om Indra sambil tersenyum. “Udah mulai rame, lho, langitnya.”
Bayu, Angga, dan Risa refleks menengadah. Mata mereka mengikuti satu layang-layang kecil bergambar ikan yang melambai-lambai tertiup angin. Untuk sesaat, Bayu ragu. Di satu sisi, langit tampak seru sekali. Di sisi lain, pasir basah di depan mereka masih seperti menantang untuk dibentuk lagi.
“Tapi Angga mau bikin benteng, Yah!” protes Angga cepat.
“Iya, bikin benteng duluuu!” sambung Bayu.
Om Indra tertawa kecil.
“Ya sudah, benteng dulu. Nanti kalau sudah selesai, baru kita ke sana.”
Ia lalu jongkok dan menaruh ember di atas pasir di depan mereka.
“Ayo, sini. Kita bikin benteng pasir yang besar.”
“Yeeey… ayo bikin benteng!” Risa berlari kecil menghampiri ayahnya.
“Ayo, Yu, bikin benteng, yok!” Angga menarik tangan Bayu dan membantunya berdiri.
“Nanti dulu, aku mau bersihin pasir,” ujar Bayu.
Ia berlari menyongsong ombak kecil yang datang sambil menggoyang-goyangkan kaki, berusaha menghilangkan sisa pasir yang masih menempel di celana dan betisnya. Angga ikut berlari ke sisinya, membiarkan air mengenai setengah badannya. Mereka berdua tertawa setiap kali ombak kecil datang, sebelum akhirnya kembali ke tempat Om Indra dan Risa untuk mulai membangun benteng baru.
“Mau bangun benteng seperti apa, Om?” tanya Bayu sambil jongkok di samping Om Indra.
Om Indra sudah menggambar bentuk persegi panjang yang cukup lebar di pasir.
“Oke, ini garis bentengnya,” katanya. “Kita bikin tembok pertahanan di sepanjang sini, ya.”
“Oke, Yah… ayo kita bikin tembok!” Angga langsung menyendok pasir basah dari bagian dalam dan menumpuknya di sepanjang garis sampai terbentuk dinding tebal di bagian depan.
Bayu membantu membuat tembok di sisi kanan, Risa kebagian sisi kiri, sementara Om Indra mengurus bagian belakang. Pelan-pelan, benteng itu mulai terbentuk, mengelilingi area kosong di tengah seperti halaman kecil.
“Yang ini jadi menara, Yah!” seru Angga.
Ia menumpuk pasir di salah satu sudut sampai tinggi, lalu mencungkil bagian atasnya dengan jari agar tampak bergerigi.
“Biar kalau ada musuh datang, prajuritnya bisa lihat dari sini,” tambahnya bangga.
“Kalau gitu di sini juga harus ada,” sahut Bayu, tidak mau kalah.
Ia membuat gundukan serupa di sudut seberang, menepuk-nepuknya sampai bentuknya mirip menara kecil. Di bagian tengah benteng, Om Indra membantu mereka membentuk gundukan panjang dengan dua tonjolan di atasnya, seperti bangunan utama di dalam benteng.
Risa memperhatikan hasil kerja mereka dari samping, lalu matanya berbinar.
“Eh, Risa ingat! Tadi di sana banyak kulit kerang kecil!”
Ia segera mengambil ember dan berlari ke tepi pantai untuk memunguti kerang-kerang bulat yang tersebar di pasir dekat garis ombak.
Sementara Risa sibuk mengumpulkan kerang, Bayu dan Angga menekan-nekan pasir di bagian dalam benteng agar lebih rata. Sesekali mereka merapikan tepi tembok yang miring, sampai benteng itu benar-benar tampak mengelilingi lapangan kecil di tengahnya.
Tak lama kemudian, Risa kembali sambil menenteng ember yang kini hampir penuh kerang, lalu meletakkannya di dekat tembok depan.
“Nah, ini hiasan temboknya,” ujarnya bersemangat.
Satu per satu, ia menekan kerang-kerang itu ke dinding luar benteng, membuat deretan bulat mengilap yang melingkari hampir seluruh sisinya.
Risa menepuk-nepuk tangannya yang penuh pasir, butir-butir kecil itu beterbangan sedikit. “Nah, selesai!” katanya puas, akhirnya semua kerang berhasil ia tempelkan.
Satu per satu, Risa menekan kerang-kerang kecil itu ke dinding luar benteng sampai deretan bulat mengilap melingkari hampir seluruh sisinya.
Setelah kerang terakhir menempel, ia menepuk-nepuk kedua tangannya yang penuh pasir hingga butiran kecil beterbangan.
“Nah, selesai!” katanya puas.
Bayu dan Angga ikut berdiri untuk melihat hasil kerja mereka.
Benteng itu memang tidak terlalu tinggi, tetapi lengkap dengan tembok, menara kecil di sudut-sudutnya, halaman kosong di tengah, dan deretan kerang yang berkilau terkena sinar matahari.
Ombak datang pelan, menyentuh ujung parit, lalu surut lagi tanpa berhasil mencapai dinding benteng.
Risa menatap deretan kerang di tembok benteng sambil tersenyum lebar.
“Bagus, kan?”
Bayu ikut tersenyum.
“Iya. Bagus banget.”
Dari kejauhan, suara festival terdengar samar bercampur riuh pengunjung dan bunyi pengeras suara yang sesekali mendengung.
Bayu, Angga, dan Risa berdiri memandangi benteng pasir mereka. Ombak sudah beberapa kali datang menyapu pantai, tetapi tembok-tembok pasir itu masih berdiri kokoh, lengkap dengan deretan kerang yang berkilau di bawah sinar matahari.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 12 – Bermain Pasir
Sorry, comment are closed for this post.