
Tiga tahun berlalu sejak Festival Layang-Layang.
Pagi itu, kabut masih turun di sekitar rumah. Jalan kecil di depan pagar terlihat samar, sementara daun-daun pinus di kejauhan basah oleh embun. Udara dingin masuk lewat ventilasi dapur, membawa bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bawang putih dari wajan.
Laras berdiri di depan kompor, mengaduk nasi goreng sambil sesekali meniup rambut yang jatuh ke wajahnya. Api kecil di bawah wajan menyala tenang. Di meja sampingnya, tiga piring sudah disiapkan, lengkap dengan sendok dan gelas air putih.
“Raka! Farah! Ayo bangun, sudah jam lima!” seru Laras dari dapur.
Tidak ada jawaban.
Laras menoleh ke arah tangga, menunggu sebentar. Tetap sepi.
Dari luar hanya terdengar suara ayam jantan dan bunyi angin pelan yang menyentuh kaca jendela.
Laras tersenyum kecil sambil kembali mengaduk nasi.
“Pasti masih pada meringkuk,” gumamnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka dari lantai atas. Langkah kaki kecil menuruni tangga dengan agak terburu-buru.
“Iya, Ma! Aku sudah bangun!”
Raka muncul dengan rambut acak-acakan. Matanya masih setengah terpejam, tetapi mulutnya sudah menguap lebar. Ia berjalan ke dapur, menarik kursi, lalu duduk sambil mengucek mata.
Usianya baru delapan tahun bulan lalu. Tubuhnya mulai tinggi, tetapi wajah bangun tidurnya masih sama seperti dulu.
“Telurnya ceplok ya, Ma,” katanya pelan. “Yang pinggirnya kriuk.”
Laras menoleh sambil tertawa kecil.
“Iya, Mama sudah tahu. Kamu itu nggak pernah bosan, ya?”
Raka menggeleng sambil tersenyum.
“Aku suka, Ma. Jadi nggak bosan.”
Dari ruang tengah, terdengar langkah lain yang lebih pelan. Farah muncul sambil menyeret bantal kecilnya. Rambutnya dikuncir dua, tapi salah satu kuncirnya sudah miring. Wajahnya masih mengantuk.
“Ma…” katanya dengan suara serak, “Mas Raka ngorok lagi semalam.”
Raka langsung menoleh.
“Nggak, ah. Farah tuh yang ngelindur. Ngomong sama bantal.”
Farah berhenti di samping kursi, matanya sedikit melebar.
“Beneran aku ngelindur, Mas?” tanyanya polos. “Aku ngomong apa?”
Raka pura-pura berpikir. Ia menaruh tangan di dagu, lalu memicingkan mata seperti sedang mengingat hal penting.
“Hmmm… kamu bilang, ‘Mas Raka, besok jajan Farah ambil aja, ya.’”
Farah langsung cemberut.
“Mana ada! Bohong, ah!”
Ia memukul pelan lengan Raka. Raka tertawa sambil menunduk. Farah ikut menahan senyum, meski wajahnya masih dibuat kesal.
Laras memandangi mereka sebentar. Dapur yang tadi sepi mendadak terasa penuh oleh suara anak-anak, bunyi sendok, dan aroma sarapan yang sudah hampir matang.
“Sudah, sudah,” kata Laras. “Kalian belum salat Subuh, kan? Salat dulu. Habis itu sarapan. Nanti telat sekolah.”
Raka dan Farah saling pandang sebentar. Keduanya tampak masih ingin duduk di dapur yang hangat, tetapi akhirnya mereka turun dari kursi.
“Iya, Ma,” jawab Raka.
Farah mengangguk kecil, lalu berjalan mengikuti kakaknya menuju ruang kecil di samping ruang keluarga yang dijadikan musala.
Laras mengecilkan api kompor. Belum sempat ia menyiapkan telur, telinganya menangkap suara air dari kamar mandi belakang.
Byur.
Byur.
Laras langsung menoleh.
“Satu lagi belum selesai,” gumamnya sambil mengambil handuk kecil bergambar kelinci.
Ia berjalan ke kamar mandi. Pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, Laras melihat Sekar duduk di tepi bak mandi. Usianya tiga tahun. Rambutnya menempel basah di dahi, pipinya bulat, dan kedua tangannya sibuk memainkan air.
Di lantai, boneka Barbie berwarna krem tergeletak dalam keadaan setengah basah.
“Sekaaar…” panggil Laras lembut. “Sudah, ya, Sayang. Airnya dingin. Nanti masuk angin.”
Sekar menoleh. Bibirnya langsung maju sedikit.
“Bental lagi, Ma,” katanya sambil menunjuk bonekanya. “Ami belum mandi.”
Laras berjongkok dan mengambil boneka itu.
“Oh, jadi Ami belum mandi?”
Sekar mengangguk serius.
“Aminya bau, Ma.”
Laras menahan senyum. Ia meletakkan boneka itu di tangan Sekar.
“Ya sudah, Mama bantu mandiin Ami. Tapi setelah itu Sekar gantian, ya.”
Sekar menatap bonekanya sebentar, lalu mencelupkan kaki boneka itu ke air.
“Ami nggak mau, Ma.”
“Kenapa?”
“Dingiiin, katanya.”
Laras tertawa pelan.
“Kasihan Ami. Ya sudah, cepat saja ya, biar Ami nggak kedinginan.”
Laras mengambil gayung kecil, mengguyur sedikit air ke boneka itu, lalu pura-pura menggosok badannya.
“Nah, Ami sudah bersih. Sekarang Sekar.”
Sekar tertawa kecil, lalu memegang kedua pipinya sendiri.
“Cekal juga mau wangi kayak Ami.”
“Iya, makanya dimandiin.”
Laras menyiram bahu Sekar pelan-pelan. Sekar langsung mengangkat bahunya karena kedinginan, lalu tertawa geli. Air menetes dari rambutnya ke pipi, membuatnya berkedip cepat.
Setelah tubuh Sekar selesai dibilas, Laras mengambil handuk bergambar kelinci dan mulai mengelap tubuh putrinya.
“Nih, biar nggak kedinginan.”
Sekar cepat-cepat mengangkat bonekanya.
“Ami dulu, Ma. Dia gemetal.”
Laras mengangguk seolah benar-benar mengerti.
“Oke. Ami dulu.”
Ia mengelap boneka itu sebentar. Sekar memperhatikan dengan sungguh-sungguh, seolah memastikan Ami diperlakukan dengan baik.
“Nah, Ami sudah kering,” kata Laras. “Sekarang Sekar, ya.”
Sekar menatap bonekanya, lalu mengangguk.
“Iya, sekalang Cekal. Ami nonton, ya.”
Ia menaruh boneka itu di dekat dinding, lalu menepuk-nepuk dadanya pelan.
“Ami duduk sini.”
“Oke, penonton spesial duduk di situ ya,” kata Laras.
Sekar tersenyum puas. Ia membiarkan ibunya mengelap rambut, tangan, dan kakinya sampai kering.
“Nah, sudah selesai,” kata Laras sambil membungkus tubuh kecil itu dengan handuk. “Yuk, ganti baju. Masa mau antar kakak-kakaknya sekolah tapi Sekarnya ga pakai baju.”
Sekar mengangguk kecil.
“Malu kan , Ma?”
Ia keluar dari bak mandi sambil menggenggam ujung daster Laras. Tangan satunya memeluk Ami.
“Iya…malu donk.” Laras tersenyum.
***
Setelah Raka dan Farah selesai salat, mandi dan berpakaian seragam lengkap, mereka pun lanjut sarapan bersama.
Raka makan paling cepat. Telur ceplok garingnya ia potong kecil-kecil, lalu dicampur dengan nasi goreng. Farah masih sering menguap di sela-sela kunyahan. Sekar duduk di kursi kecilnya sambil menyuapi Ami dengan sendok kosong.
“Ami mau lagi?” tanya Sekar pada bonekanya.
Farah menoleh sambil menahan tawa.
“Sekar, itu sendoknya kosong.”
Sekar menatap sendoknya, lalu menatap Farah.
“Ada kok kak.” bibir Sekar sedikit manyun.
Raka langsung tertawa.
Laras ikut tertawa kecil sambil menuangkan air putih ke gelas Farah.
Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain di rumah mereka. Tidak rapi-rapi amat, tidak tenang-tenang amat, tetapi hangat.
Setelah sarapan selesai, rumah kembali sibuk.
Farah mencari pita rambutnya ke sana-sini, padahal pita itu tersangkut di lengan bajunya sendiri. Raka memakai sepatu sambil berdiri, membuat Laras berkali-kali menegurnya agar duduk dulu. Sekar berlari ke halaman depan karena melihat kucing hitam sedang berdiri di dekat pagar.
“Sekar, jangan jauh-jauh!” seru Laras dari pintu.
“Cekal cuma mau lihat kucing, Ma!”
“Kucingnya juga mau sekolah?” tanya Raka sambil menyandang tas.
Sekar menoleh cepat.
“Kucingnya nggak sekolah, jaga lumah aja.”
Farah tertawa.
Raka tertawa lagi. Ia melihat kucing hitam itu melompat ke atas pagar dan menghilang ke rumah sebelah. Rasanya pernah melihat kucing itu tapi Raka lupa dimana.
Laras menggeleng sambil tersenyum, lalu memastikan kompor sudah mati dan pintu belakang terkunci.
“Sudah siap semua?” tanya Laras.
“Sudah, Ma!” jawab Raka.
Farah langsung masuk ke mobil. Wajahnya masih sedikit mengantuk, tetapi tasnya sudah rapi di punggung.
Sekar berlari mendekati Laras sambil mengangkat kedua tangannya.
“Cekal ikut, Maa. Jangan tinggalin Cekal.”
Laras menunduk dan mengangkatnya.
“Masa Mama tega ninggalin kamu, Nduk?”
Ia mengecup pipi Sekar. Sekar terkikik lalu memeluk leher ibunya, sementara Ami terjepit di antara mereka.
Tak lama kemudian, mobil mereka melaju pelan melewati jalan desa yang masih berkabut. Sawah di kanan kiri jalan terlihat basah. Air di parit kecil mengalir pelan. Dari kejauhan, Gunung Merapi tampak samar di balik kabut pagi.
Raka duduk di kursi depan. Ia menempelkan pipi sebentar ke kaca jendela, lalu cepat-cepat menjauh karena dingin.
“Ma, kabutnya tebal banget ya pagi ini.”
“Iya,” jawab Laras sambil memperhatikan jalan. “Udara gunung lagi lembap. Jadi kabutnya turun sampai sini.”
Raka mengangguk. Matanya tetap menatap keluar.
Di kursi belakang, Sekar menyanyi pelan untuk Ami. Liriknya tidak jelas, nadanya juga berubah-ubah. Farah sesekali membetulkan kata-katanya, tetapi Sekar selalu membalas dengan versi cadelnya sendiri.
Laras melirik mereka lewat kaca spion. Farah tersenyum kecil saat menggoda adiknya. Sekar sibuk memeluk boneka. Raka diam di depan, menatap jalan yang tertutup kabut.
Untuk beberapa saat, Laras merasa pagi itu biasa saja. Tapi ketika mobil melewati tikungan kecil sebelum sekolah, rasa tidak enak itu muncul lagi.
Pelan.
Tidak jelas dari mana datangnya.
Laras mengeratkan pegangan pada setir. Ia menatap jalan di depan, lalu menarik napas perlahan.
Mungkin hanya karena udara terlalu dingin, pikirnya.
Namun dadanya belum benar-benar lega.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Halaman sudah ramai. Anak-anak turun dari motor dan mobil orang tua mereka. Beberapa berlari ke arah gerbang, beberapa masih mencium tangan ibunya sebelum masuk.
“Oke, sudah sampai,” kata Laras sambil tersenyum. “Alhamdu—”
“—lillah!” sambung Raka dan Farah hampir bersamaan.
Laras tertawa kecil.
“Pintar. Sekarang turun, ya. Jangan melamun. Dengar kata guru.”
“Iya, Ma!” jawab Farah.
Raka membuka pintu lebih dulu, lalu turun dan menunggu adiknya. Farah membetulkan tali tasnya, kemudian berjalan di samping Raka menuju gerbang.
Laras menurunkan kaca jendela.
“I love you!” serunya.
Farah langsung menoleh dan melambaikan tangan.
“I love you too, Ma!”
Raka juga menoleh. Ia tersenyum kecil, mengangkat tangan sebentar, lalu kembali berjalan bersama Farah.
Laras memperhatikan mereka sampai masuk ke halaman sekolah. Raka berjalan tenang. Farah sesekali melompat kecil menghindari genangan air.
Semuanya terlihat biasa. Anak-anak sudah ramai berdatangan. Guru-guru berdiri menyambut murid- murid di depan gerbang.
Tak lama kemudian, lonceng sekolah pun berbunyi.
Tapi Laras masih belum menyalakan mobil. Matanya tertahan pada gerbang sekolah. Ia menelan ludah pelan. Ingatan tentang malam itu muncul begitu saja.
Raka kecil berdiri di depan pintu kamar. Wajahnya pucat. Tubuhnya melayang beberapa senti dari lantai.
Laras cepat-cepat menarik napas dan mengusap dadanya.
“Ya Allah lindungilah anak-anak hamba…” bisiknya.
Sekar yang duduk di belakang menoleh.
“Ma?”
Laras memaksakan senyum lewat kaca spion.
“Iya, Sayang. Kita pulang.”
Ia menutup kaca jendela, lalu mulai menjalankan mobil. Mobil sedan hitam itu bergerak pelan meninggalkan halaman sekolah. Suara anak-anak makin lama makin jauh.
Namun saat Laras melihat kaca spion, gerbang sekolah masih tampak di belakangnya. Laras merasa seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Diam.
Menunggu.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 15 – Tiga Tahun Kemudian
Sorry, comment are closed for this post.