Angin terasa berbeda ketika mereka semakin dekat ke tengah festival—lebih kencang dan lebih ramai, seperti ikut bersemangat. Pasir di bawah kaki Bayu juga tidak lagi selembut di dekat ombak. Ribuan pengunjung yang lalu-lalang membuat permukaannya lebih padat, dipenuhi jejak kaki yang saling bertumpuk hingga sebagian mulai sulit dibedakan satu sama lain.
Bayu berjalan di sisi Angga sambil terus mendongak. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seperti kipas, sementara matanya berbinar mengikuti apa pun yang melayang di langit. Di atas sana, langit tampak seperti papan pamer raksasa: layang-layang beraneka bentuk dan warna tersebar di biru yang terang—burung raksasa, kupu-kupu, naga panjang, sampai gurita ungu yang tentakelnya bergoyang pelan.
“Woi… itu burungnya gede banget!” Bayu menunjuk sampai lehernya hampir keram. “Ekornya panjang-panjang… itu burung merak, kan?”
Angga menepuk jidatnya. “Itu Phoenix lah, Yu… bukan merak.”
Bayu langsung membulatkan mata. “Phoenix itu… yang kalau mati kebakar terus hidup lagi itu?”
“Nah, iya!”
Bayu baru mau menunjuk lagi ketika Om Indra ikut mendongak.
“Tuh… ada Spiderman juga.”
Bayu menoleh cepat. Di langit, layang-layang Spiderman melayang meliuk-liuk, seperti bergelantungan pada benang tak terlihat. Setiap kali angin menarik, posenya berubah sedikit—miring, lalu seperti salto kecil—membuat anak-anak di sekitar ikut bersorak.
“Wah, keren!” Bayu spontan ikut berseru.
Angga langsung nyerocos ke ayahnya.
“Itu dijual nggak, Yah? Angga mau.”
Om Indra menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak dijual, Ngga. Itu khusus lomba.”
Angga menghela napas panjang.
“Yahhh…”
Mereka ikut terseret arus pengunjung menuju area lomba kategori naga. Begitu sampai dekat pembatas, Bayu langsung menahan langkah.
Di balik tali pembatas, kepala-kepala naga berderet di atas pasir dengan warna mencolok dan mulut terbuka lebar. Ada yang matanya bisa bergerak, ada yang kepalanya dua, dan ada pula yang tanduknya melengkung tinggi seperti cabang pohon. Bayu menatap satu per satu, merasa seperti sedang berdiri di depan barisan makhluk hidup yang sengaja diam menunggu giliran untuk bangun.
Pengeras suara mendengung sebentar, lalu suara MC pecah di atas angin.
“Baiklah, perlombaan akan kita mulai…! Peserta nomor satu, sudah siap?”
“Siap!” teriak rombongan berbaju merah dengan kompak.
Bayu ikut berdiri lebih tegak. Tanpa sadar napasnya tertahan saat para peserta mulai bersiap menarik tali utama naga itu.
“Peserta nomor satu dengan joki Amat Dobleh, membawa naga bernama Wisang Geni dari Cilacap… terbangkan layanganmu…!”
Tali utama ditarik. Badan naga yang tadi tergeletak di pasir mulai terangkat, lingkar-lingkar kainnya bangun satu per satu. Kepala Wisang Geni menghadap angin, mulutnya menganga dengan deretan gigi putih yang mencuat dari bibir kainnya, membuat Bayu semakin tidak bisa berpaling.
“Tarik… tarik…!” terdengar teriakan dari area peserta.
Lalu—
wuuush.
Ekor panjang naga itu menyapu pasir sebentar sebelum akhirnya naik. Dalam beberapa detik, Wisang Geni sudah melayang tinggi, stabil, menari mengikuti angin seperti memang tempatnya berada di langit.
Kerumunan langsung meledak.
“WOOOOAAAH!”
Bayu ikut bersorak. Tangannya sampai terangkat sendiri. Di sampingnya, Angga bersiul keras, sementara Risa melompat-lompat kecil.
Kalau satu naga saja seperti ini… yang naga kembar nanti seperti apa?
Beberapa menit berlalu. Dua naga lain sempat naik setelah itu—satu terbang mulus, satu lagi sempat oleng sebelum akhirnya stabil. Kerumunan tetap riuh, tetapi semakin banyak orang mulai berebut posisi lebih dekat ke pembatas.
***
Di sisi lain lapangan, Raka sudah sejak tadi berdiri di antara kerumunan.
Farah berada di sebelahnya, tangannya menggenggam ujung baju Papa karena takut kepencet orang. Raka sudah melihat beberapa naga terbang, tetapi perhatiannya terus mudah teralihkan.
Beberapa kali ia mendapati dirinya melirik ke sekitar tanpa alasan yang jelas. Padahal naga-naga yang sedang diterbangkan sudah cukup menarik perhatian, tetapi ada perasaan aneh yang membuatnya terus menunggu sesuatu yang belum juga muncul.
“Mas Raka, lihat itu kepala naganya ada dua…!” Farah berbisik tegang.
“Mas Raka, lihat itu naganya ada dua…!” Farah berbisik tegang.
Raka mengarahkan pandangannya ke depan lalu menjinjit sedikit. Dari sela-sela kepala orang dewasa di depannya, ia akhirnya bisa melihat naga kembar yang sedang disiapkan di area lomba.
Naga itu bertubuh kembar—dua kepala berdampingan, badannya menjulur panjang seperti dua ular besar yang disatukan. Kainnya warna-warni, sisiknya berkilat terkena matahari. Saat angin lewat, bagian badan yang masih tergeletak di pasir bergetar halus, seperti makhluk itu sedang menahan diri agar tidak bergerak lebih dulu.
Suara MC menggelegar dari pengeras suara.
“Peserta berikutnya… naga kembar… siap?”
Sorak penonton langsung membesar. Beberapa orang bahkan ikut bertepuk tangan saat para joki mulai bersiap menerbangkan naga kembar mereka.
Kerumunan di sekitar Raka seperti bergerak maju setengah langkah. Dadanya ikut berdebar, bukan hanya karena ukuran naga itu yang jauh lebih besar dibanding peserta sebelumnya, tetapi juga karena mata kirinya kembali menangkap sesuatu yang aneh di sekitar tali-tali yang membentang ke udara.
Di sekitar tali-tali itu, ada sesuatu yang tampak seperti benang cahaya tipis yang bergetar pelan.
“Tarik…!” terdengar aba-aba.
Naga kembar itu mulai terangkat. Awalnya semuanya tampak mulus. Kedua kepalanya menengadah, badannya memanjang, dan ekornya menyusul naik sedikit demi sedikit.
Lalu angin mendadak berubah arah. Bukan hanya kencang. Tapi menyentak.
Tali utama menegang keras. Ada suara cuit kecil dan tajam, seperti sesuatu yang teriris.
Raka melihatnya lebih dulu.
Salah satu tali samping yang menahan tubuh naga kembar itu putus.
Sesaat semuanya seperti melambat.
Tubuh naga yang tadi mulai stabil tiba-tiba oleng. Salah satu sisi badannya turun, meluncur miring, sementara kain panjangnya mengibas seperti cambuk raksasa.
“PUTUUS!” seseorang berteriak.
Kerumunan langsung pecah panik.
Orang-orang di barisan depan refleks mundur dan menyingkir. Dorongan itu merambat ke belakang seperti gelombang, mendorong orang di belakang, lalu mendorong orang lain lagi.
Raka ikut terdorong.
Di depannya, seorang anak kecil berbadan bulat terdorong di tengah arus manusia. Langkahnya goyah, hampir jatuh menimpa anak kecil yang sudah lebih dulu terduduk di pasir.
Tanpa pikir panjang, Raka mengulurkan tangan.
Jemarinya menangkap bahu anak itu dan menahannya agar tidak jatuh.
Begitu jari-jari Raka menyentuh kain kaus di bahu anak itu, angin seperti berhenti sesaat.
Suara dunia seakan menahan napas.
Sekedip.
Raka tidak lagi melihat pasir.
Ia melihat langit yang sama, tetapi warnanya lebih kelabu.
Tanpa pikir panjang, Raka mengulurkan tangan.
Jemarinya menangkap bahu anak itu dan menahannya agar tidak jatuh.
Begitu jari-jari Raka menyentuh kain kaus di bahu anak itu, angin seperti berhenti sesaat.
Suara dunia seakan menahan napas.
Sekedip.
Raka tidak lagi melihat pasir.
Ia melihat langit yang sama, tetapi warnanya lebih kelabu.
Sekilas Raka melihat lantai berdebu, cahaya senja dari kisi jendela, dan tubuhnya sendiri berdiri kaku di sebuah gudang sekolah.
Raka mencoba bernapas, tetapi rasanya lebih sulit dari biasanya.
Lalu suara tangis menggema.
Suara anak perempuan yang tidak ia kenal.
“Jangan tinggalin aku…”
“Aku mau pulang…”
Seorang anak perempuan transparan tampak jongkok di balik lemari. Bahunya bergetar, wajahnya basah oleh air mata.
Raka mencoba meraih anak perempuan itu, tetapi cahaya keemasan tiba-tiba muncul di sekelilingnya. Di dalam cahaya itu ada siluet samar seorang anak kecil yang meraih pundaknya, lalu menariknya mundur dengan paksa.
Dunia di hadapannya seperti menjauh.
Suara tangis anak perempuan itu semakin samar.
Lalu semuanya pecah menjadi gelap.
Teriakan anak perempuan itu memudar, bergema seperti suara dari dalam air.
Dalam kilatan terakhir sebelum semuanya lenyap, Raka melihat sebuah wajah di balik cahaya—anak laki-laki dengan mata bulat dan rambut acak, wajahnya panik, bibirnya bergerak cepat.
“Rak! Bangun, Rak! Astaga, kamu kenapa?”
Wajah itu menancap kuat di kepala Raka.
Sekedip lagi.
Ia kembali berada di kerumunan festival.
Napasnya tercekat. Tangannya masih berada di bahu anak itu.
Anak itu menoleh setengah. Wajahnya bingung dan kaget—sama seperti Raka.
Mata mereka bertemu sesaat. Tidak sampai satu detik, tetapi cukup lama untuk membuat Raka lupa pada keributan di sekelilingnya.
“Mundur, Raka!” Papa tiba-tiba bersuara di dekatnya sambil menarik Farah lebih dekat. “Hati-hati!”
Raka baru sadar suara orang-orang masih ribut di sekelilingnya. Naga kembar itu sudah ditarik turun oleh panitia, sementara beberapa orang dewasa di barisan depan melambaikan tangan menyuruh penonton mundur.
“Bayu! Sini!” suara Angga terdengar panik.
Bocah yang barusan ditahannya masih sempat menatap Raka sesaat sebelum terseret kembali ke kerumunan.
Nama itu singgah begitu saja di telinga Raka.
Bayu.
Entah kenapa nama itu terasa tertinggal lebih lama daripada seharusnya.
Raka masih memandangi arah bocah itu menghilang ketika rasa hangat yang aneh kembali muncul di dadanya.
Mata kirinya berdenyut pelan. Ia mengusapnya sebentar lalu memejamkan mata, mencoba menenangkan napas yang sejak tadi belum sepenuhnya kembali normal.
Di sekelilingnya, festival perlahan hidup kembali.
Orang-orang mulai tertawa dan saling memastikan keadaan baik-baik saja. Beberapa panitia membereskan tali yang putus, sementara suara MC kembali terdengar dari pengeras suara, berusaha mengembalikan suasana seperti semula.
Namun bagi Raka, sesuatu telah berubah.
Ia belum tahu apa, bahkan belum mengerti apa yang baru saja dilihatnya.
Saat membuka mata dan kembali memandang langit yang dipenuhi layang-layang, hanya satu hal yang terasa jelas.
Pertemuannya dengan bocah bernama Bayu itu bukan kebetulan biasa.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 14 – Penglihatan dari Masa Depan
Sorry, comment are closed for this post.