BAB 11: PECAHAN CERMIN
3 bulan setelah penobatan. Ardentia damai.
Tapi damai tidak pernah lama.
- MIMPI BURUK
Seraphina terbangun dengan nafas tercekat.
Di tangannya, pecahan es berbentuk cermin. Beku.
“Bu?” Lyra mengusap punggungnya. “Mimpi buruk lagi?”
Seraphina mengangguk. “Ada suara… memanggil dari utara. Suara yang sama waktu aku hampir mati 8 tahun lalu.”
Alistair masuk, membawa laporan. Wajahnya tegang.
“Tiga desa di perbatasan utara membeku dalam semalam. Bukan salju biasa. Es hitam.”
- UTUSAN DARI UTARA
_DUK!_ Gerbang istana diketuk.
Seorang utusan. Tubuhnya penuh luka bakar es. Dia membawa surat.
Seraphina membukanya. Tulisan tangan yang dia kenal.
“Ratu Seraphina. Kau pikir perang sudah selesai? Kau mengambil apa yang bukan milikmu. Kembalikan mahkotaku, atau aku akan bekukan seluruh Ardentia.
_ – S”_
“S,” bisik Seraphina. “Selene.”
“Tidak,” kata Alistair. Dia menunjuk segel di bawahnya. Segel serigala bertanduk. “Ini bukan segel Selene. Ini segel… Raja Utara.”
Semua terdiam.
Nenek Ysra pernah cerita. Di utara Ardentia ada kerajaan yang terkubur salju.
Kerajaan yang dipimpin oleh “Raja Bayangan”. Suami pertama Selene.
- KEPUTUSAN RATU
Balai Sidang.
“Yang Mulia tidak boleh pergi,” kata penasihat. “Itu jebakan.”
“Aku harus,” kata Seraphina. Dia berdiri. Mahkota saljunya berkilau. “Kalau tidak, rakyat kita yang mati.”
Leon maju. “Aku ikut. Aku sudah besar.”
Lyra memeluk kaki ibunya. “Aku juga.”
Alistair menggenggam tangan Seraphina. “Kalau begitu kita pergi bersama. Sebagai keluarga. Sebagai Raja dan Ratu.”
Malam itu mereka bersiap.
Seraphina menyimpan 1 pecahan cermin dari mimpinya di dalam kalung bunga esnya.
Di Penjara Es, Selene tertawa mendengar kabar itu.
“Bagus. Pergilah ke Utara, Ratu. Temui suamiku.”
Di luar perbatasan, di istana es hitam…
Seorang pria bertopeng bertanduk memegang pecahan cermin yang sama.
Dia berbisik: “Akhirnya. Seraphina kembali padaku.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 11 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.