Pagi di awal Juli 2026 selalu memiliki aroma yang berbeda. Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika saya membuka gerbang RA Aisyah Afiqannisa. Cahaya matahari perlahan menyelinap di antara pepohonan, seakan ikut menyambut langkah-langkah kecil anak-anak yang akan memulai perjalanan baru mereka.
Saya berdiri beberapa saat di depan gerbang sekolah. Bukan untuk sekadar menyambut peserta didik baru, tetapi untuk kembali mengingat niat yang sejak awal saya tanamkan dalam hati.
“Ya Allah, jadikan setiap anak yang Engkau titipkan di madrasah ini sebagai ladang amal jariyah kami. Jadikan setiap guru sebagai pendidik yang mencintai sebelum mengajar, dan mengayomi sebelum menilai.”
Doa itu selalu menjadi pembuka hari.
1. Wajah-Wajah Baru, Amanah Baru
Hari pertama Masa Ta’aruf berlangsung penuh warna.
Anak-anak datang dengan berbagai ekspresi. Ada yang tersenyum penuh semangat, ada yang memeluk erat tangan ibunya, ada pula yang menangis sejadi-jadinya karena belum siap berpisah.
Saya menghampiri seorang anak laki-laki yang terus menangis sambil memanggil ayahnya.
“Namanya siapa, Nak?”
Ia terisak.
“Rafa…”
“Rafa suka mobil?”
Ia mengangguk pelan.
Saya mengeluarkan sebuah mobil-mobilan kecil dari kotak permainan kelas.
“Kalau Rafa bantu Umi menjaga mobil ini, nanti Ayah pasti senang.”
Tangisnya perlahan mereda.
Dari kejauhan, ayah Rafa mengusap air matanya sendiri.
“Terima kasih, Umi,” katanya lirih. “Saya khawatir sekali meninggalkannya.”
Saya tersenyum.
“Pak, hari ini bukan hanya Rafa yang sedang belajar mandiri. Orang tua juga sedang belajar ikhlas mempercayakan pendidikan anak kepada kami.”
Beliau mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Saat itulah saya kembali menyadari bahwa mendidik anak berarti sekaligus mendampingi orang tuanya.
2. Guru Bukan Sekadar Mengajar
Sore harinya saya mengumpulkan seluruh ustazah di ruang guru.
Tidak ada rapat panjang tentang target akademik.
Saya justru mengajak mereka berbincang dari hati ke hati.
“Sebelum kita mengajarkan huruf kepada anak-anak,” ujar saya, “pastikan mereka lebih dulu mengenal senyum kita.”
Ruangan menjadi hening.
“Kita mungkin lupa materi yang diajarkan hari ini. Tetapi anak-anak tidak akan lupa bagaimana guru memperlakukan mereka.”
Ustazah Fitri mengangguk.
“Betul sekali, Umi. Kadang satu pelukan lebih bermakna daripada sepuluh nasihat.”
Saya tersenyum.
“Itulah Kurikulum Berbasis Cinta. Ilmu memang penting, tetapi kasih sayang adalah pintu masuknya.”
Sejak hari itu kami membuat satu kesepakatan sederhana.
Tidak ada anak yang pulang tanpa mendapat senyuman.
Tidak ada anak yang menangis tanpa dipeluk.
Tidak ada anak yang merasa sendirian selama berada di madrasah.
Kesepakatan kecil itu kemudian menjadi budaya yang hidup di sekolah kami.
3. Ketika Prestasi Datang Tanpa Dikejar
Beberapa minggu kemudian, sebuah undangan lomba tingkat kecamatan datang ke meja saya.
Beberapa guru terlihat antusias.
“Umi, apakah kita ikut?”
Saya tersenyum.
“Kita ikut. Tetapi ingat, tujuan kita bukan membawa pulang piala.”
“Lalu apa, Umi?”
“Membawa pulang pengalaman.”
Kami memilih beberapa anak yang memang menunjukkan minat dan kesiapan.
Selama latihan, tidak ada tekanan.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada target yang membebani.
Saya hanya berpesan kepada mereka,
“Kalau nanti menang, ucapkan Alhamdulillah.”
“Kalau belum menang?”
“Tetap ucapkan Alhamdulillah.”
Anak-anak serempak tertawa.
Hari perlombaan pun tiba.
Dengan penuh rasa syukur, salah satu peserta didik kami berhasil meraih Juara II lomba mewarnai.
Anak-anak bersorak gembira.
Namun yang paling membuat saya terharu bukanlah pialanya.
Melainkan ketika peserta didik yang belum mendapatkan juara justru bertepuk tangan paling keras untuk temannya.
Di situlah saya melihat bahwa karakter jauh lebih mahal daripada prestasi.
4. Pertolongan Allah Datang Lewat Kebersamaan
Suatu siang, hujan turun sangat deras.
Air mulai menggenangi sebagian halaman sekolah.
Beberapa orang tua terlambat menjemput karena kemacetan.
Tanpa diminta, para guru bergerak bersama.
Ada yang menggendong anak-anak menuju teras.
Ada yang membagikan makanan ringan.
Ada yang mengajak mereka bernyanyi agar tidak takut mendengar suara petir.
Saya memandangi mereka dengan rasa haru.
Tidak ada yang menghitung jam kerja.
Tidak ada yang mengeluh.
Yang ada hanyalah semangat melayani.
Dalam hati saya berbisik,
“Ya Allah, beginilah rupanya nikmat memiliki keluarga yang dipersatukan oleh niat karena-Mu.”
5. Sujud yang Tak Pernah Sia-Sia
Menjelang malam, setelah seluruh aktivitas selesai, saya kembali memasuki musala kecil madrasah.
Saya membuka mushaf Al-Qur’an.
Ayat demi ayat saya baca perlahan.
Lalu saya menutupnya dan menengadahkan kedua tangan.
Saya teringat perjalanan beberapa bulan terakhir.
Air mata sahabat.
Kepergian Nenek.
Anak didik yang terluka saat rihlah.
Perpisahan sekolah.
Hari pertama peserta didik baru.
Semuanya ternyata bukan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri.
Semuanya adalah cara Allah mendidik saya agar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih bergantung kepada-Nya.
Saya tersenyum di balik doa.
Ternyata, menjadi kepala sekolah bukan tentang jabatan.
Bukan pula tentang banyaknya peserta didik.
Melainkan tentang seberapa besar kemampuan menjaga amanah dengan hati yang tetap rendah di hadapan Allah.
Perjalanan ini masih panjang.
Masih banyak mimpi yang ingin diwujudkan.
Masih banyak anak yang harus disentuh dengan kasih sayang.
Masih banyak guru yang perlu dikuatkan.
Dan selama Allah masih memberi kesempatan untuk melangkah, saya ingin terus menjadikan madrasah kecil ini sebagai taman yang menumbuhkan ilmu, akhlak, cinta, dan harapan.
Sebab saya percaya, bangunan sekolah mungkin hanya berdiri di atas tanah.
Tetapi pendidikan yang dilandasi cinta akan tumbuh hingga menembus langit, menjadi amal yang terus mengalir bahkan ketika kelak nama kita hanya tinggal doa-doa yang dipanjatkan oleh murid-murid yang pernah kita didik.
Saya pun menutup hari itu dengan satu kalimat yang selalu menguatkan setiap langkah pengabdian saya:
“Ya Allah, jika hari ini kami telah berbuat sedikit kebaikan, terimalah sebagai ibadah. Jika masih banyak kekurangan, bimbinglah kami agar esok menjadi hamba yang lebih baik.”
Malam kembali memeluk madrasah.
Lampu-lampu dipadamkan.
Namun cahaya harapan tetap menyala di dalam hati, mengiringi langkah menuju lembar takdir berikutnya.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: BAB 11 Menyalakan Lentera Harapan: Mengukir Prestasi, Menguatkan Amanah, dan Menapaki Jejak Pengabdian
Sorry, comment are closed for this post.