Bagaimana pun keluarga yang diidamkan setiap orang adalah keharmonisan dari setiap pasangan. Merasa aman dan nyaman. Tak terintimidasi hal yang hanya menguras kewarasan hati dan pikiran. Namun, ternyata impian dipatahkan dengan realita yang ada.
Kaisya tengah tiduran tanpa ingin menangis. Air matanya tak sanggup lagi ia keluarkan. Entah terlalu sakit atau sudah mati rasa mungkin juga masa bodoh dengan semua yang terjadi. Ia menatap langit-langit kamar tanpa berkedip. Kelopak matanya terasa berat, tetapi tidur pun enggan menghampiri. Bahkan menangis sudah tidak sanggup lagi. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tak lagi mampu ia beri nama.
Putra yang masih kecil sering menjadi sasaran bentakan saat emosinya memuncak. Setelah itu justru Kaisya yang menangis lebih keras daripada anaknya sendiri, seolah seluruh beban hidup tumpah bersamaan. Suami sibuk dengan dunianya sendiri. Meskipun memang dalam beberapa waktu begitu romantis dan dewasa. Namun ketika sang istri ingin mengungkapkan isi hatinya seakan menutup mata dan telinga. Dengan jawaban bahwa sudah tahu inti dari apa yang akan diceritakan.
Istri hanya ingin didengarkan tidak perlu dikomentari. Ia akan rapuh jika ditanggapi dengan celotehan yang mungkin apa yang dikatakan pasangannya itu benar. Tapi paling tidak beban yang ada dalam hati tidak membeku sampai mengeras seperti batu. Bila batu itu sudah penuh maka akan meledak berhamburan kemana saja. Tak perduli pada siapa ia terbang.
“Bu Kay, melamun?” tanya Bu Anggraini ketika menghampirinya. “Tadi saya panggil-panggil loh tak menyahut,” lanjutnya.
“Ah, Bu Anggra. Maaf cuma sedikit kurang enak badan,” kata Kaisya.
“Begitu ya. Kenapa memaksakan diri ke sekolah?” tanya Bu Anggraini.
“Bosen di rumah juga, Bu. Tetap saja banyak kerjaan ini itu. Apalagi di rumah gak pernah ada habisnya,” kata Kaisya lantas tersenyum.
“Iya, ya. Betul juga Bu Kay. Kadang capek dengan dua pekerjaan ini. Tapi mau bagaimana lagi sebagai wanita karir mau tidak mau harus dihadapi,” ujar Bu Anggraini.
“Begitulah Bu. Sempat terpikir ingin berhenti saja dari kerjaan dan fokus jadi ibu rumah tangga. Tapi kalau dipikir lagi gak ada yang tahu kedepannya nasib kita bagaimana. Seorang wanita juga harus bisa punya penghasilan sendiri. Kadang kalau minta sama suami berasa gak enak padahal sudah tanggung jawabnya,” ucap Kaisya.
“Iya. Apalagi kalau masih tinggal dengan mertua. Ah sudahlah berasa kita itu morotin anaknya,” ucap Bu Anggraini.
“Hahaha,, bener banget tuh Bu. Rasanya gimana gitu pengen marah, kan itu orang tua suami. Tapi kita tersakiti dengan kata-katanya,” sambung Bu Yunisa.
“Bener, Bu Yun. Serba salah memang kita sebagai menantu,” ucap Bu Anggraini.
“Jadi bahas mertua ini,” sela Kaisya tertawa karena ia sedang merasakan hal itu sekarang.
“Ghibahin mertua gak apa-apa kali ya,” kata Bu Yunisa sambil cekikikan.
“Mertua itu gak akan sebaik orang tua sendiri. Tapi tetap kita jangan sampai membiarkan suami menelantarkan mereka,” sambut Bu Joddy guru senior yang ternyata mendengarkan ghibahan tersebut.
“Hehe,, iya Bu. Surga dan Ridho Nya suami tetap pada kedua orang tuanya terutama ibu,” kata Bu Anggraini.
“Jelas. Lelaki itu sampai kapanpun gak bisa lepas dari ibunya. Tapi sebagai suami jangan sampai menelantarkan anak dan istri. Itu justru yang akan membuatnya sengsara dunia akhirat karena merupakan tanggung jawab,” seru Bu Joddy.
Para guru yang lain mengiyakan sedangkan Kaisya terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Bu Joddy. Helaan nafas keluar begitu saja dari mulutnya. Rasanya ingin memuntahkan isi hati agar plong. Tapi tidak baik juga harus mengutarakan masalah keluarganya. Itu adalah aib.
Bel masuk setelah istirahat berbunyi. Seluruh para guru yang ada jadwal mulai beranjak meninggalkan ruang guru menuju kelas. Kaisya berjalan melewati 7F. Terlihat Mikayla tengah bercengkrama dengan teman sebayanya. Ia sampai di kelas sebelahnya. Proses pembelajaran pun berlangsung. Sampai dua jam berlalu dan bel istirahat kedua berbunyi.
Tiba-tiba saja Mikayla datang menghampiri disaat Kaisya baru keluar dari kelas 7G.
“Bu,” seru Mikayla.
“Iya ada apa Kayla?” tanya Kaisya.
“Saya lupa bawa uang. Bolehkah Ibu telepon Ayah?” pinta Kaisya.
“Kenapa bisa lupa? Sama sekali gak ada uang buat jajan?” tanya Kaisya sedikit aneh dengan sikap anak didiknya itu.
“Ada, Bu. Uang itu untuk iuran membeli perlengkapan kelas. Saya, tadi saya buru-buru berangkat. Pas lihat lagi uangnya gak ada di tas mungkin saja tertinggal di rumah. Pinjam ke uang kas belum terkumpul semua katanya,” kata Mikayla.
“Begitu ya,” ucap Kaisya. Berpikir positif saja mungkin memang benar yang dikatakan Mikayla.
“Bisa kan, Bu?” tanya Mikayla meminta izin Wali Kelasnya itu.
“Hemm,, baiklah. Tapi gimana kalau ayahnya lagi kerja. Kan kasihan. Gimana kalau dari ibu saja terlebih dahulu. Nanti pas Kayla dijemput boleh diganti,” kata Kaisya memberikan pilihan lain. Terlihat Mikayla tengah berpikir usulan tersebut.
“Baiklah, Bu. Tapi, gak apa-apa kan Bu?” tanya Mikayla.
“Iya, gak apa-apa. Kayla ketinggalan uang berapa?” tanya Kaisya.
“Dua puluh ribu, Bu,” kata Mikayla.
“Ya, sudah,” kata Kaisya kemudian mengambil uang dari saku dan memberikannya pada Mikayla.
“Terima kasih, Bu. Nanti pas Ayah jemput diganti uangnya,” kata Mikayla. Kaisya hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Bu, kenapa dia minta uang sama Ibu?” tanya salah satu siswa dikelas 7G yang melihatnya.
“Tadi dia lupa bawa uangnya untuk membayar iuran perlengkapan kelas katanya. Jadi, Ibu pinjamkan nanti diganti sama ayahnya pas jemput,” ucap Kaisya dan diberi jawaban oh dari siswa tersebut.
Kaisya menggelengkan kepalanya begitu lucu dengan tingkah anak-anak. Meskipun sudah SMP namun sikap kekanak-kanakannya belum sepenuhnya berubah menjadi sedikit lebih dewasa sesuai umurnya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore. Semua proses pembelajaran telah berakhir. Para siswa dan guru mulai berhamburan meninggalkan kelasnya. Karena memang kegiatan keagamaan kelas tujuh sedang diliburkan karena ada acara diluar sekolah para gurunya. Kaisya berjalan menuju gerbang. Mikayla yang tengah menunggu jemputan Gian memanggilnya.
“Bu, mau pulang?” tanya Mikayla.
“Iya. Kayla lagi nunggu Ayah ya,” kata Kaisya, gadis itu hanya mengangguk.
“Bu jangan dulu pulang ya. Kan tadi saya sudah janji mau ngembaliin uangnya,” ucap Mikayla.
“Gimana kalau besok saja, Kay,” kata Kaisya.
“Takut kelupaan, Bu. Dan saya juga tadi kan sudah berjanji. Ayah gak akan lama ko’ Bu. Mungkin lagi dijalan,” ucap Mikayla. Guru muda itu termenung.
“Baiklah,” kata Kaisya pada akhirnya.
Setelah beberapa menit kemudian, muncullah mobil berwarna hitam dan bisa dipastikan itu milik Gian. Dan memang benar. Lelaki itu keluar dari kendaraannya langsung menghampiri.
“Kay,” sapa Gian. Kaisya dan Mikayla menjawab iya bersamaan. Karena nama panggilan keduanya sama.
“Oh, maaf,” ucap Kaisya saat tahu jika Gian yang menyapa. Mungkin itu memanggil anaknya namun ia menjawab.
“Kenapa minta maaf?” tanya Gian.
“Kira memanggil namaku,” kata Kaisya. Gian tersenyum.
“Memang menyapamu,” ucap Gian. Kaisya hanya bisa mengalihkan pandangan. Entah mengapa kalimat sesederhana itu membuat pipinya menghangat.
“Ayah,” panggil Mikayla.
“Eh, iya Ayah lupa. Kenapa sayang?” tanya Gian.
“Tadi Kayla meminjam uangnya Ibu Kaisya,” kata Mikayla.
“Loh, kenapa meminjam uang? Memangnya kurang ya uang yang Ayah kasih?” tanya Gian.
“Gak, Ayah. Kayla lupa membawanya tadi. Mungkin tertinggal di kamar. Pas istirahat kedua, Kayla meminta ibu Kaisya menelepon Ayah tapi kata Bu Kaisya, Ayah mungkin lagi kerja. Jadi, dipinjamkan,” ucap Mikayla.
“Begitu. Berapa yang kamu pinjam?” tanya Gian.
“Dua puluh ribu, Yah,” jawab Mikayla. Gian mengambil uang dari dalam dompetnya yang tersimpan di dalam saku.
“Kay, maaf ya sudah merepotkan lagi,” ucap Gian sambil menyerahkan uang tersebut.
“Gak apa-apa,” kata Kaisya lantas mengambilnya.
“Oh, iya. Kamu mau pulang kan? Dijemput?” tanya Gian.
“Iya. Kebetulan Ridho gak bisa jemput. Putra lagi tidur gak ada yang jaga,” kata Kaisya. Padahal hubungan mereka masih dingin sejak pertengkaran terakhir.
“Aku antar pulang ya,” kata Gian.
“Gak usah Gian. Aku naik angkutan umum saja,” tolak Kaisya.
“Ayolah Bu. Sebagai ucapan terima kasih sudah meminjamkan uang tadi,” rengek Mikayla.
“Betul itu, Kay,” sambut Gian.
“Kalau Ibu tidak mau. Kayla gak akan mau lagi kenal sama Ibu Kaisya. Meskipun Wali Kelas juga,” ucap Mikayla.
Kaisya tertawa sumbang mendengar rengekan Mikayla. Terlalu manja dan aneh. Hanya karena tidak mau diantarkan sampai segitunya.
“Kayla jangan begitu,” seru Gian pada anaknya. “Kay, jangan diambil hati ya. Kayla memang seperti ini.”
“Gak tahu ah. Kayla juga akan marah sama ayah,” ucapnya lantas meninggalkan dua orang dewasa itu menuju mobil.
“Gian. Apa Kayla memang selalu bersikap seperti itu?” tanya Kaisya.
“Begitulah. Sebenarnya sangat susah untuk dibujuk. Bahkan aku yakin besok gak bakalan mau sekolah. Bisa seminggu dia seperti itu hanya gara-gara hal sepele,” desah Gian.
“Begitu rupanya,” ucap Kaisya. “Baiklah, aku mau diantarkan pulang,” lanjutnya.
Gian tersenyum tipis sebelum membukakan pintu mobil.
Kaisya sempat ragu melangkah. Ada perasaan asing yang membuatnya gugup, padahal ini hanya tumpangan pulang. Tanpa ia sadari, sore itu menjadi awal dari sesuatu yang perlahan mengubah hidupnya.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 11. Sebuah Tumpangan Pulang
Sorry, comment are closed for this post.