Roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar pada satu titik yang sama. Kadang ia membawa kita terbang tinggi menyentuh awan, namun di lain waktu ia bisa menghempaskan kita begitu keras ke bumi. Setelah beberapa tahun kami dimanjakan oleh aliran rezeki yang melimpah—dengan tujuh unit armada rental yang selalu memenuhi garasi dan suara tawa dua anak kami yang menghidupkan suasana rumah—Allah SWT menyapa kami dengan bentuk kasih sayang yang lain. Sebuah ujian besar yang datang menghentak tanpa permisi, mengikis habis segala atribut duniawi yang sempat kami miliki, dan menyisakan kami dalam kepasrahan yang paling sunyi di atas sajadah.
Semua bermula ketika kesibukan Mas Giyanto sebagai PNS dan tugasku sebagai pustakawan di MTs Negeri semakin hari semakin menyita waktu dan energi. Karena keterbatasan tenaga untuk mengelola operasional bisnis rental mobil yang kian membesar, Mas Giyanto mengambil keputusan yang awalnya kami kira adalah solusi terbaik. Ia memutuskan untuk memercayakan pengelolaan seluruh armada tersebut kepada salah seorang teman dekatnya. Seorang teman yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri, yang rekam jejaknya selama ini terlihat sangat baik, jujur, dan meyakinkan di mata kami.
Namun, tabiat asli manusia baru benar-benar diuji saat mereka dihadapkan langsung dengan kilau materi. Harapan kami untuk bisa berbagi rezeki dan membesarkan usaha bersama-sama justru berbuah kepahitan yang teramat getir. Teman yang kami percaya sepenuhnya itu ternyata tidak amanah. Di balik punggung kami, dia melakukan manipulasi keuangan yang rapi, menggelapkan uang setoran bulanan, hingga puncaknya membawa kabur seluruh aset usaha tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kami ditipu mentah-mentah oleh orang yang paling kami percaya.
Konsekuensi dari runtuhnya bisnis itu datang seperti air bah yang menjebol tanggul secara mendadak. Satu per satu pihak lembaga keuangan (leasing) berdatangan ke rumah kami menagih kewajiban. Karena angsuran bulanan yang macet total akibat uangnya dilarikan oleh teman tersebut, hukum duniawi bekerja tanpa kompromi. Dalam waktu yang sangat singkat, tujuh unit mobil yang dulu menjadi kebanggaan, simbol keberhasilan, dan hasil peluh keringat bisnis kami, ditarik dan diambil paksa oleh pihak leasing. Garasi samping rumah kami yang biasanya riuh oleh deru mesin kini seketika kosong melompong, menyisakan lantai semen yang berdebu, dingin, dan sunyi.
“Sri,” bisik Mas Giyanto suatu malam, memecah keheningan kamar. Suaranya terdengar bergetar menahan beban berat yang menghimpit dadanya, namun sepasang matanya tetap menatapku dengan keteguhan yang tak pernah runtuh. Kami duduk berdua di pojok kamar yang remang-remang, merenungi takdir yang baru saja bergeser. “Mobil sudah habis, Sri. Mas minta maaf belum bisa menjaga semua titipan ini dengan baik.”
Aku menggeser dudukku, meraih jemarinya, lalu menggenggam erat tangan suamiku yang mulai terasa kasar karena beban pikiran. Di balik sifat asliku yang pemalu dan penakut, badai ini entah mengapa justru memunculkan kekuatan baru yang luar biasa di dalam diriku.
“Mas, saat kita menikah tahun 2005 dulu, kita tidak punya apa-apa. Gaji Mas sebagai guru ngaji hanya lima puluh ribu rupiah sebulan. Jika sekarang Allah mengambil kembali semua titipan-Nya, kita tidak perlu takut. Kita hanya perlu kembali ke titik awal: berserah diri sepenuhnya,” ucapku menguatkan jiwanya yang terluka.
Di saat kondisi ekonomi kami berada di titik nadir, ujian sosial yang tak kalah menyakitkan pun datang menyapa. Hukum alam duniawi yang kejam mulai berlaku. Satu per satu orang-orang yang dulu mendekat dan bermuka manis saat kami sedang jaya, perlahan-lahan mulai menjauh dan menghilang. Saudara dan kerabat dekat yang biasanya sering berkunjung ke rumah, mendadak menjadi asing dan enggan menampakkan diri. Desas-desus, bisik-bisik tetangga, dan pandangan sinis dari sekeliling desa seolah mengakhiri martabat kami sebagai keluarga. Dalam sekejap, kami merasa benar-benar berjalan sendirian di tengah kegelapan yang pekat.
Namun, di situlah kami tersadar. Ketika semua manusia menjauh dan pintu duniawi tertutup rapat, pintu langit justru terbuka lebar tanpa sekat sedikit pun. Kehilangan tujuh unit mobil dan pengkhianatan seorang teman adalah madrasah iman tingkat tinggi bagi kami berdua untuk naik kelas. Di atas sajadah kepasrahan, setiap malam setelah salat Isya dan di sepertiga malam yang sunyi, kami tumpahkan segala air mata. Pundak kami bergetar hebat menahan beratnya beban hidup, namun di tempat sujud itulah kami menemukan ketenangan yang tak bisa dibeli dengan uang. Dari babak kehidupan yang penuh air mata ini, aku dan Mas Giyanto belajar sebuah hakikat terdalam: bahwa harta materi bisa lenyap dalam sekejap mata, manusia bisa berkhianat dalam hitungan hari, namun kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang berserah diri adalah satu-satunya benteng yang akan selalu kokoh melindungi kehidupan kami dari kehancuran.
Di tengah riuh rendahnya kepenatan dunia orang dewasa , Allah meletakkan penawar rindu dan pelipur lara yang luar biasa pada sosok anak-anak kami. Kehadiran Tazkia kecil di tengah-tengah kami seolah menjadi jangkar yang kuat, memberikan tawa murni yang meredam segala kecemasan. Saat bisnis rental mobil kami mulai diguncang prahara, Tazkia masih sangat kecil. Dia belum mengerti mengapa garasi rumah kami yang dulunya ramai, tiba-tiba berubah menjadi kosong dan sepi. Dia juga belum paham mengapa ibu dan bapaknya kini sering kali berlama-lama di atas sajadah dengan mata yang sembap.
Namun, anak-anak adalah penyemangat yang tak ternilai. Setiap kali Mas Giyanto pulang mengajar dengan raut wajah yang sangat lelah setelah seharian memikirkan urusan penipuan itu, Tazkia kecil akan berlari kecil dari dalam rumah menuju pintu depan begitu mendengar suara langkah kaki ayahnya.
“Ayah pulang…!” serunya dengan suara cadel yang khas, langsung memeluk erat kaki Mas Giyanto.
Seketika itu juga, gumpalan awan mendung dan beban berat di wajah suamiku luntur tak berbekas. Mas Giyanto akan langsung berjongkok, mengangkat tubuh kecil Tazkia ke dalam dekapannya, lalu mencium pipinya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Pemandangan indah itu selalu berhasil membuat dadaku berdesir haru. Di balik meja kerja perpustakaan MTs Negeri, di sela-sela tugasku mengelola buku, aku pun menanam janji yang kuat pada diriku sendiri untuk tetap tegak berdiri. Jika Mas Giyanto bisa menjadi batu karang yang kokoh untuk anak-anak, maka aku harus bisa menjadi samudera kesabaran yang menopang kekuatannya.
Tazkia Khoirunnisa Sugiyanto tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian seiring berjalannya waktu. Ketika kondisi keuangan keluarga kami harus diketatkan sehabis-habisnya demi menyelamatkan rumah tempat kami bernaung, Tazkia tidak pernah menjadi anak yang rewel atau menuntut macam-macam. Dia rida dengan kesederhanaan menu makanan dan fasilitas yang mampu kami suguhkan, persis seperti keteguhan ayahnya yang dulu rida mengajar dengan upah seadanya. Begitu pula dengan kakaknya, Faathir, yang senantiasa menunjukkan kedewasaan dalam bersikap.
Kini, setiap kali aku duduk di ruang tengah dan memandangi wajah Tazkia serta Faathir yang mulai beranjak remaja, aku menyadari sebuah rahasia ilahi yang agung. Anak-anak kami adalah benteng batin yang sesungguhnya. Penipuan yang kami alami mungkin telah berhasil merenggut seluruh aset duniawi yang kami banggakan, dan sikap dingin saudara yang menjauh mungkin sempat menggores lubuk hati. Namun, Allah SWT menggantinya dengan harta yang jauh lebih mulia dan abadi: keharmonisan rumah tangga yang tanpa retak, kesehatan yang paripurna, serta anak-anak yang berakhlak shalih dan shalihah.
Nama Sugiyanto yang tersemat indah di belakang nama kedua anak kami bukan lagi sekadar nama keluarga atau garis keturunan. Nama itu kini telah bermutasi menjadi sebuah simbol perjuangan yang suci. Sebuah pengingat yang abadi bagi mereka kelak ketika dewasa, bahwa ayah dan ibu mereka pernah melewati jalanan yang teramat terjal, ditipu, dikhianati, dan diuji hingga ke titik nadir kehidupan, namun tetap bisa berdiri tegak melangkah maju karena satu hal: kami memiliki keyakinan penuh pada perlindungan Allah SWT. Bersama Faathir dan Tazkia, sisa perjalanan hidup ini akan terus kami kayuh ke depan dengan kayuhan syukur yang tidak akan pernah putus, apa pun badai yang menghadang.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 11_ Badai di Atas Sajadah Kepasrahan
Sorry, comment are closed for this post.