BAB 12: BADAI, MATA-MATA, DAN RAJA BAYANGAN
Salju turun selama 7 hari. Mereka meninggalkan Ardentia di pagi buta.
- PERJALANAN KE UTARA
Kereta es yang ditarik 4 serigala salju melaju menembus badai.
Di dalamnya: Seraphina, Alistair, Leon, Lyra, dan 10 prajurit terpilih.
Hari ke-3.
RAUNG!_
Monster es muncul dari gundukan salju. Tubuhnya sebesar gajah, matanya merah.
“Serigala Es!” teriak kepala prajurit.
Alistair maju dengan pedang es. Seraphina mengangkat tangan, badai salju berbalik menyerang monster itu.
Saat monster jatuh, di dadanya tertancap panah. Panah dengan lambang serigala bertanduk.
“Dia sudah tahu kita datang,” bisik Seraphina.
Di saku jubahnya, pecahan cermin di kalung bergetar. Menunjukkan bayangan istana es hitam.
Malamnya, Seraphina bermimpi.
Dia melihat dirinya kecil, 15 tahun. Dijodohkan dengan seorang pangeran utara bertopeng.
“Aku akan melindungimu,” kata pangeran itu. “Namaku… Kael.”
Dia terbangun dengan air mata. “Kael… Raja Bayangan.”
- PENGKHIANATAN LAGI
Hari ke-5. Perkemahan di gua es.
Lyra hilang.
Semua panik.
Alistair menemukan jejak kaki kecil menuju keluar… dan jejak kaki kedua. Sepatu prajurit.
“Kapten Doren,” kata Alistair dingin. Salah satu prajurit terpercayanya.
Doren ditangkap. Di lehernya ada tato serigala bertanduk yang ditutup sihir.
“Berapa lama kau jadi mata-matanya?” tanya Seraphina.
Doren tertawa. “Sejak 8 tahun lalu, Ratu. Raja Kael yang menyuruh Selene merebut tahtamu. Dan akulah yang membocorkan jalan rahasia ke kamarmu malam itu.”
_DUG!_
Seraphina terpaku. Jadi… pengkhianatan 8 tahun lalu bukan hanya Selene.
“Di mana putriku?” tanya Seraphina, suaranya bergetar.
“Di Istana Es Hitam. Sebagai hadiah,” jawab Doren sebelum Alistair membungkamnya.
- PERTEMUAN PERTAMA
Hari ke-7. Gerbang Istana Es Hitam.
Tingginya 3 kali istana Ardentia. Dindingnya dari es hitam yang tidak memantulkan cahaya.
Gerbang terbuka sendiri.
Di singgasana es hitam, duduk seorang pria. Bertopeng tanduk. Jubah hitam.
Di pangkuannya… Lyra. Tidur, dengan selimut es.
“Seraphina,” suara pria itu berat. “Sudah lama.”
Alistair maju melindungi. “Lepaskan dia.”
Pria itu melepas topengnya. Wajah tampan. Bekas luka di pipi. Mata abu-abu yang dulu Seraphina kenal.
“Kael,” bisik Seraphina.
“Ratu Seraphina,” kata Kael. Dia mengelus rambut Lyra. “Kau meninggalkan pertunangan kita. Kau menikah dengan musuhku. Dan sekarang… kau bawa anakku?”
Semua membeku.
“Anakku?” tanya Seraphina.
Kael tersenyum. “Lyra. Dia punya mataku. Dan sihir. Darah Utara dan Salju. Sempurna untuk menjadi Ratu Bayangan berikutnya.”
Lyra terbangun. “Ibu?”
Kael berdiri. “Pilih, Seraphina. Berikan mahkotamu dan ikut aku. Atau… aku bekukan Ardentia dan anakmu akan memerintah atas mayat-mayat itu.”
Es hitam merayap dari lantai menuju kaki Seraphina.
[AKHIR BAB 12]
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 12 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.