Liburan sekolah seharusnya menjadi jeda yang menenangkan setelah padatnya aktivitas akhir tahun ajaran. Tidak ada suara anak-anak yang berlarian di halaman madrasah, tidak terdengar nyanyian pagi dari ruang kelas, dan meja kerja saya pun untuk sesaat terbebas dari tumpukan administrasi. Saya membayangkan hari-hari itu akan saya gunakan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, serta menyusun berbagai rencana untuk menyambut semester baru.
Namun, manusia hanya mampu merencanakan. Allah-lah yang menetapkan jalan terbaik.
Belum lama saya menikmati suasana liburan, sebuah panggilan telepon datang pada pagi yang masih diselimuti udara sejuk.
Nada dering telepon itu terdengar biasa, tetapi suara di seberang sana membuat jantung saya berdegup lebih cepat.
“Assalamu’alaikum, Kak Husna…”
Suara adik saya terdengar bergetar.
“Wa’alaikumussalam. Ada apa?”
Adik saya terdiam beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan kabar yang berat.
“Kak… Paman sudah dipanggil Allah.”
Saya memejamkan mata.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”
Kalimat istirja itu mengalir begitu saja dari bibir saya, sementara dada terasa sesak.
Paman, adik kandung almarhumah Ibu, telah mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia.
1. Kenangan yang Tak Pernah Hilang
Dalam perjalanan menuju rumah duka, begitu banyak kenangan berputar di dalam kepala.
Sejak kecil, Paman adalah sosok yang murah senyum. Beliau bukan orang yang banyak bicara, tetapi setiap ucapannya selalu menenangkan.
Sejak Ayah dan Ibu berpulang, keberadaan Paman menjadi salah satu penghubung yang menjaga tali silaturahmi keluarga besar tetap terjalin.
Beliau sering bertanya tentang perkembangan madrasah.
“Husna, bagaimana sekolahnya? Anak-anak sehat?”
Saya selalu menjawab dengan penuh semangat.
“Alhamdulillah, Paman. Mohon doanya agar kami terus diberi kekuatan.”
Beliau hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Teruslah mengajar dengan ikhlas. Ilmu yang bermanfaat tidak akan pernah putus pahalanya.”
Kini, suara itu hanya tinggal kenangan.
2. Rumah Duka yang Penuh Doa
Sesampainya di rumah duka, halaman telah dipenuhi keluarga, tetangga, dan sahabat.
Suasana begitu hening.
Tangis perlahan terdengar dari sudut ruangan.
Saya melangkah mendekati jenazah Paman yang telah diselimuti kain kafan putih.
Wajah beliau tampak begitu tenang.
Saya mengecup kening beliau untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih, Paman,” bisik saya lirih.
“Terima kasih atas kasih sayang, perhatian, dan doa-doa yang selama ini diam-diam Paman panjatkan untuk kami.”
Air mata jatuh tanpa mampu saya bendung.
Di samping saya, saudara-saudara saling berpelukan.
Tidak ada lagi perbedaan pendapat.
Tidak ada lagi kesibukan dunia.
Di hadapan kematian, semua kembali menjadi hamba yang sama-sama lemah.
3. Menguatkan Saudara yang Ditinggalkan
Kesedihan paling dalam tampak di wajah keluarga inti Paman.
Anak-anak beliau berusaha tegar meskipun mata mereka sembap.
Saya memeluk salah seorang sepupu yang sejak tadi terus menangis.
“Teh… sekarang kami sudah tidak punya Ayah.”
Kalimat itu membuat hati saya kembali bergetar.
Saya menggenggam tangannya.
“Kita semua memang kehilangan. Tetapi doa kita tidak akan pernah berhenti untuk beliau. Insya Allah, setiap doa yang tulus akan menjadi hadiah terbaik.”
Kami kemudian bersama-sama membaca doa, mengiringi setiap lantunan ayat suci yang memenuhi ruangan.
Saat itulah saya kembali merasakan bahwa keluarga bukan hanya dipersatukan oleh hubungan darah, tetapi juga oleh doa yang terus mengalir.
4. Mengantar Perjalanan Terakhir
Menjelang siang, jenazah diberangkatkan menuju pemakaman.
Langkah demi langkah terasa berat.
Saya berjalan sambil terus melafalkan istigfar.
Sesekali saya memandang langit yang cerah.
Betapa dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya, meskipun hati manusia sedang dipenuhi kehilangan.
Ketika liang lahat telah siap, seluruh keluarga mengiringi proses pemakaman dengan khusyuk.
Segenggam demi segenggam tanah jatuh perlahan.
Suara tanah yang mengenai papan penutup makam seakan mengetuk hati saya sendiri.
Di sinilah akhir perjalanan setiap manusia.
Tidak ada jabatan yang dibawa.
Tidak ada harta yang menemani.
Yang tinggal hanyalah amal saleh dan doa dari orang-orang yang mencintainya.
Saya menundukkan kepala.
Dalam diam saya berdoa,
“Ya Allah, lapangkan kubur Paman. Ampuni segala khilafnya. Terimalah seluruh amal baiknya, dan tempatkan beliau di sisi hamba-hamba-Mu yang Engkau muliakan.”
5. Liburan yang Menjadi Madrasah Kehidupan
Peristiwa itu mengubah makna liburan bagi saya.
Liburan bukan sekadar berhenti dari pekerjaan.
Liburan menjadi ruang untuk kembali menyadari betapa berharganya waktu bersama keluarga.
Saya pulang dengan hati yang lebih tenang.
Sesampainya di rumah, saya membuka album foto keluarga yang telah lama tersimpan.
Satu demi satu wajah orang-orang yang telah mendahului kami saya pandangi.
Ayah.
Ibu.
Nenek.
Kini Paman.
Mereka telah menyelesaikan tugasnya di dunia.
Sementara saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Kesempatan itu adalah amanah.
Saya tidak ingin menyia-nyiakannya.
Saya ingin terus mengabdi di madrasah dengan hati yang lebih tulus.
Saya ingin lebih sering mengunjungi keluarga.
Saya ingin lebih banyak meminta maaf sebelum penyesalan datang terlambat.
Karena saya belajar bahwa kehilangan tidak pernah memberi pemberitahuan sebelumnya.
6. Hikmah di Balik Air Mata
Malam terakhir liburan sekolah saya isi dengan salat tahajud.
Dalam sujud yang panjang, saya mengingat satu per satu orang yang telah Allah panggil lebih dahulu.
Air mata kembali mengalir.
Namun kali ini bukan semata-mata karena kesedihan.
Melainkan karena rasa syukur.
Syukur karena Allah pernah mempertemukan saya dengan mereka.
Syukur karena saya pernah merasakan kasih sayang mereka.
Syukur karena kenangan baik tidak akan pernah dikuburkan bersama jasad.
Saya bangkit dari sajadah dengan hati yang lebih lapang.
Besok atau lusa, madrasah akan kembali ramai.
Anak-anak akan kembali memenuhi kelas dengan tawa mereka.
Guru-guru akan kembali menyusun pembelajaran.
Kehidupan akan terus berjalan.
Tetapi saya membawa satu pelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan.
Bahwa setiap pertemuan telah ditentukan masanya.
Setiap perpisahan telah ditetapkan waktunya.
Dan setiap kehilangan sesungguhnya adalah undangan bagi hati untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya menutup masa liburan itu dengan tekad baru: menjalani setiap hari sebagai kesempatan untuk berbuat baik, mempererat silaturahmi, dan meninggalkan jejak amal yang kelak dapat menjadi bekal ketika tiba giliran saya dipanggil pulang menghadap Sang Pemilik Kehidupan.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: BAB 12 Senyap di Ujung Liburan: Ketika Paman Menutup Lembaran Dunia
Sorry, comment are closed for this post.