Kaisya akhirnya naik ke dalam mobil Gian. Terlihat raut wajah Mikayla begitu bahagia. Mungkin ia belum pernah merasakan sebahagia itu selama ini. Karena memang gadis manis tersebut sudah ditinggal pergi ibunya yang dikabarkan menikah kembali dan sama sekali tidak peduli. Sungguh kasihan.
“Ayah, Kayla mau beli sesuatu dulu di mini market. Boleh berhenti dulu?” pinta Mikayla.
“Nanti saja ya, sayang. Kita antar dulu Bu Kaisya pulang kasihan nanti terlalu sore pulangnya,” bujuk Gian.
“Gak akan lama ko’ ayah. Kalau nganterin dulu Bu Kaisya nanti kita balik lagi dong,” ujar Mikayla.
“Kan bisa di tempat yang lain yang deket ke rumah,” kata Gian lagi.
“Kata temen Kay di mini market itu lagi ada diskon boneka kelinci,” ucap Mikayla.
“Sudahlah, Gian. Turutin saja maunya anakmu. Kasihan,” kata Kaisya. Meskipun dalam hatinya merasa kacau. Takut Ridho tahu. Entah apa yang akan terjadi jika demikian.
“Kamu izin dulu sama Ridho takutnya dia khawatir,” kata Gian merasa tidak enak.
“Gak apa-apa. Ridho pasti berpikir aku ke rumah orang tuaku dulu,” ucap Kaisya.
“Ayaaah,” rengek Mikayla.
“Iya sayang. Kita ke mini market dulu,” ucap Gian pada akhirnya. Mikayla terlihat sangat senang.
Mikayla turun dari mobil begitupun Gian. Sedangkan Kaisya masih berada di dalam. Lelaki itu membukakan pintu dimana ada Kaisya. Namun, ia menolak keluar karena buat apa juga. Tak akan membeli apapun di dalam. Gian mengangguk setuju. Sekitar tiga puluh menit mereka keluar dengan membawa beberapa kantong keresek.
“Sudah Kay beli bonekanya?” tanya Kaisya melihat kebelakang.
“Sudah, Bu. Ini lucu sekali, Kayla sangat suka,” ucapnya.
“Kayla suka ya dengan boneka kelinci?” tanya Kaisya lagi. Gian sudah duduk di sampingnya.
“Sangat suka,” jawab Mikayla.
“Maaf, Kay. Lama ya,” kata Gian.
“Santai saja,” kata Kaisya.
“Ayah, Kaisya lapar. Kita ke rumah makan dulu ya,” pinta Mikayla.
“Sayang,” Gian melirik jam di dashboard sebelum kembali menyalakan mesin mobil merasa tidak enak dengan Kaisya.
“Gak apa-apa Gian. Kita ke rumah makan aja dulu. Kasihan Kayla pasti sangat lapar itu. Kebetulan juga aku mau belanja lauk buat di rumah,” kata Kaisya.
“Baiklah,” ucap Gian pada akhirnya.
Sesampainya di rumah makan. Mereka turun. Dari kejauhan mereka tampak seperti keluarga kecil yang utuh. Tak seorang pun akan menyangka bahwa masing-masing sedang membawa luka yang berbeda..
“Kay, makan dulu disini ya,” kata Gian.
“Silahkan. Aku tunggu,” kata Kaisya.
“Kenapa Bu Kaisya gak mau makan sama kami? Apa karena Ibu merasa terpaksa?” tanya Mikayla.
“Kayla, kenapa kamu begitu gak sopan sama Bu Kaisya?” bentak Gian.
“Kenapa Ayah jadi marah-marah sih,” ucap Mikayla terlihat sedih.
“Gian, jangan dimarahin. Gak baik apalagi ini di tempat umum,” ucap Kaisya.
“Bukan begitu, Kayla sudah keterlaluan,” ucap Gian.
“Kayla, baiklah Ibu juga ikut makan. Tapi jangan bersikap seperti itu lagi ya. Kasihan ayahnya loh,” tutur Kaisya dengan lembut agar Mikayla mengerti.
Pada akhirnya Kaisya ikut makan bersama mereka. Hingga jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ponsel guru muda itu berdering.
“Kamu dimana?”
Ternyata itu pesan dari Ridho. Kaisya tidak memeriksa ponselnya karena mungkin tidak terdengar. Hingga suaminya menelepon.
“Aku sebentar lagi sampai, ini lagi di jalan,” balas Kaisya berbohong padahal ia masih berada di rumah makan baru saja selesai pembayaran.
“Ridho ya?” tanya Gian mungkin melihat Kaisya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel.
“Ah, iya. Cuma nanyain saja aku dimana,” kata Kaisya.
“Maaf, ya. Merepotkan mu terus,” ucap Gian hanya diberi senyuman sebagai jawaban.
“Sayang, kita pulang. Sebelum itu antarkan dulu Bu Kaisya ya,” kata Gian pada Mikayla.
“Iya,” sahut Mikayla.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Hingga sampai di depan rumah Kaisya. Ia berterima kasih sudah mengantarkan dirinya. Di saat kendaraan melaju jauh, mertuanya melihat.
“Itu siapa?” tanya sang Ayah mertua.
“Teman waktu sekolah, Yah. Kebetulan ketemu di jalan,” jawab Kaisya.
“Orang mana?” tanyanya lagi.
“Di ujung seberang,” kata Kaisya.
“Baik sekali mau mengantarkan. Padahal bersebrangan dari arah sekolah,” kata Ayah mertua.
“Ayah ngomong begitu maksudnya apa?” tanya Kaisya tanpa basa-basi lagi.
“Kenapa marah? Berarti memang iya kalau begitu,” katanya.
“Maaf, jadi maksud Ayah itu aku menyeleweng?”
Kaisya yang sudah merasa kesal tanpa pamit langsung pergi. Membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah tanpa salam sama sekali.
“Kamu darimana? Kenapa baru pulang jam segini?” tanya Ridho datar.
Tak ada jawaban sama sekali dari Kaisya. Ia kini tengah merasakan kesal akibat ulah ayah mertuanya. Ingin mengatakan itu pada Ridho namun pasti tak ada respon apapun.
Ridho menghela napas pelan melihat Kaisya yang hanya berlalu begitu saja menuju kamar. Dahinya berkerut.
“Kaisya.”
Perempuan itu berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh.
“Aku tanya, kamu dari mana?”
Kaisya memejamkan mata sejenak. Rasanya baru saja ia harus menghadapi prasangka ayah mertuanya, kini pertanyaan bernada datar itu kembali menyambutnya.
“Tadi ada urusan sedikit.”
“Urusan apa sampai pulang jam segini?”
“Biasa… di sekolah.”
Ridho menatap istrinya beberapa saat. Entah mengapa jawaban itu terdengar menggantung. Namun ia memilih tidak melanjutkan pertanyaan. Bukannya ingin mengerti, ia justru mengambil ponselnya kembali.
“Ya sudah.”
Hanya dua kata.
Dua kata yang seharusnya melegakan, tetapi justru membuat dada Kaisya semakin sesak.
Ia berharap Ridho bertanya sekali lagi. Berharap suaminya menyadari raut wajahnya yang berantakan. Berharap ada satu kalimat sederhana.
“Kamu kenapa?”
Namun harapan itu kembali pupus.
Kaisya masuk ke kamar. Putra masih tertidur pulas di atas kasur kecilnya. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap lembut rambut anak laki-lakinya.
“Maafin Ibu ya, Nak…”
Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bukan karena pertanyaan Ridho, melainkan karena merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 12. Sesak yang Tak Terucap
Sorry, comment are closed for this post.