Waktu terus bergulir, melangkah pasti melewati angka tahun 2019 yang penuh dengan gejolak air mata, cemoohan, dan luka kekalahan. Takdir tidak pernah membiarkan kami terjebak selamanya dalam kegelapan malam yang pekat. Di bawah bimbingan spiritual Bapak Gunung Jati yang terkenal tegas, berwibawa, dan tanpa kompromi, aku dan Mas Giyanto perlahan-lahan mulai bisa menata kembali serpihan-serpihan hati kami yang sempat berserakan. Ketegasan beliau dalam menanamkan ilmu kesabaran yang aktif—bukan sekadar pasrah yang lemah—laksana pupuk yang menyuburkan kembali tanah batin kami yang sempat kering, gersang, dan koyak akibat dihina serta direndahkan oleh masyarakat desa sendiri. Kami diajarkan untuk tidak melihat ujian sebagai hukuman, melainkan sebagai proses penyucian jiwa agar tidak ada lagi ruang bagi kesombongan duniawi.
Setiap pagi tiba, seiring dengan menyingsingnya matahari di ufuk timur Banjarnegara, aku kembali melangkah menuju perpustakaan MTs Negeri dengan rasa percaya diri yang baru. Namun, ada yang berbeda dengan caraku melangkah kali ini. Aku berjalan dengan kepala tegak, bukan lagi dengan bahu yang merosot karena beban minder, melainkan dengan hati yang tertata jauh lebih merunduk di hadapan Sang Pencipta. Seragam wiyata bakti yang kukenakan sehari-hari bukan lagi sekadar identitas pekerja penata buku, melainkan sebuah simbol keteguhan dari seorang Sri. Seorang wanita yang telah dinyatakan lulus dari ujian mental paling terjal di desanya sendiri. Buku-buku yang kurapikan satu per satu di atas rak kayu sekolah seolah menjelma menjadi saksi bisu, bahwa wanita yang sedang menyusun lembaran-lembaran kertas ilmu ini telah berhasil menyusun kembali martabat hidupnya yang sempat porak-poranda oleh lisan manusia. Setiap sapaan ramah dari para siswa dan rekan guru menjadi obat penawar yang mengembalikan senyumku yang sempat hilang.
Sementara itu, Mas Giyanto tetap menjadi sosok imam yang begitu teduh dan menenteramkan di dalam rumah. Di sela-sela kesibukannya yang padat mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dia tidak pernah lelah, jemu, ataupun bosan untuk selalu mengingatkanku agar senantiasa mengamalkan apa yang dipesankan oleh Pak Gunung Jati. Beliau selalu menekankan agar kami menjaga kesucian hati dari segala macam penyakit batin, termasuk rasa ingin membela diri yang berlebihan di hadapan makhluk. Sering kali, di ruang tengah rumah kami, kami menghabiskan waktu malam untuk berdiskusi kecil, menyelaraskan kembali niat-niat kami agar tidak lagi tergelincir pada silau dunia yang menipu.
“Sri,” ujar Mas Giyanto suatu sore, memecah keheningan yang damai saat kami sedang duduk berdua di teras rumah memandangi langit yang mulai meremang jingga. “Kamu merasa tidak? Suasana di dalam rumah kita sekarang ini rasanya jauh lebih tenang, damai, dan adem, meskipun garasi samping kita tidak lagi seramai dulu saat masih ada tujuh unit mobil rental terparkir.”
Aku tersenyum lembut mendengar ucapannya. Aku mengangguk pelan sambil meletakkan secangkir kopi di dekat tempatnya bersandar, memandangi wajah suamiku yang kini tampak jauh lebih ikhlas dan bercahaya.
“Iya, Mas. Aku merasakannya dengan sangat jelas. Dulu, waktu kita masih memiliki banyak mobil dan usaha kita sedang jaya-jayanya, pikiran kita rasanya terus-menerus berputar tanpa henti tentang setoran, tentang kejaran angsuran bank, dan segala urusan duniawi yang melelahkan fisik serta batin. Rasa khawatir akan kehilangan materi justru membuat kita terjebak dalam lingkaran kecemasan. Sekarang, setelah semua titipan itu diambil kembali oleh-Nya dan kita diberikan kesempatan berharga untuk dibimbing langsung oleh Pak Gunung Jati, rasa aman yang kita miliki benar-benar murni. Sebuah rasa aman yang datang dari kedekatan kita pada Allah, bukan karena bersandar pada banyaknya harta benda,” jawabku lirih namun sarat akan keyakinan yang mendalam.
Keajaiban dari sebuah kesabaran yang dipupuk tanpa batas lambat laun mulai memperlihatkan buah manisnya yang nyata dalam kehidupan sosial kami. Masyarakat desa yang dulunya begitu gencar mencemooh, menyindir, dan memandang sebelah mata atas kekalahanku dalam pemilihan kepala desa tahun 2019, perlahan-lahan mulai berubah sikap secara drastis. Hukum alam yang diletakkan Allah dalam kehidupan bermasyarakat bekerja dengan sangat rapi, halus, dan tak terduga.
Melihat bagaimana keluarga kami tetap tegak berdiri menghadapi badai, tetap santun menyapa siapa saja di jalanan desa tanpa membeda-bedakan, dan sama sekali tidak pernah membalas satu pun hinaan keji dengan caci maki serupa, membuat mereka yang dulu membenci perlahan-lahan menaruh rasa hormat yang mendalam. Kebenaran tidak perlu diteriakkan; ia akan menampakkan dirinya sendiri melalui konsistensi sikap. Bisik-bisik miring yang biasanya memekakkan telinga di sudut pasar atau di pos-pos ronda lambat laun lenyap ditelan bumi. Desas-desus itu berganti menjadi sebuah kesadaran kolektif di benak mereka bahwa keluargaku bukanlah keluarga yang hancur dan hina karena utang usaha, melainkan sebuah keluarga yang teramat tangguh, terhormat, dan kokoh karena fondasi iman mereka yang menghunjam dalam. Beberapa tetangga bahkan mulai kembali datang untuk sekadar meminta nasihat atau bertukar pikiran dengan Mas Giyanto, mengakui ketenangan jiwa yang kami miliki.
Tidak hanya masyarakat umum, saudara-saudara dan kerabat dekat yang sempat menjauh serta menutup pintu silaturahmi di masa-masa sulit kami pun, satu per satu mulai kembali mendekat. Mereka mulai sering bertamu ke rumah, membawakan buah tangan, mengajak mengobrol hal-hal ringan, dan bersikap sangat hangat seolah-olah badai penolakan dan pengucilan beberapa tahun lalu tidak pernah terjadi dalam sejarah keluarga kami. Perubahan sikap mereka yang mendadak ini menjadi ujian baru bagi keikhlasan kami.
Melihat fenomena sosial itu, ego manusiaku sempat kembali terusik. Ada rasa ingin menjaga jarak atau mengingatkan mereka akan luka masa lalu. Namun, Mas Giyanto dengan kebesaran hati yang luar biasa—karakter mulia yang selalu kukagumi sejak zaman aku menjadi muridnya belajar tajwid di TPQ tahun 1993 dulu—menyambut kedatangan mereka semua dengan tangan terbuka, senyuman tulus, tanpa ada setitik pun rasa dendam atau ganjalan di dalam dadanya.
“Allah saja Maha Pemaaf dan Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang berlumur dosa, Sri. Siapalah kita ini? Kita hanyalah manusia biasa yang penuh dengan cacat dan khilaf, kok tega dan mau memelihara rasa sakit hati serta dendam kesumat kepada saudara sendiri,” kata Mas Giyanto dengan suara berwibawa namun lembut saat aku sempat mempertanyakan perubahan sikap beberapa kerabat yang tiba-tiba kembali mendekat .
Kata-kata dari suamiku itu seketika laksana air es yang mengguyur bara api di dadaku, meruntuhkan sisa-sisa keegoan dan kesombongan yang masih bersembunyi di sudut hati. Aku menyadari bahwa ujian ini telah mengubah kami sepenuhnya, mematangkan jiwa kami untuk menerima manusia apa adanya. Fajar baru telah menyingsing di ufuk timur kehidupan kami setelah melewati malam gelap yang teramat panjang dan dingin. Kami keluar dari madrasah ujian itu bukan sebagai manusia yang kalah, melainkan sebagai hamba-hamba yang menang melawan hawa nafsu kami sendiri, siap melanjutkan sisa lembaran hidup dengan kayuhan syukur yang tak akan pernah putus. Rumah kami kini bukan lagi sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah tempat bernaung yang dipenuhi dengan kedamaian spiritual yang sejati.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 13 _ Fajar Baru Setelah Malam yang Panjang
Sorry, comment are closed for this post.