“Terima kasih sudah diantar,” ucap Kaisya seraya tersenyum dan disambut senyuman hangat Gian serta Mikayla yang tampak begitu bahagia.
“Sama-sama, Kay. Titip salam untuk Ridho dan Putra,” kata Gian. Kaisya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mengantar Kaisya pulang, Gian kembali melajukan mobilnya setelah ia parkirkan menuju arah kembali. Gian merasakah tidak enak hati. Ya, ia tahu diri jika wanita itu sudah berkeluarga.
Sementara di kursi sampingnya, Mikayla sibuk memeluk boneka kelinci berwarna putih yang baru saja dibelinya. Senyum gadis kecil itu tak pernah lepas sejak keluar dari rumah makan.
“Ayah?”
“Iya, sayang?”
“Bu Kaisya baiiik banget, hari ini Kay bener-bener seneng,” seru Mikayla.
“Syukurlah kalo Kayla seneng,” balas Gian melihat ke arah anaknya yang duduk di kursi samping. Lantas kembali melihat ke jalan raya.
“Ayah?”
“Hemm,”
“Tau gak, waktu pertama kali ketemu. Kay merasa kalau Bu Kaiysa adalah guru yang menakutkan,” seru Mikayla membuat Gian mengerutkan dahinya.
“Kenapa, gitu sayang?”
“Iya, Ayah gak bisa membayangkan gimana tegangnya Kay maju ke depan memperkenalkan diri di hadapan teman-teman,” kenang Mikayla. “Apalagi ketika Kay memberikan kue rasanya seneng tapi karena hal itu jadi bahan perbincangan di kelas katanya menyogok Bu Kaisya,” lanjutnya dengan wajah murung.
“Sudahlah, sayang. Jangan di inget-inget lagi. Kan sekarang sayangnya Ayah lagi seneng,” seru Gian.
“Iya, juga sih,” ujar Mikayla seraya memeluk bonekanya. “Andaikan Bu Kaisya belum menikah.”
Kata-kata yang dilontarkan Mikayla membuat Gian memegang erat setirnya. “Jangan bicara seperti itu, Kay. Gak baik.”
“Iya, Yah. Kay minta maaf,” ucapnya menundukkan kepala.
Gian melirik sekilas ke arah sang anak. Perasaan getir kembali muncul. Hembusan napas berat akhirnya ia keluarkan.
Akhirnya mereka samapai di pelataran rumah setelah beberapa saat tak ada lagi perbincangan. Mikayla melangkah masuk disusul Gian dengan membawa belanjaan anaknya.
“Den, Gian dan Non Kayla sudah pulang? Mari bibi bawakan belanjaannya,” seru Bi Minah.
“Terima kasih, Bi. Saya minta tolong di simpan di kamar Kayla,” kata Gian.
“Baik, Den.”
Bi Minah membawakan belanjaan tersebut ke kamar Mikayla. Sedangkan Gian masuk ke dalam kamarnya. Ia melepaskan dasi yang terasa sangat sesak. Langkah gontainya membuat lelaki itu berpikir keras.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Gian menuju ruang makan dimana Mikayla, sang anak sudah berada disana, duduk dengan boneka yang ia beli. Tanpa ada percakapan dari keduanya, mereka menyantap makanan yang terhidang di meja. Setelah tiga puluh menit berlalu, aktivitas tersebut selesai. Mikayla beranjak dan duduk diruang keluarga disusul Gian yang berada di sampingnya. Seperti biasa sebelum malam tiba, lelaki itu selalu menemani putri kesayangannya.
Disaat tengah menonton televisi, Mikayla tiba-tiba bertanya yang membuat Gian terkejut.
“Ayah, kenapa Kay berbeda dengan anak lain?” tanya Mikayla.
“Berbeda?” Gian mengerutkan kening.
“Kay gak punya ibu,” ucap Mikayla. Sontak saja membuat Gian membulatkan mata. Rasanya sakit hati dan kecewa mendengar ucapan sang anak.
“Kamu istimewa. Meskipun gak ada ibu tapi banyak yang sayang sama kamu,” kata Gian sabar.
“Kay ingin ibu juga sama seperti yang lainnya,” ucap Mikayla.
“Boleh kalau Kay inginkan. Mau yang bagaimana?” tanya Gian sembari tersenyum.
“Seperti Bu Kaisya,” jawab Mikayla sontak membuat Gian terkejut. “Tapi,” lanjutnya langsung terdiam.
“Tapi kenapa sayang?” tanya Gian.
“Bu Kaisya sudah menikah. Kalau misalkan mereka berpisah langsung aja Ayah bawa Bu Kaisya jadi ibunya Kay,” ujar Mikayla.
“Sayang, jangan mendoakan buruk pada orang lain apalagi itu Wali Kelas kamu. Gak baik, sayang. Lebih baik berdoa agar keluarganya baik-baik dan tetap bahagia,” ujar Gian.
“Tapi, Kay ingin Bu Kaisya,” rengek Mikayla.
“Sayang, kamu bisa lebih dewasa sedikit gak? Itu gak akan mungkin terjadi. Dia sudah berkeluarga. Permintaanmu gak masuk akal,” ucap Gian geram dengan rengekan Mikayla seolah itu sesuatu yang gampang.
“Ayah marah sama Kay?” tanya Mikayla terkejut akan bentakan Gian.
Mata lelaki itu membola sempurna. Dirinya sangat tahu jika Mikayla mudah rapuh. Tidak sepantasnya ia bersikap demikian. Tapi, permintaan konyol itu mana mungkin terlaksana. Untuk pertama kalinya, Gian merasa bukan hanya gagal sebagai suami, tetapi juga hampir gagal sebagai ayah.
Ia tahu Mikayla hanya menginginkan keluarga yang lengkap. Namun, tidak ingin mengajarkan anaknya bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dengan mengambil milik orang lain.
“Bukan maksud Ayah begitu, Kay,” ucap Gian.
“Iya, Kay tahu. Sudahlah lebih baik Ayah keluar dari kamar Kay,” usir Mikayla yang sudah meneteskan air mata.
“Sayang,”
Mikayla berpaling dan menyelimuti dirinya sendiri. Ia terlihat begitu marah dan kecewa dengan sikap sang ayah. Gian akhirnya keluar dari kamar anak gadisnya. Dengan berbagai pikiran berkecamuk, ia mencoba tenang. Lelaki itu harus bisa membujuk Mikayla agar tidak marah lagi.
Malam itu Gian duduk sendiri di ruang keluarga. Suara tangisan Mikayla masih terngiang di telinganya. Ia mencintai anak itu lebih dari apa pun. Tetapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal. Ada dua orang yang sama-sama ia sayangi. Dan keduanya berada di tempat yang tidak mungkin ia satukan.
Tatapan Gian jatuh pada boneka yang tertinggal di sofa. Benda kecil itu menjadi pengingat bahwa alasan terbesar ia ingin menemukan sosok ibu untuk Mikayla bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena ia tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap. Tanpa sadar, pikirannya kembali pada seorang gadis yang pernah meminjamkan topi kepadanya bertahun-tahun lalu. Kaisya.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 13. Antara Cinta, Kehilangan dan Sebuah Harapan
Sorry, comment are closed for this post.