Bab 13: Darah terbelah
Es hitam merayap sampai ke mata kaki Seraphina.
Lyra meronta di pangkuan Kael. “Ibu!”
- RAHASIA DARAH
“Cukup!” teriak Seraphina. Badai saljunya memotong es hitam.
“Kalau kau mau bukti, buktikan!!”
Kael tersenyum pahit. Dia menggores telapak tangannya.
“Darah Utara tidak berbohong, Seraphina.”
Dia memotong telapak tangan Lyra. Menempelkan.
Cahaya abu-abu menyala. Lambang serigala bertanduk muncul di pergelangan Lyra.
Seraphina terpaku.
Lalu Kael menoleh ke Leon. “Sekarang dia.”
Dia gores telapak Leon. Menempelkan.
Tapi cahayanya putih perak. Bunga salju. Lambang Ardentia.
Aula hening.
“Lihat,” bisik Kael. Suaranya hancur. “Satu anakku. Satu anaknya.”
Alistair mencabut pedang. “Kau berbohong!”
“Bisa dicek,” kata Kael. “Tanya bidan yang menolongmu delapan tahun lalu. Tanya Nenek Ysra. Kembar bisa beda Ayah. Sihir Utara menyebutnya ‘Darah Terbelah’. Terjadi saat seorang wanita mengandung dari dua pria dalam waktu dekat.”
Seraphina mundur. Lututnya lemas.
Delapan tahun lalu, Seraphina dipaksa menikah dengan Kael.
Dan tiga hari setelahnya, Seraphina kabur bersama Alistair.
- PERANG UNTUK LYRA
“Jadi ini alasanmu merebut Lyra dariku?” teriak Seraphina. “Karena kamu merasa dia darah dagingmu?”
“Bukan hanya itu,” kata Kael tersenyum mengejek.
“Kerajaan Utara butuh pewaris. Dan, Lyra… dia satu-satunya yang bisa menyatukan es hitam dan es putih.”
Brak!!!
Prajurit menyerbu. Perang pecah lagi.
Leon berusaha melindungi Lyra. “Jangan sentuh adikku!”
Kael menahan serangan Alistair.
“Aku tidak mau menyakiti mereka! Aku hanya mau mereka diakui!”
- PENGUNGKAPAN KAEL
Di tengah pertarungan, Kael melempar pedangnya.
“CUKUP!”
Dia berlutut. Bukan ke Seraphina. Tapi, berlutut ke anak-anaknya.
“Delapan tahun lalu aku gagal melindungimu, Seraphina. Ayahku membunuh ayahmu. Aku dijodohkan denganmu untuk damai. Tapi kau pilih lari dariku,” ucap Kael sambil menatap Lyra lembut.
“Dan, saat aku tahu Seraphina hamil… aku pikir itu anakku. Harapanku.”
Tatapannya beralih menatap Leon.
“Tapi ini… anak Alistair. Dan kau tetap membesarkan keduanya sama rata.” Kael tertawa getir. “Aku iri. Delapan tahun aku sendirian. Sedangkan kau … punya keluarga.”
Tatapan Kael berpindah menatap Seraphina.
“Aku tidak akan memaksa. Tapi Lyra berhak tahu siapa ayahnya. Dan, Utara berhak punya masa depan.”
Seraphina memeluk kedua anaknya erat. Satu dengan lambang serigala. Satu dengan lambang bunga salju.
“Kita tidak perang untuk ini,” bisiknya. “Kita bicara. Sebagai orang tua.”
Seketika badai di luar berhenti.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 13 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.