Ujian hidup tidak pernah datang sendirian. Ia kerap kali datang beriringan, menguji sampai di mana batas keteguhan iman yang tertanam di dalam dada. Di saat kami sedang tertatih-tatih menata kembali puing-puing ekonomi keluarga pasca-prahara bisnis rental mobil dan ujian sosial politik yang melelahkan, Allah SWT kembali menitipkan sebuah ladang pahala yang luar biasa di tengah-tengah rumah kami. Ibu, mertuaku tercinta—ibunda kandung dari Mas Giyanto—jatuh sakit. Tubuhnya yang dulu bugar dan selalu bersemangat, perlahan-lahan mulai digerogoti oleh penyakit diabetes melitus yang kian hari kian melemahkan fisik sepuhnya.
Setiap kali melihat tubuh renta itu terbaring lemah di atas ranjang kayu kamarnya, dadaku selalu berdenyut nyeri. Ada rasa iba yang mendalam mendera sukmaku. Aku tahu betul bagaimana hancurnya perasaan Mas Giyanto melihat wanita yang telah melahirkannya, bertaruh nyawa demi membesarkannya, kini harus terkulai tak berdaya. Sebagai seorang istri yang mencintai suaminya, aku tidak ingin Mas Giyanto menanggung beban berat ini sendirian, terutama di tengah kepalanya yang juga sedang dipenuhi urusan mencari nafkah sebagai abdi negara demi menambal lubang-lubang finansial kami.
“Mas, biar Sri yang menjaga Ibu di rumah. Mas fokus saja berikhtiar dan bekerja di luar. Jangan cemas, Ibu adalah ibuku juga. Merawat beliau adalah kehormatan bagiku,” ucapku suatu pagi di sudut dapur, mencoba menenangkan badai kecemasan yang menggelayut di pelupuk mata suamiku.
Mas Giyanto tidak langsung menjawab. Ia hanya mampu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, memantulkan rasa haru yang tak terhingga. Perlahan, ia meraih dan menggenggam jemariku erat tanpa kata. Sebuah genggaman yang terasa begitu hangat, bergetar, dan sarat akan bisikan rasa terima kasih yang teramat dalam dari seorang anak laki-laki kepada istrinya.
Merawat penderita diabetes bukanlah perkara yang mudah, melainkan sebuah ujian kesabaran tingkat tinggi. Ada masa-masa di mana kadar gula darah Ibu melonjak tinggi tanpa diduga, membuat emosinya menjadi tidak stabil, mudah tersinggung, marah, dan sering kali murung meratapi nasibnya. Namun, setiap kali rasa lelah yang teramat sangat mulai menggelayuti pundak dan sendi-sendi tubuhku setelah seharian membagi waktu antara pekerjaan pustakawan di MTs Negeri dan urusan domestik, aku selalu membasuh hatiku dengan sebuah kesadaran. Aku teringat bahwa surga suamiku ada pada rida ibunya, dan surgaku ada pada rida suamiku. Maka, melayani Ibu dengan sebaik-baiknya ego adalah jalanku yang paling lempang untuk menjemput rida Allah SWT.
Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing sepenuhnya, rutinitasku dimulai dengan menyiapkan menu makanan khusus untuk Ibu. Tak ada lagi nasi putih hangat biasa atau lauk pauk manis yang menjadi kesukaannya sejak dulu; semuanya kuganti dengan takaran karbohidrat rendah kalori yang ramah bagi tubuhnya yang kian ringkih. Dengan penuh kesabaran, kusuapi Ibu sendok demi sendok di tepi ranjangnya, meskipun terkadang beliau menolak dengan halus karena lidahnya yang terasa getir dan pahit.
“Sri… Ibu merepotkanmu terus, ya nak? Ibu sudah jadi beban untuk kalian,” bisik Ibu lirih pada suatu sore yang sunyi, ketika aku sedang berlutut di lantai membasuh kedua kakinya dengan air hangat yang bercampur sedikit garam. Air matanya yang telah senja bergulir perlahan, membasahi pipinya yang mulai keriput dimakan usia.
Aku mendongak, menggenggam kaki Ibu yang terasa dingin dengan lembut, lalu menyunggingkan senyuman setulus mungkin untuk mengusir rasa bersalahnya.
“Ibu tidak boleh bicara begitu. Sri sangat bahagia dan bersyukur bisa memiliki kesempatan merawat Ibu. Dulu, Ibu yang merawat Mas Giyanto dengan penuh kasih sayang dan air mata hingga ia tumbuh menjadi suami yang luar biasa jujur dan bertanggung jawab untuk Sri. Sekarang, sudah menjadi giliran Sri yang ingin membalas semua kebaikan Ibu melalui tangan ini,” jawabku lembut sambil menahan air mata agar tidak ikut tumpah.
Kuseka sisa-sisa air di kakinya dengan handuk kering yang lembut, lalu kupijat perlahan-lahan telapak kakinya agar aliran darahnya kembali lancar. Di kamar yang tenang itu, keheningan sore berganti menjadi kehangatan spiritual yang merayap indah ke dalam dada kami masing-masing. Di atas ranjangnya, Ibu memejamkan mata seraya membisikkan doa-doa dalam bahasa Jawa krama inggil yang sangat santun dan bergetar, memohon kepada Sang Khalik agar rumah tangga kami senantiasa dilindungi, dijauhkan dari marabahaya, dan dilimpahi berkah yang melimpah.
Malam harinya, saat Mas Giyanto pulang kerja dan mendapati ibunya sudah tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tubuh yang bersih, harum, dan kamar yang rapi, ia mendekatiku yang sedang melipat mukena di sudut kamar setelah salat Isya.
“Sri, terima kasih banyak ya,” bisiknya dengan suara yang serak menahan haru, matanya merah memandangku. “Mas tidak tahu harus membalas kebaikan dan ketulusanmu dengan apa. Bakti yang kamu berikan pada Ibu jauh melampaui apa yang pernah Mas bayangkan dari seorang istri.”
Aku tersenyum, melangkah mendekat lalu menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. “Kita ini satu paket yang tidak bisa dipisahkan, Mas. Ibumu adalah ibuku juga. Dulu, di balik tirai musala yang membatasi kita, Mas mendoakan kebaikan untuk Sri. Sekarang, biarlah Sri mewujudkan doa-doa jangka panjang Mas lewat bakti nyata Sri pada Ibu.”
Di tengah malam-malam panjang yang melelahkan itu, aku belajar satu hakikat penting: bahwa merawat orang tua yang sedang sakit bukanlah sebuah beban duniawi yang mengurangi waktu produktif kita, melainkan sebuah kehormatan istimewa yang sedang Allah berikan untuk melunakkan hati kami yang keras, membersihkan dosa-dosa kami yang lalu, dan membukakan pintu-pintu langit agar keberkahan senantiasa mengalir masuk ke dalam rumah kami.
Anak-anak kami, Faathir Hidyatama Sugiyanto dan Tazkia Khoirunnisa Sugiyanto, tumbuh besar di atas fondasi kesabaran dan keteladanan yang kami bangun bersama di bawah atap rumah ini. Mereka tidak sekadar mendengar teori tentang moral, melainkan menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana ayah dan ibu mereka dihina, ditipu oleh teman dekat, namun tetap mampu mempertahankan keutuhan, kehangatan, dan kedamaian di dalam rumah tanpa caci maki. Madrasah kehidupan yang kami lalui secara tidak langsung telah membentuk karakter Faathir menjadi seorang remaja laki-laki yang bertanggung jawab, mandiri, dan pelindung, serta menjadikan Tazkia seorang anak perempuan yang santun, peka, dan penuh pengertian terhadap kondisi orang tua.
Memasuki tahun-tahun baru ini, kami menyadari dengan kesadaran yang paripurna bahwa seluruh rangkaian takdir yang kami jalani—pahit maupun manis—adalah sebuah rajutan mahakarya yang teramat indah dari Yang Maha Kuasa.
Jika kami tidak pernah ditipu hingga kehilangan tujuh unit mobil rental, mungkin kami akan menjadi manusia yang sombong, takabur, dan silau karena harta benda. Jika aku tidak pernah diperintahkan oleh almarhum Pak Sutrawijaya untuk maju sebagai calon kepala desa tahun 2019 dan mencicipi pahitnya kekalahan serta hinaan warga, mungkin aku tidak akan pernah memiliki mental sebaja ini sebagai seorang pustakawan dan seorang ibu. Dan jika bukan karena kepulangan Kakek Sawikarta dari Jambi, kami tidak akan pernah dipertemukan dengan dua sosok guru spiritual luar biasa, Pak Sutrawijaya dan Pak Gunung Jati, yang telah membuka mata batin kami tentang hakikat sabar yang tak bertepi.
Malam itu, di dalam rumah kami, aku bersujud khusyuk di belakang Mas Giyanto dalam salat berjamaah kami. Suasana rumah terasa begitu tenang, hanya diiringi suara jangkrik di luar dan napas teratur anak-anak yang sedang belajar. Saat dahiku mencium permukaan selembar sajadah tua, air mataku kembali menetes membasahi kain.
Namun, kali ini demi Allah, itu bukan lagi air mata kesedihan, rasa perih, atau rasa minder yang dulu selalu menghantuiku. Itu adalah air mata kebahagiaan, rasa syukur, dan kepasrahan yang teramat dalam kepada Sang Pemilik Takdir.
Aku, Sri, bocah kecil kelas 2 SD yang dulu penuh rasa takut, yang hanya bisa mengintip Mas Giyanto dari balik kain tirai hijau pembatas musala tua saat ia mengajar ngaji tahun 1993, kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang utuh, matang, dan bijaksana. Di samping suamiku tercinta, Mas Giyanto, jalanku kini membentang lurus dan benderang ke depan. Kami bersiap menyongsong fajar baru, mengarungi sisa perjalanan hidup ini bersama Faathir dan Tazkia dengan satu keyakinan yang tidak akan pernah goyah oleh badai apa pun: bahwa selama kita memegang teguh tali kesabaran, menjaga bakti kepada orang tua, dan rida atas setiap ketetapan Allah SWT, maka kehidupan kita akan selalu aman, damai, dan dinaungi oleh berkah-Nya yang melimpah hingga ke jannah.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 14 _ Setitik Embun di Kaki Ibu
Sorry, comment are closed for this post.