Malam semakin larut namun pikirannya kini beralih ke masa lalu. Masa ketika pertama kali ia bertemu dengan Kaisya muda di sekolah menengah. Gadis manis yang mampu membuatnya tak bisa mengalihkan perhatian. Apalagi saat upacara pernah ditolongnya ketika lupa membawa topi.
“Ini topi punya saya, pakai saja,” ucap Kaisya memberikan topi miliknya.
“Gimana dengan kamu?” tanyanya.
“Kebetulan saya hari ini gak upacara sedang kurang enak badan,” ucap gadis itu.
“Begitu ya,” kata Gian sambil menerima topi tersebut dan memakainya. Sementara Kaisya menuju ruang piket.
Selesai upacara, Gian mencari keberadaan gadis manis itu di ruang piket namun tidak ketemu. Akhirnya menuju kelas dan ternyata Kaisya sudah duduk. Saat ingin mengembalikannya, ia terkejut melihat laki-laki yang duduk disebelahnya hingga mengurungkan niat tersebut karena ia mendengar kabar bahwa mereka tengah menjalin asmara. Padahal ia tak pernah benar-benar melihat keduanya bersama. Tanpa sadar Gian memperhatikan topi di tangannya. Ada sesuatu yang berbeda. Terdapat sebuah coretan kecil bertuliskan nama panggilannya dan ada dua huruf lain setelahnya.
‘GP’
Inisial siapa? Bukan nama laki-laki yang tadi duduk di samping Kaisya. Atau… seseorang yang belum pernah ia ketahui? Sesaat ia bahkan sempat berpikir itu hanya singkatan Grand Prix, tetapi dugaan itu terasa terlalu mengada-ada. Pertanyaan itu terus mengusik pikirannya tanpa pernah mendapat jawaban.
“Kay, terima kasih sudah meminjamkan topinya,” ucap Gian pada saat jam istirahat. Ia menyerahkan topi tersebut.
“Oh, iya sama-sama,” jawab Kaisya seraya mengambilnya. “Maaf saya duluan,” lanjutnya.
Hingga pada acara kenaikan kelas. Gian mendapat kabar bahwa dirinya akan ditunangkan dengan seseorang pilihan orang tuanya. Alasannya tak lain demi kepentingan bisnis keluarga. Setelah bertunangan, lelaki itu masih saja memperhatikan Kaisya. Sejak hari itu, tanpa sadar pandangan Gian selalu mencari keberadaan Kaisya.
Ia hafal tempat duduknya. Senyum yang selalu diberikan kepada siapa pun. Bahkan tanpa sengaja ia mulai menghafal jadwal piket kelas perempuan itu.
Sayangnya, sebelum sempat memberanikan diri mengenal lebih dekat, kabar pertunangannya sendiri lebih dulu datang menghancurkan semua harapan. Pernikahan itu berlangsung tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Kecelakaan yang merenggut nyawa mereka membuat Gian harus menjalani semuanya sendiri. Namun, janji yang pernah ia ucapkan kepada kedua orang tuanya membuatnya tetap melangsungkan pernikahan itu.
Tak pernah ada cinta dalam pernikahan itu. Terbukti saat perempuan yang menjadi istrinya itu malah pergi dengan lelaki lain. Perempuan itu bahkan meninggalkan sepucuk pesan. Setelah memberinya seorang anak, ia memilih pergi mengejar kebahagiaannya sendiri. Kepergian perempuan tersebut memicu konflik di antara kedua keluarga. Hingga pihak mantan istrinya berlutut meminta maaf atas perbuatan sang anak.
Yang membuat sakit hati ketika Mikayla, anak hasil pernikahan tersebut mendapat perlakukan kejam dari orang lain. Anak yang tak berdosa itu justru menerima celaan dan makian.
“Ayah,” panggil Mikayla.
Bayangan tersebut pudar saat Mikayla memanggil.
“Iya, sayang?” dengan wajah tampak lesu akibat semalaman tidak bisa tidur nyenyak.
“Ayah sakit?” tanya Mikayla khawatir.
“Gak. Memangnya kenapa?”
“Wajah Ayah kelihatan pucat,” ucap anak gadisnya.
“Mungkin Ayah lagi banyak kerjaan jadi semalam kurang tidur. Gak usah khawatir ya,” ucap Gian. Ia tersenyum takut jika anaknya sedih.
“Syukurlah kalau Ayah baik-baik saja,” ujar Mikayla memeluk sang ayah. “Pokoknya Ayah gak boleh kecapean,” lanjutnya.
“Iya, sayang,” balas Gian membalas pelukan putrinya. “Ayo kita berangkat nanti kesiangan,” seru Gian kemudian bangkit dari duduknya disusul Mikayla.
Setelah mengantar ke sekolah, Gian menuju kantor hingga waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dimana harus menjemput putri tercintanya. Pekerjaannya memang tidak terlalu berat, meski sesekali ia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan yang mendesak. Matanya membulat sempurna kala melihat Mikayla bersama dengan Kaisya. Rasa senang terlihat dari sorot matanya yang berbinar.
Baru saat itulah Gian mengetahui bahwa Mikayla sempat meminjam uang kepada wali kelasnya. Sebagai ganti, Gian berniat mengantarkannya pulang. Sebelumnya memang menolak tawaran namun Mikayla merajuk hingga akhirnya Kaisya menerimanya.
Gian menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Ia ingin menoleh sekali lagi ke arah Kaisya yang tengah bercanda dengan Mikayla, tetapi mengurungkan niatnya. Ada batas yang tak boleh ia langkahi. Batas yang bernama kenyataan.
Seandainya waktu mempertemukan mereka lebih cepat. Mungkin perempuan itu adalah sosok yang akan ia perjuangkan menjadi pendamping hidupnya. Mungkin Mikayla tak perlu tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Namun bayangan itu lenyap seketika ketika ponsel Kaisya berdering.
“Aku sebentar lagi sampai, ini lagi di jalan.”
Senyum di wajah perempuan itu berubah canggung. Saat itulah Gian kembali diingatkan pada kenyataan. Gian menatap kaca depan mobil tanpa benar-benar melihat jalan yang terbentang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia kembali merasakan perasaan yang pernah ia kubur dalam-dalam.
Namun, takdir mempertemukan mereka ketika semuanya sudah terlambat. Perempuan yang masih memenuhi ruang di hatinya itu kini telah menjadi istri orang. Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak meski hatinya diam-diam selalu ingin lebih dekat.
Bertahun-tahun kemudian, dua huruf itu masih sesekali terlintas di benaknya. “GP.” Inisial yang tak pernah berhasil ia pecahkan, hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kaisya.
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 14. Di Antara Kenangan dan Kenyataan
Sorry, comment are closed for this post.