“Bismillahirrahmanirrahim.”
Kalimat itu kembali terucap lirih dari bibir saya ketika kaki melangkah melewati gerbang RA Aisyah Afiqannisa pada pagi pertama Tahun Pelajaran 2026–2027. Langit masih berbalut semburat keemasan, embun menggantung di ujung dedaunan, dan udara pagi terasa begitu sejuk, seolah alam pun sedang bertasbih menyambut lembaran baru yang Allah bentangkan.
Saya berhenti sejenak di depan gerbang madrasah.
Pandangan saya menyapu halaman yang beberapa hari terakhir kami tata bersama. Pot-pot bunga tersusun rapi, dinding kelas dihiasi karya anak-anak, dan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Generasi Qurani Tahun Pelajaran 2026–2027” terpasang sederhana namun penuh makna.
Saya menarik napas panjang.
Dalam hati saya berdoa,
“Ya Allah, Engkaulah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepada setiap langkah yang akan kami tempuh di madrasah ini. Jadikan sekolah ini tempat bertumbuhnya ilmu, akhlak, dan cinta kepada-Mu.”
Doa itu menjadi awal dari perjalanan kami.
1. Pagi yang Dipenuhi Senyum dan Harapan
Tak lama kemudian, suara kendaraan mulai terdengar silih berganti. Anak-anak datang dengan seragam baru yang masih tampak kebesaran di tubuh mungil mereka. Tas kecil berwarna-warni bergoyang mengikuti langkah-langkah yang kadang mantap, kadang ragu.
Di gerbang, saya bersama para ustazah menyambut mereka satu per satu.
“Assalamu’alaikum… selamat datang, Ananda.”
Ada yang langsung berlari memasuki kelas.
Ada yang malu-malu bersembunyi di balik punggung ibunya.
Ada pula yang menangis karena belum siap berpisah.
Saya berjongkok di hadapan seorang anak yang memeluk erat tangan ayahnya.
“Namanya siapa?”
“Faris…” jawabnya pelan.
“Masya Allah, nama yang indah. Faris mau menjadi anak saleh?”
Ia mengangguk kecil.
“Kalau begitu, hari ini kita mulai petualangan menjadi anak hebat bersama-sama.”
Perlahan tangannya terlepas dari genggaman sang ayah.
Saya menggandengnya menuju kelas.
Di belakang kami, sang ayah mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.
Saat itulah saya kembali menyadari bahwa hari pertama sekolah bukan hanya menjadi ujian keberanian bagi anak-anak, tetapi juga ujian keikhlasan bagi para orang tua.
2. Menguatkan Guru sebagai Penebar Rahmat
Sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh guru berkumpul di musala madrasah.
Kami mengawali hari dengan salat Dhuha berjamaah, dilanjutkan membaca beberapa ayat Al-Qur’an dan doa bersama.
Suasana begitu tenang.
Setelah itu saya menyampaikan beberapa pesan.
“Saudari-saudariku,” ujar saya lembut, “tahun pelajaran baru berarti Allah kembali mempercayakan amanah kepada kita.”
Semua mendengarkan dengan khusyuk.
“Kita mungkin akan bertemu anak-anak yang aktif, pemalu, mudah menangis, atau sulit berkonsentrasi. Apa pun karakter mereka, jangan pernah lupa bahwa setiap anak datang membawa fitrah yang suci.”
Saya berhenti sejenak.
“Jika hari ini kita ingin mengenalkan Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka biarkan mereka lebih dahulu merasakan kasih sayang itu melalui sikap kita.”
Beberapa ustazah tampak mengangguk sambil menyeka sudut mata.
Kami kemudian saling berjabat tangan dan berdoa agar Allah menjaga keikhlasan dalam setiap tugas yang akan dijalankan.
3. Ar-Rahmah Menjadi Budaya Madrasah
Pada tahun pelajaran ini, kami bersepakat menjadikan satu nilai utama sebagai napas seluruh kegiatan madrasah, yaitu Ar-Rahmah—kasih sayang yang bersumber dari Allah.
Nilai itu tidak hanya ditulis di papan visi sekolah, tetapi diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.
Kami membiasakan anak-anak mengucapkan salam ketika datang.
Mereka belajar mencium tangan guru dan orang tua dengan penuh hormat.
Setiap pagi diawali dengan doa, senyum, dan pelukan hangat bagi anak yang masih merasa takut.
Guru-guru tidak sekadar mengoreksi kesalahan, tetapi membimbing dengan kelembutan.
Kami ingin setiap sudut madrasah menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman.
Karena kami percaya, hati yang merasa dicintai akan lebih mudah menerima ilmu.
4. Amanah yang Menguatkan Langkah
Di sela-sela kesibukan hari pertama, saya berdiri di depan ruang kelas sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bernyanyi.
Suara mereka belum seragam.
Gerakan mereka masih saling mendahului.
Sesekali ada yang tertawa, ada yang menangis, bahkan ada yang sibuk memperhatikan kupu-kupu di halaman.
Saya tersenyum.
Beginilah awal sebuah perjalanan.
Tidak ada yang langsung sempurna.
Sebagaimana seorang guru terus belajar menjadi pendidik, anak-anak pun sedang belajar menjadi pembelajar.
Yang kami perlukan bukan kesempurnaan, melainkan kesabaran untuk bertumbuh bersama.
5. Bersyukur atas Rahmat yang Menghimpun
Menjelang siang, setelah seluruh kegiatan selesai, saya berjalan menyusuri setiap ruang kelas.
Saya melihat para guru membereskan alat permainan.
Beberapa anak masih enggan pulang karena merasa betah berada di sekolah.
Seorang ibu menghampiri saya sambil tersenyum.
“Umi, tadi pagi anak saya menangis luar biasa. Sekarang justru tidak mau pulang.”
Saya ikut tersenyum.
“Alhamdulillah. Semoga setiap hari ia datang dengan hati yang gembira.”
Dalam hati saya mengucapkan syukur.
Bukan karena semua berjalan tanpa kekurangan.
Tetapi karena Allah kembali menunjukkan rahmat-Nya melalui senyum anak-anak, ketulusan guru-guru, dan kepercayaan para orang tua.
Rahmat itu tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan.
Sering kali ia hadir melalui hati-hati yang dipersatukan untuk saling menguatkan.
6. Menitipkan Tahun Pelajaran kepada Sang Pemilik Kehidupan
Sore itu, setelah madrasah kembali sepi, saya memasuki musala kecil yang selama ini menjadi tempat saya mengadu kepada Allah.
Saya menggelar sajadah.
Dalam sujud yang panjang, saya menyerahkan seluruh perjalanan tahun pelajaran ini kepada-Nya.
“Ya Allah, Engkau telah mempertemukan kami dengan anak-anak yang menjadi amanah-Mu. Jadikanlah kami pendidik yang sabar ketika mereka belajar, lembut ketika mereka melakukan kesalahan, bijaksana ketika mengambil keputusan, dan ikhlas dalam setiap pengabdian.”
“Ya Allah, jadikan RA Aisyah Afiqannisa sebagai taman ilmu yang dipenuhi rahmat-Mu, tempat tumbuhnya generasi yang mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan kelak menjadi hamba-hamba yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.”
Saya mengakhiri doa dengan penuh keyakinan.
Tahun Pelajaran 2026–2027 telah dimulai.
Masih akan ada tantangan yang harus dihadapi.
Masih akan ada air mata yang perlu diusap.
Masih akan ada keberhasilan yang patut disyukuri.
Namun saya percaya, selama setiap langkah diawali dengan Bismillah, dipenuhi semangat Ar-Rahmah, dan ditujukan semata-mata lillāhi ta’ālā, maka setiap hari di madrasah ini akan menjadi bagian dari perjalanan ibadah yang Allah berkahi.
Saya bangkit dari sajadah dengan hati yang mantap.
Di luar, matahari mulai condong ke barat.
Sementara di dalam dada, cahaya harapan baru saja terbit—menerangi jalan pengabdian yang akan terus saya tempuh, setapak demi setapak, di bawah naungan kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: BAB 14 Mengawali Tahun Pelajaran 2026–2027 dengan Ar-Rahmah-Nya
Sorry, comment are closed for this post.