Waktu adalah misteri yang paling sunyi. Kita bisa menghitung detak jam di dinding, tetapi kita tidak akan pernah bisa menebak kapan garis akhir dari sebuah pengabdian akan tiba. Setelah berbulan-bulan rumah kami dipenuhi oleh aroma minyak telon, kehangatan basuhan air hangat setiap sore, dan gema doa-doa bahasa Jawa yang keluar dari bibir ringkih Ibu, Allah SWT memutuskan bahwa ladang pahala yang dititipkan-Nya di rumah kami telah cukup. Fajar di pertengahan tahun itu datang membawa kabut yang lebih tebal di langit Banjarnegara, mengabarkan bahwa lentera surga Mas Giyanto telah padam untuk selamanya.
Hari itu, kondisi Ibu menurun drastis. Kadar gula darahnya yang tidak stabil akhirnya memicu komplikasi yang melelahkan tubuh rentanya. Kami sempat melarikan Ibu ke rumah sakit, berharap mukjizat kecil kembali singgah. Di dalam ruang perawatan yang berbau obat dan dilingkupi bunyi ritmis alat medis, aku menyaksikan sebuah pemandangan yang meremukkan jengkal batin paling dalam. Mas Giyanto, sosok batu karang yang selalu tegak berdiri melindungiku dari cemoohan warga desa, malam itu berlutut di samping ranjang ibunya. Wajahnya yang biasa tenang kini pias, kedua matanya merah, memendam badai kesedihan yang teramat dahsyat.
Setelah tiga belas hari dirawat di rumah sakit,Ibu diijinkan pulang oleh dokter,Namun keesokan harinya,Tepatnya Hari Rabu tanggal 6 Desember 2023 sekitar jam 3 Sore Kondisi Ibu kembali menurun drastis, nafasnya berat ,Sebagai seorang anak laki-laki yang berbakti, Mas Giyanto mendekatkan bibirnya ke telinga Ibu. Dengan suara yang bergetar hebat namun diusahakan tetap tegap, ia membimbing wanita yang melahirkannya itu untuk melafalkan kalimat tauhid. “La ilaha illallah…” bisiknya lirih, berulang kali, menyertai setiap embusan napas Ibu yang kian pendek dan terasa berat. Aku berdiri di sudut ruangan, menggenggam jemari Tazkia dan Faathir yang mulai terisak dalam diam. Dadaku sesak, air mata luruh tanpa suara, menyadari bahwa waktu perpisahan itu sudah berada di ambang pintu.
Tepat ketika azan ashar mulai berkumandang sayup-sayup dari musala terdekat, Ibu mengembuskan napas terakhirnya dengan sangat tenang. Garis-garis keriput di wajahnya yang biasa menahan perih akibat penyakit, seketika berubah menjadi gurat kedamaian yang bersih. Ibu telah berpulang, kembali ke pangkuan Sang Pemilik Jiwa, meninggalkan seluruh kepenatan duniawi yang telah selesai digenapinya.
Detik itu juga, pertahanan batin Mas Giyanto runtuh. Ia mendekap tubuh kaku ibunya, menangis tertahan dengan pundak yang terguncang hebat. Ini adalah kali pertama aku melihat suamiku menangis sekejap itu, sebuah pemandangan yang jauh lebih menyayat hati daripada saat tujuh mobil kami ditarik oleh pihak leasing.
Aku melangkah mendekat, mengusap punggungnya yang tegap, lalu berbisik di telinganya, “Mas… Ibu sudah tidak sakit lagi. Ibu sudah tenang. Mas sudah menjadi anak yang luar biasa berbakti. Lepaskan Ibu dengan rida, Mas.”
Mas Giyanto mendongak, menatapku dengan mata yang basah, lalu perlahan mengangguk. Ia menyeka air matanya, menarik napas dalam-dalam, dan dengan keteguhan iman yang luar biasa, ia kembali menguasai dirinya.
Rumah kami seketika dipenuhi oleh pelayat yang berduyun-duyun datang. Suasana duka yang kental menyelimuti ruang tengah tempat jenazah Ibu disemayamkan di atas kasur tipis berpelesir kain jarik. Tetangga, kerabat, rekan-rekan kerja dari MTs Negeri, hingga para pengurus TPQ datang memberikan penghormatan terakhir. Di antara riuh rendahnya lantunan surat Yasin yang menggema di dalam ruangan, aku duduk di dekat kepala Ibu, memandangi wajah sepuhnya yang tampak seperti orang sedang tertidur nyenyak.
Sambil memegang jemari Ibu yang sudah dingin, ingatanku berputar kembali pada sore-sore yang telah lewat. Sore di mana aku berlutut membasuh kakinya, sore di mana air matanya jatuh karena merasa telah merepotkanku, dan sore di mana doa-doa tulus mengalir dari lisannya untuk kebahagiaan rumah tanggaku. Kini, kaki yang dulu kubasuh dengan air hangat itu telah kaku terbungkus kain kafan putih yang suci. Tidak akan ada lagi rutinitas menyuapi bubur takaran khusus di pagi hari, tidak ada lagi pijatan lembut di kaki ringkihnya, dan yang paling membuat hatiku seolah hilang separuh: tidak ada lagi suara Ibu yang mendoakan kami di sudut kamar.
Namun, di tengah rasa kehilangan yang mendalam itu, Allah menyisipkan rasa damai yang luar biasa di dalam dadaku. Aku tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Air mata yang keluar dari mataku bukanlah air mata ratapan yang tidak terima atas takdir, melainkan air mata haru karena Allah telah memberikan waktu yang cukup bagiku untuk menunaikan bakti terbaik sebelum Ibu dipanggil pulang. Setitik embun kesabaran yang kubasuhkan di kaki Ibu selama beliau sakit, kini menjelma menjadi telaga ketenangan yang menyejukkan jiwaku di hari wafatnya.
Proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar dan khusyuk. Mas Giyanto sendiri yang turun ke dalam liang lahat, menyambut jasad sang ibu, dan meletakkannya di atas tanah dengan tangan gemetar penuh penghormatan terakhir. Saat tanah merah mulai perlahan menutup liang lahat, aku merangkul Faathir dan Tazkia yang berdiri di sampingku. Anak-anak kami menatap makam nenek mereka dengan kedewasaan yang luar biasa. Madrasah kehidupan yang kami lalui selama bertahun-tahun telah mendidik batin mereka untuk memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari ketetapan-Nya yang harus diterima dengan kelapangan dada.
Sore harinya, setelah para pelayat pulang dan rumah kembali sepi, suasana lengang yang asing merayap di setiap jengkal dinding ruangan. Kamar Ibu tampak kosong, menyisakan tempat tidur yang sudah rapi dan aroma minyak kayu putih yang masih tertinggal tipis di udara. Mas Giyanto duduk di tepi ranjang kosong itu, memandangi sudut kamar dengan tatapan kosong namun tenang.
Aku melangkah masuk, membawa secangkir kopi, lalu duduk di sampingnya. Kami terdiam cukup lama, membiarkan kesunyian berbicara tentang kerinduan yang mulai tumbuh.
“Sri,” ucap Mas Giyanto pelan, suaranya terdengar berat. “Terima kasih ya. Mas tidak akan pernah lupa bagaimana tulusnya kamu merawat Ibu sampai napas terakhirnya. Kamu tidak pernah mengeluh, kamu tidak pernah merasa terbebani. Baktimu pada Ibu adalah hadiah terindah yang kamu berikan dalam pernikahan kita.”
Aku menggenggam tangannya, menyandarkan kepalaku di bahunya yang lelah. “Mas, merawat Ibu adalah jalan yang Allah bukakan untukku agar bisa menjadi istri yang tahu diri. Jika bukan karena didikan dan rida Mas selama ini, aku tidak akan pernah menjadi Sri yang sekarang. Kehilangan Ibu memang membuat satu pintu surga kita tertutup di dunia, Mas. Namun, aku yakin, doa-doa yang Ibu tanam di lantai rumah ini selama beliau sakit, akan tetap hidup dan tumbuh menjadi pelindung bagi perjalanan kita ke depan.”
Wafatnya Ibu mertuaku menjadi babak penutup dari sekian banyak ujian berat yang bertubi-tubi menghantam keluarga kami sejak tahun 2012 hingga di akhir tahun 2023-an ini. Kami telah kehilangan harta materi berupa tujuh unit mobil rental, kami telah mencicipi pahitnya kekalahan politik dan hinaan warga desa, dan kini, kami kehilangan sosok orang tua yang teramat kami cintai. Namun, di balik setiap kehilangan itu, Allah SWT selalu menggantinya dengan kematangan jiwa dan keikhlasan tertinggi.
Malam itu, di bawah langit Banjarnegara yang sunyi, kami kembali menggelar sajadah untuk menunaikan salat berjamaah. Saat aku bersujud di belakang Mas Giyanto, di atas selembar kain sajadah yang sama, aku merasakan kedamaian yang paripurna. Kami sadar, hidup ini adalah tentang belajar melepaskan apa yang memang bukan milik kami dengan senyuman rida. Bersama Mas Giyanto, Faathir, dan Tazkia, sisa perjalanan hidup ini akan terus kami kayuh dengan kayuhan syukur yang tak akan pernah putus, meyakini bahwa fajar yang baru akan selalu terbit setelah malam yang panjang berlalu.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 15 _ Pudarnya Lentera Surga dan Keikhlasan Tertinggi
Sorry, comment are closed for this post.