“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Hadis itu berulang kali terngiang dalam benak saya setiap kali kaki ini melangkah menuju sebuah majelis ilmu. Di tengah padatnya amanah sebagai kepala madrasah, istri, ibu, dan bagian dari keluarga besar, saya selalu percaya bahwa hati juga membutuhkan makanan. Jika tubuh memerlukan istirahat, maka ruh memerlukan siraman ilmu agar tidak mengering oleh kesibukan dunia.
Karena itulah, di sela-sela aktivitas yang seolah tidak pernah selesai, saya berusaha meluangkan waktu untuk menghadiri kajian yang disampaikan oleh Ustadzah Halimah Alaydrus. Bagi saya, majelis ilmu bukan sekadar tempat mendengarkan ceramah. Ia adalah ruang untuk membersihkan niat, meluruskan langkah, dan mengingat kembali tujuan hidup.
1. Melangkah dengan Kerinduan
Suatu pagi, sebelum matahari meninggi, saya bersama beberapa sahabat kembali berangkat menuju lokasi kajian.
Seperti biasa, perjalanan kami dipenuhi obrolan ringan.
“Umi,” kata Ustazah Fitri sambil tersenyum, “setiap mau berangkat taklim rasanya seperti mau pulang ke rumah.”
Saya tertawa kecil.
“Karena hati memang sedang mencari tempat untuk beristirahat.”
Fatimah yang duduk di belakang menimpali,
“Kalau pulang dari kajian, capeknya hilang. Yang dibawa justru semangat baru.”
Saya mengangguk pelan.
“Begitulah rahmat Allah. Kadang tenaga berkurang, tetapi hati justru dipenuhi kekuatan.”
Perjalanan pagi itu terasa singkat karena hati kami dipenuhi kerinduan kepada majelis yang selalu menghadirkan ketenangan.
2. Nasihat yang Menyentuh Relung Jiwa
Ketika Ustadzah Halimah Alaydrus mulai menyampaikan tausiyah, seluruh ruangan menjadi hening.
Beliau mengajak para jamaah untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebelum sibuk memperbaiki penilaian manusia.
Kalimat demi kalimat mengalir lembut, tetapi terasa menghunjam ke dalam hati.
Saya membuka buku catatan kecil yang selalu saya bawa.
Di sana saya menulis beberapa pengingat untuk diri sendiri.
“Jangan lelah memperbaiki niat.”
“Jadilah orang yang lembut, karena kelembutan adalah perhiasan akhlak.”
“Jangan merasa paling berjasa dalam kebaikan, sebab semua adalah taufik dari Allah.”
Saya berhenti menulis sejenak.
Air mata perlahan mengalir.
Bukan karena kesedihan, melainkan karena saya merasa sedang diingatkan kembali tentang tujuan awal saya mendirikan dan mengelola madrasah.
Ternyata selama ini, di tengah kesibukan mengurus administrasi, menyusun program, dan mendampingi guru, ada kalanya hati mulai dipenuhi rasa lelah.
Majelis ilmu itu mengajarkan saya untuk kembali mengisi hati sebelum melanjutkan perjalanan.
3. Membawa Cahaya Majelis ke Madrasah
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil lebih banyak diisi dengan keheningan.
Masing-masing larut dalam renungan.
Saya memecah kesunyian.
“Kalau ilmu hanya berhenti di buku catatan, berarti kita belum benar-benar belajar.”
Ustazah Aminah mengangguk.
“Berarti kita harus membawa pulang apa yang kita dengar hari ini.”
“Itulah tugas kita,” jawab saya. “Anak-anak mungkin belum memahami isi kajian yang kita dengar. Tetapi mereka bisa merasakan kelembutan guru-gurunya.”
Sejak hari itu saya bertekad membawa semangat majelis ilmu ke dalam budaya madrasah.
Saya ingin guru-guru saling mendoakan.
Saya ingin setiap rapat diawali dengan tilawah dan doa.
Saya ingin setiap persoalan diselesaikan dengan musyawarah dan akhlak yang baik.
Saya ingin anak-anak mengenal Islam melalui senyum para gurunya.
Karena pendidikan terbaik bukan hanya yang terdengar dari lisan, tetapi yang terlihat dalam perilaku.
4. Persahabatan yang Dipersatukan oleh Ilmu
Salah satu nikmat terbesar yang saya rasakan dari menghadiri majelis ilmu adalah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang memiliki tujuan yang sama.
Kami berasal dari latar belakang yang berbeda.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang menjadi ibu rumah tangga.
Ada yang berwirausaha.
Namun ketika duduk di majelis, tidak ada lagi perbedaan kedudukan.
Kami sama-sama menjadi hamba yang sedang belajar.
Sepulang kajian, kami sering saling mengingatkan.
“Sudah baca wirid pagi?”
“Bagaimana kabarnya hari ini?”
“Ada yang bisa dibantu?”
Persahabatan seperti itu terasa begitu indah.
Bukan karena sering bertemu.
Melainkan karena saling menguatkan dalam kebaikan.
Saya semakin memahami bahwa salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah menghadirkan teman seperjalanan yang mengingatkan ketika kita mulai lalai dan menguatkan ketika kita merasa lemah.
5. Pengabdian yang Berakar pada Keikhlasan
Setibanya di madrasah pada hari berikutnya, saya kembali berdiri di depan gerbang menyambut anak-anak.
Seorang murid kecil berlari menghampiri saya.
“Umi…”
“Iya, Sayang?”
Ia memeluk saya tanpa berkata apa-apa.
Pelukan singkat itu membuat saya tersenyum.
Saya teringat salah satu nasihat yang saya renungkan sepulang dari majelis: bahwa amal yang paling dicintai Allah sering kali hadir dalam bentuk-bentuk sederhana yang dilakukan dengan hati yang ikhlas.
Saya sadar, pengabdian ini bukan tentang dikenal banyak orang.
Bukan pula tentang penghargaan yang terpajang di dinding.
Pengabdian adalah tentang kesungguhan menjaga amanah yang Allah titipkan setiap hari.
Mengusap air mata seorang anak.
Menenangkan hati orang tua.
Menyemangati guru yang mulai lelah.
Menyambut pagi dengan doa.
Menutup hari dengan syukur.
Semuanya adalah bagian dari ibadah apabila dilakukan karena Allah.
6. Menjaga Langkah hingga Akhir Perjalanan
Menjelang Magrib, saya kembali duduk di selasar madrasah.
Langit perlahan berubah jingga.
Saya membuka kembali buku catatan yang saya bawa dari majelis ilmu.
Saya membaca setiap kalimat yang telah saya tulis.
Lalu saya menutupnya perlahan.
Dalam hati saya berdoa,
“Ya Allah, jangan biarkan langkah ini berhenti hanya karena lelah. Jangan biarkan hati ini keras karena sibuk dengan urusan dunia. Jagalah kami agar selalu mencintai ilmu, mencintai orang-orang saleh, dan mencintai setiap jalan yang mendekatkan kami kepada-Mu.”
Saya menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang.
Masih banyak pelajaran yang harus dipelajari.
Masih banyak akhlak yang harus diperbaiki.
Masih banyak amanah yang harus ditunaikan.
Namun selama Allah masih memperkenankan kaki ini melangkah menuju majelis ilmu, selama hati ini masih rindu mendengar nasihat yang mengingatkan kepada-Nya, dan selama pengabdian ini tetap berlandaskan keikhlasan, saya percaya setiap langkah akan selalu berada dalam penjagaan rahmat-Nya.
Dengan penuh syukur saya menatap langit senja.
Perjalanan hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang siapa yang membimbing langkah kita.
Dan saya berdoa semoga setiap langkah yang tertuju kepada majelis ilmu senantiasa menjadi sebab Allah menuntun langkah-langkah berikutnya menuju ridha-Nya.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: BAB 15 Langkah Ini Tertuju pada Majelis Ilmu
Sorry, comment are closed for this post.