BAB 15: TIGA KUIL DAN PETUNJUK PERTAMA
Sebulan setelah perjanjian damai, salju di Ardentia mulai mencair lebih cepat dari biasanya.
Pertanda bahwa kutukan telah mulai bergerak.
- KEPUTUSAN DI BALAI SIDANG
Peta besar terbentang. Tiga titik bercahaya.
“Menurut catatan Nenek Ysra, kutukan ‘Darah Terbelah’ hanya bisa dipatahkan di Tiga Kuil Kuno,” kata Seraphina.
“Kuil Fajar di Timur. Kuil Senja di Barat. Kuil Tengah Malam di puncak Gunung Gletser.”
Kael mengetuk meja.
“Kuil Tengah Malam paling berbahaya. Dijaga monster es purba.”
“Kalau begitu kita pergi bersama,” kata Alistair. “Sebagai keluarga.”
Leon berdiri. “Kami ikut juga.”
Lyra menggenggam tangan kakaknya. “Ayo kita hadapi bersama.”
- KUIL FAJAR – TIMUR
Kuil dari kristal putih. Ujian pertama: Cermin Kenangan.
Masing-masing harus melihat ketakutan terbesarnya.
Alistair melihat dirinya kehilangan Seraphina.
Kael melihat dirinya membunuh ayah Seraphina.
Seraphina melihat dirinya harus memilih salah satu anaknya.
Leon dan Lyra melihat masa depan: umur 16 tahun, satu peti mati.
Crack!!
Seraphina menghancurkan cermin. “Kita tidak akan memilih.”
Dari pecahannya muncul rune pertama: *ᛗ*
- KUIL SENJA – BARAT
Kuil dari obsidian merah. Ujian kedua: Jembatan Api.
Mereka harus menyeberang tanpa sihir.
Lyra terpeleset. Kael menangkapnya, tangannya melepuh.
Leon menarik tangan Kael.
“Jangan lepas!”
Di altar, rune kedua: ᛉ
Tiba-tiba prajurit datang.
“Yang Mulia! Selene kabur dari penjara! Dia ke Kuil Tengah Malam!”
- KUIL TENGAH MALAM – PUNCAK
Puncak Gunung Gletser. Badai abadi.
Kuilnya runtuh. Di tengahnya, Selene, memegang rune ketiga: ᛏ
“Terlambat,” ejeknya. “Tiga rune harus digabung saat gerhana. Tiga hari lagi.”
Seraphina maju. “Berikan.”
Selene melempar belati ke lantai. “Bisa. Dengan syarat. Bunuh salah satu ayahnya. Sekarang.”
“Pilih. Darah Utara. Atau, Darah Ardentia.”
Langit menggelap. Bulan mulai memerah.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 15 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.