Janji Allah SWT itu mutlak dan pasti: bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Setelah bertahun-tahun lamanya kami ditempa, dihantam badai, dan ditempa dalam madrasah kesabaran yang begitu disiplin oleh Bapak Gunung Jati, pada awal tahun 2024, sebuah keajaiban besar yang teramat agung kembali mengetuk pintu rumah kami di Banjarnegara. Sebuah rezeki spiritual yang luar biasa, yang jalannya benar-benar berada di luar jangkauan logika dan hitungan nalar matematika manusia.
Semua bermula dari sebuah kejadian yang tampak seperti kebetulan, namun kami tahu itu adalah skenario-Nya yang maha rapi. Suatu sore, seorang teman lama Mas Giyanto tiba-tiba datang berkunjung ke rumah. Beliau adalah sahabat seperjuangan yang dulu pada tahun 2012 silam mengarungi samudera kebahagiaan bersama Mas Giyanto saat berangkat menunaikan ibadah haji. Belasan tahun berlalu tanpa kabar, qodarullah, teman tersebut kini telah sukses menjadi seorang pengusaha yang mengelola sebuah biro perjalanan umrah dan haji yang cukup besar.
Kedatangannya hari itu ternyata membawa embusan angin surga yang sejuk. Tanpa ada rencana atau perbincangan sebelumnya, beliau menawarkan sebuah jalan keluar yang mukjizat agar aku—Sri, seorang wanita yang selama belasan tahun ini hanya bisa memandang Kakbah lewat lembaran buku perpustakaan dan merindukan Baitullah lewat tangisan doa malam—bisa segera menginjakkan kaki di tanah suci melalui program kuota khusus jalur cepat.
Keyakinanku seketika membuncah, membuat dadaku bergetar hebat. Langkah demi langkah proses administrasi mulai kami urus dalam balutan kepasrahan yang total. Tepat pada tanggal 23 Februari 2024, dengan tangan yang bergetar, aku melangkah ke kantor imigrasi untuk membuat paspor. Jantungku berdebar tak keruan, menyadari bahwa mimpi yang dulu sempat kukubur dalam-dalam di dasar sanubari karena keterpurukan ekonomi dan lilitan utang penipuan, kini mendadak dibentangkan jalannya oleh Allah SWT secara benderang.
Namun, sebagaimana emas murni yang harus dibakar dalam perapian menyala untuk menguji keasliannya, niat suciku untuk bertamu ke rumah Allah kembali diuji dengan cara yang sangat menyayat hati dan menguras air mata. Karena ini adalah program keberangkatan jalur cepat (Haji Plus) yang ditawarkan oleh teman Mas Giyanto, kami tentu membutuhkan biaya pelunasan dan kepengurusan visa yang nominalnya sangat besar dalam waktu yang teramat singkat.
Saat itu, tabungan kami yang bersumber dari sisa gaji PNS Mas Giyanto dan upahku sebagai pustakawan di MTs Negeri belum sepenuhnya pulih dan berlebih. Aku membuka kotak perhiasanku, dan di sana hanya tersisa dua buah cincin emas yang melingkar di jariku—harta duniawi terakhir yang kupunya setelah semua aset kami habis disita. Cincin itu akhirnya kurelakan, kulepas dari jemariku dengan berlinang air mata demi menutup biaya awal pembuatan visa.
Namun, drama perjuangan belum selesai. Sisa kekurangan uang untuk pelunasan total ternyata masih sangat banyak. Dalam kondisi terdesak, aku mencoba mencari jalan keluar dengan berniat meminjam dana kepada seseorang yang kukenal berkecukupan. Di sinilah mentalitas lamaku sebagai perempuan yang pemalu dan rapuh kembali dihantam uji. Ketika aku menghadap dengan penuh rasa iba untuk mengajukan pinjaman, orang tersebut justru menatapku dengan pandangan mata yang merendahkan dan penuh sinisme. Bukan uluran bantuan yang kudapatkan, melainkan sebuah hinaan verbal yang teramat kejam dan meremukkan harga diriku.
“Halah, Sri… kamu itu orang tidak mampu! Ekonomi rumah tanggamu saja masih tertatih-tatih merangkak begitu kok mau sok-sokan naik haji? Apalagi ini Haji Plus yang biayanya selangit! Sudah, tidak usah muluk-muluk jadi orang, sadar diri saja kalau memang tidak mampu!” ucapnya dengan nada mencemooh yang sarkas, persis seperti cemoohan warga desa saat aku gagal dalam pemilihan kepala desa tahun 2019 dulu.
Kata-kata kasar itu runtuh bagai batu besar yang menghantam telak dadaku hingga sesak. Aku pulang ke rumah sepanjang jalan dengan air mata yang mengalir deras, membasahi jilbabku. Sesampainya di kamar, tangisku tumpah sejadi-jadinya. Aku merasa sangat terpuruk, terhina, dan kembali merasa menjadi Sri yang kecil, miskin, dekil, dan tidak layak berada di antara manusia-manusia terhormat.
Melihatku menangis sesenggukan dengan tubuh yang terguncang hebat, Mas Giyanto langsung duduk di sampingku. Dia meraih dan menggenggam erat kedua jemariku yang kini tampak polos tanpa perhiasan cincin lagi. Dengan suara teduhnya yang sejak puluhan tahun lalu selalu menjadi penawar racun di hatiku, dia menatap lekat-lekat kedua mataku, menguatkan jiwaku yang runtuh.
“Sri, dengerin Mas,” ucap Mas Giyanto dengan nada yang penuh penekanan dan keyakinan tauhid yang menghunjam. “Yang memanggilmu ke Baitullah itu bukan manusia, tapi Allah SWT. Dan Allah itu Maha Segalanya, Maha Kaya, Pemilik seluruh jagat alam semesta beserta isinya. Kalau Allah sudah berkendak dan berkata Kun Faya Kun, maka tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang bisa menghalangi langkahmu. Teruslah yakin, kuatkan niatmu hanya kepada Allah, jangan lihat manusianya!”
Kata-kata suamiku malam itu laksana cambuk malaikat yang seketika membangkitkan kembali api keimananku yang sempat padam. Aku menyeka air mataku yang membasahi pipi. Kami memutuskan untuk menutup telinga rapat-rapat dari segala bentuk hinaan manusia. Kami bentangkan sajadah, bersujud lebih lama, dan menangis di sepertiga malam yang sunyi, memasrahkan seluruh urusan keuangan kami kepada Sang Pemilik Rezeki.
Dan benar saja, “matematika Allah” kembali bekerja dengan cara yang ajaib. Lewat jalan-jalan yang tidak terduga, melalui bantuan tak disangka-sangka yang digerakkan oleh tangan-tangan gaib-Nya, seluruh biaya pelunasan Haji Plus yang ratusan juta itu akhirnya tercukupi secara sempurna dan mutlak dalam hitungan hari.
Belajar dari pengalaman masa lalu yang penuh dengan fitnah, gunjingan, dan riuhnya cemburu sosial masyarakat, kami mengambil keputusan besar untuk merahasiakan keberangkatanku. Qodarullah, pada tanggal 22 Mei 2024, hari yang bersejarah itu akhirnya tiba.
Aku berangkat menunaikan ibadah haji dengan sangat senyap, laksana embun yang jatuh di malam hari. Aku tidak mengadakan acara walimatus safar atau pamitan besar-besaran yang meriah, tidak mengundang tetangga, dan tidak memberi tahu kerabat yang dulu pernah menjauh di masa sulit kami. Di teras rumah kami yang tenang, aku hanya berpamitan, memeluk erat dengan derai air mata, dan meminta rida dari suamiku tercinta Mas Giyanto, serta kedua anakku, Faathir dan Tazkia.
Sebelum menuju bandara, aku sowan secara khusus memohon doa restu kepada guru spiritual kami yang tegas, Bapak Gunung Jati.
“Berangkatlah, Mbak Sri. Di sana, di depan Kakbah, tumpahkan seluruh perasaanmu tanpa ada yang disembunyikan. Mohon ampunlah kepada Allah atas semua kesalahan dan dosa masa lalumu, perbanyaklah rasa syukurmu yang mendalam. Sampaikan selawat rindumu kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Ingat, kamu adalah tamu Allah yang terhormat,” pesan Pak Gunung Jati dengan nada suaranya yang berat dan tegas, namun matanya memancarkan rasa bangga yang teramat dalam. “Semoga Hajimu diterima dan mabrur di sisi Allah SWT.”
Ketika roda pesawat yang membawaku mendarat mulus di tanah suci, air mataku tumpah tak terbendung lagi. Rasa haru membanjiri seluruh rongga dadaku. Dan di sinilah, bukti nyata dari sebuah keajaiban keyakinan itu ditunjukkan Allah SWT secara kontan di depan mata kepalaku sendiri.
Aku, Sri, seorang wanita desa yang beberapa bulan lalu sempat dihina secara keji sebagai “orang miskin yang tidak mampu”, justru mendapatkan pelayanan yang paling terbaik, mewah, dan terhormat selama berada di Makkah dan Madinah. Fasilitas maktab yang nyaman, hotel bintang lima yang letaknya sangat dekat dengan halaman Masjidil Haram, makanan lezat yang berlimpah, hingga kemudahan dalam menjalankan seluruh rukun ibadah haji plus mengalir dengan begitu lancar, mulus, tanpa ada hambatan satu pun. Allah benar-benar memuliakanku di saat manusia mencoba menginjak harga diriku.
Puncaknya, saat aku berdiri tegak di pelataran Masjidil Haram, memandangi kemegahan rumah Allah—Kakbah yang hitam megah dan anggun—dadaku bergemuruh hebat, jantungku serasa berhenti berdetak karena takjub. Air mataku mengalir deras membasahi pipi, membasahi kain ihram yang kukenakan.
Aku teringat akan semua dosa-dosaku yang bertumpuk, yang mungkin sebanyak buih di lautan luas. Aku merasa betapa hinanya, betapa kerdilnya, dan betapa tak berharganya diri ini di hadapan Illahi Rabbi. Namun, di balik segala kehinaanku, Dia memanggilku.
“Terima kasih ya Allah… Engkau telah memanggilku ke rumah-Mu… Baitullah… dengan cara-Mu yang paling indah…” bisikku di tengah isak tangis yang pecah.
Air mata ini tak kunjung berhenti menetes ketika aku melangkah melaksanakan putaran tawaf, mengitari Kakbah sampai genap tujuh kali putaran. Jiwaku bergetar hebat. Pokoknya, yang terjadi di dalam batin saat itu hanyalah satu rasa yang mendominasi: rasa ingin diampuni seluruh dosa-dosaku dari sejak lahir hingga detik ini. Di sela-sela langkah tawaf, di depan Multazam, aku juga menyelipkan doa yang paling khusyuk: memohon agar suatu saat nanti, Allah memberikan kesempatan bagiku untuk bisa kembali ke Baitullah bersama-sama dalam satu barisan dengan Mas Giyanto, Faathir, dan Tazkia.
Di depan Baitullah, aku bersujud syukur sedalam-dalamnya di atas marmer yang dingin. Pelayanan terbaik dan kemuliaan yang kuterima di tanah suci ini adalah sebuah tamparan indah yang senyap bagi mereka yang dulu meragukan kuasa Allah, sekaligus menjadi bukti mutlak yang tak terbantahkan, bahwa ketika seorang hamba meletakkan keyakinan penuh, tauhid yang lurus, dan kepasrahan total hanya kepada Allah SWT, maka Allah sendiri yang akan menjamunya sebagai tamu dengan cara yang paling mulia. Perjalanan haji di bulan Mei 2024 ini menjadi puncak pembuktian bagi keluarga kecil kami, bahwa kami telah lulus dari ujian kehidupan yang panjang dengan membawa kemenangan iman yang sejati.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 16 _ Panggilan Baitullah yang Tak Terduga
Sorry, comment are closed for this post.