BAB 17: DARAH YANG MEMILIH HIDUP
MALAM GERHANA DARAH
Langit merah. 3 rune mengambang: *ᛗ ᛉ ᚦ*
Selene berdiri di puncak Kuil Tengah Malam. Tertawa.
- GERHANA DARAH – PERTARUNGAN 4 VS 1
“Terlambat!” teriak Selene. “Gabungkan rune nya! Bunuh salah satu ayah!”
Kael, Alistair, Seraphina maju bersama.
Leon dan Lyra di belakang, tangan mereka masih bergandengan. Es abu-abu berpendar.
Selene menyerang. Es merahnya menghancurkan pilar.
“Kenapa kalian memilih dia?!” jeritnya ke Kael. “Aku yang setia!”
_DUAR!_
Kael menahan. “Karena dia memilih hidup. Kau pilih dendam.”
Alistair menebas. Seraphina membekukan. Mereka bertarung bukan untuk menang. Tapi untuk mengulur waktu.
- JALAN KETIGA – BUKU YANG DISEMBUNYIKAN
Di tengah pertarungan, Lyra berteriak. “Bu! Halaman terakhir!”
Dari balik jubah Selene selembar kertas terjatuh. Tulisan Nenek Ysra.
“Jalan Ketiga: Darah orang tua tidak harus padam. Cukup padamkan kekuatan mereka. Serahkan mahkota.Jadilah manusia biasa. Maka kutukan akan patah.”
Seraphina membaca. Matanya melebar.
“Bukan nyawa… tapi tahta.”
Kael dan Alistair saling pandang. Mengerti.
- PENGORBANAN
Gerhana puncak. Bulan darah penuh.
Selene tertawa. “Pilih! Cepat!”
Seraphina berdiri di tengah. Mengangkat 3 rune.
“Kita pilih Jalan Ketiga.”
Dia menatap Kael. “Raja Utara.”
Menatap Alistair. “Raja Ardentia.”
Menatap anak-anaknya. “Dan kita pilih jadi Ibu dan Ayah. Bukan Raja.”
_CRACK!_
Kael menghancurkan mahkotanya sendiri. Es hitamnya padam.
Alistair mematahkan tongkatnya. Es putihnya padam.
Kekuatan dua Raja mengalir ke tiga rune.
*ᛗ + ᛉ + ᚦ* bersinar putih keemasan.
Selene menjerit. “TIDAK! KALIAN HARUS MATI!”
Tubuhnya tersedot ke dalam retakan aurora. Jimatnya hancur.
Rune menyatu. Masuk ke dada Leon dan Lyra.
Lambang serigala dan bunga salju tidak hilang. Tapi jadi satu: *bunga es dengan akar serigala.*
Badai berhenti. Langit cerah.
EPILOG 1 TAHUN KEMUDIAN
Tidak ada kerajaan Utara. Tidak ada Ardentia.
Hanya “Tanah Fajar”. Dipimpin dewan.
Kael jadi guru sihir. Alistair jadi kepala penjaga.
Seraphina buka perpustakaan.
Leon dan Lyra umur 9. Latihan sihir di taman.
Tanpa beban kutukan.
Malamnya, empat orang dewasa duduk di balkon. Tanpa mahkota.
“Capek jadi Raja,” kata Kael sambil menyeruput cokelat.
“Capek juga,” jawab Alistair. “Tapi bahagia jadi Ayah.”
Seraphina menyandarkan kepala. “Terima kasih sudah memilih kami.”
Di langit, aurora berbentuk hati.
*[TAMAT]*
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 17 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.