Setelah sekian lama perjalanan hidup saya lebih banyak diisi dengan pengabdian, kehilangan, perjuangan membangun madrasah, serta membersamai anak-anak dan para guru, saya merasa hidup berjalan dalam ritmenya sendiri.
Saya tidak lagi sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi bagian takdir saya.
Saya memilih menjalani hari demi hari dengan penuh syukur.
Di sela kesibukan itulah, Allah menghadirkan sebuah peristiwa yang sama sekali tidak saya rencanakan.
Bukan sesuatu yang menggemparkan.
Bukan pula kisah yang penuh bunga-bunga.
Hanya sebuah perkenalan yang datang dengan sederhana.
Namun cukup membuat saya kembali merenung tentang betapa Allah mampu menghadirkan kejutan melalui jalan yang tidak pernah kita duga.
1. Sebuah Sapaan yang Sederhana
Suatu sore, setelah seluruh aktivitas madrasah selesai, telepon genggam saya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Sapaan itu singkat, sopan, dan penuh penghormatan.
“Assalamu’alaikum, Bu Husna. Perkenalkan, saya…. Mohon maaf apabila mengganggu waktu Ibu.”
Saya membaca pesan itu beberapa kali.
Tidak tergesa-gesa membalas.
Saya lebih dahulu berdoa dalam hati agar setiap komunikasi yang terjalin membawa kebaikan.
Setelah beberapa saat, saya menjawab dengan singkat.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas salamnya. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan.”
Perkenalan itu dimulai dengan penuh kesederhanaan.
Tidak ada kata-kata berlebihan.
Tidak ada janji-janji yang tergesa.
Hanya percakapan yang dijaga dengan adab dan saling menghormati.
2. Belajar Mengenal Tanpa Tergesa
Hari-hari berikutnya, komunikasi sesekali terjalin.
Pembicaraan kami lebih banyak tentang kehidupan, keluarga, pendidikan, dan bagaimana memaknai ujian sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah.
Suatu ketika beliau berkata,
“Selama ini saya melihat Ibu begitu kuat menjalani kehidupan.”
Saya tersenyum kecil membaca kalimat itu.
Lalu saya menjawab,
“Sesungguhnya saya juga manusia biasa. Jika terlihat kuat, mungkin karena Allah selalu mengirimkan orang-orang baik yang menguatkan saya.”
Percakapan itu membuat saya kembali menyadari bahwa setiap orang memiliki kisah perjuangannya masing-masing.
Tidak ada kehidupan yang benar-benar bebas dari ujian.
3. Menjaga Hati dengan Doa
Malam harinya saya kembali menggelar sajadah.
Saya tidak meminta agar perkenalan itu berakhir seperti yang saya inginkan.
Saya justru memohon agar Allah menjaga hati saya.
“Ya Allah, apabila pertemuan ini adalah jalan menuju kebaikan, mudahkanlah dengan cara yang Engkau ridai.”
“Namun apabila bukan bagian dari takdir terbaikku, jauhkanlah dengan cara yang paling baik dan tetap jagalah hati kami dalam keimanan.”
Doa itu membuat hati saya tenang.
Saya belajar bahwa tidak semua perkenalan harus berakhir dengan sebuah ikatan.
Ada yang hadir untuk mengajarkan pelajaran.
Ada yang hadir untuk menguatkan.
Dan ada pula yang memang dipersiapkan Allah menjadi teman perjalanan.
Semuanya berada dalam ilmu dan kehendak-Nya.
4. Nasihat yang Selalu Saya Ingat
Saya teringat salah satu nasihat yang pernah saya dengar di majelis ilmu.
“Jangan mendahului takdir dengan prasangka, dan jangan memaksa sesuatu yang belum Allah tetapkan.”
Kalimat itu terus saya pegang.
Karena itu saya memilih menjalani semuanya dengan wajar.
Tidak membangun harapan yang berlebihan.
Tidak pula menutup pintu silaturahmi yang baik.
Saya percaya bahwa hati akan lebih damai ketika disandarkan kepada Allah, bukan kepada kepastian yang dibuat oleh manusia.
5. Tetap Menjaga Amanah
Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan.
Suara tawa anak-anak memenuhi halaman madrasah.
Guru-guru berdiskusi tentang kegiatan pembelajaran.
Laporan administrasi menunggu untuk diselesaikan.
Saya tersenyum.
Ternyata hadirnya sebuah perkenalan tidak mengubah tujuan hidup saya.
Amanah tetap menjadi prioritas.
Pengabdian tetap menjadi jalan yang ingin saya tempuh.
Jika Allah menghadirkan seseorang dalam perjalanan ini, maka ia pun harus menjadi bagian yang menguatkan langkah menuju-Nya, bukan mengalihkan tujuan yang telah lama saya jaga.
6. Menyerahkan Akhir Cerita kepada Sang Penulis Takdir
Menjelang malam, saya membuka mushaf Al-Qur’an.
Saya membaca beberapa ayat, lalu menutupnya perlahan.
Di dalam hati saya berbisik,
“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui isi hati hamba-Mu daripada hamba itu sendiri.”
“Jika perkenalan ini membawa keberkahan, bimbinglah kami agar tetap menjaga adab, kejujuran, dan keikhlasan.”
“Jika kelak jalan kami berbeda, jadikan perpisahan itu tetap meninggalkan kebaikan.”
“Dan jika Engkau menakdirkan kami berjalan pada jalan yang sama, jadikanlah hubungan itu sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, saling menguatkan dalam ibadah, dan saling menjaga amanah yang Engkau titipkan.”
Saya menutup doa dengan penuh ketenangan.
Tidak ada kegelisahan.
Tidak ada tuntutan terhadap masa depan.
Saya hanya percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan.
Perkenalan itu mungkin baru saja dimulai.
Namun saya telah belajar dari perjalanan panjang sebelumnya bahwa setiap kisah yang Allah tuliskan selalu memiliki hikmah.
Tugas saya bukan menebak akhirnya.
Tugas saya adalah menjaga hati, memperbaiki diri, dan melangkah dengan adab.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa indah awal sebuah pertemuan yang akan dikenang, melainkan seberapa besar hubungan itu mampu membawa kedua hati semakin dekat kepada ridha Allah SWT.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: BAB 17 Takdir Mempertemukan Kembali: Perkenalan Lama
Sorry, comment are closed for this post.