KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 17_ Getar Rindu di Baitullah

    BAB 17_ Getar Rindu di Baitullah

    BY 25 Jul 2026 Dilihat: 8 kali
    Bait-Bait Tajwid_alineaku

    Waktu berjalan di atas ketetapan-Nya yang tak pernah keliru, bergulir dalam senyap namun pasti. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah seorang istri yang berdiri termangu di pelataran rumah kami di Banjarnegara. Dengan jemari bergetar, kuseka air mata haru yang luruh tak tertahankan saat melepas keberangkatan Mas Giyanto untuk memenuhi panggilan suci ke Tanah Suci. Selama sepuluh tahun itu pula, sebuah rahasia suci kusimpan rapat-rahat di lubuk hati yang paling dalam. Kerinduan untuk bersujud langsung di depan Kakbah yang agung, memandang kain kiswahnya yang hitam legam, tumbuh menjadi benih doa yang kupupuk tanpa jemu di sepertiga malam. Di atas sajadah yang mulai memudar warnanya, air mataku kerap mengalir, memohon agar suatu hari nanti giliran jiwaku yang diundang menjadi tamu-Nya.

    Hingga akhirnya, di musim haji tahun 2024, pintu langit yang selama ini kuketuk dengan untaian selawat dan air mata itu benar-benar terbuka lebar untukku. Ketetapan indah itu datang pada waktu yang paling tepat, menghapus segala lelah penantian.

    Namun, perjalanan menuju titik ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kami harus berjalan melewati berbagai badai ujian ekonomi yang menguras tenaga, serta riuh rendah cibiran orang-orang di sekitar yang meragukan niat suci kami. Dalam pandangan logika manusia, rasanya mustahil bagi kami untuk bisa mengumpulkan biaya yang begitu besar. Namun, keikhlasan Mas Giyanto adalah samudra tanpa tepi. Ia rela mengupayakan segala cara yang halal, termasuk merelakan seluruh tabungan yang dikumpulkannya dengan peluh, hingga menyetujui penjualan  cincin demi selembar visa haji untukku. Pengorbanan itu adalah bukti cinta yang paling nyata, sebuah mahar kedua yang nilainya jauh melampaui megahnya dunia.

    “Sri, dulu Mas berangkat sendiri ke sana dan menyisakan ruang rindu yang luar biasa padamu di rumah. Sekarang, giliranmu, istriku. Berangkatlah dengan hati yang lapang, tanpa beban. Jemput rida Allah, bawa seluruh doa-doa kita ke depan Ka’bah,” bisik Mas Giyanto sesaat sebelum aku menaiki mobil yang akan membawaku menuju bandara. Di bawah temaram lampu fajar Banjarnegara, kulihat matanya berkaca-kaca. Ia menahan haru yang membuncah sekaligus rasa berat yang teramat sangat untuk melepas belahan jiwanya pergi menyeberangi samudra yang luas. Namun, dalam tatapan itu, ada rida seorang suami yang mengalir sepenuhnya, menjadi bekal paling sakral dalam perjalananku.

    Ketika kakiku pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer Masjidil Haram yang sejuk, pertahananku runtuh seketika. Air mataku langsung tumpah tak terbendung, mengalir membasahi pipi. Di depan kemegahan Ka’bah yang anggun, berdiri kukuh di bawah langit Makkah yang agung, aku bersujud serendah-rendahnya. Di tempat yang paling mustajab di muka bumi ini, setelah memuji kebesaran Allah yang Maharahman dan melantunkan selawat termanis kepada Rasulullah Muhammad SAW, nama suamiku—Mas Giyanto—adalah nama pertama yang kusebut dalam bisikan doaku. Dalam sujud yang panjang itu, aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengingat kembali setiap jengkal kebaikan hatinya, ketegasannya yang lembut dalam membimbingku, dan keikhlasannya yang luar biasa melepasku pergi beribadah ke tanah para nabi.

    Namun, di tengah kekhusyukan ibadah yang padat di bawah terik matahari Makkah yang menyengat raga, ada satu rasa yang tumbuh begitu kuat dan mendominasi setiap jengkal dadaku: rasa rindu yang teramat dalam kepada suamiku yang kini berada sendirian di Banjarnegara.

    Ajaibnya, jarak ribuan kilometer yang membentang luas di antara Makkah dan Banjarnegara tidak membuat ikatan cinta kami merenggang sedikit pun. Sebaliknya, di sela-sela langkah tawaf dan sai, aku justru merasakan getaran cinta Mas Giyanto mengalir begitu dahsyat melintasi benua, merayap lembut dan mendekap erat jiwaku yang sedang bertamu di rumah-Nya. Rasa kangen itu tidak melemahkan ibadahku, tidak pula mengaburkan fokusku. Ia justru menjelma menjadi energi spiritual yang luar biasa, membuat sujud-sujud malamku di Masjidil Haram terasa semakin khusyuk dan bermakna. Aku merindukannya karena Allah, dan rindu itu menuntunku pada kedekatan yang lebih tinggi kepada-Nya.

    Setiap kali telepon seluler di dalam tas mukenaku bergetar di sela-sela waktu istirahat di kamar hotel, jantungku berdegup dengan ritme yang akrab. Aku tahu pasti bahwa itu adalah panggilan dari belahan jiwaku di tanah air.

    “Sri… bagaimana kabarmu di sana? Sehat, kan? Apakah semua rukun ibadah berjalan lancar?” suara Mas Giyanto terdengar begitu serak dan bergetar di ujung telepon. Jauh di lubuk suaranya, ada nada kerinduan yang teramat berat, yang coba ia sembunyikan dengan susah payah di balik ketegaran suaranya sebagai seorang kepala keluarga.

    “Alhamdulillah sehat walafiat, Mas. Sri baru saja selesai menunaikan tawaf,” jawabku lirih, sekuat tenaga menahan genangan air mata agar tidak jatuh dan membuat hatinya di sana semakin didera cemas.

    “Rumah kita sepi sekali tanpa Sri,” Mas Giyanto akhirnya menyerah pada egonya, mengakui kejujuran hatinya dengan suara yang sedikit terisak di sela helaan napasnya yang berat. “Setiap kali Mas pulang kerja sore hari, tidak ada senyuman Sri yang menyambut di pintu. Tidak ada secangkir kopi hangat yang biasa Sri sediakan di meja kayu kita. Ranjang tidur kita terasa begitu dingin dan teramat luas untuk Mas sendiri. Tapi… di balik sepi yang mendera ini, Sri… Mas merasakan cinta Mas ke Sri justru tumbuh berlipat-lipat ganda. Mas selalu memandangi foto pernikahan kita yang di dinding, mendoakan keselamatan dan kemabruranmu di setiap sujud terakhir Mas di musala desa. Allah menjadi saksi, Sri… Mas rida atas semua baktimu selama ini, Mas sangat mencintaimu.”

    Mendengar pengakuan jujur dan tulus dari bibir suamiku, dadaku bergemuruh hangat seolah dialiri lentera surga. Air mataku tak lagi bisa dibendung, mengalir deras membasahi pipi hingga menetes ke kain mukena. Di bawah langit Makkah yang suci dan penuh berkah, aku menyadari satu kebenaran spiritual yang teramat indah. Perjalanan ibadah haji ini bukan hanya sekadar rukun Islam kelima yang sedang kutunaikan, melainkan sebuah madrasah cinta yang sesungguhnya bagi pernikahan yang kami bangun di atas air mata dan tawa.

    Sepuluh tahun yang lalu, akulah yang merindukan Mas Giyanto dari sudut rumah di Banjarnegara, menanti kepulangannya dengan cemas dan doa. Kini, roda takdir berputar dengan indahnya, dan Mas Giyanto-lah yang berganti menjaga rumah kami dengan untaian doa-doa malam serta kerinduan yang membubung tinggi menembus langit. Kami sedang diajarkan oleh Sang Pemilik Cinta bahwa cinta yang sejati, yang dibangun di atas fondasi takwa, tidak akan pernah bisa layu atau lekang oleh jarak fisik yang memisahkan rahim bumi. Sebab, kedua hati kami selalu bertemu, berangkulan, dan saling mendekap erat di atas hamparan sajadah doa yang sama.

    Ketika hari yang agung itu tiba, dan aku berdiri di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf—di bawah langit yang bergemuruh oleh jutaan malaikat yang turun membawa rahmat—aku kembali melangitkan nama suamiku ke Arsy. Di bawah tenda-tenda Arafah, aku memohon dengan linangan air mata agar cinta yang Allah titipkan di hati kami berdua senantiasa dijaga keasliannya, dibersihkan dari ego duniawi yang mengotori, dan kelak disatukan kembali di dalam surga-Nya yang abadi tanpa ada lagi tirai pemisah atau jarak yang menjauhkan.

    Cincin  yang kini telah hilang dari jemariku karena dijual demi keberangkatan ini, tidak lagi menyisakan rasa sedih atau sesal sedikit pun di hatiku. Sebab di Baitullah ini, aku menemukan jawaban bahwa Allah telah menggantinya dengan ikatan cinta spiritual yang jauh lebih kokoh, lebih suci, dan melangit tinggi bersama rida sang imam yang kini tengah menanti kepulanganku dengan rindu di Banjarnegara. Jarak ini tidak menjauhkan, ia justru memuliakan rindu kami hingga ke langit tertinggi.

     

     

    Kreator : Sri Umimah

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 17_ Getar Rindu di Baitullah

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021