Waktu berjalan di atas ketetapan-Nya yang tak pernah keliru, bergulir dalam senyap namun pasti. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah seorang istri yang berdiri termangu di pelataran rumah kami di Banjarnegara. Dengan jemari bergetar, kuseka air mata haru yang luruh tak tertahankan saat melepas keberangkatan Mas Giyanto untuk memenuhi panggilan suci ke Tanah Suci. Selama sepuluh tahun itu pula, sebuah rahasia suci kusimpan rapat-rahat di lubuk hati yang paling dalam. Kerinduan untuk bersujud langsung di depan Kakbah yang agung, memandang kain kiswahnya yang hitam legam, tumbuh menjadi benih doa yang kupupuk tanpa jemu di sepertiga malam. Di atas sajadah yang mulai memudar warnanya, air mataku kerap mengalir, memohon agar suatu hari nanti giliran jiwaku yang diundang menjadi tamu-Nya.
Hingga akhirnya, di musim haji tahun 2024, pintu langit yang selama ini kuketuk dengan untaian selawat dan air mata itu benar-benar terbuka lebar untukku. Ketetapan indah itu datang pada waktu yang paling tepat, menghapus segala lelah penantian.
Namun, perjalanan menuju titik ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kami harus berjalan melewati berbagai badai ujian ekonomi yang menguras tenaga, serta riuh rendah cibiran orang-orang di sekitar yang meragukan niat suci kami. Dalam pandangan logika manusia, rasanya mustahil bagi kami untuk bisa mengumpulkan biaya yang begitu besar. Namun, keikhlasan Mas Giyanto adalah samudra tanpa tepi. Ia rela mengupayakan segala cara yang halal, termasuk merelakan seluruh tabungan yang dikumpulkannya dengan peluh, hingga menyetujui penjualan cincin demi selembar visa haji untukku. Pengorbanan itu adalah bukti cinta yang paling nyata, sebuah mahar kedua yang nilainya jauh melampaui megahnya dunia.
“Sri, dulu Mas berangkat sendiri ke sana dan menyisakan ruang rindu yang luar biasa padamu di rumah. Sekarang, giliranmu, istriku. Berangkatlah dengan hati yang lapang, tanpa beban. Jemput rida Allah, bawa seluruh doa-doa kita ke depan Ka’bah,” bisik Mas Giyanto sesaat sebelum aku menaiki mobil yang akan membawaku menuju bandara. Di bawah temaram lampu fajar Banjarnegara, kulihat matanya berkaca-kaca. Ia menahan haru yang membuncah sekaligus rasa berat yang teramat sangat untuk melepas belahan jiwanya pergi menyeberangi samudra yang luas. Namun, dalam tatapan itu, ada rida seorang suami yang mengalir sepenuhnya, menjadi bekal paling sakral dalam perjalananku.
Ketika kakiku pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer Masjidil Haram yang sejuk, pertahananku runtuh seketika. Air mataku langsung tumpah tak terbendung, mengalir membasahi pipi. Di depan kemegahan Ka’bah yang anggun, berdiri kukuh di bawah langit Makkah yang agung, aku bersujud serendah-rendahnya. Di tempat yang paling mustajab di muka bumi ini, setelah memuji kebesaran Allah yang Maharahman dan melantunkan selawat termanis kepada Rasulullah Muhammad SAW, nama suamiku—Mas Giyanto—adalah nama pertama yang kusebut dalam bisikan doaku. Dalam sujud yang panjang itu, aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengingat kembali setiap jengkal kebaikan hatinya, ketegasannya yang lembut dalam membimbingku, dan keikhlasannya yang luar biasa melepasku pergi beribadah ke tanah para nabi.
Namun, di tengah kekhusyukan ibadah yang padat di bawah terik matahari Makkah yang menyengat raga, ada satu rasa yang tumbuh begitu kuat dan mendominasi setiap jengkal dadaku: rasa rindu yang teramat dalam kepada suamiku yang kini berada sendirian di Banjarnegara.
Ajaibnya, jarak ribuan kilometer yang membentang luas di antara Makkah dan Banjarnegara tidak membuat ikatan cinta kami merenggang sedikit pun. Sebaliknya, di sela-sela langkah tawaf dan sai, aku justru merasakan getaran cinta Mas Giyanto mengalir begitu dahsyat melintasi benua, merayap lembut dan mendekap erat jiwaku yang sedang bertamu di rumah-Nya. Rasa kangen itu tidak melemahkan ibadahku, tidak pula mengaburkan fokusku. Ia justru menjelma menjadi energi spiritual yang luar biasa, membuat sujud-sujud malamku di Masjidil Haram terasa semakin khusyuk dan bermakna. Aku merindukannya karena Allah, dan rindu itu menuntunku pada kedekatan yang lebih tinggi kepada-Nya.
Setiap kali telepon seluler di dalam tas mukenaku bergetar di sela-sela waktu istirahat di kamar hotel, jantungku berdegup dengan ritme yang akrab. Aku tahu pasti bahwa itu adalah panggilan dari belahan jiwaku di tanah air.
“Sri… bagaimana kabarmu di sana? Sehat, kan? Apakah semua rukun ibadah berjalan lancar?” suara Mas Giyanto terdengar begitu serak dan bergetar di ujung telepon. Jauh di lubuk suaranya, ada nada kerinduan yang teramat berat, yang coba ia sembunyikan dengan susah payah di balik ketegaran suaranya sebagai seorang kepala keluarga.
“Alhamdulillah sehat walafiat, Mas. Sri baru saja selesai menunaikan tawaf,” jawabku lirih, sekuat tenaga menahan genangan air mata agar tidak jatuh dan membuat hatinya di sana semakin didera cemas.
“Rumah kita sepi sekali tanpa Sri,” Mas Giyanto akhirnya menyerah pada egonya, mengakui kejujuran hatinya dengan suara yang sedikit terisak di sela helaan napasnya yang berat. “Setiap kali Mas pulang kerja sore hari, tidak ada senyuman Sri yang menyambut di pintu. Tidak ada secangkir kopi hangat yang biasa Sri sediakan di meja kayu kita. Ranjang tidur kita terasa begitu dingin dan teramat luas untuk Mas sendiri. Tapi… di balik sepi yang mendera ini, Sri… Mas merasakan cinta Mas ke Sri justru tumbuh berlipat-lipat ganda. Mas selalu memandangi foto pernikahan kita yang di dinding, mendoakan keselamatan dan kemabruranmu di setiap sujud terakhir Mas di musala desa. Allah menjadi saksi, Sri… Mas rida atas semua baktimu selama ini, Mas sangat mencintaimu.”
Mendengar pengakuan jujur dan tulus dari bibir suamiku, dadaku bergemuruh hangat seolah dialiri lentera surga. Air mataku tak lagi bisa dibendung, mengalir deras membasahi pipi hingga menetes ke kain mukena. Di bawah langit Makkah yang suci dan penuh berkah, aku menyadari satu kebenaran spiritual yang teramat indah. Perjalanan ibadah haji ini bukan hanya sekadar rukun Islam kelima yang sedang kutunaikan, melainkan sebuah madrasah cinta yang sesungguhnya bagi pernikahan yang kami bangun di atas air mata dan tawa.
Sepuluh tahun yang lalu, akulah yang merindukan Mas Giyanto dari sudut rumah di Banjarnegara, menanti kepulangannya dengan cemas dan doa. Kini, roda takdir berputar dengan indahnya, dan Mas Giyanto-lah yang berganti menjaga rumah kami dengan untaian doa-doa malam serta kerinduan yang membubung tinggi menembus langit. Kami sedang diajarkan oleh Sang Pemilik Cinta bahwa cinta yang sejati, yang dibangun di atas fondasi takwa, tidak akan pernah bisa layu atau lekang oleh jarak fisik yang memisahkan rahim bumi. Sebab, kedua hati kami selalu bertemu, berangkulan, dan saling mendekap erat di atas hamparan sajadah doa yang sama.
Ketika hari yang agung itu tiba, dan aku berdiri di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf—di bawah langit yang bergemuruh oleh jutaan malaikat yang turun membawa rahmat—aku kembali melangitkan nama suamiku ke Arsy. Di bawah tenda-tenda Arafah, aku memohon dengan linangan air mata agar cinta yang Allah titipkan di hati kami berdua senantiasa dijaga keasliannya, dibersihkan dari ego duniawi yang mengotori, dan kelak disatukan kembali di dalam surga-Nya yang abadi tanpa ada lagi tirai pemisah atau jarak yang menjauhkan.
Cincin yang kini telah hilang dari jemariku karena dijual demi keberangkatan ini, tidak lagi menyisakan rasa sedih atau sesal sedikit pun di hatiku. Sebab di Baitullah ini, aku menemukan jawaban bahwa Allah telah menggantinya dengan ikatan cinta spiritual yang jauh lebih kokoh, lebih suci, dan melangit tinggi bersama rida sang imam yang kini tengah menanti kepulanganku dengan rindu di Banjarnegara. Jarak ini tidak menjauhkan, ia justru memuliakan rindu kami hingga ke langit tertinggi.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 17_ Getar Rindu di Baitullah
Sorry, comment are closed for this post.