DURIAN EMPAT PENJURU
Memasuki pertengahan tahun, saat cuaca bagus, angin sepoi-sepoi bertiup di Belitung membawa berbagai aroma khas musiman nan semerbak. Terutama saat melewati jalan Sriwijaya di pusat kota Tanjung Pandan. Dari Titik Nol sudah mulai tercium walau sumber aroma belum terlihat. Mendekati Simpang Jalan Depati Rahat mulai terlihat tumpukan buah berduri di sepanjang trotoar Jalan Sriwijaya, berbagai ukuran.
Bagi pencinta buah durian, durin kalau orang Belitong menyebutnya, ini adalah saatnya berburu buah yang hanya muncul semusim, setahun sekali. Itu pun kalau bunga-bunga durian tidak gugur diterpa Angin Barat saat akhir dan awal tahun. Karena pernah satu tahun berlalu tanpa ada musim durian. Bagi para penggemarnya, ini musim yang ditunggu-tunggu. Tapi bagi orang-orang yang tidak menyukai durian karena aromanya yang kuat dan tajam, inilah musimnya sakit kepala dan mual mabuk aroma durian. Di pasar, di area publik bahkan sampai di ruang-ruang perkantoran, aroma durian menggantikan pengharum ruangan sintetis. Ada yang menikmati dan ada yang menggerutui.
Sering juga musim durian tiba bersamaan dengan musim buah-buahan tropis lainnya. Beberapa buah yang di kota besar jarang ditemukan atau kalau pun ada, harganya sangat mahal. Biasanya saat durian mulai berjatuhan dari pohon, orang Belitong menyebutnya musim durin repak, manggis dan cempedak juga siap dipanen. Menyusul rambutan, langsat dan rambai. Berlanjut dengan munculnya menu-menu makanan berbahan dasar buah-buah tersebut.
Mulai muncul Serawe Durin, kuah kental campuran santan, gula aren dan daging buah durian yang dinikmati sebagai cocolan makan roti tawar, dan sudah pasti ini manis legit. Serawe ini bisa juga dipadukan sebagai siraman Kue Serabi. Bagi penderita diabetes, makan makanan ini harus dalam pengawasan ketat, karena nikmatnya rasa, sering membuat lupa bahwa dalam seporsi serawe dan roti sudah mengandung gula yang tinggi.
Ada pula cemilan manis bernama Jumput-Jumput Cempedak. Terbuat dari daging buah cempedak yang disuwir, dicampur terigu, sedikit gula, air dan margarin lalu digoreng sejumput-sejumput. Ini cocok untuk menemani secangkir kopi tanpa gula di pagi hari.
Aku sering mendapat buah-buahan ini dari kenalan bahkan pasien-pasien yang punya kebun buah apabila musimnya tiba. Terkadang sepulang kerja kudapati sekantong rambutan, manggis, langsat atau rambai sudah tergantung di pintu tanpa pesan sehingga aku tidak tahu itu pemberian siapa. Buah-buahan yang dulu di kota besar hanya kulihat di super market dengan harga yang mahal. Di Belitung aku puas menikmatinya.
Ketika usia belum sampai di angka 40, dengan kondisi tidak ada penyakit sistemik yang membuat harus banyak berpantang makanan, aku dan suamiku pernah berburu dalam arti sampai mencari dan mendatangi kebun-kebun buah durian yang menjual buah durian yang baru jatuh dari pohon. Masa-masa lupa diri, aku menyebutnya. Karena sekali duduk di lapak durian di kebun, bisa beberapa buah durian kami habiskan. Tanpa muncul keluhan di badan setelahnya.
Ke arah Utara, kami mencari Durian Tanjung Binga kecamatan Sijuk yang terkenal manis dan lebih berair. Tapi daging buahnya agak tipis. Lokasinya yang lebih dekat rumah membuat durian ini yang sering kami makan sambil duduk di pinggir Pantai Tanjung Kelayang menikmati senja.
Ke arah Selatan, kami mengunjungi Dusun Aik Gede di Desa Kembiri kecamatan Membalong. Jenis yang kami dapati di sini lebih tebal daging buahnya, manis dan creamy tidak berair. Jujur saja jenis ini kegemaranku. Aku bisa menghabiskan beberapa buah sendirian.
Ke arah Timur, kami sampai menginap semalam di Kecamatan Kelapa Kampit yang memiliki durian varietas Montong. Kami diundang kerabat di sana ikut dalam Tradisi Ngerepah, sebuah tradisi mencari buah durian yang jatuh langsung dari pohon di kebun kerabat kami. Bermalam di pondok kebun, begadang, tepatnya. Berselimut sarung, memakai lotion anti nyamuk, membuat api unggun kecil sebagai penerang dan penghangat malam. Bersenda gurau atau tidur-tidur ayam menunggu bunyi “buukk” lalu bergegas mendatangi sumber suara dengan dengan senter. Dan tentu saja varietas ini sudah terkenal buahnya yang besar dengan daging buah yang tebal kekuningan, manis dan creamy.
Dan bila ada teman yang bekerja di Selat Nasik hendak pulang ke daratan, maka dari arah Barat kami akan membeli dengan jasa titip, sekarung durian Suak Gual dari Pulau Mendanau. Ini juga jenis yang tebal daging buahnya, bijinya banyak yang tipis alias kupit. Rasanya manis dengan sedikit sensasi pahit yang bagi sebagian besar pencinta buah durian adalah rasa terbaiknya.
Tapi masa-masa itu sudah lama berlalu, Kawan.
Sekarang usia kami bahkan sudah jauh melampaui angka 50. Yang tentu saja sudah masuk dalam masa “pengawasan ketat”. Satu buah durian saja, akan menaikkan angka HbA1c saat pemeriksaan kesehatan berkala. Dan itu ibarat lampu lalu lintas yang menyala kuning bagi kesehatan pankreas. Batas tertinggi makan durian tidak lagi buah utuh tetapi hitungan bijinya. Lebih dari 5 biji, mulai muncul tegang tengkuk, kepala berat dan lambung tak nyaman. Termasuk membuat badan terasa panas, berkeringat, susah tidur.
Kami berdua tidak lagi sebebas dulu makan buah durian. Semua sudah harus dibatasi. Karena usia kami saat ini rawan terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes yang umumnya berawal dari pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Bagi kami, mencegah itu jauh lebih baik dari pada mengobati. Jadi ketika melewati Jalan Sriwijaya di saat musim durian, dengan aroma yang seolah memanggil raga untuk mampir, aku hanya bisa berkata dalam hati, sabar..tahan..tahan…
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 17_Durian Empat Penjuru
Sorry, comment are closed for this post.