KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 18 _ Air Mata Syukur,Air Mata Rindu

    BAB 18 _ Air Mata Syukur,Air Mata Rindu

    BY 25 Jul 2026 Dilihat: 8 kali
    Bait-Bait Tajwid_alineaku

    Kepulangan dari Baitullah pada pertengahan tahun 2024 membawa sekeping jiwa yang baru ke dalam dadaku. Ada kedamaian yang melingkar kokoh, sebuah kepasrahan yang membuatku memandang dunia dengan kacamata yang berbeda. Ujian, cemoohan, dan peluh yang terkuras habis untuk menjemput visa haji kemarin rasanya telah dibayar tunai oleh ketenangan sujud di depan Kakbah. Namun, roda kehidupan di bumi Banjarnegara terus berputar di atas poros takdir-Nya. Sekembalinya aku ke rutinitas, Allah ternyata telah menyiapkan sebuah kejutan besar yang tertata rapi di dalam lembaran lauhulmahfuz, menunggu waktu yang tepat untuk didekap oleh tanganku.

    Waktu itu tiba di bulan Maret tahun 2025. Sebuah surat keputusan resmi berkop lambang negara—SK PPPK yang selama bertahun-tahun ini menjadi salah satu bait dalam doa-doa panjangku —akhirnya turun dan resmi kuterima.

    Saat jemariku menyentuh kertas putih yang kaku itu, membaca nama lengkapku tertera jelas di sana dengan kepangkatan yang sah, seisi dunia seolah mendadak hening. Dadaku bergemuruh hebat, sesak oleh rasa bahagia yang begitu membuncah, namun di saat yang bersamaan, ada mata air keharuan yang mendadak terbit dan membanjiri pelupuk mataku. Air mata itu luruh bukan karena aku menyesali perjuangan yang telah lewat, melainkan karena sebuah kesadaran yang menusuk kalbu: bahwa di titik puncak pencapaian materi dan keduniawian ini, ada satu pasang mata yang tak lagi bisa menyaksikannya dengan senyuman.

    Ibu mertuaku, sosok wanita berhati emas yang selama bertahun-tahun kurawat dengan segenap jiwa dan raga, telah mendahului kami menghadap Sang Pencipta. Beliau berpulang sebelum sempat melihat menantunya mengenakan seragam abdi negara yang resmi.

    Aku terduduk lemas di kursi ruang tamu, memeluk lembaran SK itu di dada. Pikiranku langsung melesat terbang, melompati dinding waktu, mengenang kembali hari-hari melelahkan sekaligus penuh berkah saat aku mengabdikan diri merawat Ibu. Ingatanku tertuju pada malam-malam panjang di rumah sakit, saat aku terjaga di samping ranjangnya, mengganti kain kompres, menyuapinya bubur sendok demi sendok, hingga memapahnya ke kamar mandi dengan sisa tenaga yang kumiliki setelah seharian bekerja di perpustakaan. Saat itu, dalam kepayahan fisiknya, Ibu sering kali mengusap rambutku dengan jemarinya yang mulai bergetar dan melepaskan bisikan doa yang terus berdengung di telingaku hingga hari ini: “Sri, Gusti Allah mboten sare. Bakti lan sabarmu karo Ibu bakal diganti karo kamulyan sing jembar…” (Sri, Allah tidak tidur. Bakti dan sabarmu pada Ibu akan diganti dengan kemuliaan yang luas).

    Kini, doa-doa yang diucapkan dari bibir renta yang sering menahan sakit itu telah mewujud nyata menjadi selembar kertas di tanganku. Allah membayarnya tunai. Keberangkatan haji di tahun 2024 dan turunnya SK PPPK di bulan Maret 2025 ini adalah buah dari rida dan jalur langit yang diketuk oleh doa seorang ibu yang kami rawat dengan keikhlasan. Namun, ya Rahman, betapa tipisnya batas antara bahagia dan haru di dunia ini. Di saat impian itu berada di genggaman, aku justru merindukan suaranya. Aku merindukan bau minyak kayu putih yang biasa menyengat di kamarnya. Aku merindukan momen di mana aku bisa berlari kecil ke kamarnya, mencium tangannya yang keriput, dan membentangkan kertas SK ini di hadapannya sambil berkata, “Ibu, Sri sampun berhasil…”

    Mas Giyanto berjalan mendekatiku yang sedang tergugu dalam tangis. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada awalnya. Sepuluh tahun lalu ia melepasku dengan rindu saat ia berhaji, dan kini ia berdiri sebagai seorang suami yang paham betul badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dada istrinya. Ia berlutut di hadapanku, lalu melingkarkan kedua lengannya, memelukku dengan sangat erat. Di atas pundaknya, tangisku pecah menjadi isak yang tertahan.

    “Ibu pasti melihatmu dari sana, Sri,” bisik Mas Giyanto, suaranya sendiri terdengar berat dan serak, menahan getar emosi sebagai seorang anak yang juga merindukan ibunya. “SK ini, keberhasilanmu ini, adalah jawaban dari setiap rida yang Ibu jatuhkan untukmu selama Sri merawat beliau tanpa pernah mengeluh. Ini adalah warisan doa dari Ibu untuk rumah tangga kita.”

    Aku mendongak, menatap mata suamiku yang berkaca-kaca. Di dalam tatapannya, aku melihat rasa hormat dan cinta yang semakin mendalam. Pengorbanan kami—menjual cincin demi haji, menguras tabungan, dan tahun-tahun melelahkan merawat orang tua yang sakit—kini berbuah manis. Allah tidak pernah berutang pada hamba-Nya yang ikhlas. Ketika kami mendahulukan bakti kepada orang tua dan mendahulukan panggilan-Nya ke Baitullah, Allah justru mencukupkan urusan duniawi kami dengan cara yang paling indah dan terhormat.

    Sore itu, dengan membawa serta lembaran SK PPPK yang masih bersih, aku dan Mas Giyanto berjalan beriringan menuju pemakaman desa. Langit Banjarnegara perlahan meredup, menyisakan rona jingga yang tenang di sela-sela pohon kamboja. Di depan gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput hijau tempat Ibu beristirahat, kami bersimpuh. Di atas hamparan bumi yang sunyi itu, aku meletakkan SK tersebut dengan lembut di dekat batu nisan Ibu, seolah-olah memperlihatkannya secara langsung.

    “Ibu… Sri datang,” bisikku lirih, air mataku kembali menetes membasahi tanah kubur yang dingin. “Sri datang membawa kabar gembira yang selalu Ibu semogakan dalam salat-salat Ibu dulu. Pintu kemuliaan yang Ibu janjikan lewat doa-doa Ibu, hari ini telah dibuka oleh Allah. Matur nuwun, Ibu… matur nuwun sampun rida dumateng Sri. Terima kasih telah menjadi ibu mertua yang begitu menyayangi Sri seperti anak kandung sendiri.”

    Mas Giyanto memimpin doa, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mengalun indah memecah keheningan sore. Di bawah langit yang mulai menggelap, aku menengadahkan kedua tanganku, memohon agar seluruh pahala dari setiap lembar tugas yang kukerjakan nanti sebagai abdi negara, dan setiap langkah ibadahku, dialirkan juga sebagai cahaya yang menerangi kubur Ibu.

    Maret 2025 menjadi sebuah prasasti yang teramat mahal dalam sejarah pernikahan kami. Bulan itu mengajarkan kami tentang hakikat sebuah kehilangan dan pencapaian. Bahwa kesuksesan sejati di dunia ini tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu ditopang oleh pilar-pilar tak terlihat bernama keikhlasan merawat orang tua dan ketundukan total pada takdir Ilahi. Kehilangan Ibu adalah luka yang menyisakan ruang hampa di rumah kami, namun SK PPPK dan ketenangan pasca-haji yang kami miliki adalah bukti nyata bahwa Ibu meninggalkan kami dengan membawa rida yang melangit.

    Kami melangkah pulang meninggalkan area pemakaman dengan tangan yang saling menggenggam erat. Rumah kami di Banjarnegara mungkin kini terasa lebih sepi tanpa kehadiran fisik Ibu, namun kami tahu, rumah itu akan selalu hangat dan diberkahi, karena fondasinya telah dibangun di atas air mata bakti, rida suami, dan doa-doa yang telah melangit di Baitullah.

     

     

    Kreator : Sri Umimah

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 18 _ Air Mata Syukur,Air Mata Rindu

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021