BAB 18 : ES YANG DIAJARIN HANGAT
PART 1: SIDE STORY – SELENE DI PENJARA + RAHASIA [1 Tahun Setelah TAMAT]*
Penjara Es Tanpa Cermin. Hari ke-400.
Selene mengukir dinding. Tapi kali ini bukan 4 orang + 2 anak.
Ada 1 lagi: *pria dengan selendang prajurit*.
Penjaga: “Surat dari Seraphina.”
Isi: _”Kalau kamu mau belajar jadi hangat, pintunya kebuka. Dan kalau kamu mau cerita… kami dengerin.”_
Malam itu Selene nangis. Pertama kali menyebut nama itu: *”Ardin…”*
PART 2: SPIN-OFF – LEON & LYRA CARI MURID + EIRA [2 Bulan Setelahnya]
Desa Salju Retak.
Murid 3: Eira – Umur 9. Mata merah. Genggam liontin pecah.
“Aku… anak Selene.”
Hening.
Leon jongkok. “Ayahmu siapa?”
Eira geleng. “Ibu gak pernah bilang.”
Di perjalanan pulang, Eira demam. Leon & Lyra gantian jaga.
Pas demam, Eira ngigau: _”Ayah… jangan jadi es yang nusuk… jadi es yang ngelindungin…”
Surat ke rumah: “Kita nemu murid ke-3. Dia bawa luka yang sama kayak kita.”
PART 3: GABUNGAN – PERTEMUAN, PENGAKUAN & AKADEMI [3 Bulan Setelahnya]
Gerbang Penjara terbuka.
Selene keluar. Dipeluk Seraphina.
Di Perpustakaan. Malam pertama Eira di Akademi.
Eira: “Bu… Ayah aku siapa?”
Selene diam. Lama. Lalu ambil liontin pecah dari tangan Eira.
“Namanya Ardin. Prajurit biasa. Dia menolong Ibu pas Ibu kabur dan mau mati kedinginan.”
“Nggak ada mahkota. Nggak ada sihir. Cuma… hangat.”
Selene cerita 1 tahun mereka pura-pura jadi keluarga di desa.
“Pas kamu lahir, desa diserang. Dia mati nutupin kita berdua dengan tubuhnya.
Bisik terakhirnya ke Ibu: Jaga anak kita. Jangan jadi es yang nusuk…’_”
Eira peluk Selene kenceng. “Berarti aku anak orang baik juga ya?”
Selene: “Iya. Kamu darah campuran. Es Merah dari Ibu. Hati Hangat dari Ayah.”
Kael, Alistair di belakang pintu. Denger semua.
Kael bisik: “Pantes kekuatannya bisa nyembuhin dan nyerang.”
—
1 TAHUN KEMUDIAN – PERESMIAN AKADEMI*
Plang: “AKADEMI TANAH FAJAR”
Kepala Akademi: Selene
Wakil: Leon & Lyra
Guru: Kael, Alistair, Seraphina, Riko, Mira
Di taman akademi, ada patung baru. Belum ada nama.
Patung pria prajurit memegang bayi + selendang berkibar.
Eira naruh bunga es di bawah patung itu.
“Untuk Ayah. Makasih udah ngajarin Ibu cara hangat.”
Malamnya 9 orang di balkon.
Eira duduk tengah. Kiri Selene, kanan Lyra.
Selene: “Jadi gini rasanya. Punya rumah. Dan punya masa lalu yang gak perlu disembunyikan lagi.”
Aurora di langit: 2 mahkota pecah → jadi 9 bintang + 1 bulan sabit kecil.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 18 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.