Kepulangan dari Baitullah pada pertengahan tahun 2024 membawa sekeping jiwa yang baru ke dalam dadaku. Ada kedamaian yang melingkar kokoh, sebuah kepasrahan yang membuatku memandang dunia dengan kacamata yang berbeda. Ujian, cemoohan, dan peluh yang terkuras habis untuk menjemput visa haji kemarin rasanya telah dibayar tunai oleh ketenangan sujud di depan Kakbah. Namun, roda kehidupan di bumi Banjarnegara terus berputar di atas poros takdir-Nya. Sekembalinya aku ke rutinitas, Allah ternyata telah menyiapkan sebuah kejutan besar yang tertata rapi di dalam lembaran lauhulmahfuz, menunggu waktu yang tepat untuk didekap oleh tanganku.
Waktu itu tiba di bulan Maret tahun 2025. Sebuah surat keputusan resmi berkop lambang negara—SK PPPK yang selama bertahun-tahun ini menjadi salah satu bait dalam doa-doa panjangku —akhirnya turun dan resmi kuterima.
Saat jemariku menyentuh kertas putih yang kaku itu, membaca nama lengkapku tertera jelas di sana dengan kepangkatan yang sah, seisi dunia seolah mendadak hening. Dadaku bergemuruh hebat, sesak oleh rasa bahagia yang begitu membuncah, namun di saat yang bersamaan, ada mata air keharuan yang mendadak terbit dan membanjiri pelupuk mataku. Air mata itu luruh bukan karena aku menyesali perjuangan yang telah lewat, melainkan karena sebuah kesadaran yang menusuk kalbu: bahwa di titik puncak pencapaian materi dan keduniawian ini, ada satu pasang mata yang tak lagi bisa menyaksikannya dengan senyuman.
Ibu mertuaku, sosok wanita berhati emas yang selama bertahun-tahun kurawat dengan segenap jiwa dan raga, telah mendahului kami menghadap Sang Pencipta. Beliau berpulang sebelum sempat melihat menantunya mengenakan seragam abdi negara yang resmi.
Aku terduduk lemas di kursi ruang tamu, memeluk lembaran SK itu di dada. Pikiranku langsung melesat terbang, melompati dinding waktu, mengenang kembali hari-hari melelahkan sekaligus penuh berkah saat aku mengabdikan diri merawat Ibu. Ingatanku tertuju pada malam-malam panjang di rumah sakit, saat aku terjaga di samping ranjangnya, mengganti kain kompres, menyuapinya bubur sendok demi sendok, hingga memapahnya ke kamar mandi dengan sisa tenaga yang kumiliki setelah seharian bekerja di perpustakaan. Saat itu, dalam kepayahan fisiknya, Ibu sering kali mengusap rambutku dengan jemarinya yang mulai bergetar dan melepaskan bisikan doa yang terus berdengung di telingaku hingga hari ini: “Sri, Gusti Allah mboten sare. Bakti lan sabarmu karo Ibu bakal diganti karo kamulyan sing jembar…” (Sri, Allah tidak tidur. Bakti dan sabarmu pada Ibu akan diganti dengan kemuliaan yang luas).
Kini, doa-doa yang diucapkan dari bibir renta yang sering menahan sakit itu telah mewujud nyata menjadi selembar kertas di tanganku. Allah membayarnya tunai. Keberangkatan haji di tahun 2024 dan turunnya SK PPPK di bulan Maret 2025 ini adalah buah dari rida dan jalur langit yang diketuk oleh doa seorang ibu yang kami rawat dengan keikhlasan. Namun, ya Rahman, betapa tipisnya batas antara bahagia dan haru di dunia ini. Di saat impian itu berada di genggaman, aku justru merindukan suaranya. Aku merindukan bau minyak kayu putih yang biasa menyengat di kamarnya. Aku merindukan momen di mana aku bisa berlari kecil ke kamarnya, mencium tangannya yang keriput, dan membentangkan kertas SK ini di hadapannya sambil berkata, “Ibu, Sri sampun berhasil…”
Mas Giyanto berjalan mendekatiku yang sedang tergugu dalam tangis. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada awalnya. Sepuluh tahun lalu ia melepasku dengan rindu saat ia berhaji, dan kini ia berdiri sebagai seorang suami yang paham betul badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dada istrinya. Ia berlutut di hadapanku, lalu melingkarkan kedua lengannya, memelukku dengan sangat erat. Di atas pundaknya, tangisku pecah menjadi isak yang tertahan.
“Ibu pasti melihatmu dari sana, Sri,” bisik Mas Giyanto, suaranya sendiri terdengar berat dan serak, menahan getar emosi sebagai seorang anak yang juga merindukan ibunya. “SK ini, keberhasilanmu ini, adalah jawaban dari setiap rida yang Ibu jatuhkan untukmu selama Sri merawat beliau tanpa pernah mengeluh. Ini adalah warisan doa dari Ibu untuk rumah tangga kita.”
Aku mendongak, menatap mata suamiku yang berkaca-kaca. Di dalam tatapannya, aku melihat rasa hormat dan cinta yang semakin mendalam. Pengorbanan kami—menjual cincin demi haji, menguras tabungan, dan tahun-tahun melelahkan merawat orang tua yang sakit—kini berbuah manis. Allah tidak pernah berutang pada hamba-Nya yang ikhlas. Ketika kami mendahulukan bakti kepada orang tua dan mendahulukan panggilan-Nya ke Baitullah, Allah justru mencukupkan urusan duniawi kami dengan cara yang paling indah dan terhormat.
Sore itu, dengan membawa serta lembaran SK PPPK yang masih bersih, aku dan Mas Giyanto berjalan beriringan menuju pemakaman desa. Langit Banjarnegara perlahan meredup, menyisakan rona jingga yang tenang di sela-sela pohon kamboja. Di depan gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput hijau tempat Ibu beristirahat, kami bersimpuh. Di atas hamparan bumi yang sunyi itu, aku meletakkan SK tersebut dengan lembut di dekat batu nisan Ibu, seolah-olah memperlihatkannya secara langsung.
“Ibu… Sri datang,” bisikku lirih, air mataku kembali menetes membasahi tanah kubur yang dingin. “Sri datang membawa kabar gembira yang selalu Ibu semogakan dalam salat-salat Ibu dulu. Pintu kemuliaan yang Ibu janjikan lewat doa-doa Ibu, hari ini telah dibuka oleh Allah. Matur nuwun, Ibu… matur nuwun sampun rida dumateng Sri. Terima kasih telah menjadi ibu mertua yang begitu menyayangi Sri seperti anak kandung sendiri.”
Mas Giyanto memimpin doa, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mengalun indah memecah keheningan sore. Di bawah langit yang mulai menggelap, aku menengadahkan kedua tanganku, memohon agar seluruh pahala dari setiap lembar tugas yang kukerjakan nanti sebagai abdi negara, dan setiap langkah ibadahku, dialirkan juga sebagai cahaya yang menerangi kubur Ibu.
Maret 2025 menjadi sebuah prasasti yang teramat mahal dalam sejarah pernikahan kami. Bulan itu mengajarkan kami tentang hakikat sebuah kehilangan dan pencapaian. Bahwa kesuksesan sejati di dunia ini tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu ditopang oleh pilar-pilar tak terlihat bernama keikhlasan merawat orang tua dan ketundukan total pada takdir Ilahi. Kehilangan Ibu adalah luka yang menyisakan ruang hampa di rumah kami, namun SK PPPK dan ketenangan pasca-haji yang kami miliki adalah bukti nyata bahwa Ibu meninggalkan kami dengan membawa rida yang melangit.
Kami melangkah pulang meninggalkan area pemakaman dengan tangan yang saling menggenggam erat. Rumah kami di Banjarnegara mungkin kini terasa lebih sepi tanpa kehadiran fisik Ibu, namun kami tahu, rumah itu akan selalu hangat dan diberkahi, karena fondasinya telah dibangun di atas air mata bakti, rida suami, dan doa-doa yang telah melangit di Baitullah.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 19 _ Air Mata Syukur,Air Mata Rindu
Sorry, comment are closed for this post.