
Perjalanan hidup ini adalah sebuah rajutan mahakarya yang teramat indah dari Allah SWT. Kami telah dibawa mendaki puncak rezeki, merasakan bagaimana hamparan kemudahan duniawi membentang di depan mata, lalu dalam sekejap mata dihempaskan ke lembah keterpurukan yang teramat dalam. Badai itu datang bertubi-tubi, dimulai saat kami ditipu oleh orang yang kami sebut sebagai teman, hingga hantaman sosial yang luar biasa dahsyat berupa hinaan, cemoohan, dan rendahan dari masyarakat luas saat aku gagal mencalonkan diri sebagai kepala desa pada tahun 2019.
Tidak berhenti di situ, riak-riak ujian kembali menguji keteguhan iman kami ketika kami merasakan perihnya diremehkan oleh seseorang saat berniat suci memenuhi panggilan haji ke Baitullah pada awal tahun 2024. Semua peristiwa itu, jika ditakar dengan logika manusia, tentulah sebuah kehancuran yang tak bersisa.
Namun, di balik setiap air mata yang tumpah membasahi sajadah di sepertiga malam, Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah meninggalkan kami dalam kesendirian. Di tengah kegelapan belenggu ujian, Dia selalu mengirimkan lentera dan penunjuk jalan yang menuntun langkah kaki kami yang sempat gontai. Melalui skenario-Nya yang teramat rapi, kepulangan Kakek Sawikarta jauh-jauh dari Jambi menjadi jembatan berkah yang mempertemukan kami dengan almarhum Bapak Sutrawijaya yang berhati lemah lembut dan teduh. Tak hanya itu, kami pun dipertemukan dengan Bapak Gunung Jati, yang dengan segala ketegasan, kedisiplinan, dan prinsip hidupnya telah menempa jiwa kami yang rapuh ini.
Dari beliau-beliau inilah kami belajar, dipaksa merunduk, dan akhirnya ditempa untuk menguasai ilmu tertinggi di atas bumi ini: ilmu sabar yang tanpa batas, keikhlasan yang tanpa tepi, perintah suci untuk selalu berbakti kepada orang tua, serta kewajiban mulia untuk menyayangi dan menyantuni anak-anak yatim. Kami mempraktikkan ilmu itu dengan air mata. Setiap kali ada yang mencemooh, kami membalasnya dengan memperbanyak santunan. Setiap kali ada yang meremehkan, kami bersujud lebih lama.
Kini, di tahun 2026, lembaran demi lembaran novel perjalanan hidup kami yang penuh dengan air mata, tawa, peluh, dan perjuangan telah mencapai muaranya yang paling tenang. Kami telah sampai pada sebuah titik kesadaran makrifat di mana kami tidak lagi menggebu-gebu mengejar urusan dunia. Kami tidak lagi berlari mengejar bayang-bayang materi, karena atas kuasa-Nya, dunia itulah yang justru datang sendiri, tunduk, dan bersujud mengikuti setiap langkah syukur kami.
Matahari sore di awal tahun 2026 perlahan turun, menyisakan semburat warna keemasan yang menerpa lembut dinding rumah permanen kami. Cahaya senja itu menembus kaca jendela ruang tengah, membiaskan pendar yang menenangkan. Aku berdiri di sana, memandangi halaman rumah. Di dalam garasi yang cukup luas itu, terparkir rapi sebuah mobil baru yang aromanya bahkan masih menyisakan kehangatan diler. Di sisinya, sebuah motor PCX berwarna silver berdiri gagah, kendaraan yang beberapa bulan lalu kami beli setelah penantian panjang.
Melihat pemandangan itu, dadaku berdesir hebat. Garasi ini bukan sekadar ruang beton tempat menyimpan kendaraan. Tempat ini adalah saksi bisu, sebuah monumen yang merekam detik-detik paling kelam dalam hidup kami belasan tahun yang lalu. Di lantai semen inilah, air mata kami tumpah saat menyaksikan tujuh armada rental yang menjadi urat nadi perekonomian keluarga ditarik paksa satu per satu oleh pihak leasing akibat badai penipuan yang menghantam usaha kami. Saat itu, garasi ini kosong melompong, menyisakan ruang hampa yang seolah mengejek ketidakberdayaan kami.
Namun sore ini, ruang yang sama kembali terisi. Bukan oleh kemewahan yang dikejar dengan ambisi menggebu-gebu, melainkan oleh titipan yang datang sebagai buah dari kesabaran. Ada satu hal yang jauh berbeda antara kepemilikan kami yang dulu dan yang sekarang. Dahulu, saat armada rental kami masih berjumlah banyak, ada rasa pongah yang menyelinap halus di dada—sebuah perasaan merasa memiliki. Kini, materi itu kembali hadir dengan wujud yang berbeda, tetapi hati kami telah benar-benar merunduk. Kami sadar sesadar-sadarnya: semuanya hanyalah titipan yang bisa diambil dalam sekejap mata. Hati kami telah bersih dari rasa kepemilikan yang semu.
Dari arah ruang tamu, sayup-sayup terdengar suara tawa renyah Faathir Hidyatama Sugiyanto. Pemuda kecil yang dulu sering kukhawatirkan masa depannya, kini telah tumbuh menjadi seorang lelaki muda yang mandiri, tegap, dan memiliki pancaran kedewasaan di wajahnya. Suaranya yang berat bersahutan dengan nada manja dari Tazkia Khoirunnisa Sugiyanto. Tazkia, putri bungsu kami, sedang sibuk merapikan buku-buku sekolahnya di atas meja kayu, sesekali merajuk manja kepada kakaknya.
Di sudut ruangan, sebuah koper besar berwarna gelap sudah mulai terisi dengan rapi. Pakaian, mukena, jilbab, dan beberapa keperluan harian telah tertata dengan presisi di dalamnya. Koper itu adalah sebuah penanda visual yang sangat jelas bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, putri kecil kami yang manja itu akan melangkah pergi meninggalkan kehangatan rumah ini. Ia akan memulai lembaran baru dalam hidupnya, menempuh jalur sunyi para pencari ilmu di sebuah pondok pesantren.
Ada getar haru yang luar biasa dahsyat bergemuruh di dalam dadaku setiap kali pandanganku tertumbuk pada koper besar itu. Tazkia kini telah memantapkan hatinya dengan penuh keyakinan untuk nyantri, menceburkan diri dalam samudra ilmu agama. Bahkan, sebagai wujud nyata dari kesungguhan tekadnya, ia telah memberikan sebuah hadiah yang teramat indah, sebuah mahkota spiritual bagi kami selaku orang tuanya: Tazkia berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 3 juz hanya dalam kurun waktu enam bulan saja.
Menyaksikan kedua buah hati kami tumbuh dengan akhlak yang mulia, melihat mereka sujud di atas sajadah tanpa perlu diperintah, dan mendengar tutur kata mereka yang santun adalah sebuah kemewahan tak ternilai. Kebahagiaan ini melampaui segala bentuk harta materi, kilau emas, atau deretan angka di rekening bank manapun di dunia ini. Anak-anak adalah jangkar yang menjaga waras dan iman kami tetap tertambat di tengah badai kehidupan.
Langkah kaki yang teratur memecah lamunanku. Mas Giyanto melangkah masuk ke dalam rumah setelah menyelesaikan agendanya hari ini. Dia mengenakan kemeja rapi yang disetrika licin, pakaian dinas yang melekat pas di tubuhnya. Gurat wajahnya kini tampak semakin matang, tenang, dan memancarkan wibawa—baik sebagai seorang Aparatur Sipil Negara yang mengabdi pada bangsa, maupun sebagai seorang kepala keluarga yang sukses menakhodai bahtera rumah tangganya melewati ombak setinggi gunung.
Aku menatar jemarinya saat dia meletakkan tas kerja. Di jemari itu, tidak ada lagi guratan cemas. Yang ada hanyalah ketenangan seorang imam yang telah lulus dari berbagai ujian besar kehidupan; ujian yang menempa mentalnya dari seorang guru ngaji biasa menjadi seorang lelaki yang berjiwa baja.
“Sri,” panggilnya lembut, membuyarkan lamunanku sepenuhnya.
Dia tersenyum kecil, lalu mendudukkan dirinya di sofa kayu ruang tamu yang hangat. Tanpa perlu diminta, aku segera beranjak ke dapur dan kembali dengan secangkir kopi yang langsung kusodorkan kepadanya. Aroma kopi itu mengepul, menghadirkan kehangatan di antara kami.
“Iya, Mas?” jawabku sambil mendudukkan diri di sampingnya.
Aku meraih tangan kanannya, menyalami dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Ini adalah ritual bakti, sebuah simbol penghormatan yang tidak pernah kurangi atau surutkan barang seinci pun sejak hari pernikahan kami pada 18 Mei 2005 silam. Baik saat kami berada di puncak kejayaan, saat kami makan berteman garam di masa-masa sulit, hingga hari ini saat takdir kembali memeluk kami dengan kenyamanan, ciuman tangan ini tetap sama khusyuknya.
Mas Giyanto menyeruput kopinya perlahan, lalu pandangannya menerawang jauh ke luar jendela. “Mas baru saja lewat di depan TPQ desa, Sri. Melihat anak-anak kecil yang berlarian memakai sarung dan mukena sambil memegang Iqro, Mas jadi teringat tahun 1993 dulu,” ucapnya dengan senyuman tipis yang sangat tulus.
Senyuman itu seketika melempar ingatan seolah memutar kembali waktu. Itulah senyuman yang persis sama dengan senyuman yang kulihat saat dia menyodorkan kotak berkat hangat di malam tahlilan tiga puluh tiga tahun yang lalu—saat kami masih sangat kecil, saat dunia belum mengenalkan kami pada arti pengkhianatan dan air mata orang dewasa.
Aku tersenyum simpul, namun mataku mendadak berkaca-kaca oleh rasa haru yang membuncah. “Iya, Mas. Siapa yang menyangka… anak kelas 2 SD yang dulu mukenanya melorot terus, yang sering minderan dan bersembunyi di balik punggung orang tua, sekarang sudah bertransformasi menjadi seorang ibu. Bahkan, alhamdulillah, sekarang sudah memegang SK PPPK di MTs Negeri.”
Kalimat itu terucap bagai rangkuman dari sebuah mukjizat. Tahun 2025 dan awal 2026 ini benar-benar menjadi tahun keajaiban yang tertulis indah dalam takdir kami. Perjalanan ke tanah suci Mekah pada tahun sebelumnya telah merontokkan seluruh beban duniawi yang sempat menggelayuti pundak kami. Di depan Ka’bah, aku menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala luka lama, dan menyerahkan sisa hidup kami sepenuhnya kepada Allah. Kami merelakan perhiasan dan tabungan yang tersisa demi selembar visa haji, mengabaikan cemoohan orang-orang yang menganggap kami nekat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Namun, Allah tidak pernah berutang pada hamba-Nya yang berniat memenuhi panggilan-Nya. Sepulang dari Baitullah, pintu-pintu langit seolah diketuk. Pengumuman kelulusan PPPK menjadi jawaban atas doa-doa malam yang kupanjatkan hingga suaraku serak. Menjadi seorang ASN di MTs Negeri bukan hanya sekadar status pekerjaan, melainkan sebuah amanah dan pengakuan atas perjuangan panjang yang sempat dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Berkah itu bergulir bak bola salju kebaikan. Tak lama setelah SK berada di tangan, kelonggaran rezeki mengalir begitu deras namun menenangkan. Kami bisa membeli motor PCX pada akhir tahun 2025 untuk mendukung mobilitas dinas, dan puncaknya, sebuah mobil keluarga yang bersahaja kini resmi terparkir di garasi kami tanpa beban utang yang mencekik.
Hinaan dan caci maki dari lidah manusia terbukti sama sekali tidak mampu mengurangi ataupun menjatuhkan derajat kami barang sedikit pun, selama kami menggantungkan seluruh urusan hanya kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Sebaliknya, setiap cemoohan dan kalimat sinis di masa lalu justru kami pandang sebagai pembersih hati yang paling mustajab, yang melapangkan jalan setapak kami menuju keberkahan hidup yang sesungguhnya. Rumah sederhana ini kini telah bertransformasi menjadi sebuah benteng penuh berkah, sebuah madrasah cinta, dan ladang pengabdian tempat kami mengabdikan sisa hidup bagi tegaknya agama, kebahagiaan keluarga, dan kemaslahatan masyarakat luas.
Aku menggeser dudukku, bersandar dengan nyaman di pundak Mas Giyanto yang kokoh. Kutatap jemari tanganku sendiri. Di sana, sebuah cincin kembali melingkar dengan indah di jari manisku. Cincin itu adalah pengganti dari perhiasan terdahulu yang sempat kurelakan dijual demi menutup kekurangan biaya visa haji. Kini, perhiasan itu kembali, bukan sebagai alat untuk pamer, melainkan sebagai simbol kembalinya keutuhan dan keberkahan hidup.
“Terima kasih ya, Mas… sudah sudi menjadi guru ngaji yang sabar, imam yang tangguh, dan pelindung terbaik untuk Sri selama mengarungi hidup yang penuh liku ini,” bisikku tulus, membiarkan kehangatan menjalar di antara kami.
Mas Giyanto tidak langsung menjawab. Dia memutar tubuhnya sedikit, lalu menggenggam jemariku dengan sangat erat—sebuah genggaman yang menyalurkan seluruh rasa cinta, ketenangan, dan keyakinan yang sama sejak 21 tahun yang lalu. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mengecup ubun-ubun kepala istri yang dulu—saat mereka masih remaja—hanya bisa didoakannya diam-diam dari balik tirai kain pembatas musala tua kampung.
“Sama-sama, Sri,” jawab Mas Giyanto dengan suara baritonnya yang mantap namun sarat akan kelembutan. “Perjalanan kita masih panjang, dan tugas kita belum usai. Mari kita terus melangkah bersama dengan saling bergandengan tangan. Kita jaga bersama amanah anak-anak yatim yang telah dipercayakan kepada kita, kita langitkan doa tanpa putus untuk Tazkia agar ia senantiasa diberikan keistiqomahan di pondok pesantren, dan mari kita tutup sisa usia kita di dunia yang fana ini dalam balutan rida dan kasih sayang-Nya yang abadi.”
Di bawah langit tahun 2026 yang kian meredup berganti malam, digantikan oleh taburan bintang yang mulai bermunculan satu per satu, kisah Sri dan Giyanto tidak pernah berakhir. Kisah ini telah bertransformasi menjadi sebuah keabadian rasa syukur. Perjalanan panjang yang sarat akan air mata, pengorbanan, dan keajaiban keyakinan ini kini telah genap.
Kisah ini menjadi bukti senyata-nyatanya di dunia, bahwa bagi siapa saja yang rida atas segala ketetapan dan takdir yang digariskan oleh Allah, maka Allah sendiri yang akan mengambil alih urusannya, menjamin kehidupannya senantiasa aman, damai, berkecukupan, dan mulia hingga akhir hayat nanti.
Segala badai telah berlalu, meninggalkan pelangi keberkahan yang akan terus menjaga rumah kami. Kehidupan ini bukanlah tentang seberapa tinggi kita mendaki, melainkan tentang seberapa dalam kita bersujud saat dihempaskan. Dan di atas sajadah-sajadah pengabdian kami yang berikutnya, cerita baru yang penuh dengan kedamaian, keberkahan, dan cinta yang luhur akan terus tertulis demi menggapai jannah-Nya.
Kreator : Sri Umimah
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 19 – Muara Syukur
Sorry, comment are closed for this post.