BAGIAN I SAYA DAN DUNIA KOMUNIKASI
“Mas, jangan lupa, selain ambil foto, ambil video juga ya.”
Kalimat seperti itu sudah cukup akrab di telinga saya setiap kali sebuah acara korporat hendak dimulai. Biasanya disusul dengan kalimat lain setelah acara selesai.
“Kirim ke WhatsApp saya segera ya.” Ucapan yang sederhana, sangat sederhana.
Bagi sebagian orang, mungkin begitulah gambaran pekerjaan humas. Datang ke acara, membawa kamera atau telepon pintar, mengambil foto dan video, kemudian membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Di beberapa korporasi yang memiliki sumber daya cukup, petugas humas bahkan dibekali kamera dengan lensa Panjang untuk mengabadikan momen cukup dari jarak jauh. Sementara di tempat lain, sebuah telepon pintar sudah dianggap cukup untuk menjalankan tugas dokumentasi.
Saya tidak sedang mempersoalkan kamera atau telepon pintar. Dokumentasi memang bagian dari pekerjaan komunikasi. Foto yang baik, video yang menarik, dan momen yang tepat memang dibutuhkan untuk menghidupkan sebuah cerita korporat. Tetapi, jika pekerjaan humas berhenti pada urusan mengambil gambar, rasanya ada sesuatu yang hilang.
Bukan hanya dokumentasi saja yang sering dilekatkan kepada humas. Menyusun konsep sambutan atau pidato pimpinan juga kerap menjadi bagian dari pekerjaan yang datang hampir tanpa banyak pertanyaan. Seorang senior di bidang humas pernah menyampaikan bahwa membuat konsep sambutan pimpinan untuk sebuah acara korporat tidak selalu sesederhana yang dibayangkan. Ia harus memahami acaranya, siapa yang hadir, apa kepentingan yang ingin disampaikan, bagaimana posisi perusahaan, sampai memilih kata-kata yang tepat.
Setelah naskah selesai, pekerjaan belum tentu selesai. Masih ada proses koreksi dan persetujuan. Kadang satu kalimat berubah, kemudian berubah lagi. Sebuah kata bisa dipertanyakan karena dianggap terlalu kaku. Semantara pilihan kata lain bisa diganti karena dirasakan kurang mewakili posisi korporat. Seorang teman yang lain justru bercerita tentang pengalaman berbeda meski sama-sama mengkonsep naskah sambutan pimpinan. Ia cukup bersyukur karena pimpinannya termasuk tipe orator yang gemar berimprovisasi. Naskah yang disiapkan humas kadang hanya menjadi pegangan saja. Selebihnya, sang pimpinan mengembangkan sendiri apa yang ingin disampaikan. Saya tersenyum ketika mendengar cerita-cerita semacam itu, karena semua itu pernah saya alami. Begitulah dunia humas. Yang terlihat amat sederhana dari luar, sering kali memiliki rangkaian pekerjaan yang panjang di belakangnya.
Bahkan komentar tentang pekerjaan humas pun sering terdengar ringan dan cenderung menyepelekan.
“Enak ya, tugasnya cuma medsos-an terus.”
Atau ketika tim sering melakukan liputan kunjungan manajemen atau kegiatan korporat, ada yang nyeletuk, “Wah, jalan-jalan terus ya.”
Komentar semacam itu beberapa kali saya dengar dari sejawat. Bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan meski awal mendengarkannya menyesakkan dada. Lama kelamaan saya justru menganggapnya sebagai tanda bahwa pekerjaan humas memang sering terlihat dari hasil akhirnya saja.
Orang melihat foto yang sudah tayang, tetapi tidak melihat bagaimana memilih foto tersebut, betapa sulit mengambil sudut pandang atau posisi penempatan kamera. Orang membaca berita yang sudah selesai, tetapi tidak mengetahui berapa banyak informasi yang harus dikonfirmasi sebelum satu paragraf ditulis. Orang melihat unggahan media sosial korporat, tetapi tidak selalu tahu bahwa di balik beberapa kalimat pendek ada proses membaca situasi, memeriksa data, berdiskusi, memilih diksi, kemudian memikirkan kemungkinan reaksi setelah pesan itu dipublikasikan.
Di titik tertentu, humas bahkan mendapat julukan lain: pemadam kebakaran. Ketika muncul potensi krisis komunikasi, humas dipanggil. Ketika berita negatif mulai beredar, humas dicari. Ketika masyarakat mempertanyakan sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan, humas kembali berada di depan.
“Pokoknya…”, “Harusnya berita seperti ini tidak tayang.”, “Segera kondisikan…”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana ketika krisis terjadi, tetapi bagi seorang praktisi komunikasi, ada persoalan besar di belakangnya. Seolah-olah humas memiliki kemampuan untuk mengendalikan semua pemberitaan. Seolah-olah media bisa diarahkan sesuka hati. Seolah-olah persepsi publik dapat diubah hanya dengan satu telepon atau satu pesan. Padahal, media memiliki kepentingannya sendiri dan publik memiliki cara berpikirnya sendiri. Sedangkan masyarakat memiliki hak untuk menilai apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Sejatinya humas tidak memegang kendali atas semuanya.
Pertanyaan itu kemudian beberapa kali muncul dalam pikiran saya, apakah humas memang dituntut untuk menjadi pengendali informasi, atau sebenarnya ada pemahaman yang belum selesai tentang apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab humas? Saya mulai berpikir bahwa pekerjaan humas bukan sekadar berbicara. Justru sebelum berbicara, seharusnya humas lebih dahulu mendengar. Mendengar apa yang terjadi di dalam perusahaan. Mendengar tentang kegelisahan manajemen. Mendengar kebutuhan para karyawan. Mendengar pertanyaan dari masyarakat. Mendengar apa yang sedang dibicarakan media. Bahkan mendengar sesuatu yang kadang tidak dikatakan secara langsung. Dari mendengar, seorang humas kemudian harus memahami.
Memang tidak semua persoalan dapat dipahami hanya dari satu sisi. Informasi teknis yang bagi orang operasional terasa biasa saja, bisa menjadi sesuatu yang rumit ketika harus dijelaskan kepada publik. Sebaliknya, pertanyaan publik yang dianggap sederhana bisa menjadi persoalan serius ketika menyangkut reputasi perusahaan.
Setelah memahami, informasi tidak serta-merta bisa disampaikan. Ada proses menyaring dan menelaah, mana yang merupakan fakta dan mana yang masih perlu dikonfirmasi. Apa saja informasi yang boleh dibuka dan apa saja yang belum dapat disampaikan untuk saat itu, hingga informasi apa saja yang terlalu sensitif sehingga berpotensi menimbulkan salah tafsir jika disampaikan tanpa konteks.
Kemudian datang pekerjaan yang menurut saya menjadi salah satu bagian paling penting dari humas: menerjemahkan. Humas sering berdiri di antara dua dunia. Di satu sisi ada bahasa teknis korporasi. Di sisi lain ada bahasa publik. Keduanya tidak selalu sama. Istilah yang sangat mudah dipahami oleh orang di dalam perusahaan belum tentu dipahami masyarakat. Data yang terasa lengkap bagi manajemen bisa saja masih menyisakan pertanyaan bagi publik. Kalimat yang sama bisa memiliki makna berbeda ketika disampaikan kepada audiens yang berbeda.
Karena itu, tugas humas bukan sekadar memindahkan informasi dari satu tempat ke tempat lain, dari korporat ke publik. Humas harus bisa menerjemahkan makna. Setelah itu barulah pesan disampaikan baik melalui rilis media, wawancara, media sosial, website perusahaan, sambutan pimpinan, dan berbagai saluran komunikasi lainnya.
Pekerjaan belum selesai setelah tombol “publish” ditekan. Humas juga perlu mengantisipasi dampak. Apa yang mungkin dipahami publik dari pesan tersebut? Pertanyaan apa yang mungkin muncul? Bagian mana yang berpotensi menimbulkan tafsir berbeda? Apakah ada pihak yang mungkin merasa dirugikan? Apakah informasi yang disampaikan sudah cukup menjawab persoalan atau justru membuka persoalan baru?.
Semakin lama berada di dunia komunikasi, saya semakin memahami bahwa pekerjaan humas sebenarnya lebih banyak berada di balik kata-kata daripada di depan kata-kata. Ada data dan fakta yang harus dijaga. Ada kepentingan yang harus dipahami. Ada kalimat yang harus ditimbang. Ada informasi yang belum waktunya disampaikan. Ada situasi yang tidak bisa dijelaskan dengan satu paragraf. Dan ada manusia-manusia di balik setiap pesan yang harus dipikirkan perasaannya, kepentingannya, sekaligus haknya untuk mendapatkan informasi yang benar. Karena itu, saya mulai melihat profesi humas dengan cara yang sedikit berbeda.
Jadi menurut saya humas yang baik bukanlah mereka yang paling banyak bicara. Bukan pula mereka yang paling pandai memoles citra perusahaan. Humas yang baik adalah mereka yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengar. Sebab komunikasi yang baik tidak selalu dimulai dari sebuah kalimat. Sering kali, ia justru dimulai dari kesediaan untuk diam sejenak, mendengarkan, memahami, lalu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya perlu disampaikan, kepada siapa, dengan cara seperti apa, dan apa yang mungkin terjadi setelah kata-kata itu terucap?
Beragam pertanyaan itu yang kemudian membuat saya akhirnya menyadari bahwa menjadi humas bukan tentang sekedar menjadi tukang bicara. Menjadi humas adalah belajar memahami manusia sebelum berbicara kepada mereka.
Kreator : Brilliant Johan Anugerah (Bejo)
Comment Closed: BAB 2 – Humas Bukan “Tukang Bicara”
Sorry, comment are closed for this post.