BAB 2: DELAPAN TAHUN DI NEGERI SALJU
Salju tidak pernah berhenti di Negeri Borealis.
Tempat yang bahkan para dewa lupa. Tempat orang mati datang untuk dilahirkan kembali.
Seraphina terbangun di atas ranjang es.
Paru-parunya terbakar dingin. Rahimnya kosong, tapi perutnya masih buncit.
Darahnya membeku di ujung jari.
“Dia masih hidup,” suara serak terdengar.
Seorang wanita tua dengan rambut seputih badai berdiri di depannya. Matanya biru seperti aurora. Di tangannya, tongkat dari tulang rusa.
“Siapa… kamu?” bisik Seraphina.
“Aku Nenek Ysra. Penyihir Salju. Dan kamu, anakku… terlambat tiga hari.”
Malam itu juga Seraphina melahirkan di atas salju.
Tidak ada bidan. Tidak ada musik. Hanya lolongan angin dan doa yang patah.
Yang pertama keluar adalah anak laki-laki. Berteriak. Kuat. Darahnya hangat, melelehkan es di bawahnya.
Yang kedua perempuan. Diam. Matanya terbuka, menatap aurora. Dari nafasnya, keluar uap berbentuk bunga es.
“Leon,” Seraphina berbisik, menyentuh pipi bayi laki-laki.
“Lyra,” lanjutnya, mencium kening bayi perempuan.
Nenek Ysra mengangkat kedua bayi itu ke langit.
“Anak darah dan salju. Mereka akan menyatukan musim.”
Delapan tahun berlalu.
Leon tumbuh jadi anak yang berlari mengejar serigala. Kulitnya selalu hangat.
Lyra tumbuh jadi anak yang berbicara dengan angin. Nafasnya selalu membentuk kristal.
Setiap malam, Seraphina mengajari mereka dua hal yang menurutnya paling penting untuk bertahan di dunia yang kejam: bagaimana caranya tetap hidup dan bagaimana caranya membenci.
“Lihat istana di selatan sana,” katanya sambil menunjuk ke arah Ardentia dari puncak gunung. “Di sana ada orang yang membunuh Ibu. Dan suatu hari, kita akan kembali.”
Tapi Leon dan Lyra saling pandang.
Mereka sudah delapan tahun mendengar cerita itu.
Dan di dalam hati kecil mereka, ada pertanyaan yang sama:
“Bagaimana kalau Ibu juga harus memaafkan?”
Malam sebelum mereka berangkat, Nenek Ysra memberikan Seraphina 3 benda:
Sebuah topeng dari es.
Sebuah kalung berisi setetes darahnya sendiri.
Dan tujuh keping kertas. Kosong.
“Isi ini dengan dendammu, anakku. Tapi ingat… salju yang terlalu lama, akan membunuhmu juga.”
Seraphina menggenggam tangan anak-anaknya.
“Besok kita pulang.”
Di kejauhan, lonceng istana Ardentia berbunyi.
Pertanda pesta musim dingin akan dimulai.
Pertanda Raja akan sendirian lagi.
Dan pertanda… badai akan datang.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 2 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.