
Kabar itu Maria sampaikan malam harinya di meja makan, sesudah piring-piring kosong, pada jam yang dulu menjadi jam cerita ayah, dan bertahun-tahun kemudian ia akan bertanya-tanya apakah pemilihan jam itu kebetulan atau bukan.
Ia menceritakan semuanya berurutan, dengan cara yang dilatih ruang sidang: telepon tiga kali, Guru Ferdi, misa arwah dan lilin tiga malam, dan kalimat itu, ada tanah yang dititipkan untuk kalian. Ia menceritakan keberatannya dan jawaban Ferdi yang menggantung. Ia menceritakan undangan itu, yang diletakkan seperti batu di tengah jalan.
Sesudah itu meja makan melakukan apa yang selalu dilakukannya: setiap orang menjadi dirinya sendiri, lebih cepat dari sadar mereka.
“Tanah?” Martha meletakkan gelasnya. “Tanah bagaimana? Papa sendiri yang bilang, berapa kali, jangan harap warisan. Kalian ingat, kan, aku tidak mengada-ada, terus sekarang tiba-tiba ada tanah? Dititipkan? Dititipkan itu bahasa hukumnya apa, Mar? Kamu yang pengacara. Dan kenapa baru sekarang? Orang meninggal baru muncul tanah, itu di sinetron saja ceritanya begitu, dan ujung-ujungnya pasti…”
“Mbak…”
“…pasti ribut. Aku cuma bilang. Pasti ribut.”
“Yang menelepon siapa?” Suara Lydia datar, dan meja itu langsung senyap, karena pertanyaan Lydia selalu berarti sesuatu.
“Ferdi. Anak Bapak Tua Nico. Yang memegang pesannya Bapak Tua Nico sendiri.”
Lydia mengangguk pelan, kepada dirinya sendiri. “Kalau mau main-main, tidak lewat situ jalannya.”
“Aku tidak bisa cuti.” Agnes berkata kepada taplak meja. “Baru habis untuk ini. Anak-anak juga ujian. Dan suamiku juga…” Ia berhenti, karena tidak ada yang meminta alasannya, dan karena itulah justru terasa perlu. “Lagi pula banyak pengeluaranku.”
“Jadi siapa yang berangkat?” tanya Martha. “Aku baru mulai semester, jadwal pasti sibuk. Lydia, kamu bisa? Kamu kan bisa mengatur-ngatur jadwalmu sendiri.”
“Bisa,” kata Lydia. “Tapi bukan aku yang ditunggu di sana.”
Ia memandang Maria ketika mengatakannya, dan tidak menjelaskan, dan tidak ada yang meminta penjelasan. Lima puluh tahun satu meja; semua orang tahu siapa yang dulu tinggal sampai cerita selesai.
“Aku berangkat,” kata Maria. Kalimat itu sudah selesai dibentuknya sejak sore, sejak berdiri di depan foto itu, dan mengucapkannya ternyata semudah meletakkan sendok tanpa bunyi. “Aku yang terima teleponnya. Aku yang akan datang.”
“Sendirian?” Martha mengangkat alis. “Perempuan, sendirian, ke kampung yang belum pernah…”
“Biar mama ikut.”
Suara itu datang dari ujung meja yang satunya, dari tempat Ibu duduk mengupas jeruk untuk tidak dimakan siapa-siapa, dan efeknya di meja itu seperti listrik padam: semuanya berhenti serentak.
“Mama mau ikut?” kata Agnes.
“Saya ikut Maria.” Ibu meletakkan jeruk itu. Tangannya tenang. “Lima puluh tahun mama jadi istri orang Manggarai. Masak kampungnya sendiri mama tidak pernah lihat.”
Kalimat itu jatuh dan baru sesudah beberapa detik mereka mendengar isinya. Martha yang pertama. “Mama juga… belum pernah ke sana? Sama sekali? Sama Papa juga tidak pernah?”
“Tidak pernah.”
“Kok bisa? Lima puluh tahun…”
“Dulu waktu pengantin baru mama sudah pernah minta.” Ibu mengambil jeruknya lagi, mengupasnya lagi, dan suaranya tetap suara yang dipakainya untuk membicarakan kue dan lampu teras. “Papamu bilang: nanti, tunggu anak-anak besar dan ada uang. Saya tunggu. Tahun berikutnya saya minta lagi. Nanti. Terus begitu. Lama-lama saya berhenti minta, dia berhenti bilang nanti.” Kulit jeruk terlepas dalam satu spiral utuh, tidak putus, keahlian lima puluh tahun. “Sekarang dia tidak bisa bilang nanti lagi.”
Tidak ada yang menjawab itu. Tidak ada yang sanggup.
Di kepala Maria, sebuah taksi di Jakarta, hujan, dan suara ayahnya yang tertawa pendek lewat hidung: Iyo. Nanti.
Rupanya bukan ia sendiri yang punya percakapan yang belum selesai dengan laki-laki itu. Rupanya kata itu, nanti, sudah lima puluh tahun bekerja di rumah ini, diwariskan seperti aroma, dari suami kepada istri, dari ayah kepada anak, tanpa ada yang tahu sedang mewariskannya.
“Selasa depan,” kata Maria. “Aku urus tiketnya besok.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, meja makan riuh sampai larut. Martha mendikte daftar oleh-oleh dan larangan-larangan. Lydia menuliskan di kertas, dengan tulisan kecil-kecil yang rapi, nama dan nomor telepon seseorang di Labuan Bajo; kenalan, sopir, orangnya jujur , dan menggesernya ke seberang meja tanpa upacara. Di ujung meja, Ibu mengupas jeruk ketiganya, dan Maria memperhatikan bahwa malam itu jeruk-jeruk itu akhirnya dimakan.
***
Seminggu itu berlalu seperti dokumen yang diparaf halaman demi halaman.
Kantor melepasnya dua minggu dengan keheranan yang sopan. Maria belum pernah mengambil cuti lebih dari empat hari berturut-turut, dan rekan-rekannya menyimpulkan sendiri bahwa ini pasti bagian dari berduka, dan Maria membiarkan kesimpulan itu bekerja untuknya. Berkas-berkas dialihkan. Dua sidang ditunda. Posko Sabtu ketiga dititipkan ke rekan yang berutang budi.
Dari Ratna datang satu pesan panjang tengah malam, dibuka dengan maaf mengganggu, Bu: suaminya tidak kembali lagi sejak malam itu, Mbak Wulan sudah datang, sudah dibuatkan laporan, anak-anak sudah masuk sekolah lagi. Di ujungnya, sesudah terima kasih yang bertingkat-tingkat: Bu Maria hati-hati di jalan. Kata Mbak Wulan, Ibu mau pergi jauh. Maria membalasnya pendek dan hangat, dan baru sesudah mengirimnya ia sadar telah menulis kata itu tanpa berpikir: iya, saya mau pulang kampung dulu.
Pulang. Kata ayahnya. Sudah mulai menular.
Di Malang, persiapan Ibu berjalan dengan logika yang tidak selalu bisa diikuti anak-anaknya. Satu koper isinya separuh oleh-oleh: kue lapis yang tahan perjalanan, kopi bubuk – bawa kopi ke Flores itu seperti bawa air ke laut, Ma, kata Martha lewat video call, dan Ibu menjawab bahwa justru itu sopan-santunnya, sarung-sarung baru, gula, teh, dan sekaleng biskuit yang sejak zaman Maria kecil isinya selalu biskuit sungguhan, bukan rengginang.
Dan satu bungkusan kecil, dibalut kain batik, diikat tali rapat, yang tidak masuk koper.
Maria melihatnya pertama kali di meja kamar Ibu, sebesar dua kepalan tangan, padat. Ketika ia bertanya, Ibu sedang menghitung obat-obatan ke dalam kotak hari, dan jawabannya datang tanpa menoleh:
“Titipan.”
“Titipan siapa?”
“Nanti kamu juga tahu.”
Nada itu Maria kenal. Nada pintu yang ditutup, hanya saja yang ini ditutupnya pelan, seperti orang menutup pintu kamar anak yang sudah tidur. Ia tidak bertanya lagi. Di rumah ini, ia mulai memahami, bukan ayahnya saja yang tahu cara menyimpan sesuatu bertahun-tahun.
Malam terakhir sebelum berangkat, Maria memeriksa tasnya sendiri dan menemukan bahwa tanpa merencanakannya ia telah mengemas seperti berangkat sidang: map plastik berisi fotokopi KTP dan kartu keluarga, akta kelahiran, akta kematian ayah yang masih baru dan tajam lipatannya, surat nikah orang tuanya. Ia memandangi map itu lama. Di seberang laut sana menunggu sesuatu yang tidak ia ketahui bentuknya, dan inilah caranya bersiap: dengan dokumen. Ia hampir tertawa. Jangan tunggu orang lain mengerjakan sesuatu yang bisa kamu kerjakan sendiri, tetapi tidak pernah ada yang mengajarinya apa yang harus dikerjakan kalau yang menunggu di seberang adalah hal yang tidak bisa difotokopi.
***
Pesawat itu menurunkan sayapnya dan laut naik ke jendela: biru yang bertingkat-tingkat, hijau di gigir pulau-pulau, pulau-pulau kecil bertaburan seperti remah. Ibunya, yang sepanjang penerbangan memangku bungkusan batik itu seperti memangku bayi, mencondongkan badan ke jendela dan tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama.
“Papamu,” katanya akhirnya, kepada kaca, “dulu cerita, dari kampungnya jalan kaki dulu turun gunung, nyeberang sungai, baru naik truk, baru sampai laut. Katanya pertama kali lihat laut umur tujuh belas.” Ia diam lagi. “Saya pikir dia melebih-lebihkan.”
Di Labuan Bajo, sopir kenalan Lydia sudah menunggu dengan kertas bertuliskan IBU MARIA dalam huruf besar. Laki-laki muda bernama Sil, yang memuat koper-koper sambil memastikan tiga kali bahwa mereka sudah makan, dan yang sepanjang perjalanan memanggil Ibu dengan mama begitu saja, tanpa berkenalan resmi, seolah itu jabatan yang berlaku umum.
Lalu jalan itu mulai menanjak, dan tidak berhenti menanjak.
Maria mengenal perjalanan darat sebagai garis lurus antara dua rapat. Yang ini bukan garis; yang ini tulisan tangan. Jalan itu menikung mengikuti punggung bukit demi punggung bukit, naik terus dengan kesabaran orang tua, dan setiap tikungan membuka lembah baru yang lebih dalam dari sebelumnya: sawah di dasar-dasar lembah, atap seng berkilat jauh di bawah, dan pohon-pohon yang makin ke atas makin rapat. Udara di ventilasi mobil berubah rasa. Sil mematikan pendingin dan membuka jendela, dan yang masuk adalah udara yang belum pernah dihirup Maria seumur hidupnya namun anehnya sudah pernah diceritakan kepadanya: dingin, basah, berbau tanah dan daun, dengan sesuatu yang manis dan gelap di dasarnya.
“Sudah masuk hujan di atas,” kata Sil. “Kalau sore begini, Ruteng pasti kabut.”
Kabut itu datang tidak seperti yang Maria bayangkan; bukan turun, melainkan menunggu. Di satu tikungan udara masih terang; di tikungan berikutnya dunia tinggal lima puluh meter, dan pohon-pohon di tepi jalan berdiri setengah badan seperti orang-orang yang mengantar. Tempat kabut turun pagi dan sore. Suara ayah, meja makan, piring-piring kosong. Lima puluh tahun kalimat itu adalah dongeng; sekarang kalimat itu ada di kaca depan, dan wiper bergerak dua kali membersihkannya, dan kalimat itu tetap di sana.
Ibu tertidur menjelang Ruteng, kepalanya miring ke jendela, kedua tangannya tetap di atas bungkusan batik itu. Maria memandangi keduanya bergantian: ibunya, dan tanah yang mengalir mundur di luar kaca, merah tua di tebing-tebing bekas longsoran kecil, merah yang persis seperti gerabah.
Ia mencoba merasakan sesuatu. Darah, mungkin. Panggilan. Yang ia rasakan adalah yang selalu dirasakannya di wilayah yang tidak ia kuasai bahasanya: waspada, dan sangat, sangat jauh dari rumah.
Ayahnya menyebut arah ini pulang. Maria memandang kabut yang membuka dan menutup di depan lampu mobil dan berpikir: kita lihat saja, Pa.
***
Kampung itu muncul sesudah kabut, sesudah jalan aspal menyerah menjadi jalan batu, sesudah Sil tiga kali bertanya arah kepada orang-orang yang jawabannya selalu diakhiri telunjuk ke atas, dan kemudian tiba-tiba saja mereka sudah di dalamnya: rumah-rumah kayu beratap seng dan beberapa beratap ijuk, berdiri mengelilingi sebuah lapangan rumput yang di tengahnya tumbuh pohon beringin tua dan tersusun batu-batu datar melingkar, dan di ujung lapangan itu, satu rumah yang lebih besar dari semua rumah, kerucut atapnya menjulang seperti sesuatu yang bukan dibangun melainkan tumbuh.
Dan orang. Orang di mana-mana.
Kabar rupanya berjalan lebih cepat dari mobil. Anak-anak berlarian di sisi mobil sejak rumah pertama, dan ketika pintu terbuka, yang pertama menyambut Maria adalah bau itu, asap kayu, tanah basah, dan di bawah semuanya, samar dan tidak mungkin salah: kopi yang dijemur.
Yang kedua adalah kenyataan bahwa kerumunan itu tidak bergerak ke arahnya.
Kerumunan itu bergerak ke arah Ibu.
Mama-mama tua sudah mengepung pintu mobil sebelah sana bahkan sebelum Ibu selesai turun. Tangan-tangan meraih tangannya. Pipinya dicium bergantian. Dan nama itu: Louis, Louis, naik dari kerumunan seperti asap, disebut sambil menangis, disebut sambil memeluk perempuan Jawa yang belum pernah sekali pun menginjak kampung ini tetapi yang lima puluh tahun menjadi istri anak kampung ini. Seorang nenek memegangi kedua tangan Ibu dan berbicara panjang, berlagu, meratap, air matanya jatuh tanpa dihalangi, dan Ibu, yang tidak mengerti sepatah kata pun, mengangguk dan ikut menangis, karena dukacita rupanya tidak membutuhkan kamus.
Maria berdiri di sisi mobil yang satunya.
Tangannya sudah setengah terangkat untuk menyalami. Tidak ada yang datang menyalami. Anak-anak berdiri agak jauh dan memandanginya, bukan memandang tamu; memandang sesuatu yang belum diputuskan namanya. Sekali ia melangkah mendekat ke kerumunan, dan kerumunan itu memberinya jalan dengan sopan, lalu menutup lagi di belakangnya, di sekeliling ibunya, seperti air.
Di atas kepalanya, dari tengah kerumunan, sebuah suara bertanya kepada suara yang lain:
“Ini anak de Bapa Louis, ite?”
Bukan kepada Maria. Tentang Maria. Dan jawabannya datang dari arah lain, ditimpali, diteruskan. Kata anak Louis berpindah dari mulut ke mulut memutari kerumunan seperti dulu gelas kopi memutari meja makan, dan tidak sekali pun berhenti untuk menjadi namanya.
Di dekat lututnya, seorang anak perempuan kecil menarik-narik sarung ibunya, memandang Maria dari bawah dengan keseriusan penuh anak lima tahun, dan bertanya dengan suara yang jelas terdengar:
“Mama, dia orang Jakarta?”
Ibunya menoleh, tertawa kecil yang meminta maaf, membisikkan sesuatu. Maria tersenyum kepada anak itu, dan senyumnya sampai; anak itu tersenyum juga sebelum bersembunyi di balik sarung. Yang tidak sampai ke mana-mana adalah yang di belakang senyum itu. Orang Jakarta. Dari mulut sekecil itu, tanpa niat apa-apa, kampung ini sudah memutuskan alamatnya.
“Weta! Weta Maria!”
Laki-laki yang menerobos kerumunan itu tidak perlu memperkenalkan diri; suaranya sudah lebih dulu dikenal telinganya daripada wajahnya oleh mata. Guru Ferdi ternyata bertubuh sedang, rambutnya pendek rapi mengombak, berkemeja batik yang jelas kemeja terbaiknya, dan ia mengguncang tangan Maria dengan dua tangan sekaligus. Satu-satunya orang di lapangan itu yang tahu namanya, pikir Maria, dan ia mengenalnya dari telepon, bukan dari darah, lalu berbalik kepada Ibu dan tiba-tiba menjadi formal, membungkuk, memanggil mama dengan nada yang lain sama sekali. Detik berikutnya kerumunan itu terbelah dan menelan mereka: tangan-tangan yang menyalami, mama-mama yang mencium pipi Ibu bergantian sambil menyebut nama Louis, seorang nenek yang memegangi lengan Maria dan berbicara panjang dalam bahasa yang tidak dipahaminya sepatah pun kecuali bahwa itu adalah dukacita, anak-anak yang berkerumun ikut dalam keriuhan.
Maria menjawab dalam bahasa Indonesia, terima kasih, iya, saya anaknya, terima kasih banyak, dan jawaban-jawaban itu diterima dengan anggukan hangat lalu dibalas dalam bahasa Manggarai, panjang, bersungguh-sungguh, langsung kepada matanya, seolah kesungguhan bisa menggantikan kamus. Mereka tidak sedang menguji. Mereka hanya lupa. Berkali-kali, dengan tulus, orang-orang ini lupa bahwa anak Louis tidak mengerti bahasa Louis.
Rumah Bapak Tua Nico berdiri paling dekat dengan rumah besar berkerucut itu. Di terasnya, prosesi menunggu: sebuah tikar terbentang, sebotol tuak, dan seekor ayam jantan putih yang dipegang seorang laki-laki tua dengan cara memegang yang menandakan ayam itu bukan sekadar ayam. Ferdi berbisik cepat di sisi Maria — sebentar, kepok dulu, sambutan adat, mama dan weta berdiri di sini saja, tidak usah bikin apa-apa, terima saja — dan kemudian laki-laki tua itu mulai berbicara, berlagu, kalimat-kalimat yang berbalas dari kerumunan, dan meskipun Maria tidak memahami satu kata pun, ia memahami bentuknya: ini pintu, dan pintu ini sedang dibukakan untuk mereka.
Baru sesudah itu, di dalam rumah, di kursi rotan yang ditempatkan menghadap pintu, Maria melihatnya: laki-laki yang sangat, sangat tua, yang duduk dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat, yang rambut putihnya tinggal selapis, dan yang matanya, keruh oleh umur, bergerak mencari di antara orang-orang yang masuk, melewati Ferdi, melewati Ibu, dan berhenti di wajah Maria seperti kunci menemukan lubangnya.
Ruangan itu senyap sendiri.
Bapak Tua Nico mengangkat satu tangan dari tongkatnya. Tangan itu gemetar dalam perjalanan, dan Ferdi menuntun Maria mendekat, dan tangan tua itu mendarat di pipinya, kering dan ringan seperti daun, dan memutar wajahnya pelan ke kiri, ke kanan, ke arah cahaya jendela.
“Muka si Alo,” kata orang tua itu. Suaranya seperti jalan batu. Ia mengatakannya sekali lagi, kepada seisi ruangan, seperti putusan: “Ini muka si Alo.”
Dan kemudian laki-laki sembilan puluh tahun itu menangis, tanpa suara, tanpa mengubah wajah, hanya air yang turun mengikuti parit-parit keriputnya, sambil tetap memegangi wajah anak dari adiknya, dan berkata dalam bahasa yang untuk kalimat ini dipilihnya bahasa Indonesia, pelan, satu kata demi satu kata, seakan sudah lima puluh tahun kalimat itu menunggu giliran diucapkan:
“Akhirnya pulang juga anak Bapa Louis.”
Di belakangnya, Maria mendengar ibunya menarik napas, pendek, tertahan, bunyi kain yang dilipat.
Dan Maria, dengan pipi di dalam telapak tangan setua itu, dengan mata setua itu menatap wajahnya seperti menatap sesuatu yang akhirnya kembali, merasakan dua hal sekaligus dan tidak sanggup memisahkannya: haru yang naik sampai ke tenggorokan, dan, di bawahnya, pelan, kesadaran bahwa yang sedang dipeluk ruangan ini pun bukan dirinya. Yang mereka kenali adalah wajah ayahnya, yang rupanya tiba di kampung ini lebih dulu daripada dirinya. Sepanjang sore ia sudah menjadi anak Louis, orang Jakarta, weta dari Jawa, dan sekarang muka Alo. Semua nama itu benar. Tidak satu pun nama itu Maria.
Malam itu Maria belajar bahwa di kampung ini, sebuah rumah bekerja seperti tubuh: ruang depan adalah wajahnya, dan dapur adalah jantungnya, dan keduanya berdetak dengan aturan yang berbeda.
Di ruang depan rumah Bapak Tua Nico, para lelaki duduk melingkar. Ferdi, para om dan sepupu yang namanya datang terlalu banyak sekaligus untuk disimpan, tetua-tetua kampung yang datang satu per satu sepanjang malam — dan tuak berpindah tangan, dan suara mereka naik-turun dalam gelombang panjang: dukacita, lalu kenangan, lalu tawa yang meledak tiba-tiba dan reda sendiri, lalu dukacita lagi. Nama Louis terus muncul di tengahnya seperti batu di dasar sungai.
Perempuan-perempuan ada di dapur, dan ke dapurlah Maria dan ibunya dibawa.
Dapur itu berlantai tanah yang dikeraskan, beratap asap, dengan tungku api. Maria teringat meja makan, teringat suara ayahnya tidak pernah benar-benar padam. Belasan perempuan bekerja dalam koreografi tanpa komando: yang menanak, yang mencincang, yang menggoreng, yang menggendong anak sambil mengaduk. Dan istri Ferdi, Yustina, perempuan dengan tawa yang datang sebelum kalimatnya, memerintah tanpa terdengar memerintah, persis seperti seseorang yang Maria kenal seumur hidupnya.
Ibu, ajaibnya, larut dalam hitungan menit.
Tidak ada bahasa yang sama, tidak sepenuhnya, tetapi rupanya ada bahasa lain: Ibu mencicipi kuah dari sendok kayu yang disodorkan, memejamkan mata, mengangkat ibu jari, lalu dengan bahasa isyarat dan tiga patah kata meminta izin menambahkan sesuatu. Sepuluh menit kemudian mama-mama itu bergantian mencicipi kuah versi baru sambil berseru-seru, dan seseorang menepuk-nepuk punggung Ibu, dan Ibu tertawa, tertawa yang bunyinya belum pernah Maria dengar sejak ayah meninggal, dan mungkin sejak lama sebelum itu.
Lima puluh tahun perempuan itu menjadi istri Manggarai di tanah Jawa, pikir Maria, dan dua jam sudah cukup baginya untuk pulang. Dapur mengenalinya. Dapur di mana-mana rupanya satu bangsa.
Maria sendiri duduk di bangku pendek dekat tungku, memegang gelas kopi yang disorongkan kepadanya tanpa ditanya, dan mendapati dirinya berada di posisi yang paling tidak ia kuasai di dunia ini: tidak tahu harus mengerjakan apa.
Di Jakarta ia selalu tahu harus mengerjakan apa. Itu profesinya: tahu harus mengerjakan apa. Di dapur ini tangannya menganggur di pangkuan, dan setiap tawaran bantuannya dijawab dengan tepukan di lutut dan duduk saja, weta, duduk saja. Bukan penolakan yang dingin, justru sebaliknya: kehormatan. Tamu tidak bekerja. Tetapi kehormatan itu memisahkannya seperti kaca. Ia bisa melihat semuanya. Ia tidak bisa masuk.
Percakapan dapur mengalir dalam bahasa Manggarai, deras, hangat, bercabang-cabang, dengan tawa yang pecah di tempat-tempat yang tidak bisa ia duga. Sesekali seseorang teringat, menoleh kepadanya, menerjemahkan satu kalimat; ini mama bilang, dulu bapamu paling suka ini sayur, dan Maria mengangguk, bertanya satu hal, dijawab, dan kemudian sungai itu menutup lagi di atasnya dan mengalir terus tanpa dia. Mereka tidak sedang mengusirnya. Maria tahu persis bedanya; membaca ruangan adalah pekerjaannya. Mereka hanya lupa. Dan entah kenapa, lupa yang setulus itu lebih perih daripada diusir; orang yang diusir setidaknya diperhitungkan.
Sekali, kopi di gelasnya tandas dan ia bangkit hendak mengambil sendiri dari teko besar di ujung tungku, dan tiga perempuan sekaligus bergerak mendahuluinya, dan gelasnya kembali penuh sebelum ia sempat menyentuh teko, dan Yustina tertawa dan berkata sesuatu yang membuat seisi dapur ikut tertawa. Ferdi, yang kebetulan masuk mengambil termos, menerjemahkan sambil lalu: “Istri saya bilang, anak Jakarta itu tangannya cepat sekali, seperti mau bayar.”
Semua tertawa. Maria ikut tertawa. Di dalam tawanya sendiri ia mendengar gemanya: anak Jakarta. Bukan anak Louis. Bahkan di sini, di jantung rumah ini, alamatnya tetap yang itu. Dua hari, pikirnya. Baru dua jam. Sabar.
Jauh sesudah tengah malam, di kamar yang disiapkan untuk mereka, kasur terbaik rumah itu, jelas dari cara seprainya masih berbekas lipatan toko. Ibunya berbaring memunggunginya dan berkata kepada dinding, hampir sudah tertidur:
“Papamu itu bohong.”
Maria menunggu.
“Katanya masakan kampungnya tidak ada yang enak. Makanya dia tidak pernah rindu.” Ibu menarik selimut sampai bahu. “Bohong.. dia bohong supaya tidak usah menjelaskan.”
Beberapa menit kemudian napas Ibu sudah panjang dan teratur, dan Maria berbaring menatap gelap, mendengarkan suara-suara terakhir dari ruang depan, tuak terakhir, tawa terakhir, sebuah lagu yang dinyanyikan setengah suara oleh dua-tiga lelaki tua, dan berpikir tentang seorang laki-laki yang selama lima puluh tahun berbohong tentang hal sekecil kuah, supaya tidak usah menjelaskan hal sebesar apa.
***
Maria terbangun sebelum terang, oleh ayam yang jumlahnya tidak masuk akal.
Ibu masih tidur, satu tangan di atas tempat bungkusan batik itu semalam diletakkan. Maria keluar lewat pintu samping, menutupnya pelan dengan cara yang diajarkan rumah masa kecilnya.
Kabut. Bukan kabut yang datang; kabut yang memang tinggal di situ. Lapangan hilang separuh. Beringin di tengahnya tinggal bayangan yang lebih pekat dari sekitarnya, dan batu-batu datar di bawahnya basah, gelap, seperti punggung kerbau yang sedang tidur. Dingin masuk lewat lengan baju dan tinggal di situ.
Dan kampung itu sudah bergerak.
Perempuan-perempuan turun dari arah lereng membawa kayu bakar di punggung, terikat rapi, seimbang, langkah mereka pendek dan pasti di jalan yang menurun. Dua anak perempuan lewat menenteng jeriken air, satu di tiap tangan, tubuh kecil mereka miring bergantian mengimbangi. Laki-laki berjalan ke arah yang berlawanan, parang di pinggang, satu-dua orang, tanpa bergegas, karena ladang tidak lari. Asap mulai berdiri dari dapur-dapur, lurus di udara yang belum berangin. Di suatu tempat seseorang menyapu halaman dengan sapu lidi, dan bunyinya sampai jauh sekali.
Tidak ada yang memberi perintah. Tidak ada yang bertanya harus mengerjakan apa. Setiap tubuh tahu tugasnya, jam berapa, ke arah mana, membawa apa, pengetahuan yang tidak perlu diumumkan karena sudah ada di dalam, seperti aturan sendok, seperti cara mematikan lilin dengan dua jari basah.
Maria berdiri di teras dengan kedua tangan kosong.
Ia bergeser selangkah, karena ternyata berdiri di jalur perempuan-perempuan kayu itu. Perempuan tertua di antara mereka menoleh sambil lewat, tersenyum, mengangguk satu kali. sapaan yang tidak membutuhkan kata dan tidak menyisakan tempat untuk dibalas dengan apa pun selain anggukan juga. Maria mengangguk. Beberapa langkah kemudian ia bergeser lagi, karena tempat berdirinya yang baru ternyata jalur anak-anak jeriken.
Di kampung ayahnya, bahkan berdiri pun ia belum tahu di mana.
Kabut menipis dari atas, pelan, seperti diangkat. Lereng timur muncul sepotong demi sepotong. Perempuan terakhir hilang di kelokan, asap-asap tegak, ayam-ayam, dan lapangan itu kosong lagi.
Maria masih di teras.
Ia hanya berdiri.
***
Wasiat itu dibuka sorenya, dan cara membukanya tidak seperti apa pun yang pernah Maria hadiri, padahal membuka isi kepala orang yang sudah meninggal adalah bagian dari pekerjaannya.
Tidak ada meja. Tidak ada map. Ruang depan rumah Bapak Tua Nico dikosongkan dari perabot dan diisi tikar, dan orang-orang duduk melingkar di atasnya: para tetua, para om, Ferdi, beberapa sepupu yang datang dari kampung-kampung sebelah, dan Maria serta ibunya yang ditempatkan di sisi Bapak Tua Nico, di tempat yang jelas bukan tempat sembarang. Perempuan-perempuan lain duduk di lapis luar, dekat pintu dapur, hadir dan tidak hadir sekaligus. Maria mencatat itu dengan sudut matanya, dan menyimpan catatannya.
Bapak Tua Nico berbicara dalam bahasa Manggarai, pelan, panjang, dengan jeda-jeda yang tidak seorang pun berani mengisi, dan Ferdi menerjemahkan dengan setengah suara di sisi Maria. Ada kalanya orang tua itu berpindah sendiri ke bahasa Indonesia, dan Maria segera memahami polanya: bahasa Manggarai untuk kampung, bahasa Indonesia untuk pesan-pesan yang ia ingin sampai ke telinga anak-anak Louis tanpa perantara.
“Adik saya Louis,” kata orang tua itu, dalam bahasa Indonesia, kedua tangan di atas tongkat, “waktu berangkat dulu, menyerahkan semua bagiannya. Sawahnya, kebunnya. Semua dia bagi ke saudara-saudara. Dia bilang: saya tidak akan kembali, jangan tunggu saya, tanah ini harus ada yang kerja.” Jeda. Di luar, ayam. “Semua kami terima. Satu yang dia tidak serahkan.”
Ia mengangkat satu tangan, dan Ferdi bangkit, masuk ke kamar, dan kembali membawa sebuah tabung bambu sepanjang lengan, tua, mengilap oleh tangan dan tahun. Dari dalamnya keluar gulungan kertas-kertas bergaris, kertas buku tulis, yang ketika dibentangkan di tikar terlihat penuh oleh tulisan tangan yang tegak lurus. Tulisan yang membuat perut Maria turun: tulisan yang sama dengan surat izin les lima empat menit yang terlambat.
“Ini dia yang tulis, di sini, di rumah ini, malam sebelum dia berangkat.” Bapak Tua Nico tidak memandang kertas itu; ia jelas sudah tidak membutuhkannya. “Sebidang di lereng timur. Batasnya batu besar di atas, kali kecil di bawah, sampai ke pohon-pohon kemiri. Bagian itu dia pisahkan. Dia bilang ke saya: kakak, yang ini jangan dibagi. Yang ini untuk anak-anak saya.”
Gerak kecil melintasi lingkaran itu, bukan suara, hanya punggung-punggung yang berpindah duduk.
“Saya tanya dia waktu itu,” lanjut orang tua itu, “kau mau jadi bruder, bruder tidak kawin, anak dari mana. Dia bilang: nanti ada.” Sesuatu yang hampir senyum lewat di wajah tua itu. “Lalu dia bilang begini, ini yang dia minta saya hafal, dan sudah lebih lima puluh tahun saya hafal: Tanah ini jangan dijual, jangan dibagi, jangan ditukar. Ini untuk anak-anak saya, supaya mereka punya alasan pulang.”
Kalimat itu selesai dan tinggal di tengah lingkaran, dan tidak ada yang menyentuhnya untuk waktu yang lama.
Supaya mereka punya alasan pulang. Maria duduk sangat diam. Laki-laki itu, yang menutup pintu warisan dengan telunjuk mengetuk meja, yang bilang tidak ada, kalian cari sendiri, laki-laki itu, lebih dari lima puluh tahun lalu, sebelum istrinya, sebelum anak-anaknya, sudah menyisihkan satu-satunya hal yang tidak ia serahkan, dan menamainya bukan warisan, melainkan alasan.
Suara pertama yang memecah keheningan datang dari seberang lingkaran: laki-laki setengah baya berwajah keras, yang sejak kemarin Maria lihat hadir di mana-mana tanpa sekali pun mendekat, dan yang oleh Ferdi kemarin diperkenalkan sepintas sebagai Om Kornelis, sepupu dari garis lain.
“Kami hormat sama pesan itu.” Bahasa Indonesianya sengaja, tertata, ditujukan kepada lingkaran dan bukan kepada Maria. “Puluhan tahun kampung ini jaga pesan itu, tidak ada yang ganggu. Tapi sekarang saya mau tanya, karena hari ini semua duduk di sini. Pesan itu bilang: untuk anak-anak Louis. Iyo. Tapi Louis punya anak perempuan semua.” Ia membiarkan kalimat itu berdiri sendiri sebentar, dan lingkaran itu tahu persis apa yang sedang didirikannya. “Kita semua tahu adat kita. Anak perempuan itu kawin keluar, ikut suaminya, tanahnya ikut keluarga suaminya. Tanah leluhur jalan lewat anak laki-laki. Ini bukan saya yang bikin aturan. Ini aturan yang kita semua punya. Jadi saya cuma tanya: pesan adik itu, mau ditaruh di mana dalam aturan kita?”
Beberapa kepala mengangguk pelan di sisi-sisi lingkaran, tidak banyak, tetapi Maria menghitungnya, karena menghitung yang seperti itu adalah profesinya.
Lalu lingkaran itu mulai berbicara, bersahut-sahutan, dalam bahasa Manggarai, dan Ferdi menerjemahkan sepotong-sepotong dengan jeda yang makin panjang, sampai akhirnya ia hanya mengangkat tangan sedikit: sebentar, weta. Dan Maria duduk di tengah lingkaran itu dengan kesadaran yang dingin dan jernih: yang sedang dibicarakan adalah tanahnya, haknya, mungkin hidupnya beberapa tahun ke depan, dan pembicaraan itu berlangsung dalam bahasa yang harus menyeberangi mulut orang lain dulu sebelum sampai kepadanya. Ia orang yang paling berkepentingan di ruangan ini, dan yang paling terakhir mengerti.
Panas naik dari perutnya ke dadanya dengan kecepatan yang mengejutkannya sendiri. Ia mengenali sensasi ini: ruang sidang, dalil yang keliru, keinginan berdiri. Sepuluh argumen tersusun sendiri di kepalanya dalam dua detik, hukum waris nasional, putusan MA, konstitusi kalau perlu, dan tepat ketika bibirnya terbuka, ia merasakan tangan ibunya mendarat di lututnya. Ringan saja, tidak menekan. Tapi Maria tahu maksudnya. Maria menutup mulutnya.
Yang menjawab adalah tongkat itu. Sekali. Ketukannya di lantai papan tidak keras, tetapi mengubah udara ruangan. Bapak Tua Nico mengangkat kepalanya dan memandang Kornelis lama, dan ketika bicara, ia kembali ke bahasa Manggarai, dan kalimatnya pendek, dan Ferdi menerjemahkannya nyaris berbisik:
“Kata bapa: pesan Louis dititipkan ke saya, bukan ke adat. Selama saya hidup, pesan itu berdiri. Soal aturan, ia bilang, aturan kita juga bilang: musyawarah dulu, baru bicara. Nanti ada waktunya kampung duduk bicara ini. Bukan hari ini. Hari ini anak-anak Louis datang, dan kampung ini menerima mereka. Titik.”
Kornelis menunduk sedikit, kepada Nico, jelas bukan kepada isi putusannya, dan lingkaran itu bergerak lagi, dan tuak mulai berpindah, dan urusan resmi melebur menjadi urusan makan. Tetapi Maria sudah melihat apa yang perlu dilihatnya: retakan itu nyata, retakan itu punya nama dan wajah, dan retakan itu sabar, jenis yang paling harus diwaspadai.
“Nanti ada waktunya kampung duduk bicara ini,” bisiknya menirukan, kepada Ferdi, ketika piring-piring mulai beredar. “Maksudnya apa?”
Ferdi menatap piringnya sebentar. “Maksudnya nanti ada musyawarah adat, Weta. Lonto léok. Duduk melingkar.” Ia menyendok nasi, dan menambahkan dengan nada orang yang sudah pernah menonton pertunjukannya: “Dan waktu itu datang, Weta sebaiknya sudah siap.”
***
Mereka berjalan ke tanah itu keesokan paginya, sebelum matahari tinggi: Maria, Ibu, Ferdi, dan dua anak Ferdi yang berlarian mendahului lalu menunggu, mendahului lalu menunggu, seperti anjing gembala.
Jalannya jalan setapak, turun dulu memotong kali kecil yang airnya sedingin es dan sejernih tidak ada, lalu naik lagi menyusuri lereng timur, dan sepuluh menit pertama sudah cukup untuk membuat sepatu kets Maria menyerah pada kenyataan: tanah merah itu bukan pemandangan. Tanah merah itu lengket, hidup, naik ke sol, ke sisi sepatu, ke ujung celana. Menandai. Ibu, yang memakai sandal jepit pinjaman Yustina, berjalan lebih tenang dari yang anak-anaknya kelak akan percaya bila diceritakan, dan menolak dipegangi di bagian-bagian licin dengan satu gerakan tangan yang sama persis seperti gerakan menolak obat merah milik seseorang.
“Dari batu itu,” kata Ferdi akhirnya, menunjuk ke atas lereng, ke sebongkah batu besar berwarna gelap yang duduk di rumput seperti sesuatu yang dijatuhkan, “sampai kali yang kita lewat tadi. Ke samping sampai kemiri-kemiri itu. Ini semua, Weta. Ini tanahnya.”
Maria berdiri, dan memandang.
Lereng itu menghadap timur, ke barisan bukit yang lapis demi lapis memucat ke arah cahaya, dengan kabut tipis yang masih tersangkut di lembah-lembahnya seperti kapas di duri. Dan lereng itu, Maria membutuhkan beberapa detik untuk memercayai yang dilihatnya, lereng itu tidak kosong.
Kopi.
Pohon-pohon kopi berbaris mengikuti kontur, tua, setinggi orang, dengan batang-batang yang dipangkas rapi dan tanah di sekitar akarnya bersih dari gulma. Di sela-selanya berdiri pohon-pohon penaung yang jelas ditanam, bukan tumbuh sendiri. Beberapa dahan masih memerah oleh buah yang belum dipetik. Ini bukan hutan yang mengambil kembali tanah tak bertuan. Ini kebun. Kebun yang dirawat, yang sedang dirawat, oleh tangan yang tahu apa yang dikerjakannya, minggu demi minggu, dan sudah lama sekali.
“Nara.” Suara Maria pelan. “Lima puluh tahun tanah ini menunggu. Tapi ini… ada yang kerja ini. Siapa yang merawat kebun ini?”
Ferdi memandang barisan kopi itu, dan untuk pertama kalinya sejak Maria mengenalnya, laki-laki yang kalimatnya selalu siap itu membutuhkan waktu.
“Itu, Weta,” katanya akhirnya, “itu cerita yang bukan saya punya untuk diceritakan. Nanti. Satu-satu.”
Dan sebelum Maria bisa mendesak, ia pasti akan mendesak; mendesak adalah profesinya, ibunya berjalan melewati mereka berdua, masuk ke antara barisan kopi, menunduk sekali untuk lewat di bawah dahan, dan berhenti di sepetak yang terbuka di tengah lereng. Di sana, perempuan itu berdiri diam sebentar memandang bukit-bukit. Lalu ia berjongkok, meletakkan tasnya, dan mengeluarkan bungkusan batik itu.
Talinya dibuka tanpa tergesa. Kain batik terkulai, dan di dalamnya: tanah. Tanah kering berwarna cokelat muda, tanah Jawa, tanah yang Maria kenali seketika sebab tiga minggu lalu ia berdiri di sampingnya ketika tanah itu masih berupa gundukan basah dengan papan nama sementara dan hujan bunga kamboja.
Tanah dari makam ayah.
“Papamu tidak sempat,” kata Ibu. Ia tidak memandang siapa-siapa; ia sedang berbicara kepada lereng itu, atau kepada tanah di pangkuannya, atau kepada seseorang yang tidak kelihatan. “Lima puluh tahun bilang nanti. Ya sudah. Sekarang saya yang antar.”
Ia menuangkan tanah itu ke tanah merah, pelan, dari kedua telapak tangan, seperti menuang beras, dan dengan jari-jarinya yang sudah lebih dari lima puluh tahun mengerjakan segala hal untuk rumah itu, ia mencampurnya: cokelat muda ke dalam merah tua, Malang ke dalam Manggarai, sampai tidak bisa lagi dibedakan mana yang datang dan mana yang menunggu.
“Sudah,” katanya kemudian, kepada lereng itu. “Sudah pulang kamu.”
Di belakangnya, Ferdi membuat tanda salib. Kedua anaknya, yang entah sejak kapan berhenti berlarian, berdiri sangat dekat satu sama lain. Dan Maria, Maria berdiri di atas tanah warisannya, tanah yang disisihkan untuknya sebelum ia lahir, tanah yang seharusnya menjadi jawaban dari teka-teki tiga minggu ini, dan mendapati bahwa yang berdiri di sana bukanlah pewaris yang menang perkara.
Yang berdiri di sana adalah seorang anak yang menonton ibunya memulangkan ayahnya, di tanah yang belum tentu boleh ia miliki, di kampung yang baru dua hari mengenalnya sebagai anak Louis dan belum sekali pun sebagai Maria, dengan kebun kopi yang dirawat tangan tak bernama dan pertanyaan-pertanyaan yang setiap jawabannya melahirkan dua pertanyaan baru.
Tanah merah menempel di sepatunya, naik sampai mata kaki, dan tidak akan pernah benar-benar hilang dari sepatu itu; berminggu-minggu kemudian, di Jakarta, ia masih akan menemukan serbuknya di sela-sela sol, merah tua, seperti gerabah, seperti sesuatu yang sudah memutuskan untuk ikut.
***
Malam terakhir sebelum pembicaraan-pembicaraan berikutnya, sebab semua orang sudah mengisyaratkan bahwa akan ada pembicaraan-pembicaraan berikutnya, Maria duduk sendirian di teras rumah Bapak Tua Nico, dengan gelas kopi yang lagi-lagi terisi tanpa ia minta.
Kampung itu tidur lebih pagi dari kota mana pun yang pernah ia tinggali, dan lebih tidak sunyi: anjing bersahutan dari lereng ke lereng, serangga-serangga menganyam suara di segala arah, dan sesekali angin turun dari atas membawa dingin dan bau hujan yang belum jadi. Di tengah lapangan, pohon beringin itu berdiri lebih hitam dari malam, dan batu-batu datar yang melingkar di bawahnya berkilat samar oleh embun, lingkaran tempat, kata Ferdi tadi sore dengan nada yang setengah mengajar setengah memperingatkan, kampung ini duduk kalau ada perkara yang harus diputus bersama.
Dan waktu itu datang, Weta sebaiknya sudah siap.
Maria menghirup kopinya, kopi Manggarai tanpa gula, dari kebun-kebun lereng ini, mungkin dari kebun itu, dan rasa itu, yang tiga hari lalu masih tinggal di ingatan sebagai aroma dari lemari dan pagi-pagi masa kecil, sekarang punya tanah, punya kabut, punya nama-nama orang. Ia berpikir: selama ini aku mengira kopi itu rasa ayah. Ternyata kopi itu rasa sini. Ayahnya hanya membawanya sejauh yang ia sanggup.
Di saku, ponselnya bergetar: grup empat bersaudari. Martha bertanya untuk kali ketiga apakah semuanya aman dan apakah tanah itu sudah jelas hitam di atas putih. Lydia mengirim satu kalimat: jangan tanda tangan apa pun dulu. Agnes mengirim foto anak-anaknya memegang gambar krayon: gunung, rumah kerucut, tulisan SEMANGAT TANTE MARIA, sticker-sticker lucu, bentuk love… Maria membalas seperlunya dan meletakkan ponsel itu menelungkup.
Hitam di atas putih. Ia hampir tersenyum. Tiga hari di sini sudah cukup untuk tahu bahwa yang paling menentukan di kampung ini justru tidak hitam di atas putih: pesan yang dihafal lima puluh tahun oleh seorang kakak; kebun yang dirawat tangan tak bernama; pertanyaan Kornelis yang ditunda, bukan dijawab; sebuah lingkaran batu yang menunggu di tengah lapangan. Seluruh pendidikan hukumnya berdiri di satu sisi sungai, dan kampung ini di sisi yang lain, dan jembatannya belum kelihatan.
Pintu berderit. Ibu keluar membawa sarung, memberikannya begitu saja kepada Maria tanpa diminta, lalu duduk di kursi sebelah. Di sini semua perempuan memakai sarung, sarung tenun Manggarai dengan motif bunga dan laba-laba, hitam polos di sisi lainnya. Untuk waktu yang lama mereka tidak berbicara, dua perempuan Jawa di teras sebuah kampung Manggarai, mendengarkan anjing-anjing dan angin.
“Ma,” kata Maria akhirnya. “Mama nggak marah? Lima puluh tahun tidak pernah diajak ke sini. Ternyata tempatnya… begini.”
Ibu tidak segera menjawab. Di kegelapan, profilnya menghadap ke lapangan, ke beringin, ke lingkaran batu.
“Dulu iya lah. Marah, kecewa, sakit hati,” katanya. “Sekarang, Mama cuma ingin tahu satu hal, sama seperti kamu.” Ia merapatkan jaketnya. “Tempat sebagus ini, saudara sebaik ini, kopi seenak ini, kok bisa dia tidak pernah mau pulang. Itu bukan lupa, Mar. Lupa itu tidak begitu bentuknya. Itu…” Ia mencari katanya di kegelapan lapangan. “Itu keputusan. Bapakmu memutuskan tidak pulang. Setiap tahun. Puluhan kali.”
Angin turun lagi, dan di kejauhan, di lereng timur yang tidak kelihatan, kebun kopi itu tentu sedang basah oleh embun yang sama.
“Kampung ini menerima kita, Ma,” kata Maria pelan. “Tapi Mama lihat sendiri. Mama baru dua hari di sini, Mama sudah punya dapur, sudah punya mama-mama, sudah dipeluk orang sambil menangis. Mama yang bukan orang sini.” Ia menghirup kopinya yang mulai dingin, kopi paling dingin selalu jatah si bungsu. “Aku yang darahnya dari sini, Ma. Tanahnya sudah kupegang. Tapi bahasanya tidak kumengerti, adatnya tidak kukenal, berdiri saja aku tidak tahu di mana. Kenapa justru aku yang merasa jadi orang asing?”
Ibu diam. Di lapangan, seekor anjing melintasi kabut tipis dan hilang lagi.
“Ya sudah,” kata Ibu, bangkit, memungut gelas kosong itu dari tangan anaknya seperti sudah dilakukannya sepanjang umur anak itu. “Berarti kenalan dulu.”
Ia masuk, dan pintu berderit, dan Maria tinggal sendirian dengan lapangan itu, dengan beringin hitam, batu-batu berembun, dan lereng-lereng gelap yang menyimpan kebun terawat, batas-batas tanah, aturan-aturan tua, dan sebuah kata yang lima puluh tahun diputuskan untuk tidak diucapkan.
Berkenalan, pikirnya. Baik. Ia tidak tahu, belum tahu, bahwa di kampung ini, berkenalan dengan tanah berarti berkenalan dengan segala yang berdiri di atasnya: yang hidup, yang mati, dan yang belum selesai di antara keduanya.
Kreator : Paula Stela Nova Landowero (Stelanova)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 2 – Tanah yang Tidak Pernah Dikenal
Sorry, comment are closed for this post.