Angin malam berhembus ringan, mengelus permukaan kulit lengan Lara yang tengah sibuk mengayuh sepeda. Di bawah temaram lampu jalanan, ia membelah jalan sepanjang dua kilometer dari rumahnya menuju warung internet. Malam ini, Lara mengemban misi penting: menyelesaikan naskah drama berbahasa Inggris untuk pentas seni akhir semester dari Ms. Yuni, guru kesayangannya.
Tentu saja tugas itu tidak mudah. Lara membutuhkan koneksi internet untuk menerjemahkan dan merapikan dialognya. Prosesnya cukup melelahkan; mengetik, menerjemahkan, mengetik ulang, lalu mengoreksi tata bahasanya satu demi satu. Namun, rasa lelah itu menguap karena ia berjanji akan berkumpul di warnet bersama teman-temannya selepas senja.
Lara berbelok memasuki kompleks perumahan yang sunyi. Ia menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah besar bercat abu-abu kombinasi putih. Di pagarnya, terpampang spanduk bertuliskan Reza-net.
Lara melangkah menaiki tangga besi kecil yang melilit tiang menuju lantai dua. Di sanalah bilik-bilik internet berada. Berisi meja, kursi putar, komputer tabung yang mendengung hangat, CPU dengan lampu indikator merah, dan papan ketik yang persis seperti miliknya di rumah. Bedanya, di sini ada kabel LAN yang terhubung ke dunia maya.
Lorong warnet itu hanya berisi sepuluh bilik yang dibagi dalam dua baris berhadapan. Lara melongok, mendapati ketiga temannya sudah mengambil posisi. Lara memilih bilik nomor sembilan. Di sebelah kanannya, ada Eki di bilik nomor sepuluh, sementara Sinta berada tepat di hadapannya, mengisi bilik nomor empat.
Reza-net disukai karena sekat biliknya terbuat dari anyaman bambu rotan yang tinggi, memberikan privasi lebih dibanding warnet lain yang biasanya terbuka tanpa pembatas. Harganya pun bersahabat. Hanya saja, lokasinya agak menyeramkan. Kompleks perumahan ini terlalu sepi saat malam. Rumah-rumah besar di sudut jalan tampak angker dengan aktivitas yang minim. Lampu yang menyala hanya berasal dari kisi-kisi jendela dan lampu jalan yang buram.
Lara sempat khawatir jika harus pulang larut malam sendirian menembus kegelapan itu. Beruntung, malam ini ada teman-temannya yang bisa diajak pulang bersama.
Satu jam berlalu dengan cepat. Jemari Lara masih menari di atas papan ketik saat tiba-tiba sesosok bayangan pria dewasa berjalan melewati biliknya. Pria itu menyelinap masuk ke dalam bilik nomor sepuluh—bilik Eki.
Lara sempat mengernyit curiga. Pria itu tampak lebih tua, bukan anak sekolahan, namun terlihat sangat akrab dengan Eki. Lara menggelengkan kepala, berusaha mengusir rasa ingin tahunya dan kembali fokus pada naskah dramanya.
Criiit… criiit…
Suara derit kursi putar yang bergesekan berkali-kali mulai mengusik konsentrasi Lara. Suaranya ritmis, aneh, dan terdengar mengganggu. Lara melirik sekat rotan di sebelahnya. Anyaman bambu itu sudah usang dan renggang dimakan waktu, menyisakan celah-celah kecil. Lara mencoba menepis pikiran buruk dan kembali menatap layar monitor tabungnya.
“Emmm… Ahh… Enak…”
Suara Eki terdengar lirih, berupa bisikan tertahan. Namun, di tengah kesunyian lorong warnet, desahan itu merambat jelas ke indra pendengaran Lara. Jantung Lara mencelos.
“Ki? Kamu udah selesai?” tanya Lara, mencoba mengetuk dinding sekat dengan nada ragu.
Pertanyaannya menguap begitu saja, tidak digubris. Didorong rasa penasaran dan kecemasan yang mendesak, Lara akhirnya berdiri. Ia menggeser tirai penutup bilik Eki.
Detik itu juga, dunia Lara serasa berhenti berputar.
“Astaghfirullah, Eki! Apaan sih?!”
Lara memekik lirih. Seluruh darahnya seolah naik ke kepala. Dengan tangan gemetar, ia langsung menutup mata dan membuang wajah ke arah lain. Di dalam bilik yang sempit itu, di balik temaram cahaya monitor, Eki dan pria dewasa itu sedang melakukan hal yang sama sekali tidak senonoh. Tayangan tanpa sensor itu terpampang nyata di depan matanya.
Lara syok. Ia tidak pernah menduga bahwa Eki, teman yang selama ini ia kenal sebagai gadis baik-baik, terlibat dalam pergaulan sebebas itu. Di kota besar seperti Surabaya, Lara memang sering melihat anak sekolah bergandengan tangan atau merangkul pasangannya di tempat umum. Tapi apa yang dilakukan Eki malam ini berada di tingkat yang sama sekali berbeda. Kejadian itu menorehkan luka trauma yang seketika meracuni isi kepalanya tentang arti sebuah hubungan.
Dengan tubuh gemetar, Lara kembali ke biliknya. Ia menyambar flashdisk, menyimpan tugasnya dengan terburu-buru, lalu melangkah keluar tanpa memedulikan penyamaran tirai yang tertutup.
“Sinta, tugasku udah selesai. Aku pulang duluan, ya?” pamit Lara dengan suara bergetar pada Sinta yang berada di seberangnya. Tanpa menunggu jawaban, ia berlari menuruni tangga besi.
Begitu menginjakkan kaki di halaman bawah, dada Lara naik turun dengan ekstrem. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya. Tubuhnya terasa panas dari dalam, meletupkan rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Lara mencengkeram stang sepedanya, berhenti sejenak untuk meraup oksigen sebanyak mungkin.
Angin malam yang berhembus kali ini terasa menusuk, memberi sensasi dingin yang kontras pada tubuhnya yang memanas. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap keheningan malam perumahan yang mencekam.
Sejak kejadian di warung internet itu, Lara langsung menarik diri. Ia membangun dinding pembatas yang tebal dengan Eki karena takut dirinya tanpa sadar akan terpengaruh oleh lingkungan seperti itu.
~•••~
Beberapa bulan berlalu. Lara kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ani, si juara kelas. Ani pun merasa senang berteman dengan Lara karena akhirnya menemukan teman belajar yang selevel dengannya. Mereka berdua sering terlihat “bertengkar” sehat dalam hal akademis, memperebutkan nilai terbaik, namun kerap bermain bersama di waktu luang.
“Minggu depan sudah Ujian Nasional. Kalau lulus nanti, kamu mau lanjut sekolah di mana, Ni?” tanya Lara di sela-sela waktu istirahat mereka.
Ani meletakkan pensilnya, tampak berpikir sejenak. “Emmm… kalau aku sih ingin masuk SMK nanti. Pilih jurusan Tata Boga.”
“Kamu nggak mau lanjut kuliah?” Lara menatap sahabat barunya itu dengan heran.
“Aku mau cepat dapat kerja nanti, Ra. Kasihan lihat Ibuku banting tulang sendirian sejak Ayah meninggal,” jawab Ani lirih, namun tersenyum tegar.
“Padahal kamu juara kelas, sayang banget kalau nggak lanjut pendidikan sampai sarjana.”
“Kuliah juga nggak murah, Ra. Kalau nanti ada rezeki lebih, pasti aku sempetin ambil kuliah di universitas terbuka. Jadi bisa kuliah sambil kerja.”
Lara tersenyum tulus, mengagumi kedewasaan Ani. “Semoga yang terbaik buat kamu, ya. Yang penting setelah lulus, kamu harus hadir ke reuni tiap tahun.”
“Kan kamu leader-nya kalau urusan kumpul-kumpul, wkwkwk,” goda Ani.
“Hadehhh, suka jam karet kalian tuh kalau diajak kumpul!” Lara mendengus geli.
Namun, tawa mereka terhenti saat dari kejauhan tiba-tiba murid-murid lain mulai berkerumun di koridor. Bisik-bisik riuh terdengar mengular. Penasaran, Lara berjalan mendekati kerumunan itu.
“Eh, ada apa nih bisik-bisik?” tanya Lara pada salah satu siswi di sana.
“Si Eki datang ke sekolah bareng mamanya. Katanya mau izin ikut ujian meskipun lagi hamil besar,” jawab siswi itu dengan suara setengah berbisik.
Deg. Jantung Lara serasa berhenti berdetak. Ingatannya langsung terlempar pada derit kursi warnet dan anyaman rotan malam itu.
Lara mundur perlahan, menghindari kerumunan yang mulai bergosip liar. Langkah kakinya membawa Lara mengintip dari kejauhan, ke arah pintu ruang Kepala Sekolah. Benar saja, pintu terbuka. Eki—dengan perut yang membuncit di balik seragam longgarnya—bersama sang ibu terlihat sedang berpamitan meninggalkan ruangan dengan wajah tertunduk lesu.
“Woy!” Ani mengagetkan Lara dari belakang.
“Eh, woy! Aduh, kaget, Ni!” Lara mengerjap, memegangi dadanya yang bergemuruh.
“Kamu ngapain ngintip gitu?” tanya Ani heran.
Lara menghela napas panjang, tatapannya masih menatap punggung Eki yang perlahan menjauh di ujung koridor. “Nggak ada apa-apa. Cuma… lama nggak temenan lagi sama Eki semenjak selesai acara pentas seni,” ucap Lara dengan nada sedih yang tak bisa disembunyikan.
Ani ikut menatap ke arah luar. “Iya, ya. Perasaan dulu kalian sempat dekat, kan?”
“Sudah tidak lagi karena sesuatu yang bikin trauma,” Lara menjeda kalimatnya, tidak ingin membuka aib Eki. “Tapi rasanya kasihan denger kabar Eki sekarang.”
“Iya sih. Nggak bisa bayangin masa depannya udah keduluan jadi seorang ibu. Pasti nggak mudah,” sahut Ani ikut berempati.
“Betul, An. Yang penting kita nggak usah ikut campur atau nge-bully nasibnya.” Lara menegaskan, mencoba bijak.
Ani mengangguk setuju. “Nanti kalau dia sudah lahiran, kita jenguk, yuk? Teman-teman yang lain pasti juga pengertian.”
“Ide yang bagus,” jawab Lara pelan.
Meskipun Lara berusaha bersikap tegar di depan Ani, pemandangan Eki dengan perut besarnya tadi siang resmi mengunci mati hati Lara. Kenyataan pahit itu terpampang nyata: akibat menuruti cinta dan nafsu sesaat di waktu yang salah, masa depan temannya yang semula cerah harus berubah drastis dalam semalam tepat di ambang kelulusan sekolah.
Trauma itu mengakar kuat di kepala Lara. Sejak hari itu, ia bersumpah pada dirinya sendiri: Aku tidak akan pernah membiarkan diriku jatuh pada pria yang salah. Dan ketakutan akan kegagalan itulah yang terus menghantuinya hingga hari wisuda kuliahnya saat ini—saat Albas, pria pilihannya, mulai menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 2- Warnet Traumatis
Sorry, comment are closed for this post.