Priiitt… priiitt… priiiiiiiiiitt…!
Peluit Pak Damar memekik panjang dari pinggir lapangan. Anak-anak kelas 3B yang masih bermain dan bercanda langsung berhamburan mendekat. Anak laki-laki dan perempuan berdiri terpisah, membentuk barisan yang belum rapi; ada yang masih tertawa, ada yang sibuk membetulkan sepatu, dan ada juga yang saling dorong pelan sambil menunggu aba-aba berikutnya.
Raka masih duduk di pinggir lapangan sambil memeluk lutut. Langit mendung menggantung rendah, membuatnya semakin malas bergerak. Angin pagi yang dingin menyusup lewat kaus olahraga tipis yang dipakainya, membuatnya hanya ingin duduk lebih lama di sana.
“Ayo, Rak… kumpul!”
Bayu sudah berdiri di depannya. Tanpa banyak basa-basi, ia menarik tangan Raka agar bangun.
“Malas banget aku pagi ini, Bay,” protes Raka setengah hati, meski akhirnya tetap berdiri.
“Ah, alasan.” Bayu mendorong punggungnya pelan. “Nanti kalau terlambat disuruh Pak Damar lari keliling lapangan lho. Mending kumpul sekarang.”
Raka mendengus, tetapi ujung bibirnya hampir tersenyum.
Setelah semua siswa berkumpul, Pak Damar menepuk tangan.
“Oke, hari ini kita latihan apa?” tanyanya.
Beberapa anak langsung memperhatikan keranjang berisi bola-bola kuning di pinggir lapangan. Karena bentuknya mengingatkan mereka pada permainan kasti, beberapa anak langsung berseru.
“Kasti, Pak!”
Pak Damar tersenyum kecil. “Bukan. Hari ini kita latihan gerak manipulatif. Kita pakai bola tenis untuk latihan melempar dan menangkap.”
Ia menoleh ke arah Prita dan Yogi.
“Prita, Yogi, tolong bagikan bola tenisnya.”
Prita dan Yogi segera mengambil keranjang itu, lalu berjalan menyusuri barisan sambil membagikan bola tenis satu per satu kepada teman-teman mereka.
Pak Damar kemudian menepuk tangannya sekali lagi.
“Dengarkan dulu. Bola tenis ini kecil, tapi lumayan keras. Kalau kalian lempar sembarangan dan terlalu kuat, sakit kalau kena badan. Jadi pelan-pelan dulu. Yang penting mudah ditangkap.”
“Sekarang,” lanjut Pak Damar, “kalian cari partner. Berpasangan. Yang sudah dapat pasangan, bikin dua baris saling berhadapan. Jaraknya tiga langkah.”
Bayu lebih dulu menepuk bahu Raka, kali ini lebih cepat, seolah takut keduluan anak lain.
“Rak. Bareng aku, ya.”
Raka meliriknya sebentar, lalu mengangguk. “Oke, Bay.”
“Yang sudah dapat pasangan, buat dua baris!” teriak Pak Damar lagi.
“Jaraknya tiga langkah! Tiga langkah, bukan tiga jengkal!” katanya, membuat beberapa anak tertawa.
Di tengah keramaian itu, Putra mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan wajah panik.
“Pak! Saya nggak dapat pasangan!”
Pak Damar menoleh. “Sini, maju. Kamu sama Bapak dulu.”
Putra maju pelan, langkahnya kaku seperti robot.
Pak Damar mengambil satu bola tenis dari keranjang, lalu berdiri berhadapan dengan Putra. “Oke, perhatikan. Lambungkan bolanya ke depan teman kalian. Jangan ke kepala. Jangan ke kaki. Nangkepnya pakai dua tangan.”
Ia mengangkat kedua telapak tangannya, membentuk seperti mangkuk. “Tangannya siap seperti ini.”
Putra meniru, tetapi bentuk tangannya kecil sekali, seolah takut bolanya lepas.
Pak Damar melempar pelan. Bola kuning itu melayang, lalu jatuh tepat ke tangan Putra.
Plak!
Putra kaget sendiri. “Eh!”
Beberapa anak cekikikan.
“Nah, bagus.” Pak Damar menahan senyum. “Sekarang lempar balik. Pelan.”
Putra mengangguk cepat, lalu melempar persis seperti yang dicontohkan Pak Damar.
Pak Damar menangkapnya dengan santai.
“Nah begitu!”
“Oke.” Pak Damar menepuk tangan lagi. “Sekarang kalian mulai…Ingat, pelan dulu…pakai dua tangan!”
Bayu mencoba memutar bola itu di atas satu jari seperti di film, tetapi baru sebentar, bola itu lepas dan menggelinding ke arah Raka.
Raka mengambil bola itu sebelum kabur lebih jauh. “Jangan aneh-aneh, Bay.”
Bayu nyengir, sedikit malu. “Maaf, Rak. Cuma pemanasan.”
Pak Damar menyapu pandangan ke seluruh barisan. “Sudah siap semuanya?”
“Siaaap!” jawab anak-anak serempak.
“Bagus.” Pak Damar mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Mulai!”
Bayu melempar pelan.
Raka berhasil menangkapnya dengan dua tangan.
“Nah!” Bayu menunjuknya. “Bagus, kan. Kamu bisa.”
Raka bergantian melempar balik. Lemparannya cukup lurus. Bayu dengan mudah menangkapnya, lalu mengangguk-angguk seperti pelatih.
Lemparan kedua kembali berhasil ditangkap Raka tanpa kesulitan.
Setelah menerima lemparan bola dari Raka untuk kedua kalinya, Bayu tidak langsung melempar. Ia memiringkan kepala sambil menahan senyum.
Raka langsung menyipitkan mata.
“Bayu…”
“Apa?” Bayu pura-pura polos.
Senyum jahil itu muncul lagi, senyum yang biasanya menjadi tanda ia sedang merencanakan sesuatu.
“Jangan aneh-aneh.”
Bayu mengangkat bola setinggi dada. “Ini lemparan biasa aja kok.”
Raka mengangkat kedua tangan, siap menangkap.
Bola meluncur, sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Raka hampir mendapatkannya, tetapi ujung jari-jarinya terlambat menutup rapat.
Pluk!
Bola tenis itu terpeleset, jatuh di rumput dengan bunyi tup pelan, lalu menggelinding menjauh ke pinggir lapangan.
Bayu refleks melangkah maju. “Eh, maaf, Rak—”
“Nggak apa-apa,” kata Raka cepat.
Ia sudah lebih dulu bergerak hendak mengambil bola itu. Namun begitu Raka menoleh ke arah bola, tubuhnya langsung menegang.
Bola tenis itu menggelinding ke sisi lapangan yang mengarah ke Gudang sekolah, area yang sejak tadi entah kenapa selalu membuat Raka merasa tidak nyaman setiap kali melihat ke sana.
Bayu menyusul beberapa langkah di belakang.
“Rak, biar aku aja—”
“Enggak,” jawab Raka tanpa menoleh. “Aku aja yang ambil.”
Ia berjalan mendekat. Suara lapangan masih terdengar jelas dari belakangnya; tawa anak-anak, teriakan kecil, dan peluit Pak Damar yang sesekali terdengar memecah udara pagi. Namun semakin jauh Raka melangkah, suara-suara itu perlahan terasa menjauh, seolah ada batas tak terlihat yang memisahkan tempat itu dengan bagian belakang sekolah.
Raka mempercepat langkah. Namun semakin dekat dengan gudang itu, kakinya justru terasa semakin berat. Perasaan tidak enak mulai merayap pelan di tubuhnya, membuat langkahnya melambat tanpa ia sadari.
Bola tenis itu akhirnya berhenti tepat di depan pintu gudang belakang sekolah.
Raka ikut berhenti.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri menatap pintu tua yang tertutup rapat itu. Tangannya sudah siap mengambil bola, tetapi entah kenapa tubuhnya seperti menolak bergerak.
Ada sesuatu di balik pintu itu.
Sesuatu yang seolah sedang menunggunya.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 24 – Latihan Melempar dan Menangkap
Sorry, comment are closed for this post.