KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 2_ Bait-Bait Tajwid

    BAB 2_ Bait-Bait Tajwid

    BY 25 Jul 2026 Dilihat: 13 kali
    Bait-Bait Tajwid_alineaku

    Waktu berjalan seperti air mengalir di parit-parit sawah desa kami. Tahun 1993 yang bersahaja perlahan berganti, membawa kami tumbuh bersama bentang alam pedesaan yang subur. Mas Giyanto menyelesaikan sekolah dasarnya, lalu melanjutkan ke jenjang berikutnya, sementara aku mengekor beberapa tahun di belakangnya. Namun, sejauh apa pun jenjang sekolah formal memisahkan kami, serambi TPQ tetap menjadi tempat di mana langkah kami selalu bermuara di titik yang sama.

     

    Memasuki tahun-tahun akhir masa remajanya, Mas Giyanto tidak lagi menjadi santri yang duduk mengantre membawa juzamma. Dia telah dipercaya oleh Ustaz untuk menjadi salah satu pengajar. Kepribadiannya yang tenang, tutur katanya yang santun, serta suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci membuatnya begitu dihormati, tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh para orang tua di desa.

     

    Dan takdir seolah menata jalannya sendiri.aku menjadi salah satu santri yang masuk ke dalam kelompok mengajinya.

     

    Setiap sore, setelah matahari menggelincir ke barat dan menyisakan warna jingga di pucuk-pucuk pohon kelapa, aku bergegas berjalan kaki menuju TPQ. Kini aku bukan lagi anak kelas 2 SD yang mukenanya kedodoran. Aku sudah tumbuh menjadi seorang remaja perempuan, namun sifat pemalu dan rasa minder di dalam diriku belum sepenuhnya luntur.

     

    “Ayo, Sri, giliranmu,” suara Mas Giyanto terdengar tenang, memecah lamunanku.

     

    Dia duduk bersila di depan meja kayu pendek yang permukaannya sudah halus karena sering tergesek kitab. Di hadapannya, aku membuka mushaf Al-Qur’an dengan tangan sedikit gemetar. Menjadi murid dari orang yang sejak kecil kita kagumi ternyata memberikan tekanan tersendiri.

     

    “Mulai dari ayat lima belas, Mas?” tanyaku memastikan, menjaga nada suaraku agar tetap sopan.

     

    “Iya, Sri. Pelan-pelan saja, yang penting tajwid dan makharijul hurufnya tepat,” jawabnya sambil memberikan anggukan penyemangat.

     

    Aku mulai membaca. Suaraku awalnya terdengar agak ragu. Di tengah-tengah ayat, karena kurang konsentrasi, aku membaca sebuah hukum bacaan dengan tergesa-gesa. Aku melewatkan Ghunnah—seharusnya mendengung, tetapi langsung kubaca pendek.

     

    “Berhenti di situ dulu, Sri,” potong Mas Giyanto dengan lembut. Dia tidak pernah membentak atau menunjukkan raut wajah kesal jika ada santrinya yang salah. Dia menggunakan ujung pensil kayunya untuk menunjuk kata yang baru saja kubaca.

     

    “Ini hukumnya Idgham Bighunnah, Sri. Harus ditahan dulu dua harakat, dialirkan ke hidung. Coba diulangi, rasakan dengungannya.”

     

    Aku menelan ludah, merasa agak malu. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengulangi bait tersebut sesuai tuntunannya. Ketika aku berhasil melafalkannya dengan benar, Mas Giyanto tersenyum. Senyuman tipis yang persis sama dengan senyuman di malam tahlilan bertahun-tahun lalu, namun entah mengapa, kini senyuman itu memiliki daya getar yang berbeda di dadaku.

     

    “Bagus. Seperti itu. Kamu sebenarnya punya fashohah yang baik, Sri. Hanya kurang percaya diri saja,” ucapnya tulus.

     

    Pujian sederhana itu membuat pipiku terasa hangat. Aku buru-buru menundukkan kepala, berpura-pura sangat fokus memandangi baris ayat selanjutnya agar dia tidak melihat semburat merah di wajahku.

     

    Hubungan antara guru ngaji dan santri ini menciptakan sebuah rutinitas yang manis di antara kami. Desa kami tidak terlalu besar, jadi hampir setiap hari kami berpapasan. Entah saat aku sedang berjalan pulang dari warung, atau saat Mas Giyanto sedang menuntun sepeda tua milik bapaknya yang sarat dengan rumput gajah untuk pakan ternak.

     

    Lama-kelamaan, frekuensi pertemuan yang konstan dan kedekatan emosional di TPQ mulai menumbuhkan benih-benih baru di hati Mas Giyanto. Tentu saja, sebagai pemuda desa yang dididik dengan tata krama yang kuat, dia tidak menyatakannya dengan cara-cara yang gegabah. Rasa sukanya tumbuh dengan cara yang sangat terhormat—lewat perhatian-perhatian kecil yang tersamar.

     

    Mas Giyanto mulai sering memastikan bahwa aku tidak pulang sendirian jika hari sudah terlalu larut setelah mengaji. Musala desa kami memang tidak seberapa jauh dari rumahku, namun jalanan desa tahun 90-an akhir masih sangat gelap, hanya mengandalkan temaram lampu teras rumah warga dan sesekali cahaya obor.

     

    “Sri, pulangnya bareng Siti dan yang lain, kan?” tanyanya suatu malam, setelah kelas mengaji usai dan anak-anak mulai membubarkan diri.

     

    “Iya, Mas. Itu Siti masih pasang sandal di depan,” jawabku sambil merapikan jilbabku.

     

    “Baguslah. Ini… ada sisa penerangan lilin dari musala, bawa saja buat di jalan. Takutnya jalan di dekat pohon melinjo itu gelap,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah lilin kecil dan sebungkus korek api kayu.

     

    Hal-hal kecil seperti itulah yang dia lakukan. Mas Giyanto tidak pernah merayu, tidak pernah menggombal. Dia menunjukkan rasa sukanya melalui rasa tanggung jawab dan perlindungan. Dia menjaga jaraknya dengan sangat hormat, namun matanya tidak bisa berbohong. Setiap kali aku membaca Al-Qur’an di depannya, atau saat kami tidak sengaja berpapasan di jalan desa, tatapan matanya selalu melembut—penuh dengan keteduhan dan binar perhatian yang berbeda. Teman-teman sebayaku bahkan mulai sering menggodaku jika Mas Giyanto memberikan perhatian lebih saat menyimak bacaanku.

     

    Suatu sore yang gerimis, perhatian itu menjadi semakin nyata. Jilid mengaji hari itu selesai agak cepat karena hujan mulai turun membasahi bumi desa. Anak-anak lain yang rumahnya dekat langsung berlari menerobos gerimis, sementara aku tertahan di serambi musala karena ibuku berpesan agar aku tidak boleh kehujanan mengingat aku baru saja sembuh dari demam.

     

    Aku duduk menyendiri di sudut serambi, memandangi rintik hujan yang jatuh menghantam tanah, menciptakan bau tanah basah yang khas. Tiba-tiba, terdengar suara derit rantai sepeda yang khas. Mas Giyanto datang dari arah kamar mandi musala, menuntun sepeda ontel tuanya.

     

    Dia berhenti di dekat tangga serambi, memandangiku yang sedang memeluk lutut menahan dingin.

     

    “Belum pulang, Sri? Menunggu hujan reda?” tanyanya.

     

    “Iya, Mas. Takut demam lagi kalau nekat terobos hujan,” jawabku agak pelan.

     

    Mas Giyanto tampak berpikir sejenak. Dia melepaskan jaket kain parasut tipis yang dikenakannya, lalu melipatnya dengan rapi. Dia menaiki satu anak tangga serambi, lalu meletakkan jaket itu di sampingku.

     

    “Pakai ini untuk pelindung kepala kalau nanti gerimisnya mengecil. Sepedaku sengaja ditinggal di sini dulu, aku mau membantu Ustaz merapikan kitab di dalam. Kamu pakai saja dulu jaketnya,” kata Mas Giyanto tanpa menatap langsung ke mataku, menyembunyikan rasa kikuknya sendiri.

     

    Sebelum aku sempat menolak atau mengucapkan terima kasih, dia sudah berbalik dan melangkah masuk ke dalam musala dengan langkah cepat. Aku memandangi jaket parasut itu. Hangatnya sisa tubuh Mas Giyanto masih terasa, menyebarkan rasa nyaman yang aneh ke dalam hatiku.

     

    Di dalam serambi yang mulai menggelap itu, aku menyadari satu hal. Rasa kagum anak kelas 2 SD yang dulu kupendam, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dan di balik ketenangan serta ketegasan Mas Giyanto sebagai guru ngajiku, aku tahu, ada sebuah rasa yang mulai mekar di hatinya untukku—sebuah rasa suka yang tulus, sepi dari kebisingan, dan tumbuh subur di antara bait-bait tajwid yang kami baca bersama setiap sore.

     

     

    Kreator : Sri Umimah

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 2_ Bait-Bait Tajwid

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021