Waktu berjalan seperti air mengalir di parit-parit sawah desa kami. Tahun 1993 yang bersahaja perlahan berganti, membawa kami tumbuh bersama bentang alam pedesaan yang subur. Mas Giyanto menyelesaikan sekolah dasarnya, lalu melanjutkan ke jenjang berikutnya, sementara aku mengekor beberapa tahun di belakangnya. Namun, sejauh apa pun jenjang sekolah formal memisahkan kami, serambi TPQ tetap menjadi tempat di mana langkah kami selalu bermuara di titik yang sama.
Memasuki tahun-tahun akhir masa remajanya, Mas Giyanto tidak lagi menjadi santri yang duduk mengantre membawa juzamma. Dia telah dipercaya oleh Ustaz untuk menjadi salah satu pengajar. Kepribadiannya yang tenang, tutur katanya yang santun, serta suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci membuatnya begitu dihormati, tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh para orang tua di desa.
Dan takdir seolah menata jalannya sendiri.aku menjadi salah satu santri yang masuk ke dalam kelompok mengajinya.
Setiap sore, setelah matahari menggelincir ke barat dan menyisakan warna jingga di pucuk-pucuk pohon kelapa, aku bergegas berjalan kaki menuju TPQ. Kini aku bukan lagi anak kelas 2 SD yang mukenanya kedodoran. Aku sudah tumbuh menjadi seorang remaja perempuan, namun sifat pemalu dan rasa minder di dalam diriku belum sepenuhnya luntur.
“Ayo, Sri, giliranmu,” suara Mas Giyanto terdengar tenang, memecah lamunanku.
Dia duduk bersila di depan meja kayu pendek yang permukaannya sudah halus karena sering tergesek kitab. Di hadapannya, aku membuka mushaf Al-Qur’an dengan tangan sedikit gemetar. Menjadi murid dari orang yang sejak kecil kita kagumi ternyata memberikan tekanan tersendiri.
“Mulai dari ayat lima belas, Mas?” tanyaku memastikan, menjaga nada suaraku agar tetap sopan.
“Iya, Sri. Pelan-pelan saja, yang penting tajwid dan makharijul hurufnya tepat,” jawabnya sambil memberikan anggukan penyemangat.
Aku mulai membaca. Suaraku awalnya terdengar agak ragu. Di tengah-tengah ayat, karena kurang konsentrasi, aku membaca sebuah hukum bacaan dengan tergesa-gesa. Aku melewatkan Ghunnah—seharusnya mendengung, tetapi langsung kubaca pendek.
“Berhenti di situ dulu, Sri,” potong Mas Giyanto dengan lembut. Dia tidak pernah membentak atau menunjukkan raut wajah kesal jika ada santrinya yang salah. Dia menggunakan ujung pensil kayunya untuk menunjuk kata yang baru saja kubaca.
“Ini hukumnya Idgham Bighunnah, Sri. Harus ditahan dulu dua harakat, dialirkan ke hidung. Coba diulangi, rasakan dengungannya.”
Aku menelan ludah, merasa agak malu. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengulangi bait tersebut sesuai tuntunannya. Ketika aku berhasil melafalkannya dengan benar, Mas Giyanto tersenyum. Senyuman tipis yang persis sama dengan senyuman di malam tahlilan bertahun-tahun lalu, namun entah mengapa, kini senyuman itu memiliki daya getar yang berbeda di dadaku.
“Bagus. Seperti itu. Kamu sebenarnya punya fashohah yang baik, Sri. Hanya kurang percaya diri saja,” ucapnya tulus.
Pujian sederhana itu membuat pipiku terasa hangat. Aku buru-buru menundukkan kepala, berpura-pura sangat fokus memandangi baris ayat selanjutnya agar dia tidak melihat semburat merah di wajahku.
Hubungan antara guru ngaji dan santri ini menciptakan sebuah rutinitas yang manis di antara kami. Desa kami tidak terlalu besar, jadi hampir setiap hari kami berpapasan. Entah saat aku sedang berjalan pulang dari warung, atau saat Mas Giyanto sedang menuntun sepeda tua milik bapaknya yang sarat dengan rumput gajah untuk pakan ternak.
Lama-kelamaan, frekuensi pertemuan yang konstan dan kedekatan emosional di TPQ mulai menumbuhkan benih-benih baru di hati Mas Giyanto. Tentu saja, sebagai pemuda desa yang dididik dengan tata krama yang kuat, dia tidak menyatakannya dengan cara-cara yang gegabah. Rasa sukanya tumbuh dengan cara yang sangat terhormat—lewat perhatian-perhatian kecil yang tersamar.
Mas Giyanto mulai sering memastikan bahwa aku tidak pulang sendirian jika hari sudah terlalu larut setelah mengaji. Musala desa kami memang tidak seberapa jauh dari rumahku, namun jalanan desa tahun 90-an akhir masih sangat gelap, hanya mengandalkan temaram lampu teras rumah warga dan sesekali cahaya obor.
“Sri, pulangnya bareng Siti dan yang lain, kan?” tanyanya suatu malam, setelah kelas mengaji usai dan anak-anak mulai membubarkan diri.
“Iya, Mas. Itu Siti masih pasang sandal di depan,” jawabku sambil merapikan jilbabku.
“Baguslah. Ini… ada sisa penerangan lilin dari musala, bawa saja buat di jalan. Takutnya jalan di dekat pohon melinjo itu gelap,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah lilin kecil dan sebungkus korek api kayu.
Hal-hal kecil seperti itulah yang dia lakukan. Mas Giyanto tidak pernah merayu, tidak pernah menggombal. Dia menunjukkan rasa sukanya melalui rasa tanggung jawab dan perlindungan. Dia menjaga jaraknya dengan sangat hormat, namun matanya tidak bisa berbohong. Setiap kali aku membaca Al-Qur’an di depannya, atau saat kami tidak sengaja berpapasan di jalan desa, tatapan matanya selalu melembut—penuh dengan keteduhan dan binar perhatian yang berbeda. Teman-teman sebayaku bahkan mulai sering menggodaku jika Mas Giyanto memberikan perhatian lebih saat menyimak bacaanku.
Suatu sore yang gerimis, perhatian itu menjadi semakin nyata. Jilid mengaji hari itu selesai agak cepat karena hujan mulai turun membasahi bumi desa. Anak-anak lain yang rumahnya dekat langsung berlari menerobos gerimis, sementara aku tertahan di serambi musala karena ibuku berpesan agar aku tidak boleh kehujanan mengingat aku baru saja sembuh dari demam.
Aku duduk menyendiri di sudut serambi, memandangi rintik hujan yang jatuh menghantam tanah, menciptakan bau tanah basah yang khas. Tiba-tiba, terdengar suara derit rantai sepeda yang khas. Mas Giyanto datang dari arah kamar mandi musala, menuntun sepeda ontel tuanya.
Dia berhenti di dekat tangga serambi, memandangiku yang sedang memeluk lutut menahan dingin.
“Belum pulang, Sri? Menunggu hujan reda?” tanyanya.
“Iya, Mas. Takut demam lagi kalau nekat terobos hujan,” jawabku agak pelan.
Mas Giyanto tampak berpikir sejenak. Dia melepaskan jaket kain parasut tipis yang dikenakannya, lalu melipatnya dengan rapi. Dia menaiki satu anak tangga serambi, lalu meletakkan jaket itu di sampingku.
“Pakai ini untuk pelindung kepala kalau nanti gerimisnya mengecil. Sepedaku sengaja ditinggal di sini dulu, aku mau membantu Ustaz merapikan kitab di dalam. Kamu pakai saja dulu jaketnya,” kata Mas Giyanto tanpa menatap langsung ke mataku, menyembunyikan rasa kikuknya sendiri.
Sebelum aku sempat menolak atau mengucapkan terima kasih, dia sudah berbalik dan melangkah masuk ke dalam musala dengan langkah cepat. Aku memandangi jaket parasut itu. Hangatnya sisa tubuh Mas Giyanto masih terasa, menyebarkan rasa nyaman yang aneh ke dalam hatiku.
Di dalam serambi yang mulai menggelap itu, aku menyadari satu hal. Rasa kagum anak kelas 2 SD yang dulu kupendam, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dan di balik ketenangan serta ketegasan Mas Giyanto sebagai guru ngajiku, aku tahu, ada sebuah rasa yang mulai mekar di hatinya untukku—sebuah rasa suka yang tulus, sepi dari kebisingan, dan tumbuh subur di antara bait-bait tajwid yang kami baca bersama setiap sore.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 2_ Bait-Bait Tajwid
Sorry, comment are closed for this post.