KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 3- Kisah Kasih Di Sekolah

    Bab 3- Kisah Kasih Di Sekolah

    BY 01 Nov 2026 Dilihat: 9 kali
    Labirin Hati Lara_alineaku

    Karpet polos hijau menutupi seluruh lantai, berpadu dengan meja kayu tebal berlapis kaca dan kursi kerja empuk yang persis seperti milik para guru. Semua tampak luar biasa di minggu pertama Masa Orientasi Siswa (MOS) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Surabaya.

    Ada enam kelas dalam satu angkatan kelas sepuluh. Lara terdampar di kelas X-1, sebuah ruangan yang dihuni oleh siswa-siswi berlatar belakang pendidikan mentereng. Mulai dari lulusan SMP favorit se-Surabaya, hingga seorang siswa pindahan dari Bodwell High School di Kanada yang kebetulan lahir di sana.

    Siapalah aku ini? Cuma lulusan SMP negeri standar bangku cadangan, nilai Ujian Nasional juga pas-pasan, batin Lara, menertawakan nasibnya sendiri. Aku yang nyasar ke sini, atau mereka yang sebenarnya terdampar?

    Lamunan Lara buyar saat wali kelas mereka, Bu Eni, masuk dan menampilkan sebuah data melalui layar LCD proyektor.

    “Sadarkah kalian kalau kelas ini berbeda?” tanya Bu Eni sambil melangkah mendekati meja paling depan.

    Satu kelas mendadak hening. Mereka semua tahu jawabannya terpampang jelas di papan tulis putih di belakang Bu Eni.

    “Di belakang saya ini adalah hasil tes tulis yang menjadi syarat masuk sekolah ini. Kalian adalah bagian dari dua ratus siswa terpilih dari seribu lebih pendaftar tahun ini. Dan tiga puluh peringkat teratas, dikumpulkan di sini, masuk ke kelas unggulan istimewa. Selamat untuk kalian. Semoga ilmu kalian semakin berkembang dan bisa menorehkan prestasi terbaik,” jelas Bu Eni bangga.

    Seketika, gemuruh tepuk tangan membahana di dalam kelas. Lara terpaku, matanya berkaca-kaca menatap namanya sendiri yang terselip di daftar itu. Rasa haru membuncah di dadanya.

    “Apa memang begini rasanya? Walaupun tak menjadi yang pertama, tapi kamu tetap dianggap istimewa,” bisik Lara teramat lirih.

    “Emangnya kamu perlu jadi juara umum dulu untuk bisa jadi yang terbaik?” tanya Arti, teman sebangkunya yang rupanya mendengar bisikan Lara.

    “Kurasa… memang harus begitu.”

    Arti mendecak, menggeleng-gelengkan kepala. “Aduh, Say, kaku sekali hidupmu. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri, agar kamu selalu merasa istimewa tanpa perlu menuntut untuk diistimewakan orang lain.”

    Lara mengernyitkan dahi, menatap teman sebangkunya itu dengan pandangan iba. “Berat banget omonganmu, Anak Muda. Belajar dari mana, sih?”

    “Belajar dari hidup, dong. Ya… kadang benturan keras di masa lalu bakal membawa pelajaran berharga,” balas Arti santai.

    Lara terkekeh, menyenggol lengan Arti. “Aduh, Say, berat banget hidupmu!”

    Tawa mereka berdua pun pecah, mencairkan ketegangan hari pertama sekolah. 

    ~•••~

    Beberapa minggu berlalu, terik matahari Surabaya siang itu terasa menyengat. Siswa dari kelas X-1 dan X-2 sedang bergabung di lapangan untuk jam olahraga bermain basket. Pintu kelas terbuka, Lara melangkah keluar berniat menuju kantin untuk membeli minuman dingin.

    Tiba-tiba, sebuah bola basket oranye melayang cepat, lepas kendali, dan mengarah tepat ke wajahnya.

    “Ahhh!” Lara berteriak panik. Ia refleks menunduk, memejamkan mata erat-erat, dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

    Plakk!

    Suara hantaman bola yang tertangkap dengan mantap dan keras terdengar tepat di atas kepalanya.

    “Dapat! Maaf, ya, hampir saja kena kamu,” sebuah suara bariton menyapa pendengarannya.

    Lara masih mematung, jantungnya bertalu hebat karena mengira dahi dan hidungnya akan hancur dihantam bola. Dengan gerakan lambat, Lara menurunkan tangannya dan mendongak.

    Detik itu juga, mata Lara terkunci pada sepasang mata di depannya. Waktu seolah melambat dengan sengaja. Embusan angin sepoi-sepoi mendadak terasa mendukung suasana unik yang mendebarkan di koridor sekolah.

    “Eh… Roy. Iya, nggak apa-apa. Makasih ya,” ujar Lara dengan suara yang tiba-tiba mendadak gugup.

    “Sama-sama.” Roy tersenyum tipis, lalu berbalik menjauh, kembali ke tengah lapangan untuk melanjutkan permainan.

    Lara terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Roy yang tinggi semampai. Rambut pendeknya yang rapi berponi tampak menari ditiup angin. Langkah kakinya yang berat dan mantap, berpadu dengan lengan yang terlihat kekar, memancarkan efek maskulin yang kuat. Lara tidak pernah memandang fisik seorang laki-laki seintens ini. Di bawah terik matahari siang itu, Lara sadar, ia sedang dimabuk asmara untuk pertama kalinya.

    Sejak hari itu, dalam diam, Lara selalu menyelaraskan langkahnya agar bisa terus berdekatan dengan Roy. Mulai dari keberangkatan sekolah di area parkiran, Lara rela sengaja memperlambat gerakannya hanya untuk menunggu Roy datang, agar mereka bisa berjalan kaki bersama menuju gerbang sekolah. Kadang mereka berjalan santai, berlari kecil, atau bercanda bersama teman-teman lainnya.

    Roy pun seolah memberikan sinyal yang sama. Setiap bel pulang berbunyi, pria itu selalu menunggu Lara di depan kelas agar mereka bisa berjalan beriringan menuju parkiran kendaraan yang jaraknya seratus meter dari gerbang. Kedekatan yang konsisten itu membuat Lara melambung tinggi. Ia merasa memiliki posisi yang amat istimewa di hidup Roy.

    Hingga suatu hari, ilusi indah itu hancur berantakan.

    Siang itu di sudut kelas, Lara dan teman-teman perempuannya sedang berkumpul. Topik pembicaraan mereka mendadak beralih ke sosok Roy.

    “Jangan bilang kalian berdua sebenarnya udah jadian!” seru Yana sambil menunjuk heboh ke arah Lina.

    Lina tersipu, buru-buru mengibaskan tangan. “Enggak lah! Orang cuma temenan biasa.”

    “Ah, masa? Cowok sama cewek tuh nggak ada yang murni bisa temenan!” Yana kembali menyudutkan Lina yang wajahnya kian memerah.

    Lara yang sedari tadi menyimak di sudut meja, seketika membeku. Matanya menatap kosong ke arah tumpukan buku. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun hatinya terasa dihantam gada besi.

    Apa benar Roy menyukai Lina? Lalu… apa arti kebersamaan, tawa, dan langkah kaki yang kami selaraskan selama ini? Lara tenggelam dalam lamunannya yang perih.

    Teeeet! Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

    Lara tersentak. Ia buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas, bergerak secepat mungkin untuk pulang lebih dulu sebelum Roy menyadari keberadaannya. Dengan langkah terburu-buru, ia menyusuri koridor, sesekali menengok ke belakang dengan cemas, takut jika siluet tinggi Roy mengejarnya.

    Lara sengaja memutus kebiasaan mereka. Sejak hari itu, ia tak lagi menunggu Roy di tempat parkir. Langkah kaki mereka tak pernah lagi selaras di gerbang sekolah. Di kelas, Lara membatasi diri dan hanya bertegur sapa seadanya saat berpapasan.

    Hingga suatu malam, ponsel Lara bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Roy. Pria itu mengirimkan sebuah potret bulan yang sangat indah di langit malam.

    “Malam ini Bluemoon.”

    Lara menatap layar ponselnya lama sekali. Dadanya berdenyut perih.

    “Iyakah? Bagus ya. Kamera ponselmu pro sekali,” balas Lara, mencoba seformal mungkin.

    “Hahaha, iya dong. Bagus kan hasilnya?”

    “Lebih bagus lagi kalau lihat langsung pakai teleskop.”

    “Ya namanya alat mahal, pasti baguslah hasilnya.”

    “Iya.”

    Balasan Lara yang terlampau singkat dan dingin itu sukses membuat Roy kehabisan kata-kata. Obrolan mereka mandek di sana. Lara tidak berniat memperpanjang ruang obrolan itu lagi. Ia meletakkan ponselnya dengan senyum getir, lalu membatin pahit, Kamu pasti nggak cuma mengirim gambar ini ke aku, kan, Roy? Kamu pasti mengirimnya ke semua cewek yang menganggapmu dekat. Termasuk Lina.

    Dinding pertahanan trauma Lara kembali bekerja. Kebiasaan manis di antara mereka runtuh dalam semalam tanpa pernah ada kata penjelasan. Roy tidak pernah menjelaskan, dan Lara terlampau takut untuk bertanya.

    Meski hatinya patah berkeping-keping, Lara memaksa hubungan mereka mengalir menjadi sekadar persahabatan biasa. Mereka tetap tertawa saat bercanda di dalam kelompok besar, tetap semangat saat mengerjakan tugas kelompok bersama, dan saling membantu saat diperlukan. Namun bagi Lara, pintu hatinya untuk Roy sudah resmi dikunci rapat. Kedekatan mereka berganti menjadi jarak transparan yang tak akan pernah bisa ditembus lagi.

     

     

    Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 3- Kisah Kasih Di Sekolah

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021