BAB 3: KEMBALINYA NYONYA SALJU
Delapan tahun.
Cukup lama untuk sebuah nama dilupakan.
Cukup lama untuk sebuah luka membeku.
Gerobak kayu berhenti di gerbang istana Ardentia.
Salju turun lagi setelah delapan tahun absen. Rakyat bilang itu pertanda baik.
Seraphina tahu itu pertanda perang.
“Nama?” tanya penjaga gerbang, malas.
“Nyonya Salju,” jawab suara di balik cadar es. Suaranya dingin, rendah, tanpa emosi. “Pelayan baru. Untuk dapur istana.”
Topeng es menutupi separuh wajahnya. Rambut hitamnya dijepit ke atas. Di lehernya, kalung berisi setetes darahnya sendiri berdenyut pelan.
Di dalam gerobak, Leon menyamar jadi kusir. Lyra menyamar jadi anak pemetik kayu.
Misi mereka: masuk. Tanpa ketahuan. Tanpa Ibu curiga.
Istana itu masih sama.
Lilin yang sama. Mawar putih yang sama.
Dan di singgasana… wanita yang sama yang mendorongnya ke jurang.
Selene.
Sekarang memakai mahkota.
Perutnya buncit. Palsu.
“Nyonya Salju?” Selene berjalan mendekat. Matanya menyipit. “Kau datang di waktu yang tepat. Aku butuh pelayan pribadi.”
Seraphina menunduk. Dalam.
Agar Selene tidak melihat matanya yang ingin membunuh.
“Seperti yang Yang Mulia perintahkan.”
Di ujung balai, Raja Alistair berdiri.
8 tahun membuatnya lebih tua. Lebih diam. Mahkotanya miring, seolah terlalu berat.
Dia tidak melihat Seraphina. Dia menatap keluar jendela. Ke arah Tebing Salju.
Tiba-tiba cangkir teh di tangan Seraphina retak.
Setetes darahnya menetes ke dalam teh.
Dia cepat-cepat menunduk.
“Dasar ceroboh,” bentak Selene.
“Tidak apa,” suara Raja tiba-tiba memotong. Alistair berjalan mendekat. Dia mengambil cangkir itu dari tangan Seraphina.
Jari mereka bersentuhan.
Sedetik.
Dunia Seraphina berhenti.
Hangat itu. Hangat yang sama.
Sihir Darah Alistair bereaksi. Alisnya berkerut. Ada sesuatu… familiar.
“Siapa namamu?” tanya Raja, menatap lurus ke mata di balik topeng es.
Seraphina menahan napas. Jantungnya berteriak: Katakan. Katakan namamu._
Tapi bibirnya hanya berbisik:
“Nyonya Salju, Yang Mulia.”
Alistair mengangguk pelan. Entah kenapa, dadanya sakit.
“Selamat datang di Ardentia, Nyonya Salju.”
Malam itu, di kamar pelayan yang sempit, Seraphina melepas topengnya.
Di cermin, wajahnya masih sama. Tapi matanya sudah mati.
Lyra merangkak masuk lewat jendela.
“Bu,” bisiknya. “Ayah… dia sedih.”
Seraphina memeluk anaknya.
“Ingat misinya, Lyra. Kita di sini bukan untuk memaafkan.”
Tapi tangannya gemetar saat menyentuh kalung darahnya.
Di luar, salju turun semakin lebat.
Pertanda pertama sudah dimulai.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 3 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.