Waktu terus bergulir, menempa kami dari remaja tanggung menjadi orang dewasa yang mulai memahami arah dan tujuan hidup. Rasa suka yang dulu tumbuh diam-diam di antara bait-bait tajwid serambi TPQ tidak pernah berubah menjadi hubungan pacaran yang semu. Mas Giyanto, dengan segala kesantunan dan prinsip hidupnya yang kokoh, memilih untuk menjaga rasa itu dalam balutan doa dan rasa hormat yang tinggi. Kami menjaga jarak, membatasi tegur sapa yang tidak perlu, hingga waktu yang tepat itu benar-benar datang.
Memasuki awal tahun 2005, Mas Giyanto mengambil langkah yang paling berani dan terhormat dalam hidupnya. Dia tidak datang kepadaku dengan janji-janji manis, melainkan datang langsung menemui orang tuaku. Melalui perantara guru mengaji kami, Ustaz di TPQ, Mas Giyanto mengutarakan niatnya untuk menjalani proses taaruf denganku.
Proses itu berjalan dengan begitu tenang, lurus, dan penuh berkah. Tidak ada riuh rendah pertemuan rahasia atau pesan-pesan asmara. Kami bertukar cerita tentang visi masa depan, tentang bagaimana kami ingin membangun rumah tangga, serta kesiapan mental dan spiritual masing-masing, semuanya dilakukan dengan didampingi oleh keluarga. Di balik sifatku yang pemalu dan sering merasa minder, ketegasan serta kemantapan hati Mas Giyanto malam itu menjadi kekuatanku. Aku tahu, anak laki-laki yang dulu mengantarkan kotak berkat dengan senyum tulusnya, kini telah siap menjadi imam yang akan membimbing seluruh sisa hidupku.
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Rabu, 18 Mei 2005.
Pagi itu, udara pedesaan terasa begitu bersih dan sejuk, seolah-olah alam semesta ikut tersenyum menyambut niat baik kami. Halaman rumahku sudah disulap dengan dekorasi tenda sederhana khas desa, berhiaskan janur kuning yang melengkung indah di dekat pintu masuk. Gending Jawa terdengar mengalun lembut dari kejauhan, menciptakan suasana sakral yang membuat dadaku berdebar tak karuan sejak fajar menyingsing.
Di dalam kamar, aku duduk menghadap cermin besar. Berkali-kali aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dalam dada. Hari ini, aku mengenakan kebaya pengantin putih bersih dengan riasan sederhana yang membuat pangling teman-teman masa kecilku. Siti, sahabat yang dulu menemaniku menyenggol lengan di serambi musala, sibuk membetulkan letak melati yang menjuntai di bahuku.
“Sri, jangan tegang begitu. Cantik banget kamu hari ini,” bisik Siti sambil menggenggam jemariku yang terasa dingin. “Sebentar lagi Mas Giyanto datang.”
Aku hanya bisa tersenyum tipis. Pikiranku melayang kembali ke tahun 1993, ke masa-masa di mana aku hanyalah anak kelas 2 SD yang mukenanya kedodoran, dan Mas Giyanto adalah kakak kelas hebat yang sangat pintar mengaji. Siapa yang menyangka bahwa takdir akan menuntun langkah kami sejauh ini? Berawal dari tempat mengaji yang sama, kini kami akan berjalan di bawah satu atap yang sama.
Suara riuh rendah dari halaman depan menandakan rombongan pengantin laki-laki telah tiba. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat ketika mendengar langkah-langkah kaki mendekati ruang tengah, tempat meja akad nikah telah disiapkan. Dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka, aku bisa mendengar suara Mas Giyanto. Suaranya terdengar berat, namun sangat mantap dan tenang—nada suara yang selalu berhasil meneduhkan hatiku sejak dulu.
Petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) mulai memandu acara. Ketika tangan Mas Giyanto menjabat erat tangan ayahku, seluruh ruangan seketika hening. Hanya ada desau angin pagi yang menyusup di sela-sela jendela kayu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Sri… binti…, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
Kalimat ijab kabul itu diucapkan oleh Mas Giyanto dengan satu tarikan napas yang sangat tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.
“Sah? Sah!”
Suara para saksi dan keluarga bergemuruh memenuhi ruangan, disusul dengan lantunan doa bersama yang khidmat. Di dalam kamar, air mataku luruh tanpa bisa dicegah. Air mata haru dan bahagia. Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan untuk keberkahan pernikahan kami.
Pintu kamar kemudian dibuka lebar. Didampingi oleh ibu dan Siti, aku melangkah keluar dengan perlahan menuju ruang tengah. Di sana, di depan meja akad, Mas Giyanto sudah berdiri menungguku. Dia mengenakan jas pengantin putih dengan peci hitam yang terpasang rapi—menatapku yang berjalan mendekat dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Saat aku duduk di sebelahnya, Mas Giyanto memutar tubuhnya menghadapku. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, dia menyentuh ubun-ubun kepalaku dengan tangan kanannya yang hangat, lalu membacakan doa pernikahan yang begitu syahdu. Rasanya begitu bergetar hingga membuat bulu kudukku merinding—rasa merinding yang jauh berbeda dengan suasana malam tahlilan bertahun-tahun lalu.
Aku kemudian meraih tangan kanannya, mencium punggung tangannya dengan takzim sebagai tanda baktiku yang pertama sebagai seorang istri. Ketika aku mendongak, Mas Giyanto tersenyum—senyuman tipis, tulus, dan penuh tanggung jawab yang kini sepenuhnya menjadi milikku.
Malam harinya, setelah riuh rendah para tamu undangan mulai menyurut dan menyisakan sepi yang damai, kami duduk berdua di teras rumah. Angin malam berembus pelan, mengingatkan kami pada dinginnya serambi TPQ di masa lalu.
“Mas masih ingat waktu pertama kali kita ketemu di acara tahlilan tahun 93 dulu?” tanyaku memecah keheningan, sambil memandangi cincin emas yang melingkar di jari manisku.
Mas Giyanto terkekeh pelan, tatapannya melembut menatap lurus ke mataku. “Tentu saja ingat, Sri. Waktu itu ada anak kecil yang mukenanya melorot terus sampai menutupi mata, tapi matanya sibuk mengintip lewat tirai pembatas.”
Pipiku seketika merona merah, membuat Mas Giyanto tersenyum semakin lebar.
“Sejak malam itu, saat aku menyerahkan kotak berkat untukmu, aku selalu menyebut namamu dalam setiap doa diam-diamku, Sri. Dan alhamdulillah, malam ini Allah menjawab doa itu dengan menjadikanmu makmumku yang sesungguhnya,” lanjutnya dengan suara yang begitu tulus.
Di bawah langit bulan Mei tahun 2005 yang bertabur bintang, babak baru kehidupan kami resmi dimulai. Perjalanan dari sepasang anak kecil di TPQ desa, bertumbuh dalam bimbingan bait-bait tajwid, kini telah melebur menjadi satu ikatan suci yang sah. Aku, Sri, siap mengarungi setiap jengkal takdir yang membentang di depan bersama suamiku, Mas Giyanto.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 3_ Ikatan Suci di Bulan Mei
Sorry, comment are closed for this post.