BAGIAN II KETIKA KOMUNIKASI BERTEMU MANUSIA
Drrrt… Drrrt…
Ada getaran di saku. Segera kuambil gawai, sebuah pesan singkat muncul di layar.
“Mas, kalau buat rilis, mbok ya dilengkapi data pendukung yang relevan. Data ini yang membuat rilis itu memiliki nilai…”
Beberapa kalimat berikutnya berisi permintaan untuk menjelaskan sejumlah poin dalam rilis yang baru saja saya kirim beberapa menit sebelumnya. Pengirimnya Peni Widarto, yang saat itu merupakan jurnalis salah satu harian ekonomi dan bisnis terbesar di Indonesia, Bisnis Indonesia. Ia termasuk jurnalis yang gercep merespons pesan. Namun, yang paling saya ingat bukan kecepatannya membalas pesan, melainkan kebiasaannya memberikan insight setiap kali kami berkomunikasi mengenai sebuah rilis.
Awalnya, saya menganggap masukan itu sebagai hal teknis kelengkapan rilis. Sebuah rilis memang membutuhkan data. Angka akan membuat informasi lebih konkret, membantu pembaca memahami capaian, sekaligus memberi wartawan bahan untuk melihat seberapa besar perubahan yang sedang diberitakan.
Namun, setelah beberapa kali berdiskusi dengan Mbak Peni, perlahan saya melihat data dari sudut yang berbeda. Angka ternyata tidak berhenti sebagai pelengkap berita. Di belakangnya ada cerita yang sering kali jauh lebih panjang daripada angka yang tertulis.
Sebuah angka produksi, misalnya, mungkin hanya terdiri dari beberapa digit dalam sebuah tabel. Tetapi di belakangnya ada pekerja yang datang sebelum matahari terbit, operator yang memastikan mesin tetap bekerja, petugas lapangan yang berhadapan dengan kondisi yang tidak selalu bersahabat, petani yang berharap hasil panennya lebih baik, serta tim yang berusaha memastikan seluruh proses berjalan sebagaimana mestinya. Angka yang tampak sederhana ternyata menyimpan banyak cerita manusia.
Kesadaran itu perlahan mengubah cara saya membaca data. Ketika angka menunjukkan pencapaian tinggi, saya tidak lagi melihatnya semata-mata sebagai prestasi korporasi. Di sana ada kerja keras, kedisiplinan, kerja sama, keputusan yang tepat, dan mungkin pengorbanan banyak orang yang namanya tidak pernah muncul dalam sebuah rilis.
Begitu pula ketika angka yang dicapai tidak sesuai harapan. Saya belajar untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kinerjanya buruk. Bisa jadi di balik angka tersebut terdapat perjuangan yang tidak sederhana. Ada target yang harus dikejar dalam situasi sulit. Ada persoalan teknis, cuaca, keterbatasan sumber daya, atau keadaan lain yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Angka yang kecil tidak selalu berarti usaha yang kecil. Angka yang besar pun tidak selalu lahir dari perjalanan yang mudah. Akhirnya saya mulai memahami bahwa pekerjaan komunikasi tidak cukup berhenti pada pertanyaan, “Apa angkanya?”
Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: “Apa yang terjadi di balik angka itu?”
Pertanyaan sederhana tersebut mengubah cara saya membaca sebuah data. Angka produksi bisa membawa kita pada cerita tentang tetesan peluh para pekerja dan proses kerja yang panjang. Angka pertumbuhan dapat membuka cerita tentang strategi dan keberanian manajemen untuk mengambil keputusan. Angka penurunan mungkin menunjukkan adanya kerasnya tantangan yang sedang dihadapi. Bahkan sebuah kebijakan perusahaan yang terlihat administratif di atas kertas dapat membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan seseorang dan keluarganya.
Di titik itu saya semakin memahami bahwa komunikasi korporat tidak semestinya hanya sibuk mengatur bagaimana perusahaan terlihat baik. Komunikasi juga perlu memahami bagaimana keputusan perusahaan dirasakan manfaatnya oleh pekerja hingga masyarakat.
Di dalam setiap proses korporasi ada manusia. Ada pekerja yang menggantungkan kehidupan pada penghasilannya. Ada keluarga yang ikut merasakan dampak keputusan perusahaan. Ada mitra yang tumbuh bersama. Ada masyarakat yang mungkin menerima dampak langsung maupun tidak langsung dari kebijakan yang dibuat.
Karena itu, ketika sebuah angka dituliskan, kita sebenarnya sedang membawa sebagian dari kehidupan mereka ke dalam sebuah kalimat. Kesadaran tersebut membuat saya lebih berhati-hati ketika menulis. Data tidak boleh diperlakukan sebagai hiasan untuk membuat rilis terlihat meyakinkan. Angka harus ditempatkan dalam konteks yang benar, dijelaskan secara jujur, dan digunakan untuk membantu pembaca memahami kenyataan.
Angka yang dilepaskan dari konteks bisa menyesatkan. Sebaliknya, angka yang ditempatkan pada konteks yang tepat dapat membuat sebuah informasi menjadi lebih bermakna. Di situlah saya melihat salah satu peran penting humas. Humas bukan hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakan perusahaan, tetapi juga menerjemahkan realitas perusahaan agar dapat dipahami publik.
Data menjadi salah satu bahasa penting dalam proses penerjemahan itu. Tetapi data tidak berbicara sendiri. Ada manusia yang harus membaca, memahami, menyaring, lalu menempatkannya dalam cerita yang tepat.
Saya kembali teringat pesan singkat Mbak Peni hari itu.
“Data ini yang membuat rilis itu memiliki nilai.”
Dulu, kalimat tersebut saya pahami sebagai nasihat jurnalistik tentang pentingnya data, sebagaimana prinsip menulis berita 5W (What, Where, When, Why, Who) dan 1H (How). Sekarang, saya memaknainya lebih jauh. Data memang memberikan nilai pada sebuah berita, tetapi nilainya tidak hanya terletak pada angka itu sendiri. Nilai muncul ketika angka membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Saya juga mulai belajar bahwa menulis angka produksi bukan sekadar menuliskan hasil produksi. Ada orang-orang yang bekerja untuk mencapainya. Menulis pertumbuhan bukan hanya soal persentase. Ada strategi, keputusan, dan kerja bersama yang membuat pertumbuhan itu mungkin.
Menulis penurunan juga tidak cukup dengan menyebut angka. Ada keadaan yang perlu dijelaskan agar pembaca tidak tergesa-gesa memberikan penilaian. Begitu pula dengan kebijakan perusahaan. Ia tidak berhenti di ruang rapat atau lembar keputusan. Dampaknya dapat sampai ke tempat yang sangat jauh dari ruang rapat: ke kehidupan pekerja, keluarga, mitra, bahkan masyarakat.
Semakin lama bekerja di dunia komunikasi, saya justru semakin belajar untuk tidak tergesa-gesa berbicara. Ada kebutuhan untuk melihat lebih dahulu, membaca data lebih dalam, mencari konteks, dan mendengarkan orang-orang yang terlibat.
Barangkali di situlah salah satu paradoks pekerjaan komunikasi. Semakin banyak belajar tentang bagaimana menyampaikan pesan, saya justru semakin memahami pentingnya mendengar sebelum berbicara.
Sebuah angka ternyata bisa menjadi pintu untuk mendengar banyak suara. Suara pekerja, mitra, masyarakat, manajemen, bahkan suara orang-orang yang tidak pernah disebut dalam berita, tetapi ikut membentuk cerita di baliknya. Sejak saat itu, setiap kali berhadapan dengan data dalam sebuah rilis, saya berusaha mengingat satu hal yaitu di balik setiap angka, ada manusia.
Karena itu, data harus dihormati. Bukan hanya karena ia menentukan kredibilitas sebuah informasi, tetapi karena di dalamnya mungkin tersimpan kerja keras, harapan, kegagalan, perjuangan, dan kehidupan banyak orang. Mungkin inilah salah satu makna komunikasi yang baru saya pahami setelah bertahun-tahun menjalaninya bahwa kita tidak sekadar menulis angka tapi kita juga sedang menuliskan bagian dari sebuah cerita tentang manusia. Dan sebelum cerita itu menjadi kata-kata, kita perlu belajar melihat siapa yang ada di baliknya.
Kreator : Brilliant JA (Bejo)
Comment Closed: BAB 4 – Di Balik Angka, Ada Manusia
Sorry, comment are closed for this post.