BAB 4: PERTEMUAN DENGAN SANG RAJA
Taman musim dingin istana tidak pernah dijamah siapa-siapa sejak 8 tahun lalu.
Mawar es di sana ditanam oleh Ratu yang sekarang dianggap mati.
“Yang Mulia memanggil Anda, Nyonya Salju.”
Seraphina menunduk. Jantungnya menghantam rusuk.
Alistair. Sendirian. Di bangku batu yang dulu tempatnya duduk bersama Seraphina.
Salju turun pelan. Tidak ada penjaga. Tidak ada Selene.
“Nyonya Salju,” suara Raja serak. “Duduk.”
Seraphina duduk di ujung bangku. Menjaga jarak 3 jengkal. Jarak antara ratu dan pelayan. Jarak antara dendam dan luka.
“Kau sudah lama di istana?” tanya Alistair. Matanya tidak menatapnya. Dia menatap ke danau yang membeku.
“Tiga hari, Yang Mulia.”
“Tiga hari… cukup lama untuk membuat cangkir retak hanya karena disentuh.”
Diam.
Seraphina bisa mendengar darahnya sendiri mendidih.
Alistair akhirnya menoleh. Mata biru itu.
Mata yang dulu selalu mantap melindunginya, sekarang hampa.
“Ada sesuatu tentangmu,” katanya pelan.
“Bau salju di bajumu. Cara kau menunduk. Bahkan cara kamu memegang nampan teh,”
Dia berhenti. “Mirip seseorang.”
Tangan Seraphina mengepal di bawah jubah. Kuku menancap di telapak.
Jangan. Jangan sebut namaku.
“Siapa, Yang Mulia?” suaranya dipaksa datar.
“Ratu Seraphina.”
Nama itu seperti pisau.
Salju di sekeliling mereka bergetar.
Alistair tertawa kecil. Pahit.
“Maaf. Aku bodoh. Sudah delapan tahun.” Dia mengusap wajahnya. “Dia mati di Tebing Salju. Bersama anak-anak kami.”
Anak-anak kita masih hidup.
Seraphina hampir mengatakannya. Tapi dia ingat. Ingat dorongan itu. Ingat racun itu.
“Tidak semua yang jatuh… mati, Yang Mulia,” bisiknya tanpa sadar.
Alistair mendadak menegang. Dia menatap Seraphina tajam.
“Apa maksudmu?”
Burung gagak lewat. Memecah keheningan.
Seraphina berdiri. Lututnya gemetar.
“Saya hanya pelayan, Yang Mulia. Saya tidak tahu apa-apa tentang ratu.”
Dia membungkuk. “Izin pamit.”
Sebelum pergi, Alistair meraih pergelangan tangannya.
Sentuhan itu.
Hangat.
Dan Sihir Darahnya menyala.
Sekilas, dia melihat: Gaun biru laut. Perut 7 bulan. Tawa di bawah salju.
Dia menarik tangannya cepat-cepat, seperti tersengat.
“Pergi,” katanya, suaranya bergetar. “Sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh.”
Seraphina lari.
Sampai di kamar, dia muntah. Bukan karena racun. Tapi karena rindu.
BISIKAN DI BAWAH RANJANG
Kamar pelayan sempit. Dingin. Hanya ada 1 ranjang kayu dan selimut tipis.
Di luar, salju mengetuk jendela.
Leon duduk bersila di lantai. Di pangkuannya ada pisau kayu yang diukir sendiri.
Lyra tiduran di ranjang, selimut menutupi sampai dagu. Di tangannya, sekuntum bunga es yang tidak pernah layu.
Mereka nunggu Ibu tidur. Tapi Ibu belum tidur. Dia masih duduk di pojok, memeluk lutut, menatap topeng esnya.
“Bu udah tidur?” bisik Leon.
Lyra menggeleng. “Belum. Dia masih nangis. Tapi pelan.”
“Lihat Ayah hari ini,” kata Leon pelan. “Dia masih memegang pergelangan tangan Ibu lama banget. Kayak nggak mau lepas.”
Lyra duduk. Matanya tajam. “Ayah masih cinta Ibu. Aku ngerasain. Pas aku lewat dekat dia, jantungnya sakit.”
Lyra menggenggam bunga esnya. “Bu bilang kita di sini buat balas dendam.”
“Bu bohong,” kata Leon cepat. “Aku udah gede. Aku tau. Mata Bu kalau liat Ayah… itu bukan mata benci. Itu mata yang kangen.”
“Kita punya rencana,” kata Leon. Bibirnya melengkung. “Rencana Kembar.”
“Rencana Kembar?”
“Ya. Kita yang nyatuin mereka lagi. Aku yang deketin Ayah. Kamu yang deketin Ibu.”
Lyra tertawa kecil. Pertama kalinya dalam 3 hari.
Dia menaruh bunga es di dada Leon. “Deal. Tapi jangan kasih tau Bu dulu.”
“Deal.”
Dari pojok ruangan, Seraphina mendengar semuanya.
Dia memejamkan mata. Air matanya jatuh ke kalung darahnya.
Anak-anakku… kalian terlalu baik untuk dendamku.
—
Di ujung koridor, Selene melihat semuanya juga.
Dia melihat Seraphina lari dari taman. Dia melihat Leon dan Lyra masuk ke kamar pelayan.
Dan dia tersenyum.
“Permainan dimulai, Nyonya Salju.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 4 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.