KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4 Mahkota dari darah dan salju

    Bab 4 Mahkota dari darah dan salju

    BY 27 Sep 2026 Dilihat: 9 kali
    Mahkota Dari Darah dan Salju_alineaku

    BAB 4: PERTEMUAN DENGAN SANG RAJA

     

    Taman musim dingin istana tidak pernah dijamah siapa-siapa sejak 8 tahun lalu.  

    Mawar es di sana ditanam oleh Ratu yang sekarang dianggap mati.

     

    “Yang Mulia memanggil Anda, Nyonya Salju.”

     

    Seraphina menunduk. Jantungnya menghantam rusuk.  

    Alistair. Sendirian. Di bangku batu yang dulu tempatnya duduk bersama Seraphina.

     

    Salju turun pelan. Tidak ada penjaga. Tidak ada Selene.

     

    “Nyonya Salju,” suara Raja serak. “Duduk.”

     

    Seraphina duduk di ujung bangku. Menjaga jarak 3 jengkal. Jarak antara ratu dan pelayan. Jarak antara dendam dan luka.

     

    “Kau sudah lama di istana?” tanya Alistair. Matanya tidak menatapnya. Dia menatap ke danau yang membeku.

     

    “Tiga hari, Yang Mulia.”

     

    “Tiga hari… cukup lama untuk membuat cangkir retak hanya karena disentuh.”

    Diam.  

    Seraphina bisa mendengar darahnya sendiri mendidih.

     

    Alistair akhirnya menoleh. Mata biru itu. 

    Mata yang dulu selalu mantap melindunginya, sekarang hampa.

     

    “Ada sesuatu tentangmu,” katanya pelan. 

    “Bau salju di bajumu. Cara kau menunduk. Bahkan cara kamu memegang nampan teh,”  

    Dia berhenti. “Mirip seseorang.”

     

    Tangan Seraphina mengepal di bawah jubah. Kuku menancap di telapak.  

    Jangan. Jangan sebut namaku.

     

    “Siapa, Yang Mulia?” suaranya dipaksa datar.

     

    “Ratu Seraphina.”

     

    Nama itu seperti pisau.  

    Salju di sekeliling mereka bergetar.

     

    Alistair tertawa kecil. Pahit.  

    “Maaf. Aku bodoh. Sudah delapan tahun.” Dia mengusap wajahnya. “Dia mati di Tebing Salju. Bersama anak-anak kami.”

     

    Anak-anak kita masih hidup.

     

    Seraphina hampir mengatakannya. Tapi dia ingat. Ingat dorongan itu. Ingat racun itu.

     

    “Tidak semua yang jatuh… mati, Yang Mulia,” bisiknya tanpa sadar.

     

    Alistair mendadak menegang. Dia menatap Seraphina tajam.  

    “Apa maksudmu?”

     

    Burung gagak lewat. Memecah keheningan.  

    Seraphina berdiri. Lututnya gemetar.

     

    “Saya hanya pelayan, Yang Mulia. Saya tidak tahu apa-apa tentang ratu.”  

    Dia membungkuk. “Izin pamit.”

     

    Sebelum pergi, Alistair meraih pergelangan tangannya.  

    Sentuhan itu.  

    Hangat.  

    Dan Sihir Darahnya menyala.

     

    Sekilas, dia melihat: Gaun biru laut. Perut 7 bulan. Tawa di bawah salju.  

    Dia menarik tangannya cepat-cepat, seperti tersengat.

     

    “Pergi,” katanya, suaranya bergetar. “Sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh.”

     

    Seraphina lari.  

    Sampai di kamar, dia muntah. Bukan karena racun. Tapi karena rindu.

     

    BISIKAN DI BAWAH RANJANG

     

    Kamar pelayan sempit. Dingin. Hanya ada 1 ranjang kayu dan selimut tipis.  

    Di luar, salju mengetuk jendela.

     

    Leon duduk bersila di lantai. Di pangkuannya ada pisau kayu yang diukir sendiri.  

    Lyra tiduran di ranjang, selimut menutupi sampai dagu. Di tangannya, sekuntum bunga es yang tidak pernah layu.

     

    Mereka nunggu Ibu tidur. Tapi Ibu belum tidur. Dia masih duduk di pojok, memeluk lutut, menatap topeng esnya.

     

    “Bu udah tidur?” bisik Leon.

     

    Lyra menggeleng. “Belum. Dia masih nangis. Tapi pelan.”

     

    “Lihat Ayah hari ini,” kata Leon pelan. “Dia masih memegang pergelangan tangan Ibu lama banget. Kayak nggak mau lepas.”

     

    Lyra duduk. Matanya tajam. “Ayah masih cinta Ibu. Aku ngerasain. Pas aku lewat dekat dia, jantungnya sakit.”

     

    Lyra menggenggam bunga esnya. “Bu bilang kita di sini buat balas dendam.”

     

    “Bu bohong,” kata Leon cepat. “Aku udah gede. Aku tau. Mata Bu kalau liat Ayah… itu bukan mata benci. Itu mata yang kangen.”

     

    “Kita punya rencana,” kata Leon. Bibirnya melengkung. “Rencana Kembar.”

     

    “Rencana Kembar?”

     

    “Ya. Kita yang nyatuin mereka lagi. Aku yang deketin Ayah. Kamu yang deketin Ibu.”

     

    Lyra tertawa kecil. Pertama kalinya dalam 3 hari.  

    Dia menaruh bunga es di dada Leon. “Deal. Tapi jangan kasih tau Bu dulu.”

     

    “Deal.”

     

    Dari pojok ruangan, Seraphina mendengar semuanya.  

    Dia memejamkan mata. Air matanya jatuh ke kalung darahnya.  

    Anak-anakku… kalian terlalu baik untuk dendamku.

     

    —

     

    Di ujung koridor, Selene melihat semuanya juga.  

    Dia melihat Seraphina lari dari taman. Dia melihat Leon dan Lyra masuk ke kamar pelayan.  

    Dan dia tersenyum.  

    “Permainan dimulai, Nyonya Salju.”

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4 Mahkota dari darah dan salju

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021