KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4- Si Rupawan Konyol

    Bab 4- Si Rupawan Konyol

    BY 01 Nov 2026 Dilihat: 9 kali
    Labirin Hati Lara_alineaku

    Di sekolah, Lara menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya adalah kajian keislaman rutin setiap minggu yang dipandu oleh alumni demisioner atau guru pembina.

    Suatu sore, sebuah kebijakan baru dibuat: kajian antara anggota laki-laki dan perempuan yang biasanya dipisah, kali ini digabungkan dalam satu majelis ilmu di masjid sekolah. Saat itulah, di antara saf yang mulai rapat, pandangan Lara tak sengaja membentur sesosok pria rupawan dengan tahi lalat manis di samping hidungnya. Pria itu tampak mendengarkan penjelasan pembina dengan sangat takzim.

    “Inikah pengisi kajian yang membinai anggota putra, An?” bisik Lara setengah bertanya pada Arti yang duduk di sebelahnya.

    Arti melirik arah pandang Lara, lalu berbisik balik, “Apa? Kamu nggak tahu? Kalau nggak salah, dia itu Husen, anak kelas X-3.”

    Lara refleks menutup mulut dengan telapak tangannya. Ia memang hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke area kelas lain jika tidak ada urusan mendesak. Apalagi, kegiatan ekstra mereka selalu menempati ruang kelas Lara yang memiliki fasilitas paling lengkap sebagai pusat kegiatan. Baru kali inilah seluruh anggota dipertemukan di masjid. Dan pertemuan singkat itu diam-diam meninggalkan impresi yang kuat di kepala Lara.

    Kenaikan kelas pun tiba. Setelah melewati rangkaian bimbingan konseling untuk pemantapan jurusan, Lara mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang. Di saat guru dan teman-temannya mendesak Lara masuk ke jurusan IPA karena nilai akademiknya yang mumpuni, Lara justru memilih mengikuti jejak orang tuanya: masuk ke jurusan Agama (Madrasah Aliyah Keagamaan).

    Jurusan ini sepi peminat. Jumlah siswanya tak sebanyak kelas IPA atau IPS. Namun bagi Lara, kelas barunya ini terasa sangat eksklusif. Ruangannya didesain mirip ruang kuliah di film-film sinetron. Sebelum masuk, para siswa harus melepas sepatu dan merapikannya di rak yang tersedia. Lantai keramiknya bersih mengkilap dan terasa sangat dingin karena embusan pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Kursi-kursinya beralas empuk dengan meja lipat permanen yang menempel di lengan kanan.

    “Hana! Kita satu kelas lagi, ya,” sapa Lara riang saat mendapati salah satu teman dari kelas sepuluh dulu sudah duduk di sana.

    “Wah, iya! Sini, Lara, duduk di sebelahku yuk!” Hana menepuk kursi kosong di sampingnya.

    Lara bergegas menempati tempat itu. Tepat saat ia meletakkan tasnya, pintu kelas terbuka. Seorang siswa bertubuh tinggi, berkulit terang, dan bersih melangkah masuk. Pria rupawan dengan tahi lalat manis di samping hidungnya itu tersenyum tipis.

    “Assalamu’alaikum,” sapanya.

    “Wa’alaikumussalam,” sahut seisi kelas serempak.

    “Weeey, masuk kelas ini juga kamu ternyata, Sen!” seru salah satu siswa di barisan belakang.

    Husen terkekeh pelan, menyugar rambutnya. “Pilih jurusan yang banyak ketenteraman aja, haha.”

    Belum sempat Lara meredakan debaran aneh di dadanya karena kedatangan Husen, pintu kelas kembali bergeser. Seorang siswi bernama Sunny—yang akrab dipanggil Sanny—melangkah masuk. Gadis itu bertubuh tinggi, memiliki paras cantik manis dengan kulit sawo matang yang eksotis. Suara salamnya terdengar lembut dan merdu, ditambah senyuman maut yang seolah mampu mengalihkan dunia.

    Sungguh, kelas ini penuh dengan makhluk surgawi, batin Lara, merasa takjub sekaligus minder di waktu yang sama.

    Di semester pertama, sekolah benar-benar menjadi tempat pelarian yang menyenangkan bagi Lara. Sekolah adalah satu-satunya tempat yang mampu menghiburnya dari hiruk-pikuk dan tekanan pekerjaan rumah. Lara melampiaskan segala kesedihan dan kesulitannya dengan cara menjadi aktivis organisasi, mendaftarkan diri di OSIS, dan memfokuskan seluruh energinya untuk meraih prestasi.

    Hingga suatu hari, dalam sebuah diskusi kelompok di kelas, Lara takdirnya duduk satu meja dengan Husen. Pria itu kini telah menjabat sebagai Ketua OSIS periode 2013-2014. Husen dikenal dengan tutur katanya yang lembut namun lugas. Namun, di balik kelembutan itu, Husen terkenal memiliki kemampuan analisis karakter yang tajam, bahkan cenderung pahit jika sudah mengkritik.

    Di tengah diskusi, Husen mendadak berhenti bicara. Matanya yang tajam menatap lekat wajah Lara, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi.

    “Apa yang sedang membuatmu merasa terbebani, Lara?” tanya Husen spontan dengan suara rendah.

    Pertanyaan itu laksana petir di siang bolong. Lara tertegun. Dengan pikiran yang mendadak kosong, ia balas menatap mata Husen. Ekspresi datar namun teramat rupawan dari Ketua OSIS itu sukses membuat jantung Lara berdegup kencang, nyaris meledak. Lara merasa telanjang, seolah Husen bisa melihat seluruh beban hidup yang selama ini ia sembunyikan di balik senyuman formalnya.

    “Bagaimana menurutmu?” Lara justru melempar balik pertanyaan itu, berusaha menutupi kegugupannya.

    Husen tersenyum tipis, tampak sangat tenang. “It’s fine, Lara. Lambat laun… beban itu akan berkurang.”

    Mendengar kalimat aneh yang terasa begitu menusuk itu, Lara langsung berdiri dari kursinya. “Aku ke kamar mandi sebentar,” pamitnya terburu-buru, lalu melangkah keluar meninggalkan forum diskusi.

    Ketika ia kembali, suasana sudah mencair. Dari ambang pintu, Lara melihat Husen sedang mengamati garis tangan dan ekspresi wajah teman kelompok yang lain, memicu tawa riuh karena tebakan-tebakan konyolnya. Lara tersenyum tipis di tempatnya berdiri. Ia memilih menarik diri. Ia khawatir jika terlalu dekat, ia akan larut dan jatuh hati pada kata-kata misterius Husen.

    Apalagi, kenyataan di lapangan menampar logikanya. Husen tidak hanya rupawan dan cerdas, tapi juga memiliki kepribadian yang luar biasa hangat. Dan entah mengapa, saat disandingkan dengan Sanny, mereka berdua terlihat seperti pasangan yang turun dari kayangan—sangat serasi. Mereka berdua sering dikirim bersama sebagai duta sekolah dalam berbagai delegasi penting di tingkat kabupaten maupun provinsi.

    Ah… aku nggak boleh berharap apa pun, batin Lara, membentengi hatinya seketika. Tipikal cowok tampan dan populer kayak Husen pasti punya banyak penggemar, dan mungkin dia cuma hobi tebar pesona. Lebih baik aku fokus sama masa depanku sendiri.

    Pilihan Lara untuk fokus pada masa depan adalah keputusan mutlak, sebab di luar gerbang sekolah, kehidupan nyata siap meremukkannya. Setelah ketiga kakaknya menikah dalam waktu yang berdekatan dan pergi dari rumah, Lara otomatis menjadi anak tertua yang tersisa. Beban domestik langsung jatuh sepenuhnya ke pundaknya tanpa ada asisten rumah tangga yang membantu.

    Setiap hari sepulang sekolah, Lara harus mengurus seluruh pekerjaan rumah, membantu mengelola bisnis keluarga, sekaligus mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) milik orang tuanya. Tugas itu teramat berat untuk ditanggung oleh gadis remaja seusianya. Tak jarang Lara menangis karena kelelahan, melampiaskan rasa sesaknya di sudut kamar, lalu berhenti sejenak hanya untuk sekadar menghirup udara malam demi mencari ketenangan.

    Namun, di mata masyarakat dan tetangga sekitar, Lara adalah sosok remaja yang sempurna. Mereka mengenalnya sebagai anak yang mandiri, multitalenta, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sifat-sifat luar biasa inilah yang membuat orang tua Lara sangat mengandalkannya—bahkan di tingkat ekstrem, orang tua Lara merasa sangat berat dan sulit untuk melepas Lara jika kelak dipersunting lelaki mana pun, kecuali Lara sendiri yang meminta.

    Sadar akan posisinya, Lara memilih pasrah dan terus berjuang memberikan usaha terbaiknya. Ia memanfaatkan waktu di sekolah untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Lara belajar ilmu administrasi, mengasah kemampuan kepemimpinan (leadership), memahami dasar-dasar politik, hingga terjun ke dunia public speaking sebagai MC (Master of Ceremony). Tak hanya mempertahankan nilai akademiknya tetap stabil di papan atas, Lara juga aktif dalam bidang tata busana dan cerdas memanfaatkan peluang untuk berniaga kecil-kecilan.

    Semua kerja keras, air mata, dan pelarian akademis di masa sekolah itu terus berlanjut hingga Lara lulus. Berkat tumpukan piagam dan prestasinya yang segudang, Lara berhasil melompati ketatnya persaingan jutaan mahasiswa di Indonesia. Ia diterima di universitas negeri pilihannya di Surabaya dengan sangat mudah melalui jalur undangan tanpa tes.

    Lara mengira, kesuksesan akademis ini akan membawanya pada kebebasan memilih cinta. Namun ia salah. Semua bekal kemandirian, ilmu kepemimpinan, dan mental tangguh yang ia pupuk sejak SMA inilah yang kelak akan membuatnya bertahan ketika ia harus menghadapi kelesuan hidup mendampingi seorang suami di tanah rantau—suami yang ia kira sedang merintis hidup dari bawah, namun ternyata menyimpan rahasia besar yang setara dengan kedudukan seorang penguasa daerah.

     

     

    Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4- Si Rupawan Konyol

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021