
Jalanan yang dipenuhi banyak orang terasa kosong di tengah pikiran kusut saat ini. Bahkan tawa dan senyuman orang lain tak membuatku ikut merasakan hal itu. Padahal menurut para ahli bidang psikologi sosial dan sains, membuktikan bahwa kebahagiaan itu menular bagai virus positif yang membangkitkan suasana hati. Kelopak mataku terasa berat akibat air mata yang dicegah kucurannya. Tapak tangan kiri yang menutupi sebagian wajah dengan deru napas berat menyelimuti kekalutan diri di tengah laju bus saat ini.
“Kamu sedang bersedih, nak?” tanya seorang ibu yang tiba-tiba duduk di sampingku.
Lontaran kata dari ibu tersebut, sontak membuatku harus menarik nafas dalam guna menyembunyikan kekacauan hati yang tengah kurasakan. Dengan senyuman palsu, kutanggapi pertanyaan ibu tersebut bahwa aku baik-baik saja dan berterima kasih telah menunjukkan kepeduliannya padaku. Namun ia justru berbisik sembari menyerahkan sebuah masker untukku.
“Sorot matamu tampak sangat sayu. Bila kamu memang ingin menangis, maka lakukanlah.. Hanya saja, saat ini ibu cuma punya stok masker tak terpakai. Tidak bawa satu topi pun di dalam tas. Terimalah. Tak perlu sungkan”
Wajahku menegang, sudut mata yang sedari tadi berpura-pura menunjukkan sorot bahagia berhasil dihancurkan oleh ungkapan hangat sang ibu. Kuterima masker itu lalu memasangkannya pada kedua daun telinga. Kemudian kualihkan pandanganku pada jendela bus seraya memasangkan headset tali dan menyalakan playlist kesukaanku kala perasaan gundah melanda.
Daftar lagu yang dimulai dari dua member Seventeen yakni Jun dan Minghao ̶ The 8 dengan judul ‘Missed Call From Mom’ berhasil membuat mataku memanas. Hingga sudut mata mengalirkan tetes demi tetes air mata. Isak tangis lembut dengan napas yang terengah-engah mengiringi kegelisahan jiwaku.
Tiba-tiba ibu yang memberiku masker tadi menepuk pelan punggung tangan kanan seraya menunjukkan sebuah pesan dalam ponselnya. Ungkapan kalimat yang tertera tersebut menimbulkan sentuhan rasa di dalam dada.
‘Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik setelah menangis dalam suara hening?’
Kuketik kata demi kata dalam layar handphone lalu menunjukkan hal itu padanya.
‘Saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih atas bantuan dari ibu..’
Tak lupa kusertakan emoticon senyum dalam akhir kalimatnya. Menunjukkan ketulusan hati pada sang ibu. Lalu ibu tersebut turun dari bus yang kami tumpangi seraya melemparkan senyum hangat padaku sebelum menghilang dari pandangan.
Kemudian kuputar kembali playlist lagu yang sebelumnya sempat di jeda setelah lagu pertama tamat didengarkan. Kini lagu yang muncul adalah lagu IU yang berjudul ‘Eight’ dengan hasil kolaborasi bersama Suga BTS. Setiap kali lagu itu berputar, perasaanku seakan menjadi lebih baik. Melodi yang terdengar menenangkan berhasil membuat buncahan dalam dada berubah menjadi fase tenang.
Akhirnya aku turun dari bus di sebuah halte yang dekat dengan posisi rumahku. Saat aku hampir menuju rumahku, kulihat Hae-Joon tengah berada di area depan rumahku. Seolah dia tengah menunggu kedatanganku. Namun mengapa demikian? Bukankah aku sudah meminta izin pada semuanya ̶ termasuk Hae-Joon untuk memberi waktu bagiku sendiri tanpa siapapun mendekati.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanyaku pada Hae-Joon saat aku berjarak 50 cm dari keberadaannya.
“Ibu angkatmu khawatir bila kamu sendiri di tengah kekacauan pikiranmu saat ini. Jadi saya hanya bisa menurut pada permintaannya untuk mengawasimu” ujar Hae-Joon dengan menatap lurus ke arahku.
Aku mengatakan pada Hae-Joon bahwa aku benar-benar ingin sendiri. Saat aku hendak memasuki rumahku, Hae-Joon memanggilku dengan suara lantang hingga jantungku melonjak kencang. Hae-Joon memberitahu ada hal yang ingin ia tunjukkan padaku. Sesuatu yang akan membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya.
“Kamu bisa ikuti langkah saya jika ingin melihatnya” ucap Hae-Joon lalu meletakkan sepeda motor dalam garasi rumahnya.
Dengan bola mata yang tidak tenang, memikirkan rahasia apa yang akan kulihat seraya menuruti kemauan Hae-Joon untuk mengikuti jejak kakinya. Hingga Hae-Joon menuntunku pada sebuah ruangan yang dahulu kukenali sebagai ruang gudang di dalam rumah sahabatku itu. Namun kini ruangan itu berubah menjadi ruangan yang dipenuhi beragam foto hasil jepretan Hae-Joon ̶ termasuk beragam foto busana yang kuminta dia untuk diabadikan sebagai bahan endorse usaha pakaianku. Lalu Hae-Joon mengoperasikan proyektor yang memancar ke arah projector screen. Setelah itu, muncul sebuah video yang hanya ada aku di dalamnya.
Dia Choi Ara
Mulai mengenalnya sejak saya SMA
Dulu dia tidak segemuk sekarang
Saat SMA, dia ingin menjadi seorang model
Effort-nya meraih mimpi sungguh luar biasa
Bahkan tak segan-segan dia selalu mengeluarkan uang
Hanya untuk mengoleksi majalah mode seperti Vogue, W, dan Elle
Namun saat ibunya pergi meninggalkannya
Dunianya menjadi runtuh dan dia kehilangan arah
Melihatnya yang pilu seakan bumi yang kehilangan matahari
Jika saja dia tahu, saya menjadi sekarang ini
Semua karena sosok optimisnya
Namun saat ia hilang arah.. Dan selalu menyalahkan dirinya sendiri
Bagaimana saya membantunya? Apakah sulit membuatnya seperti dulu lagi?
Menjadi sosok yang selalu merona bahagia meraih keinginannya menjadi model
Lalu akhir-akhir ini saya sungguh merasa senang..
Dia mendapat cahayanya kembali
Ini adalah saat dia berani tampil di jalanan Hongdae
*Muncul 3 buah foto saat menari koreografi Hot*
Dan ini adalah saat dia usaha menguruskan badan
*Muncul dua buah foto saat sedang berlatih dengan para coach*
Ara.. Tolong kembalilah.. Menjadi Ara yang selalu percaya diri..
Ambillah kesempatan itu
Menjadi model untuk grup idolamu, Seventeen.
Video yang sebelumnya berputar dengan berlatar lagu Seventeen ‘Second Life’ berakhir. Lalu Hae-Joon memainkan gitarnya sembari menyanyikan beberapa bagian akhir lagu tersebut.
나에게 두 번째 삶이 온다면
(naege du beonjjae salmi ondamyeon)
아마도 지금과는 다르게 살아가고 숨 쉬겠지만
(amado jigeumgwaneun dareuge saragago sum swigettjiman)
모른 채 지날 거리 속에
(moreun chae jinal geori soge)
우린 서로를 기억하기를
(urin seororeul gieokhagireul)
그다음 생에도
(geudaeum saengedo)
그때도 너에게로
(geuddaedo neoegero)
Kemudian Hae-Joon berucap, “Dulu saya gendut dan kamu tahu tentang itu. Dulu waktu SMA, saya juga tidak tahu bidang apa yang ingin saya pilih setelah lulus dari jenjang pendidikan tersebut. Namun kamu menuntun hidup saya, Ara.. Di saat orang lain hanya fokus menghina dan merendahkan kondisi fisik saya, kamu tidak segan menemani saya mendapatkan tubuh se-ideal sekarang. Lalu kamu berhasil membuat saya sadar bahwa saya mencintai bidang fotografi sedari dulu ketika saya sendiri belum tahu tentang passion profesi saya. Jadi, hidup saya yang cukup bahagia sekarang ini, semua berkat kamu Ara.”
Pandangan mataku mulai sedikit kabur, napasku dangkal, dan ritme jantung yang meningkat hingga rasanya tubuh ketiban sebuah barang.
“Ara, ibu saya ingin memberitahumu sesuatu yang berkaitan tentang ibumu sebelum dia meninggal dunia. Namun, kamu harus dalam keadaan siap untuk mendengarkan hal itu” ujar Hae-Joon yang sontak membuat jiwaku terperanjat.
Bibi So-ra ingin membicarakan tentang almarhumah ibu denganku? Tentang apa? Mengapa baru sekarang dia menyampaikan hal itu?
Akhirnya aku meyakinkan Hae-Joon bahwa aku bersedia mengetahui rahasia yang ingin disampaikan oleh Bibi So-ra padaku. Kemudian Hae-Joon menelepon ibunya. Setelah sambungan telepon itu berakhir, Hae-Joon memintaku untuk menunggu kedatangan ibunya. Saat kami menunggu, keheningan menyelimuti seisi ruangan. Tak ada satupun perbincangan yang hadir antar kami berdua. Hingga bibirku mulai gatal ingin berbicara dengan Hae-Joon. Aku melirik sekilas ke arahnya lalu berkata, “Sebenarnya.. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi kakak laki-lakiku, Hae-Joon.” Desahan napas terdengar dengan bahu yang turun seraya menatap lantai rumah karibku.
“Aku tak ingin meninggalkan tanggung jawabku terhadap acara Going Seventeen. Namun, dengan situasi canggung dengan kakakku, bagaimana aku bisa melanjutkan langkah berikutnya?” ucapku lirih.
“Aku tahu kakakku tidak salah atas kematian ibuku. Akan tetapi, untuk saat ini, setiap kali aku mengingat atau melihat kak Hoseok berakhir pada kebencianku padanya. Hal itulah yang benar-benar membuatku dilema, Hae-Joon,” ungkapku sembari mengusap pelan wajahku yang sedikit tegang dengan kedua telapak tangan.
Hae-Joon menyatakan bahwa dia tahu lebih dulu siapa sebenarnya kak Hoseok yang tidak lain ialah anak dari pelaku tabrak lari kecelakaan almarhum ibu. Hatiku melonjak seketika dan pupil mata membesar kala mendengar ucapannya itu.
“Kamu tahu? Sejak kapan?! Mengapa kamu tidak memberitahuku tentang itu sehingga aku tidak perlu melangkah lebih jauh dengan beragam agenda yang disusun oleh kak Hoseok dan kak Sisi!” seruku keras.
“Dengar dulu.. Walaupun saya tahu lebih cepat darimu, tapi saya juga tidak bisa memberitahumu karena saya telah berjanji dengan kakak laki-lakimu untuk merahasiakannya sampai jadwal sidangmu hari ini,” tutur Hae-Joon.
“Lagipula, saya diberitahu sendiri oleh kakakmu itu tentang rahasia miliknya saat saya pertama kali berpapasan dengannya di depan rumahmu. Saat itu, kamu sedang di dalam rumah setelah diantar pulang olehnya dari cafe kak Sisi” oceh Hae-Joon yang sontak membuatku terdiam cukup lama.
Seketika aku berpikir, apakah sikap Hae-Joon akhir-akhir ini yang tiba-tiba selalu misterius karena berkaitan dengan kakakku?! Otot-otot mata mengeras dan aku mulai hanyut dalam lintasan pikiranku. Hingga aku mulai tersadar kala Hae-Joon memanggil namaku dan terdengar suara tepuk tangannya yang keras.
“Kamu kok jadi bengong?” ucap Hae-Joon sembari dahi wajah yang mengernyit. Dengan sunggingan bibir kecil, aku berkata. “Apa akhir-akhir ini kamu sering berlaku diam setiap kita membicarakan kak Hoseok karena berkaitan dengan rahasia terpendam kakakku?.”
Hae-Joon menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya yang terdengar berat.
“Ucapanmu benar. Dan asal kamu tahu saja Ara, saat aku mendengar penjelasan dari kakakmu tentang kebenaran kasus kecelakaan ibumu, saya nyaris memukul kakakmu. Namun kakakmu mengatakan saya boleh melampiaskan amarah saya padanya setelah hari sidangmu berakhir” ujar Hae-Joon.
Pandanganku mulai kabur, Ternyata selama ini kedua orang laki-laki yang dekat denganku pandai sekali menyembunyikan sesuatu.
——————————
Setelah lima puluh satu menit berlalu, Bibi So-ra sampai dan segera memelukku. Kemudian ia menatapku dalam sembari berkata, “Mari duduk di kursi ruang tamu. Kita bicarakan hal penting terkait ibumu.”
Aku menuruti permintaan ibu Hae-Joon dengan ikut mengekor dari balik punggungnya bersama langkah kaki sahabat laki-lakiku. Dengan ditemani Dongwon Boseong Green Tea dan Pepero Original, obrolan yang berlangsung tidak menyirat ketegangan antar kami bertiga ̶ aku, Bibi So-ra dan Hae-Joon.
“Dulu, tante mulai mengenal sosok ibumu saat masih mengandung Hae-Joon. Hanya saja, pada waktu itu tante sekadar tahu wajahnya karena dahulu ia terlihat sering mengunjungi Pohon Ginkgo Bangye-ri. Kami mulai saling mengenal saat bertetangga di lingkungan sekitar sini. Setelah kami semakin dekat, tante jadi tahu bahwa ibumu memang biasa mengunjungi Pohon Ginkgo Bangye-ri setiap tahun. Hingga tante diberitahu oleh ibumu, alasan mengapa dia sering mengunjungi pohon tersebut. Ibumu bernama Choi Baram. Nama yang sebenarnya dibenci oleh ibumu. Dulu nenekmu, ditinggal oleh suaminya saat ia tengah hamil besar. Kakekmu itu lebih memilih bersama dengan selingkuhannya. Akhirnya nenekmu membesarkan ibumu sendirian. Namun kebencian nenekmu pada suaminya, ibumu harus mendapatkan nama Choi Baram. ‘Baram’ dalam pandangan nenekmu bukanlah berarti angin atau harapan. Akan tetapi, bermakna selingkuh sehingga ibumu harus menanggung semua kekecewaan nenekmu pada kakekmu. Entah berupa luka fisik ataupun kata-kata menyakitkan dari mulut nenekmu. Hingga ibumu berusia 15 tahun, dia memilih untuk tinggal sendiri dan bekerja mati-matian demi menghidupi kehidupannya sehari-hari.”
Cairan bening menutupi pandangan dan otot wajahku mulai tegang. Aku tak menyangka masa lalu ibu begitu pahit. Pantas saja, setiap kali ibu mengunjungi nenek, aku merasakan suasana dingin dan canggung antar mereka berdua. Betapa hebat ibu masih berbakti pada nenek ditengah kepedihan hatinya di masa lalu. Ia masih menunjukkan padaku bagaimana menghormati orang tua dengan sebaik-baiknya.
“Kamu masih kuat mendengar hal tentang ibumu, Ara?” tanya Bibi So-ra padaku.
Aku mengangguk mantap, meskipun kedua pipi sudah basah dengan linangan air mata.
“Saat ibumu berusia 18 tahun dan tengah berusaha mencari petunjuk hidup setelah jenjang SMA berakhir, ia memutuskan untuk pergi ke Kuil Guryongsa. Di sana dia bertemu dengan biksu yang memberikan dia jalan keluar,” ucap Bibi So-ra.
“Apa yang dikatakan biksu itu, tante?” soalku yang sungguh penasaran pada hal itu.
“Biksu itu berkata pada ibumu ‘Tubuh anda sungguh kuat layaknya Pohon Ginkgo Bangye-ri. Keburukan apapun yang dihadapi tidak menyurutkan sikap tangguh pada diri sendiri. Teruslah kuat dan kelak sinar anda akan selalu dinantikan siapapun yang mencintai anda’. Dari ucapan biksu itu, ibumu seperti mendapatkan pencerahan. Setelah dia pulang dari kuil, dia langsung mengevaluasi dirinya. Hingga dia memutuskan ingin mengambil jurusan Fashion Design di Pusan National University. Sejak pertemuan dengan biksu yang mengubah jalan hidup ibumu, setiap tahun beliau selalu menyempatkan diri untuk berkunjung melihat Pohon Ginkgo Bangye-ri”
“Tante pernah diberitahu oleh ibumu, bahwa pertemuan pertama antara dia dan ayahmu adalah saat dia dan ayahmu memiliki hubungan sebagai buyer & desainer dalam acara Trade Show Seoul Fashion Week. Saat itu, ibumu mewakili label pakaiannya sendiri dan ayahmu memborong pakaian merk ibumu di show room acara tersebut. Ibumu tahu kalau ayahmu punya bisnis e-commerce yang ia kelola sendiri. Lalu hubungan keduanya semakin lama semakin akrab karena merk pakaian yang ibumu bangun saat itu digemari oleh pelanggan toko e-commerce ayahmu. Jadi setiap dua bulan sekali, ayah dan ibumu saling bertemu di sebuah cafe. Hingga suatu waktu, ayahmu menyatakan perasaannya pada ibumu” ungkap Bibi So-ra yang membuatku hanyut dalam penuturan beliau.
Bibi So-ra bertanya padaku tentang bagaimana perasaanku saat ini? Apakah aku masih bersedia mendengarkan perkataan darinya tentang ibuku?
“Lanjutkan saja tante. Sepertinya saya sedikit demi sedikit paham tentang masa lalu ibu saya. Bagaimana kepahitan hidup yang selama ini ia pendam sendiri” ujarku.
“Baiklah. Tante akan lanjutkan semua cerita tentang ibumu” jelas Bibi So-ra.
Rupanya dulu ibu adalah orang yang polos. Dia mudah sekali memercayai seseorang terutama bagaimana ayahku yang mencintai ibuku sepenuhnya. Hingga ibu tidak meneliti lebih lanjut siapa sosok ayah yang sebenarnya. Setelah setahun ibu dan ayah pacaran dan ternyata ibu mulai mengandungku yang saat itu berusia 5 minggu, ibu kak Hoseok yang merupakan istri pertama ayah datang ke rumah yang kini aku tinggali. Saat keduanya bertemu, barulah ibu tahu kalau ayah selama ini menutupi identitas sebenarnya. Yakni seorang suami yang telah memiliki seorang anak laki-laki yang tiada lain adalah kak Hoseok. Ibu kak Hoseok juga mengecam akan melukai ibu dan aku bila hubungan ayah dan ibu tidak segera berakhir.
Ibu yang sudah mengalami kepahitan masa lalu, tak ingin aku menanggung masalah dan dicap sebagai anak wanita perebut laki-laki orang. Oleh karena itu, ibu mulai memutus hubungan dengan ayah. Ibu menghindari kontak dengan ayah hingga dia mencoba mengganti nomor ponselnya sendiri. Lalu suatu ketika, ibu tak sengaja bertemu dengan ayah sehingga ayah tahu bahwa ibu tengah mengandungku yang saat itu sudah 7 bulan lebih.
Ibu memaki ayah habis-habisan. Lalu ia melarang ayah untuk tidak lagi menemuinya karena sudah tahu kebenaran sebenarnya. Kebenaran tentang identitas ayah yang selama ini ia tutupi dari ibu. Ibu juga mengancam ayah untuk tidak lagi ikut campur dalam urusan hidupnya. Bila ayah bersikeras untuk terlibat dalam kehidupan ibu, ia akan menghilang seutuhnya.
Akhirnya ayah menuruti permintaan ibu. Namun, setelah aku berusia 7 tahun dan mulai memasuki dunia pendidikan, ibu cukup kesulitan membiayai hidup kami berdua. Kondisi tersebut diketahui oleh ayah melalui mata-mata yang dikirimkan olehnya. Ibu yang tahu ayah berusaha mencari informasi tentangnya, segera memberi penegasan pada ayah melalui pertemuan dengan ibu kak Hoseok. Oleh karena itu, ayah tak lagi mencari tahu tentang kehidupan ibu dan aku.
Bahuku menjadi tegang, kedua tangan mengapit dan bertumpu pada paha kanan kiri sembari posisi bungkuk. Kucoba menenangkan diri dalam balutan fakta yang disampaikan oleh Bibi So-ra. Tiba-tiba aku merasakan tepukan pelan pada bahu kananku sebanyak tiga kali lalu kudengar ucapan dari Bibi So-ra.
“Tante rasa.. Kamu butuh waktu sendiri sekarang setelah semua hal tentang ibumu telah Tante sampaikan padamu. Hanya saja, Tante berpesan supaya kamu tidak boleh menyakiti dirimu sendiri selama waktu kesendirianmu itu. Kamu bisa menepati keinginan Tante ini kan, Ara?”
Seulas senyum hangat menghiasi wajah Bibi So-ra. Hal itu membuatku tersenyum dari lubuk hati yang dalam.
“Tante, Hae-Joon, saya izin pamit pulang ya. Terima kasih sudah selalu ada untuk saya” ungkapku.
Kulambaikan tangan pada keduanya sembari berlalu menuju pintu keluar rumah Hae-Joon. Saat aku menginjakkan kaki di bagian luar rumah Hae-Joon, kupandangi langit biru dan berucap, “Bu, maaf aku selalu menyusahkanmu.”
kelopak mata terasa berat dan air mata tumpah dalam senyap suara. Setelah itu, aku berjalan pelan ke arah rumahku berada.
——————————
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku bangun dengan perasaan yang lebih baik. Selama semalaman kemarin, setiap waktu kuhabiskan dengan mendengar playlist lagu Seventeen yang berisi kumpulan comfort song yang ada di dua kanal Youtube ‘written with luv’ dan ‘kafealur’. Aku sungguh bersyukur, kedua pemilik channel youtube tersebut pandai membuat playlist lagu grup Seventeen yang menenangkan perasaan sedih atau down orang-orang yang butuh support system kala sunyi. Suara musik-musik lembut itu mengalun indah hingga aku berhasil melelapkan mata setelah lelah mental.
Aku menyikat gigi dan membersihkan muka, lalu melakukan rutinitas biasa yakni membersihkan area rumah sekaligus tempat kerjaku. Setelah semuanya bersih, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tiba-tiba terdengar notifikasi muncul dari handphone-ku.
‘Mau olahraga pagi bareng gak?’
Pesan yang masuk rupanya berasal dari Hae-Joon. Namun aku tak menggubris pesan tersebut. Rasanya untuk saat ini aku ingin lebih banyak di rumah untuk menenangkan diri.
‘Keluarlah! Sebelum saya memaksamu keluar dari rumah hanya untuk jogging bersama..’
Sontak aku terkesiap. Bagaimana jika Hae-Joon benar-benar menggedor rumah hanya untuk menyeretku keluar. Tidak.. Mau tidak mau aku harus menuruti permintaannya itu.
‘Ya sudah, kamu tunggu kedatanganku saja. Setelah aku sarapan, kita jogging bersama.’
Akhirnya aku menyelesaikan sarapan dan menghampiri keberadaan Hae-Joon yang sudah ada di depan rumahku. Dengan kaos T-Shirt putih dan training hitam beserta headset yang tengah terpasang di kedua telinganya, ia menyunggingkan bibir sedikit ke arah kanan.
“Kenapa harus lewat ancaman dulu, baru kau mau keluar dengan sendirinya, Ara..” ujar Hae-Joon yang lantas membuatku menatap tajam ke arahnya.
“Kamu kan sudah tahu aku butuh waktu sendiri saat ini. Lalu apa yang kamu coba lakukan sekarang?” geramku yang seketika memalingkan wajah seraya melipat tangan di dada.
“Ada hal yang ingin saya beritahu kamu terkait kedua coach dan kakak laki-lakimu” ungkap Hae-Joon.
Bola mataku bergerak cepat dan masih mengacuhkan pandangan. Hae-Joon berkata, “Baiklah, kalau memang kamu tidak mau jogging, kamu bisa menungguku selesai mengitari wilayah sini selama 20 menit.”
“Tak apa, aku ikut saja. Hitung-hitung aku mencari udara segar di pagi hari” balasku.
Akhirnya aku dan Hae-Joon mulai mengelilingi area sekitar. Di tengah kegiatan, Hae-Joon berkata, “Kemarin malam, kakakmu datang ke rumah saya. Lalu dia bilang habis bertemu dengan kedua coach-mu dan menyampaikan pada mereka masalah yang terjadi antar kalian berdua. Kemudian kakakmu itu meminta saya untuk menunjukkan pesan video dari kedua coach-mu untuk kamu seorang. Apa kamu mau melihatnya sekarang?.”
Degup jantung seakan berhenti. Aku mematung sesaat, mencoba mengambil keputusan apakah akan melihat video itu atau tidak.
Hae-Joon berucap, “Kamu tidak perlu memaksakan diri jika memang belum siap. Tak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri. Karena kamu manusia yang punya sisi lemah dan kuat. Kalau memang tidak ingin melihatnya sekarang, kita bisa menuntaskan kegiatan lari pagi.”
Aku mengangguk. Akhirnya kamu berdua melanjutkan aktivitas jogging. Kala kami selesai dan tengah meregangkan otot-otot sehabis olahraga lari, Hae-Joon meminta maaf padaku.
“Kenapa kamu minta maaf? Memangnya kamu salah apa?” tanyaku.
“Saya sudah melakukan yang mungkin membuatmu marah?” ungkap Hae-Joon.
“Soal apa?” balasku singkat.
“Kakakmu dihajar oleh saya. Mungkin saat ini muka kakakmu sudah cukup memar karena pukulan saya kemarin malam” tutur Hae-Joon.
Aku terdiam lama, lalu berkata, “Apa kakakku membalas pukulanmu itu?.”
Hae-Joon mengatakan tidak dan justru kakak laki-lakiku seakan menanggung semuanya tanpa sedikitpun itikad membalas.
“Saya rasa kakakmu benar-benar menyayangimu, Ara” ujar Hae-Joon.
Sayang? Benarkah pemikiran tersebut sesuai dengan fakta sebenarnya? Apakah aku harus mengakui dan memaafkan segera tentang kesalahan kakakku yang telah menutup-nutupi kebenaran terkait orang tuaku? Terutama berkaitan dengan kecelakaan ibuku? Mengapa ia harus semudah itu dimaafkan?
“Hae-Joon, sepertinya aku tak bisa menerima kehadiran kakakku segera. Aku.. masih perlu waktu untuk mencerna semuanya menjadi hal yang bisa aku maafkan. Tolong beri aku ruang untuk bisa menjadi Ara yang selalu kamu kenal” tegasku.
Hae-Joon mengerti. Lalu ia berkata kalau baru-baru ini kak Sisi menanyakan tentang kabarku melalui pesan singkat. Hae-Joon bilang dia belum membalas apapun karena ia tak ingin memperkeruh situasi.
“Terima kasih ya.. Kamu memang sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkan bantuan” tuturku.
“Oh iya Hae-Joon, sebenarnya ada satu hal yang selalu membuatku penasaran hingga saat ini. Namun aku khawatir kamu akan tersinggung bila pertanyaan ini benar-benar dilontarkan padamu” sambungku.
“Katakan saja” ucap Hae-Joon.
Aku bertanya, mengapa selama ini dia selalu tampak seperti pria kutu buku? Padahal aku yakin dengan penampilannya saat ini ̶ berpostur ideal ̶ dan ditambah sedikit polesan, berpuluh wanita akan mengantre untuk mengincar hatinya. Namun mengapa ia tampak tidak peduli untuk mengubah penampilannya itu?
“Kamu.. tidak pernah kepikiran untuk melepas kacamatamu itu supaya kelihatan lebih tampan dan menawan, Hae-Joon?” tanyaku ragu.
“Memangnya kamu risih dengan kacamata yang saya pakai ini? Ini bisa dibilang legend lho! Masih bisa saya pakai sampai sekarang” ungkap Hae-Joon.
“Tapi kalau kamu pakai itu terus, apa gak sayang badan kamu yang oke ini? Apa kamu tidak punya keinginan mencari pacar sedikitpun?” imbuhku.
“Hei hei hei, saya mulai sepakat dengan ucapanmu di awal percakapan. Kata-katamu barusan benar-benar tidak membuat saya nyaman. Sudahi saja rasa penasaranmu itu, Lebih baik kita segera pulang” tutur Hae-Joon.
Ketika kudengar respon Hae-Joon tersebut, bibir bawahku maju dan kuhembuskan udara dalam rongga mulut dengan cukup keras.
Pintar sekali dia mengalihkan pembicaraan serius yang selalu membuatku penasaran. Kesalku dalam hati.
Akhirnya aku dan Hae-Joon tiba di rumah masing-masing sehingga aku kembali ke realita PR harian untuk gegas membersihkan rumah yang selalu menjadi ladang bisnisku setiap hari.
——————————
Hari ini hari Minggu. Hari yang seharusnya menjadi pertemuan pertama kelas modeling yang perlu aku ikuti bersama dengan kak Sisi dan kenalannya.
‘Ara, apakah kamu sedang di rumah?’
Sebuah pesan masuk dari kak Sisi muncul di layar ponselku. Namun aku tidak memberi respon lebih lanjut. Hingga muncul notifikasi berulang di ponselku yang membuatku sedikit terkejut.
‘Kakak tahu kamu sedang berada di rumah’
‘Kakak akan menunggu kamu sampai kamu mau menemui kakak’
Aku menghela napas keras. Tanpa berpikir lama, aku segera menghampiri kak Sisi demi menghormati hubungan baik kami sebelumnya.
“Masuk ke dalam kak. Nanti kakak masuk angin” ucapku.
“Tidak usah, Ara. Kakak tahu kamu masih butuh waktu sendiri.. Kakak ke sini hanya ingin memberikanmu ini dan berharap kamu berkenan melihat beberapa video yang kakak kirimkan padamu melalui kakao talk” jelas kak Sisi.
Kuterima sebuah paper bag berwarna pink. Kemudian kak Sisi pamit dan segera menaiki mobil yang ia bawa sendiri.
Aku melihat sekilas isi yang ada di dalam tas dan tampak sebuah kotak berukuran sedang. Hal itu membuatku penasaran dan memutuskan untuk segera melihatnya di dalam rumah.
Aku membuka kotak yang berwarna merah. Terdapat sebuah music box dan sebuah amplop dengan perpaduan warna rose quartz dan serenity. Seolah amplop tersebut mengingatkanku pada grup Seventeen yang identik dengan kedua warna tersebut.
Kunyalakan music box dan mulai terdengar dentingan halus yang mencirikan lagu ‘If You Leave Me’ Seventeen. Nada-nada yang terlintas melalui gendang telinga menghanyutkan suasana hatiku seketika. Bulir-bulir cairan bening mata turun sedikit demi sedikit. Hingga dadaku menggebu dan isak tangis mulai memenuhi seisi ruangan.
Selama alunan nada music box berlangsung, beberapa kali kutepuk dada sembari membiarkan seluruh tangisan keluar dengan tenang. Saat tak ada lagi suara alunan yang terdengar, kuraih amplop yang sudah menyita perhatianku sejak membuka muatan tas. Kemudian aku menemukan sebuah kertas putih dua lembar.
“Hallo Ara.. Ini saya kak Hoseok. Apakah kamu suka music box yang saya siapkan untukmu? Bersamaan dengan surat singkat ini, saya sertakan rekaman suara seluruh member seventeen dengan lagu yang mereka bawakan ‘Shining Diamond’. Melalui rekaman lagu tersebut, saya harap kamu bisa menjadi Carat yang membawa kebahagiaan untuk Carat lain dengan keterampilanmu sendiri.
Oh iya, saya juga mengutip beberapa quotes dari seluruh member Seventeen yang semoga bisa menjadi penyemangatmu saat ini.
‘Jika masalahnya itu bukan sesuatu yang bisa kamu ubah. Kamu hanya harus menerimanya. Selalu hidup dengan percaya diri.’ – S.Coups
‘Entah itu lubang, pintu masuk, atau jalan keluar, berbahagialah.’ – Jeonghan
‘Selalu berpikir positif, karena itu mengarahkan kita pada kehidupan yang lebih bahagia.’ – Joshua
‘Aku tidak ingin kamu mencoba memenuhi harapan orang lain. Aku ingin kamu hidup dengan nilai-nilaimu sendiri dan mengambil langkah kecil satu per satu.’ – Hoshi
‘Tidak ada akhir dari perjalanan impianmu, tapi tidak apa-apa untuk istirahat hari ini.’ – Woozi
‘Meskipun jalannya sangat panjang dan penuh rintangan, serta kamu mungkin merasa ada banyak hal sulit yang terjadi, tapi tolong teruskan dan lakukan apa yang kamu inginkan.’ – Wonwoo
‘Buka pintu kecil duniamu. Dan aku yakin dunia ini akan menerimamu.’ – Jun
‘Kenyataan selalu lebih kejam dari imajinasi kita. Tapi kita lebih kuat dari orang yang kita bayangkan.’ – The8
‘Jadi, meskipun kamu memiliki sesuatu yang dikhawatirkan atau sesali, alangkah baiknya jika kamu terus berpikir positif.’ – DK
‘Kamu harus mencoba yang terbaik untuk segala sesuatu dalam hidup. Jangan menyerah.’ – Mingyu
‘Jika kamu goyah di atas ombak saat ini, rasakan saja dan biarkan tubuhmu mengikuti anginnya. Ketika angin memudar dan ombak semakin kecil, suatu hari nanti kamu akan berdiri di atas laut.’ – Vernon
‘Sukses bukanlah kunci kebahagiaan, tetapi kebahagiaan adalah kunci kesuksesan.’ – Seungkwan.
‘Setelah perjalanan yang melelahkan ini berakhir, kita akan menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat dunia.’ – Dino
Ara, saya sungguh minta maaf telah menjadi kakak terburuk yang kamu kenal. Namun kakak harap, kamu tidak berhenti hanya karena kakak dan ibu kakak. Kamu pantas menjadi seseorang yang hebat dengan kemampuanmu sendiri. Bersamaan dengan surat ini, kakak lampirkan beberapa tanda tangan 13 member Seventeen untukmu.”
Aku melihat lampiran kertas di belakang halaman pertama. Seperti yang dikatakan oleh kakakku, semua member Seventeen menorehkan tanda tangan mereka di atas kertas dengan footer beragam karakter MINITEEN – Choitcherry, Jjongtoram, Shuasumi, OCL, Tamtam, Foxdungee, Ppyopuli, Doa, Kimja, THEpalee, Bboogyuli, Nonver, Chandalee.
Tiba-tiba, ponselku muncul notifikasi pesan masuk hingga 7x. Aku melihat ternyata kak Sisi mengirimkan 7 pesan dengan salah satunya tampak seperti kiriman video sebagaimana ucapan beliau saat pertemuan tadi di depan rumah.
“Ara, maaf jika aku mengganggu ketenanganmu”
“Kamu bisa melihat video ini saat kamu sudah lebih baik perasaannya”
“Percayalah, kakak dan yang lain tidak akan memaksamu kembali lebih cepat”
“Kami akan selalu menunggu kehadiranmu kapanpun kamu siap”
Video pertama aku buka. Video yang berdurasi 3 menit 37 detik. Lalu aku melihat dalam video tersebut berisi penampilan kak Sisi yang memainkan piano dengan lagu IU ‘Into the I-Land’.
Seketika pandangan menunjukkan kilatan bening yang menumpuk di kedua pelupuk mata. Kemudian kubuka video kedua yang berisi ucapan kak Sisi yang cukup panjang.
“Apa kabar Ara? Kamu sehat? Apakah kamu menyukai permainan piano kak Sisi? Semoga kamu menyukainya, meskipun kakak masih belum terlalu mahir bermain piano. Hehehe. Ara.. Kak Sisi ingin berkata sesuatu padamu.. Kamu ingat kan kalau kakak selalu tidak akur dengan kakakmu, Hoseok? Sebenarnya ada hal yang dari dulu membuat kakak benci dengannya karena ucapannya saat kakak SMP dulu seakan menggurui kakak. Namun karena ucapan menyebalkannya itu, kakak sadar kakak tidak boleh berlarut dalam masalah yang justru menghambat masa depan kakak. Pada waktu kakak berencana bolos pelajaran berkali-kali pasca perceraian kedua orang tua kakak dahulu, kakakmu justru mengajak kakak bermain Omok. Dia bilang kalau kakak berhasil mengalahkan dia hingga 3x, dia tidak akan mempermasalahkan keinginan saya untuk bolos sekolah. Namun dalam tiga kali permainan, kakak selalu dikalahkan olehnya. Hingga dia berucap pada kakak, ‘Saat ini kamu mungkin melihat masalah seperti membuat perjalanan hidupmu kacau. Tapi jika saja kamu seperti bidak putih dalam Omok ini dan menyiapkan strategi terbaik untuk mengalahkan bidak saya yang diibaratkan seperti ribuan masalahmu saat ini, kamu akan menjadi jawara atas orang lain.’ Pada awalnya kak Sisi tidak terima, tapi setelah kakak pulang ke rumah kakak jadi berpikir bahwa ucapan Hoseok ada benarnya. Oleh karena itu, berkat Hoseok, kakak bisa menjadi sosok yang bisa lebih kuat ditambah dukungan dari paman dan bibi kakak.”
Kak Sisi menghentikan ucapannya sebentar. Kemudian berkata kembali.
“Saya sudah mendengar semua cerita tentang keluargamu dan Hoseok. Hoseok sendirilah yang menceritakan pada kakak dan yang lain. Kakak tahu semua fakta yang kamu terima benar-benar berat untukmu. Tapi kamu bisa menilai sendiri bagaimana sosok Hoseok di matamu. Jika kamu memang marah pada Hoseok, temui dia! Tuntut semua pertanggungjawaban darinya hingga kamu benar-benar puas. Karena Hoseok adalah satu-satunya keluarga yang kamu miliki saat ini. Jangan sampai kebencianmu sesaat, menimbulkan penyesalanmu di kemudian hari. Kakak tidak ingin berpanjang kata lagi, ingatlah selalu kalau kakak menyayangimu layaknya adik kakak sendiri.”
Video yang berdurasi cukup panjang itu berhasil menumpahkan seluruh air mata yang tak lagi terbendung. Haruskah aku menerima kehadiran kak Hoseok dengan cepat? Dapatkah aku memaafkan kesalahan kak Hoseok tanpa harus berlarut-larut dalam kebencian yang lama? Namun ucapan para member Seventeen benar.. Kebahagiaan tidak menunggu kata nanti. Ia perlu ditanamkan dengan usaha perlahan hingga menjangkau luas di manapun dan kapanpun.
Kemudian kunyalakan video terakhir yang dikirimkan oleh kak Sisi. Video tersebut menunjukkan sosok kedua pelatihku yang sejenak membuatku berpikir. Apakah video ini yang ingin ditunjukkan oleh sahabatku (Hae-Joon) kepadaku waktu itu?
“Hai Ara.. Ini Pelatih Jang dan Pelatih Park. Kakakmu, Hoseok sudah menemui kami dan menyampaikan alasan kenapa kamu tidak hadir hari ini. Saya pribadi tidak menyangka konflik antara kamu dan Hoseok separah itu. Bahkan Pelatih Park mencap Hoseok ‘junior yang tidak sopan’ karena tidak menceritakan masalah sebenarnya sebelum kami bertemu dengan kamu. Namun saya dan Pelatih Park menyadari Hoseok mungkin punya alasan mengapa menyembunyikan hal itu dahulu dari kami. Jadi, kami tidak akan memperpanjang masalah kurang ajarnya itu. Ara, saya dan Pelatih Park melihat ada potensi hebat dalam dirimu. Jangan biarkan Hoseok menjadi alasan kamu tidak mencapai kesuksesan hidupmu. Kamu berhak untuk bahagia dan sukses! Kami akan menunggu kedatanganmu di tempat latihan, Ara! Jadikan body goal tidak hanya meraih impianmu. Tapi bagaimana kamu sehat dan percaya diri setiap hari. Sekian”
Bibir bawahku bergetar dan otot pipiku terangkat sembari menutup mulut dengan kedua tangan. Otot dada dan diafragma ikut menegang hingga air mata berjatuhan satu per satu. Sungguh rasa syukur kini menyelubungi diriku. Betapa bahagianya dikelilingi orang yang memberimu ruang untuk tumbuh dengan rasa empati besar terhadap kita.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengetik beberapa kata di layar ponselku. Pesan yang ku kirimkan untuk kakakku, Kak Hoseok.
“Besok, temui saya di rumah. Mari kita bicara empat mata.”
Setelah lima belas menit berlalu, aku mendapatkan balasan pesan dari kakakku yang berbunyi.
“Ayo kita ketemu jam sembilan pagi di rumahmu. Besok saya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
Setelah menerima pesan tersebut, aku tak lagi membalas. Karena perasaanku masih belum sepenuhnya tenang untuk banyak berbicara dengan kakakku itu. Lalu kuputuskan untuk membereskan hadiah dari kak Sisi dan menaruhnya di kamarku.
Kreator : Rofa Sholihatunnisa (Fatuni_Shigeru)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 5 – Kekuatan Diri
Sorry, comment are closed for this post.