BAB 5: RACUN DI GELAS PERMATA
- PESTA DAN GELAS YANG PECAH
Pesta musim dingin.
Istana Ardentia penuh lilin, musik, dan tawa palsu.
Sama seperti 8 tahun lalu.
Seraphina berdiri di balik tirai dapur. Topeng esnya terpasang rapi.
Di tangannya, nampan perak. Di atasnya, 1 gelas permata.
Isinya teh melati. Teh kesukaan Selene.
“Bu,” bisik Leon dari balik pintu. “Yakin?”
Seraphina tidak menjawab. Dia menggenggam kalung darahnya.
7 keping kertas kosong ada di sakunya. Ini keping pertama.
“Untuk Yang Mulia Selene,” katanya datar, melangkah keluar.
Balai besar.
Selene duduk di singgasana sebelah Raja. Perut palsunya ditonjolkan bantal sutra.
Mahkotanya berkilau. Sama seperti malam itu.
“Nyonya Salju,” panggil Selene manis. “Tehku mana?”
Seraphina berlutut. Menyodorkan gelas itu.
Jari-jarinya tidak gemetar.
Selene mengambilnya. Mencium. Tersenyum.
Dia mengangkat gelas ke bibirnya.
Waktu berhenti.
“Jangan.”
Tangan besar menahan pergelangan Selene.
Alistair.
“Aku… tiba-tiba tidak suka bau melati malam ini,” kata Raja pelan. “Ganti. Pakai teh kamomil.”
Selene tertawa kecil, menutupi jengkel. “Baiklah, sayang.”
Seraphina membeku. Rencananya gagal. Karena Raja.
Di lorong gelap, dia melempar gelas itu ke dinding.
Pecah._
Teh melati tumpah, mengeluarkan uap tipis berwarna ungu. Racun.
“Gagal,” gumamnya. Suaranya pecah.
Tangan kecil menyentuh bahunya. Lyra.
“Bu, kita tidak perlu jadi seperti dia.”
Seraphina memeluk anaknya. Untuk pertama kalinya, dendamnya retak.
Dari jauh, Alistair melihat uap ungu itu.
“Racun… peluruh.”
Kenangan delapan tahun lalu kembali.
- SENYUM YANG RETAK
Kamar Selene. Penuh cermin.
_BUK!_ Gelas kamomil dilempar.
“Nyonya Salju,” desis Selene. “Teh melati. Topeng es. Batu salju.”
Dia membuka kotak. Sisa bubuk ungu di dalamnya.
“Panggil kepala penjaga. Geledah kamar pelayan itu. Malam ini.”
Di luar pintu, Leon mendengar semua. Dia lari.
- JEJAK DI ATAS SALJU
“Bu!! Selene mau geledah kamar kita!!”
Klang. Klang. Langkah armor terdengar di koridor. Suaranya semakin mendekat ke arah dapur.
DUAK! Pintu dijebol.
Seraphina melelehkan jendela dengan sihir.
“Loncat!”
Di taman belakang, panah melesat. Menggores pipi Lyra.
“BERHENTI SEMUA!”
Alistair muncul. Pedang terhunus.
“Siapa yang memberi perintah?”
“Kami… diperintah oleh Ratu Selene, Yang Mulia.”
“Aku raja di sini! Pulang kalian!”
Penjaga mundur mengikuti perintah.
Alistair berjongkok perlahan. Ia mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh darah itu.
Masih hangat.
Seketika, Sihir Darah yang mengalir dalam tubuhnya bergetar. Halus, tetapi cukup kuat untuk membuat Alistair terdiam.
“Mirip… darah anak-anakku.”
Bisikan itu nyaris tak terdengar. Hanya angin yang mungkin menangkapnya, membawa suara lirih itu melewati hamparan salju yang sunyi.
“Aku tidak akan menyakitimu.”
- DI GUDANG TUA
Seraphina memeluk Leon dan Lyra dengan erat. Tangannya kemudian beralih pada Lyra, memeriksa lukanya sebelum membalutnya dengan hati-hati.
“Kita selamat karena Ayah,” bisik Leon.
Seraphina dengan cepat menggeleng.
Ia kemudian merogoh sesuatu dan mengeluarkan sekeping kertas. Ia menatap kertas itu sejenak, lalu mengambil darah Lyra. Dengan ujung jarinya, ia menuliskan satu kata di atas permukaannya.
Memaafkan.
Seraphina kemudian membakar kertas tersebut.
“Keping pertama gagal.”
Di balkon, Selene tersenyum ketika memandang ke arah gudang itu. Senyumnya tipis, nyaris tanpa kehangatan. Matanya mengikuti tempat Seraphina bersembunyi.
“Lari terus, Nyonya Salju.”
Suaranya tenggelam di antara dinginnya malam.
“Sampai kau mengaku.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 5 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.